
Andini sudah bangun terlebih dahulu. Ia tidak sadar semalaman tidur dengan berbantalan lengan Gevin.
"Gevin. Ayo bangun. Nanti kita telat." Ucap Andin menggoyangkan badan Gevin.
"Ini masih jam 5." Ucap Gevin yang enggan bangun pagi.
"Kemaren lo bilang mau anter gue pulang dulu." Ucap Andini dengan nada sedihnya.
"Sekarang lo malah kayak orang ogah ogahan." Tambah Andini.
Dengan rasa sangat terpaksa akhirnya Gevin bangun dari tidurnya.
"Duh. Kok lengan gue pegel ya?." Tanya Gevin.
Andini yang mendengar itu langsung tertawa terpaksa.
"Maap. Tadi kayaknya gue tidur di lengan lo terus." Ucap Andini.
"Ooo. Oke deh. Ayok siap siap, gue anter pulang." Ucap Gevin.
Andini menyiapkan barang barangnya dan memasukkannya ke dalam tas jinjingnya itu dan keluar dari penginapan itu.
"Ternyata masih subuh gini serem yah, malah dingin lagi." Ucap Andini yang memangku badannya dengan kedua tangan.
"Kan lo sendiri yang ngajak gue pulang subuh." Jawab Gevin.
Andini hanya membuang nafas kasar.
"Huft. Lo bilang gue pacar lo, baik baikin gue kek." Ucap Andini.
__ADS_1
"Bodo amat. Ayok naik." Ucap Gevin meminta Andini naik ke motornya
Andini naik ke motor ninja hitam itu. Ia tidak berani memeluk Gevin jadi ia meletakkan tangannya di tengah, antara ia dan Gevin.
"Lo beneran gak mau meluk gue nih?." Goda Gevin.
"Ogah. Lo bauk. Belom mandi." Ucap Andini.
"Awas aja lo peluk gue." Ancam Gevin.
Gevin menjalankan motornya tanpa aba aba, membuat tubuh Andini hampir kejungkir dan tanpa sengaja memeluk Gevin.
"Kan meluk gue juga lo." Ejek Gevin pada Andini.
"Yee. Ini mah elo yang mau di peluk kayaknya." Ucap Andani tidak mau kalah.
"Haha. Pegangan ya pacar." Goda Gevin.
'Gue meluk lama lama nanti gue khilap mulu lagi.' Ucap Andini di dalam hati.
"Nanti lo kasih tau arah jalan ya." Ucap Gevin meminta Andini menujukkan jalan ke rumahnya.
"Oke." Jawab Andini.
**
Andini kembali ke rumah dengan perasaan senang. Ia bersiap untuk kembali ke sekolah. Ia merapihkan rambutnya di depan cermin rias kamarnya. Memakai sedikit lipgloss agar lebih natural. Sebelum kembawah Andini meminum obatnya dahulu. Dan langsung turun.
"Bi Ani, sarapan Andin udah belum?." Tanya Andini pada bi Ani yang sedang menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Udah dong non, ini." Jawab bi Ani memberikan bekal makanan.
Sebelum Andini sempat meminggalkan ruang makan, Anton dan Desi datang dari arah kamarnya.
"Andini. Duduk dulu kamu, mama sama papa mau bicara." Ucap Anton.
"Keburu telat." Ucap Andini beralasan.
"Duduk dulu!." Bentak Anton.
Dengan sangat terpaksa Andini duduk bersama Anton dan Desi. Tidak lama Andana datang dengan wajah yang sangat bahagia.
"Pagi mah, pah. Eh ada kak Andini." Sapa Andana.
"Pagi sayang." Jawab Anton dan Desi bersamaan.
"Pah, bantu Andana deket sama ketua OSIS dong. Kan papa punya kenalan di sekolah Andana." Pinta Andana.
"Wah. Kamu lagi jatuh cinta ya sayang?." Tanya Desi pada Andana.
Sedangkan Andini yang mendengar itu merasa kesal. Tapi mau tidak mau ia harus bertahan dulu duduk di situ.
"Nanti papa coba cari tau ya sayang, keluarga ketua OSIS kamu itu." Jawab Anton.
"Makasih papa. Sayang deh." Puji Andana.
Andini merasa muak dengan drama drama keluarganya ini. Ia memutuskan untuk meninggalkan ruang makan itu. Ketika Andini berdiri, Anton kembali menegurnya.
"Duduk dulu Andin, papa mau bicara." Bentak Anton.
__ADS_1
"Tinggal bicara aja apa susahnya sih, dari tadi di tungguin malah drama dramaan." Ucap Andini.
"Papa dapat laporan kamu mencairkan duit, itu cek dari papa."