TriAngel

TriAngel
TA 72


__ADS_3

TA 72


Hari ini Zia udah masuk kerja, semua temen kantornya pada heboh. Bukan apa, beberapa hari kemaren merek sempet mau jenguk Zia di kosan. Tapi kata penjaga kosan, Zia tinggal dirumah calon suaminya selama sakit. Mereka heboh karena gak tau Zia udah punya calon suami.


“kalah cepet gue” keluh NIko


“Lo kenapa gak bilang sih Zi udah ada calon suami? Padahal gue mau ngenalin lo sama sepupu gue” protes Mbak Rani


Valid yang juga ada disitu pura-pura gak tau apa-apa, dan Zia hanya bisa senyum samar. Jujur dia sama sekali gak tau perihal masalah ini. saat Valdi datang jemput waktu itu Zia sama sekali udah gak bisa fokus karena kepalanya udah pusing banget.


“ehm… itu saudara jauhku mbak, dia waktu itu iseng aja bilang calon suami. Soalnya anak-anak kos ngira dia pacarku, jadi dikerjain aja sekalian” kata Zia beralasan, Valdi Cuma bisa nahan senyum ngeliat Zia bingung.


“Beneran?”


“Iya mBak, maklum perjaka tua jadi suka ngehalu pengen punya calon istri” kata Zia asal.


“Apaan?” Valdi ga terima dan langsung ngegas ke Zia


Semua mata ngeliat Valdi “kenapa lo bos?”


“gak, itu Zia bercandanya suka keterlaluan. Padahal cowok yang dia maksud itu masih muda dan ganteng, sembarangan aja bilang perjaka tua” kesal Valdi. Zia gantian nahan ketawa.


“lo kenal bos?” Romi penasaran


“kenal” kata Valdi dan langsung masuk ke ruangannya


Hari ini Zia sangat sibuk, kerjaannya beberapa hari kemaren menumpuk, memang sempet dibantu sama yang lainnya, tapi tetap aja masih banyak yang harus dikerjain.


Kak Al : Ra… gak usah di forsir, kamu baru sembuh


Zia : siap kak


Kak Al : nanti pulang tungguin, aku antar


Zia : gak usah Kak


Kak Al : gak usah ngebantah


Zia : haisssh…


Valdi tersenyum samar membaca chatnya dengan Zia. Belakangan ini Valdi memang terlihat lebih santai dan semangat. Aura positifnya seakan terpancar kuat. Dan gak bisa dipungkiri, itu semua juga berkat adanya Zia disampingnya.


Pulang kerja Zia sengaja menunggu yang lain pergi duluan, setelahnya dia turun ke bawah menunggu Valdi yang katanya masih nyeselesain kerjaan bentar. Tak lama Valdi turun dengan sedikit berlari.


“Ra, kayaknya kamu pulang pakai taxy deh, maaf ya” kata Valdi sambil ngeliat jam tangannya.


“Gak masalah kak, santai aja” jawab Zia “ kenapa sih? Buru-bru gitu?”


Valid tersenyum lebar “Dinda chat aku, katanya dia sekarang di jogja dan mau ketemu sama aku”


“Owh… buruan kalau gitu” kata Zia sambil senyum tipis


“Iya, aku dulu ya Ra” katanya sambil berlari kea rah parkiran mobil


Zia melihat Valdi yang daritadi terus tersenyum, dia keliatan buru-buru dan hanya membunyikan klakson ke Zia sekali. Zia menghela nafas panjang.


Beberapa hari sakit dan hanya tinggal dirumah membuat Zia pengen jalan-jalan. Tadi sebenernya Zia pengen ngajak Valdi sekedar jalan di malioboro. Tapi kenyataannya Valdi harus pergi karena seorang cewek.


Dinda… Zia sangat penasaran dengan sosok itu, kalau kata Rani dan Niko, Dinda itu cewek yang cantik, anggun dan cerdas. Dulu banyak cowok yang suka sama dia, tapi Dinda gak gubris dan malah ngejar-ngejar Valdi.


Entah apa keistimewaan seorang Valdi.


Zia terus berjalan menyusuri jalanan jogja, menikmati senja sore hari, seorang diri. Setelah cukup lama jalan, Zia milih masuk ke salah satu Café, sudah lama dia gak minum capucino. Dia juga ingin menikmati kesendiriannya.


