
Akhirnya Andin pulang dengan keadaan basah kuyup tapi raut wajahnya bahagia hari itu.
Bi Ani membuka pintu dan terkejut dengan kedatangan Andin yang basah kuyup.
"Astaga non. Kenapa ujan ujanan sih." Tanya bi Ani khawatir.
"Kepingin bi. Udah lama banget gak ujan ujanan." Jawab Andin.
Bi Ani mengambilkan Andin handuk agar rambutnya kering.
Harapan Andin, saudara kembarnya itu sudah pergi bersama mamanya. Tapi harapannya salah. Andana keluar dari kamarnya yang berada di sebelah kamar Andin.
"Kak Andin. Liat deh, foto aku ke Paris sama mama kemaren." Ucap Andana memamerkan fotonya.
"Jadi kamu ke Paris kemaren?." Tanya Andin.
"Iya kak." Jawab Andana.
"Aku bawa oleh oleh loh buat kak Andin." Ucap Andan semangat.
__ADS_1
Andana memberikan sebuah tas mahal bermerek X kepada Andin. Sebenarnya Andin enggan menerima tas itu, tapi melihat Andana yang antusias membuatnya terpaksa menerima tas itu.
"Oke. Thanks yah. Gue ke kamar." Ucap Andin meninggalkan Andana.
"Nanti kalo mau curhat aku ke kamar kakak ya." Ucap Andana.
"Iya." Jawab Andin.
Andin mengganti pakaiannya yang basah.
"Ah, sepertinya akan demam lagi." Ucap Andin.
Sebenarnya Andin alergi terhadap air garam, seperti air laut dan air hujan. Badannya akan memerah merah dan tubuhnya akan panas.
Andin mandi dan beristirahat karena keadaan yang kurang sehat. Mengecek ponselnya dan melihat instagram Andana yang baru saja memposting foto Andin dari belakang membawa tas yang di berikan Andana dengan caption akhirnya kak Andin mau nerima tas aku.
Andin sebenarnya tidak membenci Andan, ia hanya merasa iri dengan kasih sayang yang di berikan mama dan papanya kepada Andana.
Andana lahir dengan ginjal gang rusak sebelah, mama dan papanya selalu berusaha mencari ginjal yang cocok untuk Andana tapi sampai sekarang belum menemukannya.
__ADS_1
Andana selalu di berikan kemewahan oleh orang tuanya. Liburan kapan saja ia mau, barang mewah apa saja yang ia inginkan. Yang penting Andana bahagia, menurut papa dan mamanya.
Kali ini, air mata yang biasanya ia tahan tidak lagi terbendung di kelopak matanya. Badan yang kurang sehat dan hati yang patah mendukung Andin untuk segera berbaring dan tertidur dengan suhu tubuh yang panas dan merah merah.
Andin terbangun karena perutnya lapar, melihat jam dinding kamarnya sudah menunjukkan jam 12 malam.
"Gak ada yang bangunin aku ya." Ucap Andin sendiri.
Andin berjalan ke lantai bawah menuju dapur. Melihat tempat pemyimpanan makanan, ternyata yang lainnya sudah pada makan. Terlihat lauk pauk sudah sisa makan orang lain.
Andin menarik nafasnya panjang.
"Kadang lucu ya, berasa cuma Andana aja anaknya di rumah ini." Ucap Andin.
Andin hanya meminum air putih dan menuju kamarnya lagi. Melihat hp dan menelepon seseorang.
"Halo bang." Ucap Andin.
"Iya Andin." Jawab Arka.
__ADS_1
"Abang, kapan pulang?." Tanya Andin dengan isakan tangis.
"Kenapa kamu nangis Andin?." Tanya Arka.