
Hari berjalan dengan baik. Tapi tidak dengan keadaan hati Andin. Sekarang adalah hari jumat, dan besok sekolah mengadakan persami atau perkemahan sabtu minggu.
Setiap pagi Andin terbiasa di buatkan bekal oleh bi Ani, dan berangkat sekolah dengan taxi online, sedangkan pak Mamat mengantarkan Andana. Bekal setiqp paginya selalu ia tawarkan untuk Gevin terlebih dahulu, walaupun bekal yang ia tawari tidak pernah di terima Gevin.
Jumat pagi sama halnya dengan hari hari yang lalu. Bekal sudah di tangan Andin, ia juga sudah menyalami bi Ani. Hanya bi Ani seperti biasanya.
"Andini." Anton memanggil Andin dengan nada datar.
Langkah Andin terhenti karena mendengar namanya terpanggil.
"Kamu tidak bisa untuk lebih menghargai orang tua mu?." Tanya Anton tegas.
"Kami ini masih orang tua mu, bertanggung jawab atas kamu." Ucap Anton lagi.
"Saya pamit yah orang tuanya Andana." Ucap Andin dengan lantang dan meninggalkan rumah itu.
"Sudah pah." Ucap Andana menenangkan papanya itu.
"Kamu jangan tiru kakak mu itu ya sayang." Ucap Anton pada Andana.
Andana mengangguk yang berartikan mengiyakan yang di bilang papanya itu.
Sesampai di sekolah motor ninja hitam selalu menjadi patokan Andini bahwa Gevin telah sampai di sekolah.
__ADS_1
'Harus semangat.' Ucap Andin dalam hati.
Andin berjalan masuk ke dalam sekolah, melihat Gevin di dalam ruang OSIS sedang rapat untuk acara Persami besok.
"Ganteng banget sih." Ucap Andin di luar ruang OSIS. Tiba tiba ada yang memegang bahunya.
"Siapa lo?." Tanya Andin melihat wajah yang tidak ia kenal itu.
"Lo yang siapa, kenapa ngintip ngintip dari kaca gitu sih? Kalo mau masuk aja." Ucap pria itu.
"Ogah, mending gue ke kelas." Ucap Andini meninggalkan pria itu.
Dengan semangat 45 Andini menunggu Gevin di depan kelas seperti biasanya.
"Demi Jamil yang berubah jadi Jamila, nunggu dia kek nunggu jodoh ya, lama. Eh, tapi emang jodoh deng." Ucap Andin di akhiri dengan tertawanya sendiri.
"Tunggu." Ucap Andin menyelip langkah Gevin.
"Ini." Ucap Andin menyodorkan bekalnya.
Gevin tidak menanggapi dan meninggalkan Andin begitu aja.
"Kurang usaha Ndin." Ucap Putri yang tiba tiba datang di belakangnya.
__ADS_1
"Tunggu aja, nanti gue bakal dapetin doi." Ucap Andin dengan percaya diri
"Bukannya kembaran lo juga suka sama kak Gevin yah Ndin?." Tanya Sindi.
"Yaamsyong. Lo gak ada akhlaknya yah Put. Temen lagi sedih juga bukannya di hibur malah tambah di jatohin." Ucap Andin meninggalkan Putri dan Sindi.
"Lo sih Sin." Ucap Putru menyalahkan Sindi dan mengikuti Andin masuk ke kelas.
"Ih kan Sindi. Lo salah lagi." Ucap Sindi pada dirinya sendiri.
Putri berdiri di depan meja Andin. Menatap Andin dengan lekat. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Andin karena wajahnya sekarang sudah pucat.
"Lo sakit?." Tanya Putri.
"Enggak." Balas Andin yang sibuk menguarkan bukunya.
"Kok lo pucat?." Tanya Putri lagi.
Andin yang merasa lupa meminum obatnya pun menepuk jidatnya. Lalu mengeluarkan 2 buah pil dari kotak obat yang ada di tasnya.
"Lo kok minum obat? Katanya gak sakit?." Tanya Putri lagi.
"Nambah vitamin." Ucap Andin santai.
__ADS_1
Putri mengangguk mengerti dan kembali ke bangkunya sendiri.
'Kenapa pinggang gue sakit ya, berasa mau copot oi.' Keluh Andin di dalam hati.