Tolong. Lihat Andin Juga

Tolong. Lihat Andin Juga
9


__ADS_3

Sindi dan Putri sudah pulang, ruangan itu kembali sepi, sunyi dan dingin.


"Gimana kabar Andana yah?." Tanya Andin sendiri.


Tiba tiba pintu ruangan itu terbuka. Andin terkejut ternyata Gevin yang datang.


'Ya tuhan. Gue salah liat kagak ya.' Ucapnga dalam hati.


'Malah magrib lagi, jangan jangan dedemit.' Ucapnya lagi.


"Gimana keadaan lo?." Ucap Gevin.


"Lo nyata?." Tanya Andin.


"Menurut lo?." Ucap Gevin.


"Kenapa lo kesini, magriba magrib lagi, gue kira dedemit." Ucap Andin.


"Ya kali." Ucapnya sambil duduk di kursi dekat Andin.


"Lo sakit apaan?." Tanya Gevin.


"Demam aja. Habis ujan ujanan." Ucap Andin.


"Lo kira gue ****, selang banyak kek gini cuma karna demam." Ucap Gevin.


"Yah. Perhatian banget sih sama gue." Ucap Andin bahagia.


"Pacaran kuy." Ajak Andin dengan tidak tau malunya.


"Astaga, otak lo gak waras ya?." Ucap Gevin.


"Gue udah punya pacar." Ucap Gevin.

__ADS_1


"Yahh. Gue kira belum." Ucap Andin pasrah.


"Makanya, jangan asal nempel sama gue." Ucap Gevin.


"Maaf deh." Ucap Andin dengan sedikit tertawa.


"Mana orang tua lo?." Tanya Gevin.


"Oh. Itu. Lagi. Oo. Lagi pulang dulu." Ucap Andin.


"Oh oke deh, gue pamit ya. Istirahat." Ucap Gevin meninggalkan ruangan.


"Oke. Makasih ya." Ucap Andin.


'Yah. Harapan gue sirna. Mana ada juga ya cowok ganteng yang jomblo." Ucap Andin sendiri.


Jam 20.00 Andin meminum obat yang di berikan dokter Agung kepadanya, dan langsung tertidur.


"Pagi kak Andin." Ucap Andana.


"Pagi." Ucap Andin.


"Sarapan dulu kak." Ucap Andana.


Karena operasi kemaren Andin tidak boleh kelelahan dan kecapean mau tidak mau ia harus sarapan bersama krang orang ini.


Seperti biasanya dari dulu, kegiatan Andin tidak terlalu di perdulikan oleh orang tuanya. Yang terpenting Andana mereka baik baik saja.


"Andana, gimana rasanya sekarang badan mu?." Tanya Anton.


"Baik kok pah." Ucap Andana.


"Pah, mah, Andana mau sekolah kayak kak Andin juga ya." Ucap Andana.

__ADS_1


"Boleh saja. Minggu depan ya. Biar papa urus." Ucap Anton.


"Makasih pah." Ucap Andana.


"Berangkat dulu ya." Ucap Andini.


"Bi, bekal aku udah?." Tanya Andin.


"Ini non." Ucap ni Ani memberikan bekal.


Andini meninggalkan semuanya yang masih sarapan.


"Gak sopan sekali anak mu itu." Ucap Anton.


"Sudahlah." Ucap Desi menenangkan.


Andin berjalan ke pintu luar.


"Pak Mamat, hari ini anter siapa?." Ucap Andin.


"Anter non Andana buat cek up non." Ucap pak Mamat.


"Oke deh." Ucap Andin.


Andin sampai di sekolah dengan semangat ketika melihat motor Gevin dan kembali cemberut mengingat ucapan Gevin bahwa ia sudah punya pacar.


Andin berjalan lesu kearah kelasnya. Duduk rapih di bangkunya dengan muka yang kecewa.


"Huih. Capek banget." Ucapnya sendiri.


Akhirnya Andin merebahkan kepalanya di meja beralasan tangannya. Mengingat mama dan papanya yang begitu perhatian kepada Andana.


'Andai mama dan papa juga gitu sama gue. Mungkin hidup gue udah sempurnah.' Ucap Andin di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2