TriAngel

TriAngel
TA 50


__ADS_3

TA 50


Setelah obrolanku dengan Bang Gama beberapa hari yang lalu, aku mulai sedikit jaga jarak dengan dia. Aku sadar kalau dia kecewa dengan aku, tapi aku lebih kecewa disini.


Untung Mama Papa masih di Jakarta, jadi aku masih bisa sedikit bersantai, tak perlu menutupi kesedihanku. Mbak Minah Art di rumah ini beberapa kali memberi aku semangat, gimanapun dia mengetahui masalahku.


Tiap hari setelah Bang Gama pergi kerja aku menikmati waktuku dengan melamun atau sekedar menonton drama, hanya itu yang bisa kulakukan apalagi aku sedang halangan. Bang Gama tiap hari tidur dirumah, dan aku fikir ini gak adil buat Kak Dea.


Aku senyum mengingat kalau aku masih mikirin kak Dea, padahal aku dulu gak suka sama dia, tapi dalam masalah ini aku juga gak bisa nyalahin dia, sebagai sesame perempuan aku tau kalau dia pasti juga gak mau dalam posisi ini.


Dulu saat aku menemani Mama menonton sinetron di tivi ikan terbang, aku selalu bilang hanya perempuan bodoh yang membiarkan suaminya punya istri lebih dari satu, tapi sekarang aku paham kenapa hal itu bisa terjadi, karena perempuan bodoh itu adalah aku.


Ku menangiiiisss…..


Air mataku rasanya gak pernah habis, bahkan air mata itu tiba-tiba menetes saat aku hanya mengingat keluargaku, aku menyesal, sangat menyesal. Saat kayak gini aku ngerasa bener-bener sendiri, gak ada orang tempatku berbagi.


Dan aku sadar kalau bersama Bang Gama bukannya lebih mendekatkan aku dengan keluarga, tapi malah menjauhkan. Apakah memang begini sebuah pernikahan? Entahlah…


Beberapa hari lagi Mama Papa akan balik kerumah, dan aku memberikan kesempatan buat Bang Gama selama beberapa hari ini untuk tinggal dirumah Kak Dea, awalnya dia keberatan, akupun sebenernya sangat keberatan, tapi aku sadar setelah Mama Papa kembali tinggal bersama kami waktu Kak Dea dan Bang Gama akan semakin sedikit, kasihan, apalagi dia sedang mengandung.


Aku kembali tersenyum miris mengingat usulku itu, sekarang aku ngerasa seperti menjadi seorang perempuan sok kuat, sok punya hati baik. Padahal nyatanya aku terus menangis.


“Dek, kamu gak bilang sama siapapun kan tentang ini?” Tanya Bang Gama suatu hari, aku tau dia bukan orang yang gampang percaya.


Setelah aku mengajukan syarat waktu itu, dia juga mengajukan syarat, syaratnya aku harus selalu mematuhi apapun yang dia katakana, termasuk melarang aku keluar rumah sendirian, dan memegang ponsel.


Ya selama ini aku gak dibolein pegang ponsel, takut aku berulah katanya, dan ponselku dia yang pegang.


Kenapa aku sekarang seperti menjadi seorang putri yang terkurung di sebuah istanah megah, sungguh lebay, tapi memang itu adanya, aku hanya bisa keluar kalau di temani Bang Gama, boleh memegang ponsel atau telphon kalau ada dia disampingku. Bahkan ponselku terkunci password dan hanya dia yang tau passwordnya.


Menyebalkan.


Tapi setidaknya di dalam rumah ini aku bebas melakukan apapun, aku sekarang lebih suka memasak dengan Mbak Minah, atau membuat suatu kerajinan yang dari dulu tertunda karena gak ada waktu, sekarang aku bener-bener bisa membuat apapun yang aku pengen, Bang Gama mendukungku, dia bahkan bilang pengen bikinin aku sebuah studio kerajinan tangan biar aku bebas berkreasi.


Aku iyain aja saat itu, iyalah dia bakal menuhi semua kebutuhanku, disini kan aku yang megang rahasianya dia, meskipun dia juga banyak membatasi aktivitasku, tapi aku masih bisa memaklumi. Asal dia gak mengusik keluagaku.


