
TA 98
Sudah sebulanan Zia dan Valdi pindah ke Malang, selama itu pula Zia dan Valdi lebih banyak bersenang-senang.
Mereka berdua sangat menikmati masa-masa pernikahan mereka. Kemana-mana selalu berdua. Mereka mengunjungi banyak tempat berdua, kadang juga bersama Bunda dan Mama.
Setiap hari Zia masih terus membantu Valdi di kantor, yang namanya kantor baru jelas masih sepi. Bahkan selama sebulan ini Valdi belum menemukan klien baru, hanya klien lama yang di oper dari dokter design.
Di kantor Valdi yang sekarang Cuma ada 4 karyawan termasuk Zia dan Valdi. Karena memang belum ada yang mereka harus kerjakan.
Valdi membuka kantornya disamping rumahnya sendiri, kebetulan ada lahan kosong yang bisa dia manfaatkan.
Disebelahnya lagi sekarang sedang dibangun sebuah Café yang nantinya akan dikelola Triangel.
Valdi, Fian dan Satya sepakat membuatkan café untuk istri mereka, jadi mereka kerjasama bertiga.
Konsep cafenya seperti yang dulu mereka rencanakan yaitu ramah anak, dan memang Valdi mendesain café itu agar lebih cocok ke anak-anak.
Zia sendiri udah semingguan ini sering membantu di taman ceria, dia sudah bilang dari awal gak bisa full membantu karena dia juga bekerja di tempat Valdi.
Meskipun dalam seminggu hanya 3 hari dia mendapatkan jadwal untuk mengajar Zia udah senang karena bisa interaksi langsung dengan anak-anak.
Apalagi teman-teman di Taman ceria kebanyakan adalah kakak kelasnya waktu SMA dulu, jadi Zia gak perlu lagi untuk adaptasi lama-lama.
Valdi juga kadang suka ikut Zia ngajar. Tapi dia lebih banyak ngobrol dengan teman-temannya yang lain.
“Yank…” panggil Zia
“hmmm?”
Saat ini Valdi lagi nyetir mobil, mereka berdua baru pulang dari Taman ceria.
“kamu buatin design buat playgroundnya anak-anak dong yank, kasian tempat main mereka terlalu sempit”
“Playground? Tadi Iva sama Tama gak ada bahas itu ke aku”
“itu ide aku aja yank, pasti mereka bakal seneng kalau ada playground yang bagus, kamu kan keren kalau bikin kayak yang pernah dibuat di jogja”
“kalau mau bikin kayak gitu biayanya jelas gak sedikit yank, sabar ya, kamu tau kan sebulan ini kita belum ada pemasukan, mungkin sekitar dua bulan kedepan kita harus ngirit-ngirit dulu yank, apalagi kan kita juga lagi proses bikin café” terang Valdi
Zia diam, dia sangat tahu selama ini Valdi sudah mengeluarkan uang banyak untuk Taman ceria dan pembangunan café.pembukaan kantor cabang juga pasti membutuhkan uang banyak, dan Valdi juga sempet pinjam uang di bank.
“kamu setuju gak kalau kita bangun pake simpenanku?” tanya Zia hati-hati.
Valdi langsung menoleh, “Ra, kamu bisa ngerti ucapan aku kan? Aku bakal bikini playground buat Taman ceria, tapi sabar dulu. Dan itu pastinya dari uang aku sendiri, bukan dari simpenan kamu yang jelas aku tau itu dari mantan suami kamu!” tolak Valdi tegas.
“Yank, uang itu emang dari Gama, tapi kan emang itu hak aku dulu. Dan jujur aku sendiri gak mau nyimpen terus-terusan uang itu. Mangkanya aku usulin ide itu ke kamu” Zia ngotot
“kamu paham gak sih Ra? Aku pengennya bikin sesuatu buat kamu itu ya dari kerja keras aku sendiri! Aku gak butuh uang itu!” Valdi keliatan makin emosi
“Kamu kenapa sih? Tiap bahas masalah uang itu selalu emosi? Niatku kan baik Yank!”
“Gimana aku gak emosi Ra? Dengan make uang itu sama aja itu ngelukai harga diri aku. kamu udah nikah sama aku, tapi kamu bisa bahagia dengan uang dari mantan kamu. Bisa mikir kan RA?!” kesal Valdi
“kenapa kamu mikirnya kayak gitu sih?”
“karena aku sadar selama ini belum bisa ngasih kebahagian secara materi ke kamu. Beda dengan mantan suami kamu!”
“Kak…” bentak Zia kesal
Valdi hanya diam, dia sama sekali gak nggubris omongan Zia lagi. Mereka berdua udah kepancing emosi. Keduanya sama-sama diam, sampai mereka tiba di rumah.
Turun dari mobil Valdi langsung pergi ke kantornya dengan membanting pintu, padahal Zia masih diam di dalam mobil.
