
TA 81
Zia menceritakan semuanya, mulai dari awal dia kenal Gama, saat mereka pacaran, saat Zia kabur ke Resti, saat Zia balikan lagi, menikah, Dea datang, sampai akhirnya dia cerai.
Zia menceritakan semua dengan detail tanpa ada yang disembunyikan. Air matanya juga terus turun, dia juga bercerita apa yang dia rasakan selama pernikahan, gimana rasa sakitnya, gimana menderitanya dia yang Cuma sendirian, tanpa ada orang lain yang tau tentang kehidupannya.
Valdi ikut berkaca-kaca, rahangnya mengeras, tanganya juga mengepal. Bagaimana bisa ada lelaki yang menyakiti Zianya sampai seperti itu. Valdi jelas gak terima.
“Jadi sampai sekarang dia masih nyari kamu?”
“kata kak Arga gitu, kak Arga bener-bener nutup akses aku ke dia. Bahkan gag ada yang tau kalau sebenernya aku di jogja. Semua orang mengira aku kerja di Jakarta. Hanya Resti dan Winta yang tau. Dan beberapa minggu lalu Gama juga ganggu Resti, nanyain aku.”
“Brengseek… kenapa kamu bisa kenal cowok kayak dia sih Ra?!” Valdi ikutan emosi.
“aku gak tau kak, waktu pacaran dia baik banget ke aku”
“Tapi harusnya kamu intropeksi, kenapa orang-orang terdekat kamu gak setuju kamu sama dia.”
“Aku juga bingung kak, kadang aku muak sama dia, tapi dia pinter banget bikin pikiran aku balik ke dia, aku kayak gak bisa lepas dari dia”
“Dasar!” Valdi nyentil kepala Zia pelan “terus apa alasan dia masih ngejar kamu? Kamu gak bawa lari uang dia kan Ra?”
“Ngawur! Gak lah, aku emang dapat uang dari dia, tapi uang itu aku dapat waktu jadi istrinya, kayak bulanan aku gitu, jarang aku pakai dan emang aku tabung. Masih ada sampai sekarang”
“terus?”
“terakhir ketemu itu dia bilang mau nagih janji”
“Janji apa?” Valdi heran
“Aku pernah janji gak bakal ninggalin dia, dan kita bikin beberapa kesepakatan. Kayaknya sih itu yang dia permasalahin”
“emang apa isi kesepakatannya?”
Zia terlihat salah tinggal “kita bahas nanti lagi ya kak,” ucap Zia sambil meminum cappucinonya yang mulai dingin.
“Jangan pernah sembunyiin apapun lagi dari aku Ra” ucap Valdi sambil natap Zia intens.
“Iya kak”
---RIVALDI POV---
Aku menghela nafas panjang, memandang Ara yang lagi sibuk meminum cappucinonya. Setelah mendengar ceritanya tadi tentu aku sangat geram, bagaimana bisa ada seorang cowok bahkan suami yang tega nyakitin hati cewek selembut Ara.
Dan aku bener-bener gak terima.
Apalagi tadi aku ngelihat tubuh Ara yang kaku, dan bergetar seperti orang ketakutan. Sedalam itukah rasa traumanya? Aku gak nyangka orang yang dulu sangat aku cintai mempunyai kisah semenyedihkan ini.
pantas awal bertemu di kantor dia lebih banyak diam dan jarang berinteraksi dengan orang lain.
Kalau aku boleh mengulang waktu, aku lebih memilih gak akan pernah ninggalin Ara. Tapi kalau dulu aku gak ninggalin dia apa kita bakal bisa menikah seperti sekarang? Entahlah…
Kuusap kepala Ara, dan ku kasih senyum termanis untuknya. Perempuan satu ini begitu sangat menggemaskan. Aku sampai heran, tadi dia sangat sedih dan ketakutan, tapi saat ini dia malah begitu menikmati minuman favoritnya itu.
“Mau lagi?” tawarku
“Enggak! Yang ada gak bisa tidur ntar aku” katanya santai
Aku menahan senyum, ada ide jahil yang tiba-tiba melintas kepalaku “Emang siapa yang ngijinin tidur? Aku sengaja ngasih kamu cappucino karena aku mau ngajakin kamu begadang”
“begadang? Ngapain?”
“Gak usah pura-pura lupa” aku menyentil dahinya “noh liat udah gelap, tandanya udah malam, gak lupa kan acara Malam pertama kita”
“Hah?”
