
Andini mengangguk. Berarti menyetujui permintaan Gevin untuk bercerita padanya.
"Tapi gue minta tolong, jangan ceritain ke siapapun tentang ini." Pinta Andin.
Gevin mengangguk dan menatap mata Andin lekat. Seolah olah siap untuk mendengarkan keluh kesah Andin.
"Gue lahir dari keluarga yang baik, punya abang kuliah S2 di Singapore. Gue punya adik kembar, Andana. Andana memiliki kelainan ginjal dari awal lahir, membuat kondisi Andana lemah. Mama dan papa akan fokus dengan Andana karena Andana membutuhkan mereka. Sampai gue ngerasa mama dan papa lupa, kalo mereka punya gue juga. Andana selalu di ajak keluar negeri sama papa mama, di belikan barang barang mewah. Gue gak benci sama Andana, gue cuma iri, semua yang Andana punya gue gak punya. Sampai suatu waktu cowok yang udah gue suka dari awal masuk, malah lebih memilih makan sama Andana ketimbang makan bekal yang gue bawa." Ucapan Andini berhenti ketika Gevin memegang tangannya.
"Maaf." Ucap Gevin lirih.
Andini tersenyum dan melanjutkan ceritanya.
"Hal yang paling bikin gue sakit hati, waktu temen temen gue, melihat gue jahat pada Andana padahal gak kayak itu kenyataannya. Orang tua gue udah biasa tanpa gue. Sekarang Andana udah sehat, karena sudah punya ginjal yang sehat dua duanya. Setidaknya gue berharap perhatian mama sama papa akan bisa terbagi ke gue juga. Gue korbanin ginjal gue agar orang tua gue bisa berbagi kasih sayang. Namun usaha gue nihil. Gue tetep menajdi manusia yang gak pernah di anggep." Sekarang seketika air matanya turun bagai hujan.
__ADS_1
Andini menangis tersedu seduh. Menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. Tidak lama tangisnya berhenti, Andini kembali mengangkat kepalanya lagi
"Apa boleh gue nanya sesuatu?." Tanya Gevin.
Andini mengangguk. Menyetujui permintaan Gevin.
"Lo bilang waktu itu, lo alergi telur. Apa lo boong?." Tanya Gevin.
"Jadi kenapa pas di pantai lo gak bilang ke gue?." Tanya Gevin lagi.
"Gue udah suka sama lo dari awal masuk, masa gue sia siain buat nolak jalan jalan sama lo." Jawab Andin tersenyum lagi.
"Ya tapi, gak seharusnya lo maksain diri kayak gini." Ucap Gevin lagi.
__ADS_1
"Gue gak punya alasan buat hidup bahagia. Jadi buat apa gue sia siain hidup gue yang entah berakhir kapan." Ucap Andini.
"Gak boleh ngomong gitu. Pamali." Gevin mengusap kepala Andini.
"Maafin gue yah, mungkin gue yang terlalu kaku sama lo. Karena sebelumnya gue juga gini, gua gak pernah pacaran dan deket sama cewek. Dan lagi waktu gue makan sama Andana yah karena kasian juga, dia belum punya temen." Terang Gevin.
"Apa..... Lo disini nuga karena kasian sama gue?." Tanya Andini.
"Jujur yah. Gue gak butuh di kasihani. Gue bahagia dengan hidup gue yang kayak ini. Suka sama lo itu takdir gue, dan di sukai balik sama lo itu bonus kalo gue sabar dengan semuanya yang tuhan kasih sama gue." Terang Andini.
"Gue sama sekali gak berharap buat lo suka sama gue. Jadi lo gak perlu ngerasa terikat sama gue." Ucap Andini lagi.
"Oh iya. Gue udah mulai enakkan. Gue cuci darah sama dokter Agung aja. Gue ngurus administrasi dulu ya." Ucap Andin berusaha turun dari ranjang pasien.
__ADS_1