“Ziva, ini oleh-oleh buat kamu, Istrinya Gilang juga beliin kamu beberapa baju, dia kan punya butik” kata Mama Sinta sambil memberikan padaku beberapa paper bag.


“Iya makasih Ma”


“Gama masih di kantor?” Tanya Papa


“Iya Pa”


“Kamu apa gak pengen kerja? Sebelum nikah kamu juga kerja kan? Biasanya kalau udah ngerasainjadi wanita kari bakal ketagihan” kata Papa


“Kayaknya enggak Pa, gak bakal dibolehin juga sama Bang Gama”

__ADS_1


“Papa lupa, Gama kan posesivnya sama kayak Papa, istri suruh dirumah terus” sindir Mama


“Yang penting dompet tetep penuh kan”Canda Papa


“Iya sih, kamu temenin Mama aja dirumah, urusan uang biar para lelaki aja yang ngurusin, kita tinggal ngabisin”kata Mama sambil ketawa.


Aku hanya senyum, jujur aku masih agak kikuk kalau bersama keluarga Bang Gama, karena memang kita gak deket, tapi aku harus biasain gimanapun sekarang tiap hari aku akan tinggal sama mereka.


Setelah Mama Papa pulang, Bang Gama sekarang jadi uring-uringan, aku juga sekarang jadi lebih cuek ke dia, kita emang suami istri, tapi jangan harap aku bakal memperlakukan Bang Gama semanis dulu, di depan semua orang kita akan jadi suami istri yang harmonis, tapi saat berdua aku terus nyuekin dia, mungkin dia kesal karena itu.


“Abang mau kemana?” tanyaku setelah kita makan malam


“keluar”


Au menghela nafas “Ke mana?”


“Emang kamu peduli abang mau kemana? Ngapain juga disini kalau Cuma dicuekin istri”


Aku mencibir “lagi mau cari perhatian di rumah yang lain?” sindirku


“Gak usah mulai ya dek, aku lagi sumpek sekarang!” katanya ketus dan langsung pergi.


Di depannya aku akan pura-pura kuat, memperlihatkan sisi jahatku, sisi cueku, tapi saat Bang Gama pergi dan aku sendirian, aku hanya bisa nangis. Dan saat kayak gini aku lebih suka membaca Al-quran, menenangkan. Toh aku juga gak bisa cerita ke siapapun selain ke Sang Maha Pencipta.


Perlahan aku udah mulai adaptasi dengan keluarga Bang Gama, Papa yang temperamen dan suka ngomong semaunya, Mama yang keliatan cuek tapi cerewetnya minta ampun, beliau sering mrotes ini itu ke aku, tapi aku anggap itu bentuk perhatiannya.


Rasanya aku pengen punya rumah sendiri, tapi mana tega ninggalin kedua mertuaku tinggal sendiri.


Belum lagi kalau udah banding-bandingin sama menantu perempuan satunya, Mbak Nila istrinya Bang Gilang, panjang urusannya, kadang Mama muji aku dan jelekin Mbak Nila, aku Cuma khawatir kalau lagi sama Mbak Nila beliau juga sama jelekin aku. belum lagi Mama Papa yang selalu banggain Anak perempuan satu-satunya Mona, adik Bang Gama.


Mona yang cantiklah, mandirilah, anaknya lucu dan pintar lah, pokoknya sempurnalah. kadang aku sampai geleng-geleng sendiri, segitu banget sama anaknya, padahal yang aku liat saat Mona datang gak sesempurna itu, sebagai seorang perempuan dia cukup malas untuk urusan yang berbau rumah tangga.


Aku sekarang juga sudah banyak tahu tentang sisi buruk Bang Gama, menikah dengan dia memang seperti masuk ke dunia lain. Semua sikap yang dulu gak pernah aku lihat di dia, keliahatan semua sekarang, dan aku sangat benci itu, karena semua sikap yang aku gak suka dari orang lain rasanya semua ada di diri Bang Gama.


Aku sampai bingung, apa ini Cuma efek karena aku udah terlanjur kecewa, jadi semua hal yang dia lakukan aku selalu gak suka dan benci. Tapi gak bisa aku pungkiri, Bang Gama dasarnya memang laki-laki yang baik, apapun akan dia berikan ke aku, meskipun aku cuek dia masih terus maklumin aku.