Suasana dalam Café gak terlalu ramai, Zia memilih duduk di pojok dekat jendela. Setelah memesan Zia mulai sibuk dengan ponselnya, sekedar berbalas pesan dengan Resti dan Winta.


Tak lama pesanan datang, Zia masih sibuk dengan ponselnya.


Lelah karena terus melihat ponsel Zia mulai meminum capucinonya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh café, tampak sangat nyaman buat tempat santai.


Matanya tertuju ke salah satu meja dimana ada sepasang orang sedang tertawa sambil berpegangan tangan.


Deg…


Itu adalah kak Valdi, dia dengan seorang perempuan. Zia yakin perempuan itu yang bernama Dinda. Sangat cantik dan berkelas, dia jadi ingat dengan istri kak Davin.


Kedua mantannya ternyata mempunyai wanita yang sama-sama lebih cantik, apalah daya Zia yang punya wajah pas-pasan. Zia tersenyum kecut.

__ADS_1


Mata Valdi tak sengaja melihat Zia, dia sedikit kaget. Mereka berdua saling tatap dengan jarak lumayan jauh. Zia mengangguk dan senyum, Valdi juga membalas hal yang sama dengan tangan masih bertautan dengan Dinda.


tak lama Dinda mengajak dia mengobrol lagi, fokus Valdi langsung pindah ke Dinda.


Gak mau terlalu lama di Café itu Zia milih pergi duluan, dia gak mau mengacau di pertemuan Valdi dan Dinda.


Zia juga ngerasa gak nyaman disana, dia langsung pergi tanpa pamit ke Valdi yang masih ngobrol dengan Dinda.


***


Cukup lama Valdi dan Dinda ngobrol, mereka berdua juga sempat berjalan di malioboro. Jam 9 malam Valdi baru pulang kerumah. Bunda saat itu sedang duduk sambil nonton tv.


“Assalamualaikum Bunda”sapa Valdi sambil mencium pipi Bundanya.


“Waalaikumsalam. Zia tadi masuk kantor?”


“Iya, udah mulai kerja.”


“Dia udah bener-bener sehat kan? Bunda masih khawatir”


“Udah strong dia Bun, tenang aja”


“kamu barusan jalan sama dia? Tumben keliatan gak semangat? Ada masalah?” Tanya Bunda penasaran


“Kog Bunda bisa nebak gitu?”


“Biasanya kamu kalau habis jalan sama Zia itu heboh, sampai rumah langsung cerita panjang lebar tentang keseruan kalian. Ini kog biasa aja”


Valid menghela nafas panjang, dia teringat kejadian tadi sore saat dia bertemu Dinda. Dia sama sekali gak menyangka kalau Zia juga akan ke Café itu.


Saat akan mendatangi meja Zia ternyata cewek itu udah pergi. Padahal tadi mereka masih saling senyum.


“Tadi emang rencananya mau jalan sama Ara Bun, tapi gak jadi”


“kenapa? padahal dia tadi chat Bunda katanya mau jalan sama kamu, bosen karena kemaren habis sakit”


Valdi senyum samar “Tadi Dinda chat Valdi ngajakin ketemuan. Valdi bilang sama Ara,dan dia juga gak masalah. Yaudah akhirnya Valdi nemuin Dinda”


“Dinda?” Bunda langsung noleh ke Valdi “Ngapain lagi dia?”


“Kamu gak ada niatan buat balik sama dia kan Val?” Tanya bUnda dengan wajah serius.


“Maksut Bunda?”


“Bunda gak setuju kamu sama dia, apalagi keluarganya udah ngancurin kamu kayak gitu, Bunda masih belum ridho dan sakit hati”


“Bun…”


“ini permintaan Bunda Val, kamu bisa pacaran dan menikah dengan siapapun, tapi Bunda mohon jangan sama dia. Bunda gak bisa bayangin gimana kamu nanti akan terus di tekan sama keluarganya”


“tapi Valdi sayank sama Dinda Bun” ucap Valdi dengan nunduk


“Bunda gak yakin kalau kamu sayank sama dia!”


“Aku sayank sama dia Bun, saat tadi dia chat, aku seneng banget Bun, rasanya kepalaku yang lagi penat langsung mencair. Dia juga tadi bilang masih sayank sama aku”


“Stop Val! Bunda serius sekarang, Bunda gak rela kamu masih jalan sama dia. Tanya sama hati kamu, apa bener dia yang kamu sayank? Jangan sampe kamu nyesel Val!” ucap Bunda dan langsung berlalu pergi ke kamar.


