TriAngel

TriAngel
TA 47


__ADS_3

TA 47


“Zi…”


Aku agak kaget saat buka pintu, ternyata kak Arga yang mau ketemu aku, aku ajak dia masuk, dan suasananya bener-bener canggung. Selama ini kita udah kayak ada batas, gak pernah ngobrol atau komunikasi lainnya. Dia duduk disampingku.


Tadi Mama Papa yang datang ke kamarku, kita ngobrol banyak dan juga nangis sama-sama mungkin memang rasanya berat bagi orang tua melepas anak perempuannya untuk menikah, kak Arga milih berdiri di pintu tanpa ngomong apa-apa, tapi sekarang dia datang sendirian ke kamarku.


“Udah siap buat besok?” Tanya kak Arga


“Iya” jawabku sambil nunduk.


“Kakak minta maaf kalau selama ini nunjukin sikap gak suma sama Gama, jujur ada yang ganjel di hati kakak.”


Aku hanya diam, tanpa mau menjawab atau menatap kak Arga.


“Tapi sekarang kakak udah ikhlas ngelepas kamu, semoga memang dia bisa jadi imam yang baik buat kamu. Maafin kakak kalau selama ini kakak selalu ngelarang ini itu ke kamu” ucap Kak Arga sendu. “Itu karena kakak sayank sama kamu, kakak hanya pengen menjaga kamu”


Tanpa pikir panjang aku langsung meluk kak Arga, aku nangis dalam pelukannya “Makasih kak, makasih. Maafin aku juga karena selalu egois”


“enggak, kakak sadar kamu udah besar, sudah tau apa yang terbaik buat hidup kamu, kak Arga aja yang kolotan”


“Iya, kakak emang kolotan” sindirku


Kak Arga nyubit lenganku “Dasar ya kamu!”


“Awwww… sakit tau kak” kataku manyun


Kak Arga senyum “Kakak selalu berharap kamu bahagia Zi”


“Amiin… doain ya kak”


***


“SAAAH….” Ucap para saksi


“Alhamdulilah” ucap sebagian orang


Di dalam kamar aku menangis, rasanya terharu, seneng dan bahagia banget, sekarang aku sudah sah menjadi istrinya Bang Gama.


Sepupuku yang dari tadi nemenin di kamar ikut mewek, tak lama pintu kamarku dibuka, Mama dan Mbak Niken datang buat jemput aku.


Di apit Mbak Niken dan Nayla aku berjalan ke meja akad, aku terus menunduk, gak berani menatap depan, rasanya gugup dan malu jadi pusat perhatian orang.


Selesai tanda tangan dokumen, aku mencium tangan Bang Gama, dia membalas dengan mencium keningku lama. Mata kami saling bertemu dan otomatis langsung senyum.


Siang ini hanya acara tasyakuran keuarga besar, semua tamu undangan di arahkan ke hotel nanti malam. Tapi dirumahpun gak kalah heboh, ada kuade dengan dekorasi minimalis modern, terlihat sangat cantik untuk aku dan Bang Gama duduk.


Dan beberapa saudara yang minta foto bareng, disudut lain beberapa saudara sibuk dengan makanan.


“Kamu cantik banget dek” bisik Bang Gama


Sepanjang har tadi Bang Gama selalu memujaku, rasanya seperti aku pengen terbang, padahal kalau boleh bilang Bang Gama saat ini juga terlihat tampan. Menjelang sore hari keluarga inti pindah kehotel untuk persiapan acara resepsi nanti malam.


Aku bener-bener takjub saat Bang Gama menggandeng aku untuk masuk ke Ballroom, ruangannya di dekorasi sangat indah, gak sia-sia Bang Gama bayar mahal untuk acara ini.


“Suka gak dek?” Tanya Bang Gama saat kita baru sampai di kuade


“Suka banget Bang, Makasih. Aku berasa kayak jadi Ratu” kataku sambil ketawa pelan.


“Kamu kan emang Ratu, Ratu di hatiku” Candanya sambil nyubit hidungku


“Ih… gombal” kataku sambil senyum natap dia, rasanya sangat bahagia sekali.

__ADS_1


Banyak sekali tamu undangan yang datang, tentunya dari pihak keluargaku dan keluarga Bang Gama, ditambah dengan temen-teman kami. Rasanya begitu capek, dan tiap kali aku ngeluh ke Bang Gama, dia selalu ngusap punggungku dan memberikan senyum terbaiknya.