Ngeliat tingkah suaminya Zia langsung menangis. Beberapa kali saat mereka bahas uang yang dari Gama ujungnya selalu tengkar.
“Zi? Kamu nangis? Kenapa?” tanya Bunda saat ngeliat Zia masuk dalam rumah dengan menunduk
“gak papa Bun” bohong Zia
Bunda senyum “Zi, tengkar sama Valdi?”
Zia ngusap air matanya dan menatap Bunda, dia mengangguk.
__ADS_1
“Kamu sama Valdi memang udah menikah. Sudah bukan kapasitas Bunda ikut campur masalah kalian, tapi kadang orang yang lebih berpengalaman juga bisa bantu ngasih solusi. Bunda Cuma gak mau liat kalian tengkar” ucap BUnda lembut
Zia ngeliat Bunda, dia seperti berfikir. Bunda tersenyum dan mengangguk.
“Sini duduk” ajak Bunda “Valdi mana?”
“di kantor”
“Kalian kenapa?”
Zia menceritakan semuanya, awal mereka bertengkar. Juga masalah uang yang selama beberapa kali ini sering bikin Valdi cepet emosi.
Bunda mendengarkan cerita Zia dengan teliti, selesai Zia cerita, Bunda ngasih beberapa solusi yang mungkin bisa dilakukan mereka berdua.
Tiba waktu makan malam Valdi belum pulang ke rumah, Zia terus mondar mandir nunggu suaminya. Sebenernya dia pengen nyusul tapi dia takut bakal tengkar lagi sama suaminya.
sampai Pukul 10 malam Valdi juga belum balik, akhirnya Zia nyusul di kantor.
Lampu ruangan Valdi masih nyala, tandanya dia di dalam dan gak pergi kemana-mana. Zia membuka pintu yank gak kekunci. Dilihatnya Valdi sedang tidur di sofa, dan meja kerjanya penuh dengan gambar design.
Melihat itu Zia jelas ngerasa sangat bersalah.
Di dekatinya suaminya itu, Zia jongkok di depan Valdi yang tidur miring.
Diusapnya rambut suaminya. Dan diberikan kecupan sekilas, Valdi keliatan mulai keganggu, Zia tersenyum dan ngusap pipi Valdi lembut. Valdipun membuka mata.
“Ra…” Valdi mencoba untuk duduk
“Marah banget sama aku sampek tidur aja milih disini” rajuk Zia
Valdi senyum tipis “sini” ajak Valdi sambil narik Zia buat duduk di sebelahnya.
“Maaf” ucap Zia lembut
“Aku yang minta maaf tadi udah kebawa emosi” kata Valdi sambil ngusap kepala Zia dan menciumnya.
“Kak Al marah?”
“tadi kesel sih, tapi udah ilang dan langsung kerja”
“kecapekan tadi Ra, mau pulang kayak udah gak kuat, niat rebahan bentar, eh malah kebablas sampek malam gini”
“aku nya dirumah khawatir, Kak Al enak-enakan tidur” rajuk Zia
“kenapa khawatir hemh? Kan kamu tau aku kerja lagian juga Cuma disebelah rumah gak kemana-mana” kata Valdi sambil meluk Zia erat.
“Ra, aku laper ” tanya Valdi
“yaudah pulang yuk, tadi aku sama Bunda udah masak”
“pengen beli sate aja, di deket SMA dulu” kata Valdi manja
Zia senyum “siap bos. Yuk!” ajak Zia sambil berdiri.
Mereka berdua akhirnya boncengan naik motor berdua, beli sate di deket sekolah SMA mereka dulu.
Menikmati malam berdua bersama pasangan memang sangat membahagiakan. Dan Zia sangat bersyukur mempunyai suami seperti Valdi, meski kadang dia suka cemburu gak jelas dan gampang emosi, tapi dia paling gak tegaan.
Apalagi ke Zia.
Saat emosi dia milih pergi sebentar, nenangin dirinya. Dia gak madu kebawa emosi, sampek ngomong yang gak enak di denger atau parahnya sampek ngasar.
Saat dia udah tenang dia akan nemuin Zia lagi, memeluk istrinya. Saling meminta maaf.
“Yank… kamu tau gak, berdua sama kamu gini itu udah kebahagiaan tersendiri buat aku” ucap Zia saat ada diboncengan Valdi.
Valdi tersenyum dan ngusap tangan Zia yang ada dipinggangnya. Mereka keliling sebentar, sekedar mencari angin.
Bagi mereka kota ini tak kalah romantic dengan jogja. Apalagi mereka sama-sama tumbuh di kota ini, dan cinta mereka juga mulai bersemi disini.