“Loh Bun… Bunda…” teriak Valdi.


Valdi menatap punggung bUnda yang terus berjalan menjauh dan masuk ke dalam kamar, seketika otaak Valdi kembali panas, dia mengacak-acak rambutnya.


Bunda dulu sangat mendukung valid dan Dinda, tapi sejak Dinda ninggalin Valdi, dan keluarganya mulai menghina, menyudutkan bahkan menghancurkan bisnis Valdi jelas Bunda marah.


Ibu mana yang gak marah dan sakit hati ketika anak semata wayangnya yang selama ini dibesarkan sendiri dengan susah payah malah diremehkan orang.


Valid berjalan ke kamarnya, badan dan pikirannya terasa capek. Dia mengambil ponsel dan melihat status di kontak sosmednya. Mata Valdi tertuju ke kontak Zia.


Cewek itu sama sekali gak pernah masang foto dirinya, hanya kata-kata atau sekedar foto animasi. Setelah menimang-nimang akhirnya Valdi milih nelphon Zia.


“Ra…”


“Waalaikumsalam kak Al…”


Valdi tersenyum “assalamualaikum”


“Waalaikumsalam”

__ADS_1


“Kamu lagi apa Ra?” Tanya Valdi sambil rebahan


“Lagi streaming drakor”


“Ck… kebiasaan daridulu gak berubah”


“Hiburan tau kak… betewe tumben nelphon, kenapa?”


“kamu tadi kemana? Mau aku samperin udah ngilang aja”


“pulang, udah capek”


“kog gak pamit?”


“gak enak lah gangguin orang pacaran” jawab Zia santai


“Siapa yang pacaran sih Ra? Padahal tadi aku mau ngenalin kamu ke dia”


“gimana tadi? Seneng dong udah ketemu” Zia mengalihkan pembicaraan.


“ya gitu deh, kita tadi ngobrol banyak. Menyenangkan sih, kayaknya ini pertama kalinya aku ngobrol banyak sama dia”


“kebangeten emang kak Al tuh, setelah ini kak Al harus ngeluangin banyak waktu buat dia, mumpung dia disini. Jangan sampe dia kecewa lagi”


“masih belum tau Ra, banyak hal yang masih aku pikirin”


“jangan terlalu banyak mikir kak. perjuangin kalau kakak emang sayank dia”


“meskipun harus ngelawan Bunda?”


“Maksut kak Al?”


“Bunda gak setuju aku sama Dinda”


“Bunda pasti punya alasan kenapa gak setuju, dengerin dulu alasan Bunda. Beri Bunda pengertian pelan-pelan”


“Bunda ragu kalau aku sayank sama Dinda. Bunda bilang jangan sampek aku nyesel”


“aku kan udah bilang ke kak Al, langkah pertama pastiin dulu perasaan kak Al, baru bisa melangkah ke tahap selanjutnya”


“susah Ra”


“Apanya yang susah sih?dijalanin kak, gini nih kalau lama jadi playboy. Suka gak peka sama perasaan sendiri”


“menurut kamu gimana?”


“Apanya?”


“aku sama Dinda”


“Gak tau kak. Kalau aku tadi liat sih kalian serasi, cocok. Tapi kalau masalah perasaan kan kak Al yang ngejalani dan ngerasain. Harusnya kak Al tau”


“mbuh lah Ra, pusing aku”


“hahaha… kayak abg aja pake galau”


“Aku emang masih abg Ra”


“Iya, Abg tua!”


“Sialaan kamu Ra. Awas ya besok!” umpat Valdi “ besok jalan Yuk!”


“gakusah janji kalau gak bisa nepati. Apalagi sekarang ada Dinda. Manfaatin waktu kak Al sama dia”


“tapi kamu kan juga pengen jalan, katanya bosen habis sakit”


“Aku mah gampang kak, gak usah dipikir. Selow…”


“hehehe… yaudah kamu istirahat gih, jangan tidur malem-malem baru sembuh juga”


“Siap Bos”


“Yawes assalamualaikum Ra”


“Waalaikumsalam”


***

__ADS_1


__ADS_2