“Selamat Ya Zi, semoga lo bahagia” ucap Resti


Dia datang bareng Kak Fian, Winta dan seorag cowok, mungkin pacarnya Winta. Aku langsung meluk Resti, mataku berkaca-kaca, padahal aku berharap mereka berdua menemaniku saat acara akad nikah tadi pagi, tapi aku sangat bersyukur mereka mau datang.


“Selamat” ucap Winta singkat, aku tau dia masih kecewa sama aku, kulihat dia sedikit menitikan air mata.


“Makasih kalian udah dateng” ucapku sendu.


Setelahnya kita foto bersama-sama, kemudian mereka gabung dengan yang lain, aku coba nyari Radit dan yang lain, tapi sepertinya mereka gak dateng, hanya beberapa temen SMA dan kuliah yang kulihat.


Aku sangat kaget saat sepasang orang naik ke pelaminan dan smenyalami kedua orang tuaku, dia adalah Kak Davin, sudah sangat lama kita gak bertemu, bahkan Papa sempat menepuk lengan kak Davin beberapa kali. Mama keliatan terharu tapi juga senyum.


Perempuan disampingnya aku yakin itu adalah istri kak Davin, dan itu adalah perempuan cantik yang dulu pernah aku lihat di Rumah sakit dan Bandara, jadi ini istri Kak Davin, pantas dia lebih memilih cewek itu dibanding aku.


sepertinya dia sedang hamil, karena perutnya membesar.


“Selamat ya” ucap kak Davin ke Bang Gama


Aku tau Bang Gama bisa mengenali Kak Davin, karena aku udah pernah cerita dan melihatkan fotonya.


“Makasih udah dateng” jawab Bang Gama tegas, Kak Davin Cuma senyum dan ngangguk.


“Selama ya Zi” ucap Kak Davin mau menjabat tanganku, tapi buru-buru aku tangkupkan kedua tanganku di depan dada, malas kalau harus salaman sama dia, padahal ke yang lainnya aku biasa.


dia terlihat kaget tapi langsung berusaha biasa.


“Makasih” jawabku singkat dan terpaksa senyum.


Selama beberapa detik kita saling tatap, tapi aku langsung mengalihkan pandangan, diapun langsung berlalu.


Gantian aku salaman sama istrinya, “Selamat ya Zivara” dia langsung memelukku.


Jelas aku kaget, rasanya pengen emosi, dia seperti sengaja memprovokasiku, tapi aku milih senyum.


“Ambil aja bekasku, udah gak minat” jawabku dengan senyum yang aku buat sangat manis.


Dia keliatan marah dan emosi, aku tau sebenernya gak pantas di acara pernikahannku aku bersikap seperti ini, tapi dia yang mulai. Aku gak nyangka cewek secantik dia bisa licik seperti itu.


Sepertinya Bang Gama ngerasa gak nyaman, dia langsung ngerengkuh aku dan nyium kepalaku singkat, sepertinya dia sengaja memperlihatkan kemesraan kita didepan Davin dan istrinya. Tak lama kak Davin dan istrinya turun dari pelaminan.


“Kenapa dek?” Tanya Bang Gama sambil ngusap pipiku, aku malah takut dia mikir macem-macem tentang aku dan Kak Davin.


“Gak papa Bang” jawabku sambil senyum.


Acara berlangsung sangat meriah, bahkan aku dan Bang Gama sempat duet menyanyikan lagu romantic, semua tamu bersorak untuk kami berdua. Ternyata begini rasanya jadi Ratu dan Raja sehari, pengalaman yang gak akan mungkin bisa terlupakan, sekali seumur hidup.


Dua jam kemudian acara selesai, rasanya badanku benar-benar remuk. Aku milih duduk sebentar di kuade, sambil memandang ballroom yang mulai sepi gak ada orang, tinggal beberapa keluarga dan orang WO.


“Dek…” sapa Bang Gama sambil ngusap bahuku “Capek?”


“Banget”


“Mau ke kamar sekarang?”


“Bentar lagi Bang” kataku sambil narik dia buat duduk


“Kenapa?”


