
Hari ini adalah waktu untuk persami. Andini sudah bersiap dengan carriernya. Meminum obat dulu sebelum turun dan bertemu dengan orang orang yang katanya adalah keluarga itu.
Andini menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Semangat Andin." Ucapnya memyemangati diri sendiri.
Andin keluar dari kamarnya yang berada di lantai atas dan langsung ke dapur menemui bi Ani.
"Bi. Bekal Andin udah?." Tanya Andini.
"Sudah non. Bentar bibi ambilin." Ucap bi Ani mengambil kotak makanan di dalam lemari makanan.
"Ini non." Ucap bi Ani.
"Makasih bi. Pamit ya." Ucap Andin menyalami bi Ani.
"Hati hati non." Ucap bi Ani kepada Andin.
Andin melewati meja makan dengan santai. Andana terlihat masih dengan baju tidurnya.
"Kak Andin gak sarapan dulu?." Tanya Andana menghentikan langkah Andin.
"Enggak. Udah telat soalnya." Ucap Andini melangkahkan kakinya lagi.
Anton dan Desi tidak terlalu menanggapi keadaan sekarang, karena sudah terbiasa dengan sikap Andini yang acuh tak acuh
Andini hari ini di antar pak Mamat karena Andana tidak ikut persami.
"Pak Mamat apa kabar?." Tanya Andini di dalam mobil.
"Baik neng. Udah lama gak liat neng senyum." Goda pak Mamat.
__ADS_1
"Haha. Bapak bisa aja." Ucap Andin.
"Gimana neng, sama cowok yang neng suka tuh?." Tanya pak Mamat.
"Susah pak buat di deketin, doain Andin biar sabar terus ya pak." Jawab Andin sambil tertawa.
"Siap neng." Balas pak Mamat.
Sampai di sekolah Andin bersalaman dengan pak Mamat.
Andin melangkah masuk ke dalam kelasnya dahulu, untuk menerima arahan dari anggota OSIS nanti.
Sarapan sudah di genggam Andin. Seperti biasa Andini sekarang beridiri di depan pintu menunggu calon pacar yang kata Andin bakal ia dalatkan itu.
"Eh. Ini sarapan gue bawain." Ucap Andin menyodorkan makanan kepada Gevin.
"Lo gak bosen gitu?." Ucap Gevin acuh kepada Andin.
"Enggak, buat apa bosen." Ucap Andini dengan senyuman bahagia.
"Mmm. Plis. Sekali aja. Habis itu enggak lagi deh." Ucap Andin memohon.
Gevin mengambil bekal makanan itu, lalu pergi meninggalkan Andin.
"Yes." Ucap Andin dengan senang.
Andin masuk ke kelasnya. Tidak sabar menceritakan hal membahagiakan itu kepada kedua temannya.
Tidak lama, Sindi dan Putri masuk ke dalam kelas. Andin dengan semangat mendatangi meja kedua temanny yang bersebelahan itu.
"Put. Sin. Lo tau gak. Ada kabar gembira?." Ucap Andin semangat.
__ADS_1
Putri dan Sindi tidak merespon Andin. Sibuk dengan carrier mereka masing masing.
"Lo bedua pada kenapa si?." Tanya Andin yang heran.
Merasa tidak di tanggapi Andin duduk di bangkunya dengan perasaan yang tidak enak.
Tenda sudah terpasang ketika sore hari, dan malam ini waktunya untuk melatih keberanian diri.
Semua siswa sudah berkumpul di tengah tengah tempat camp.
"Baiklah. Sekarang kita akan melakukan latihan untuk keberanian diri. Masing masing dari kalian nanti akan mengambil kertas yang di dalam box ini, di sini terdapat nama untuk kakak pembimbing kalian nanti." Ucap Gevin memegang sebuah box.
"Untuk semua kawan kawan, di harapkan untuk menyiapkan jas hujan, karena perkiraan cuaca akan hujan petir." Tambah Gevin.
Semua siswa mengantri untuk mengambil kertas. Andin membuka kertas miliknya tertulis nama seseorang yang tidak ia kenal.
"Hai." Ucap seorang pria kepada Andin.
"Lo lagi." Balas Andin kesal melihat orang itu.
Andin melihat sekelilingnya. Semua sudah mendapatkan pendamping, dan ternyata cowok ini yang akan dampingin dia.
"Jadi lo Wahyu?." Tanya Andin.
"Yoi." Jawab Wahyu santai.
"Lo gak penakutkan?." Tanya Wahyu.
"Enggak. Cumaa.." Ucapan Andin terhenti ketika Gevin sidah memerintahkan semua pasangan untuk bersiap.
Andin mendapatkan pendamping dan tantangan yang lumayan susah baginya. Andin harus melewati hutan belakang sekolah yang berjarak kira kira 500 M agar sampai ke posko depan.
__ADS_1
Pendamping hanya boleh menunggu di posko agar tidak terjadi kecurangan.
Langit tidak berpihak kepada Andini. Hujan turun di sertai petir. Ia bukan takut petir, bukan juga takut hujan. Hanya saja badannya tidak menerima sentuhan air garam.