Ara melongo, sampai dia berkedip beberapa kali. Sumpah wajah cengohnya ini bener-bener gemesin. Rasanya pengen tak cium, eh…
__ADS_1
“Tuh kan, alasan mulu kamu” aku pura-pura kesal
aku pura-pura ngambek, pengen tau apa reaksinya. Ku ambil ponselku pura-pura sibuk.
“Kak Al…” panggilnya
“hmmm…”
“Ih… jangan ngambek dong, aku pikir tadi siang tuh bercanda tau kak. Kita kan belum saling cinta, gimana kalau kita nunggu perasaan kita dulu.” Rayu Ara.
“Ya” jawabku singkat tanpa melihat dia.
Aku masih menyibukan diri sama ponselku, jujur ada sedikit rasa kesal saat dia menolakku. Tapi aku sadar, gimanapun pernikahan ini adalah dadakan.
Aku sendiri sebenernya juga belum ada rencana kesitu, Cuma iseng iseng berhadiah. Sapa tau kan dipancing kayak gitu malah diiyain.
“jangan ngambek kak…”
“Enggak. Udah sana tidur” kataku datar.
Kulirik Ara dengan wajah bersalahnya, perlahan dia berdiri dan masuk dalam kamar. Aku tersenyum dan geleng-geleng.
Mengerjai Ara memang sudah jadi hobiku sejak dulu. Kudengar dia kembali berjalan ke arahku, dan duduk disampingku.
“Kenapa?” tanyaku heran
“Mana bisa tidur aku kalau kak Al ngambek gini,” kesalnya
“Aku gak ngambek Ra, dah sana tidur. Capek kan seharian jalan. Udah sana” kataku dengan senyum maksa.
Dengan segala macam bujuk rayuku akhirnya dia kembali masuk kamar, dan sepertinya dia masuk kamar mandi. Aku kembali menatap ponselku. Ada nama Dinda disana.
Sejak tiba di Malang aku mengabaikan segala chat dan telphon dari DInda. Beberapa hari belakangan ini memang aku jarang komunikasi sama dia. Entahlah, makin kesini aku jadi risih sama permintaannya.
Aku sendiri juga gak nyangka bakal disuruh nikah sama Ara, jujur saat Mama memintaku untuk nikahin Ara ada rasa senang disana, pengen rasanya langsung mengiyakan, tapi gengsi dong kalau langsung aku jawab.
Sepertinya memang aku gak bisa nolak pesona Ara, dari dulu dia selalu mendominasi duniaku. Saat aku udah mulai menata hidup, berpetualang dengan banyak cewek dan meratapi kepergian Dinda karena aku ngerasa udah mulai ada rasa, dia tiba-tiba datang memporak porandakan duniaku lagi.
Gak butuh waktu lama buatku untuk jatuh cinta lagi dengan Ara, cewek itu selalu punya cara sendiri untuk membuatku jatuh cinta, aku gak peduli dengan status jandanya, aku yakin Ara punya alasan sendiri kenapa sampai cerai, dan ternyata memang mantan suaminya adalah lelaki brengseek.
Aku berjanji kalau sampai dia masih mengganggu Araku, akan kuhajar dia.
Selama ini aku berusaha menyembunyikan perasaanku, aku gak mau Ara ngerasa gak nyaman dan malah menjauhiku. Menjadi teman dekatnya itu udah cukup bagiku.
Dan semuanya mulai berubah saat Dinda datang, aku menjadikan dia alasan agar Ara percaya kalau aku gak cinta sama dia.
Tapi itu seakan menjadi bom bunuh diri buatku, Dinda menuntut sebuah hubungan, keluarganya yang tidak tahu malu itu juga selalu mendesakku, sialaaan.
Dan saat aku sumpek, datanglah Ferdi yang mulai mendekati Ara. Aku hafal gimana Ferdi, dia gak akan sampai seperti itu kalau gak ada rasa sama Ara. Aku cemburu.
Aku kembali tenang saat Ara bilang menolak Ferdi. Dan sekarang akulah pemenangnya, Ara sudah jadi istriku. Dan akan kupastikan dia akan jadi miliku selamanya, gag ada lelaki yang bisa menyentuhnya lagi selain aku.
challenge? Itu hanya akal-akalanku agar dia juga segera jatuh cinta. Jujur aku masih gengsi untuk mengakui perasaanku.
Cukup lama aku berdiam di Balkon, rasanya pahit juga daritadi gak ngerokok. Kulihat hujan sudah mulai reda. Mending aku pergi keluar buat beli rokok. Daripada pikiranku melayang kemana-mana.