“Dek…”Panggil Bang Gama saat membuka pintu kamar “Kamu ngapain?”


“baru selesai isya’an, ada apa?”tanyaku sambil natap dia, kulihat dia sangat kucel, gak keurus dan kalau seperti ini jelas sekali kalau dia pria berumur.


“Gak ada, aku lagi capek aja” katanya sambil rebahan di ranjang.


“Ada masalah di kantor?”


“Gitulah, boleh minta tolong pijitin bentar gak? Kepalaku pusing” katanya sambil memejamkan mata.


Aku menghela nafas panjang “sini duduk dulu” kataku akhirnya.

__ADS_1


Aku memang gak pandai memijat, tapi dulu Mama dan Papa sering minta tolong aku buat mijat bahunya kalau lagi pusing. Ilmu yang dulu aku dapat coba aku terrapin ke Bang Gama, bahunya keras banget mangkannya pusing, harus dilemesin.


“enak banget dek, kayaknya baru kali ini kamu mijitin aku dek” aku Cuma diem malas menanggapi.


Setelah cukup lama mijit Bang Gama megang tanganku “Udah dek, Makasih” katanya


Aku duduk di sebelahnya “Kamu gak capek daritadi mijitin aku?


“enggak” jawabku sambil menggeleng.


“Maafin aku ya dek”


“udahlah Bang, bosen aku dengerin abang minta maaf terus”


kataku sambil nunduk “Gimana kabar kak Dea?”


“Baik”


“Kandungannya?” tanyaku ragu


“Sehat, udah masuk 4 bulan” jawabnya


Aku tersenyum miris, pasti perutnya udah besar, dulu waktu dia datang kerumah ini kandungannya masih 4 mingguan, berarti usia pernikahanku juga udah 3 bulanan. Rasanya begitu cepat, tapi sangat melelahkan buatku.


Setelahnya kita berdua Cuma diam, hubungan kita memang udah gak hangat kayak dulu, sangat dingin. Aku mencoba rebahan karena memang capek, sepertinya Bang Gama juga udah mulai tidur disebelahku. Entah kenapa aku malah menangis, sebagai seorang istri aku sangat ingin pernikahanku bahagia, tapi apa bisa?


Banyak hal yang mengusik pikiranku, selama ini aku udah mencoba gak nangis, aku selalu menyibukan diriku dengan banyak hal. Tapi tiap kali inget penghianatan Bang Gama rasanya sakit, aku ngerasa kesepian, ngerasa sakit, tertekan. Harus pura-pura bahagia, padahal jiwaku terganggu.


Aku suka berandai-andai, andai dulu aku gak pisah sama Kak Al mungkin aku bakal bahagia sekarang menjadi istrinya, andai waktu itu aku nerima ajakan Kak Davin buat nikah pastirumah tanggaku akan sangat menyenangkan, Andai waktu itu aku gak mau diajak kenalan sama Bang Gama, andai… andai…


Hidupku terasa sudah mati, aku masih bernyawa tapi seperti gak bisa ngelakuin apa-apa, kadang kepikiran untuk bercerai tapi aku belum siap membayangan beban yang akan diterima keluargaku, juga sanksi soasial ketika aku menjadi seorang janda diusia pernikahanku yang baru seumur jagung, aku gak berani bayangin apa yang akan aku hadapi nanti.


Aku terlalu takut buat ngejalani semuanya.


Dan disinilah aku, harus menerima segala siksaan batin, tekanan dan segala rasa yang gak bisa aku ungkapin. Aku sangat terpuruk, pernikahan yang aku impikan gak akan mungkin bisa aku gapai.


Mendapat suami yang berpoligami, harus rela berbagi segala hal dengan perempuan lain, aku sakit.


Perlahan kurasakan Bang Gama merengkuh tubuhku dari belakang,


“Jangan nangis Dek, salahin abang, marahin abang, jangan pendam sendiri, jangan hukum abang dengan cueknya kamu” katanya.


Mendengar dia ngomong seperti itu aku makin terisak, dia membalik tubuhku agar menghadap dia, diusapnya air mataku. “Maaf” ucapnya.


“Abang jahat… jahat! Aku benci! Apa salahku?!” emosiku meluap, kupukuli dadanya.


***

__ADS_1


__ADS_2