“mau ngobrolin apa sih?” tanya Valdi sambil nyolek dagu Zia
Beberapa menit lalu mereka berdua selesai bertempur panas di atas ranjang. Keduanya saling mendamba, dan mencurahkan segala rasa. Saat ini Zia sedang berada dalam dekapan Valdi. Zia sengaja mengajak Valdi ngobrol.
__ADS_1
“masalah yang tadi”
Valdi menghela nafas panjang
“Ra…” dia keliatan enggan, malas tengkar lagi.
“Aku janji gak bakal bikin kak Al emosi” bujuk Zia dengan ngusap pipi Valdi lembut
“Yaudah apa?”
“Aku minta maaf, aku sama sekali gak ada pikiran, kalau kak Al bakal kesinggung dengan uang itu”
“Aku gak kesinggung sama uang itu Ra, Cuma gimana ya” Valdi garuk rambutnya.
“Iya aku paham maksut kak Al, gini lo yank, selama ini aku sendiri juga beban dengan adanya uang itu. Mangkannya aku pengen segera gunain uang itu. bukan karena aku ngerasa kak Al gak mampu, enggak yank. Aku mikirnya uang itu diapain biar kita gak kehubung sama mantan suamiku lagi”
Valid menghela nafas” aku gak masalah sama uang itu, tapi aku gak suka aja kalau kamu pengen sesuatu entah itu beli atau bikin apa pake uang itu, kog rasanya aku sebagai suami kamu yang sekarang gak ada gunanya gitu Ra”
“Enggak yank, aku minta maaf kalau secara gak langsung nyinggung kamu” ucap Zia sambil nyium bibir Valdi
Valdi tersenyum dan nyubit hidung Zia gemas “iya, aku suka cepet emosi aja yank kalau masalah masa lalu kamu”
“Iya, aku punya ide, dan aku berharap banget kamu gak kesinggung, intinya aku tuh sebenernya pengen ngabisin uang itu biar gak ada sangkut pautnya sama masa lalu dan gak bikin kita salah paham kayak tadi”
“Apa?”
“Gimana kalau kita sumbangin aja semua uang yang dari Gama?”
“Semuanya? Kamu yakin? Ikhlas? Banyak lo uangnya, ntar nyesel” sindir Valdi.
“Ih… kamu kog gitu sih yank, aku lebih milih gak punya uang sebanyak itu daripada harus tengkar terus sama kamu, gak enak tauk yank,capek” ucap Zia manja
“hahaha… kamu tuh bisa gak sih yank gak bikin aku gemes terus?”
“Gak bisa, itu kan emang andalan aku biar kamu nurut” kata Zia sambil ngeratin pelukannya.
“iya-iya, aku gak masalah sih kalau kayak gitu, aku juga seneng aja kalau kamu gak make uang itu lagi.”
“Siip… aku udah ada rencana nih mau nyalurin kemana aja, untung semua uang yang dari Gama aku bikin rekening sendiri. Jadi uang gaji aku sama uang dari kamu udah beda. Besok aku kasih tau jelasnya”
“Iya aku percaya sama kamu, ajak Bunda buat nyalurinnya. Sapa tau Bunda ad aide juga. Kalau bisa dahuluin saudara atau tetangga yang kurang mampu dulu yank, setelahnya terserah kamu”
“Oke. Yank… janji ya sama aku, kamu jangan pernah lagi emosi atau marah bahkan tengkar kayak tadi karena masalah masa lalu aku, terutama yang berhubungan sama Gama.
Dia memang mantan suami aku, tapi aku juga gak suka kamu ngebandingin diri kamu sama dia. Buat aku, kamu itu lebih sangat-sangat istimewa dari dia”
Valdi senyum dan mencium bibir Zia sekilas “Iya maaf”
“jangan pernah ngerendahin diri kamu sendiri, apalagi soal materi, aku gak suka.” Rajuk Zia
“emang kamu nerima aku apa adanya? Meski aku gak sesukses dulu?”
“pertanyaan macam apa sih itu yank?” kesal Zia “kamu pikir aku matre?!” Zia ngelepas pelukannya.
“hahaha… jangan ngambek dong” Valdi narik tubuh Zia lagi “aku Cuma takut belum bisa bahagiain kamu Ra”
“Bahagia itu gak harus sama materi yang melimpah kak, kamu tau kak, sekarang itu ada hal yang emang lagi aku pengenin dan gak perlu materi”
“Apa? Aku bisa ngasih gak kira-kira?”
“InsyaAllah kamu bisa bantu mujudin”
“Apa?”
“Anak” bisik Zia malu-malu
“hahaha… bilang aja kamu pengen lagi”
“gak ya, aku kan bilangnya pengen anak, gak pengen gituan”
“sama aja sayanku, gimana mau punya anak kalau gak sering bikin, hayuk lah lagi, hahaha” kata Valdi sambil narik Zia.
Entah apa yang akan mereka lakukan… hehehe
__ADS_1
***