Deg…
Gilaaa… cobaan macam apa lagi ini, aku menelan salivaku susah payah. Kulihat Ara sedang berdiri di depan cermin, entah memakaikan apa di wajahnya, mungkin cream malam. Tapi bukan itu masalahnya.
Ini pertama kalinya aku melihat Ara tanpa hijab, rambutnya yang berwarna hitam sepunggung dengan bagian bawah bergelombang, kontras dengan kuliatnya yang sekarang makin putih. Apalagi dia memakai baju tidur terusan seperti daster warna merah.
Hmmm… badanku mulai panas, juniorku juga mulai bergejolak.
sialaaan… Aku sengaja tak menyapanya dan langsung jalan ke arah pintu.
Greep…
__ADS_1
Kurasakan dua gunung kembar menempel di punggungku, rasanya benenr-bener empuk, Ara memelukku dari belakang. entah apa tujuannya, apa dia sengaja menggodaku? Tapi sepertinya dia malah mengerjaiku…
“Kak Al mau kemana?”
“Keluar, cari yang seger-seger” jawabku asal
“Maaf, jangan ngambek dong. Iya deh kita lakuin sekarang” ucapnya pelan.
Aku tersenyum licik. Membalikan badan. Kini aku bisa ngeliat wajah putus asanya. Sedikit kulirik gunung kembar yang nempel dipunggungku tadi.
“ngelakuin apa?” godaku dengan wajah datar
“Malam pertama” jawabnya sambil nunduk
Kuangkat dagunya agar menatapku, “yakin udah siap? Tadi gak mau”
“harus siap kak, dosaku udah banyak, aku gak mau nambah lagi dengan bikin kak Al kesel, apalagi nolak di ajak beribadah” jawabnya
Aku tersenyum dan langsung mengangkat tubuhnya ke atas ranjang, kita saling tatap. Ara terlihat salah tingkah dan menyusupkan wajahnya di dadaku.
Rasanya geli banget, makin meremang aja badanku.
Kuturunkan dia perlahan, aku berbaring disampingnya dengan badan menghadap dia,kutopang kepalaku dengan satu tangan.
sedangkang dia terlentang, menatap langit sambil memainkan kedua jari tangnnya, dia gugup. Aku gak kalah gugup. Rasanya jantungku lagi main drum. Kuusap pipinya, dan kucium keningnya lembut.
“Malam pertamanya tidur sambil pelukan aja ya” kataku sambil meluk tubuhnya
“Hah?” dia keliatan kaget dan langsung ngehadap aku
Ku jitak keningnya pelan “ kenapa kayak gak terima gitu? Kamu lagi pengen?” godaku
“gak gitu, kan tadi kak Al yang ngajakin sampek ngambek. Kenapa sekarang malah Cuma tidur sama pelukan?” ucapnya
Wajahnya terlihat sangat menggemaskan, kucium pipinya, “ pelan-pelan aja sayank, kita nikmatin prosesnya”
Ku tatap wajahnya, dia malah manyun dan menggerutu “ kenapa?” tanyaku
“Kak Al sengaja ngerjain aku ya?”
“hahaha… kamu makin gemesin Ra” ku peluk lagi tubuh mungilnya.
Dia terlihat kesal dan menghentakan kedua kakinya di ranjang, aku makin ketawa.
“Kamu kesel karena gak jadi malam pertama atau apa?”
“ihh… kesel karena dikerjain” dia makin manyun
Kucium bibirnya sekilas, dia kaget dan langsung menatapku, ku kerlingkan satu mataku dan senyum menggoda, dia terlihat salah tingkah dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Aku kembali tertawa, istriku bener-bener menggemaskan, kutarik tangannya. Kita saling tatap, ada rasa bergemuruh dalam dadaku, jantungku sudah berdetak gak beraturan.
“kak…” rengeknya
“Apa?” tanyaku lembut
“Anu-nya kak Al jangan ditempelin di aku, mana udah keras banget lagi. Takuut” sindirnya sambil nahan senyum
Haiiish… dasar cewek satu ini, mulutnya memang gak bisa dikondisiin. Wajahku pasti udah merah. Padahal daritadi aku mencoba menahan gejolak dari juniorku.
Ku jitak pelan keningnya “Nakal!”
“Hahaha….” Dia malah tertawa ngakak
Tuh kan dia Cuma godain aku, nyesel tadi aku nolak ajakannya, pengen ku telan hidup-hidup rasanya nih anak. Untung cinta. Kembali ku peluk erat dia.
“tidur!” perintahku
__ADS_1
***