“Makasih ya udah milih aku jadi istri abang, udah nyiapin acara seistimewa ini buat pernikahan kita”


“Iya dek, aku yang makasih, kamu udah mau nerima aku yang kayak gini” ucapnya sambil nunduk

__ADS_1


Aku memandangnya sambil senyum “kamar yuk!” ajakku


Dia senyum ke arahu dan berdiri “ Mau jalan sendiri apa gendong?”


“Jalan lah, malu!” kataku sambil senyum.


Setelah ngobrol bentar degan keluarga kita berdua langsung pergi ke kamar, Bang Gama sengaja pengen nginep di hotel ini selama 3 hari, rencananya setelah itu kita bakal honeymoon ke Singapura, hadiah dari temen-temennya Bang Gama.


Keluar dari lift, Bang Gama gendong aku ala bridal style sampai ke dalam kamar, dengan susah payah dia membuka pintu yang ternyata sudah di tata untuk pengAntin baru, aku terharu tapi juga senang. Bang Gama mendudukanku di pinggir ranjang,Ku cium sekilas pipi Bang Gama.


“seneng?” Tanya Bang Gama sambil berlutut di depanku, tangannya menggenggam tanganku.


Aku mengangguk malu “aku juga punya kejutan buat Bang Gama”


Dia mengernyit “ Apa?”


Aku menyuruhnya untuk mendekat “Aku lagi menstruasi” bisikku sambil nahan senyum.


“Hah?” dia terlonjak kaget sampai terduduk di lantai “Yang bener kamu dek!”


“Iya, baru tadi sore” kataku sambil ketawa


“AArrrrgghh…” Bang Gama frustasi dan mengusap rambutnya kasar.


“Kog bisa sih dek?”


“Ya bisa Bang, dari dulu emang jadwalnya gak bisa ditebak”


“Terus abang gimana dek?” tanyanya melas


“Ya gak gimana-mana Bang, kita bobog cantik aja malam ini” godaku


“Nyiksa banget kamu dek” ucapnya lemas


“Maaf” cicitku


Kulihat Bang Gama yang tadi keluar Ballroom sangat semangat langsung berubah loyo, tanpa ada semangat, bahkan dia masih betah duduk dilantai. Aku hanya ketawa, lucu ngeliat Bang Gama.


Setelahnya Bang Gama bantuin aku ngelepas gaun yang tadi aku pakai buat resepsi, tentunya sambil menggerutu, dan saat semua pernak pernik udah lepas, tinggal melepas gaun Bang Gama langsung protes.


“Kamu selesaiin sendiri dek, abang gak kuat! Mau mandi aja” katanya sambil nyelonong ke kamar mandi.


Aku lagsung ngakak, kasian juga pikirku, dari beberapa minggu lalu Bang Gama udah semangat buat ngrencanain malam pertama kita, tapi nyatanya aku lagi palang merah, gagal total deh, tapi gimana lagi, aku juga kan gak tau.


“Dek…”panggil Bang Gama sambil meluk badanku dari belakang


Setelah melepas gaunku tadi aku berganti pakaian santai dan berdiri di depan jendela hotel, ini pertama kalinya aku menginap di hotel ini, pemandangan dari atas sini terasa menyita perhatianku, suasana malam di Kota Malang, sangat indah.


“Lagi apa istriku?” tanyanya sambil mencium pipiku.


Aku senyum, rasanya masih geli dia nyebut ‘istriku’, aku menghela nafas panjang “Gak nyangka ya Bang perjalanan kita secepat ini, kayaknya 5 bulan lalu kita baru kenalan, sekarang udah nikah”


Dia senyum “Iya, abang juga gak nyangka akhirnya nikahnya sama kamu”


“Aku sayang sama abang” kataku


“Aku lebih sayank kamu dek” katanya sambil mendekap tubuhku erat.


Kita berdua hanya saling diam, sambil memandang keluar jendela, entah apa yang lagi dipikirkan Bang Gama, tapi yang jelas aku sedang membayangkan tentang masa depan kita, selalu terbayang akan ada banyak hal menyenangkan setelah kami menikah nanti, seperti mimpi-mimpi yang selama ini selalu kita omongin.


Status baru dan Suami baru… Selamat Datang di Dunia para istri Zivara… ucapku dalam hati.


***

__ADS_1


__ADS_2