
TA 113
Siang ini Zia dan Valdi akan berangkat ke Jogja, menghadiri pernikahan Niko dan Rani besok. Sebenernya mereka juga janjian sama Winta dan Satya, tapi Satya gak bisa ninggalin kerjaanya, jadi mereka baru bisa nyusul ke Jogja besok pagi.
“Sayank, kamu pengennya nginep dirumah apa di hotel tempat Niko nikahan?” tanya Valdi saat mereka lagi dalam pesawat.
“emang kamu udah pesen hotel?”
“sebenernya udah di bookingin sama Niko,biar kita gak ribet di jalan. Tapi kan aku tetep harus nanya kamu”
“yaudah besok kita nginep hotel, Mala mini tidur dirumah”
“oke”
“eh yank, emang kita jadi mau babymoon setelah dari nikahan Mbak Rani?” tanya Zia sambil bersandar ke Valdi
“jadi dong”
“kamu beneran gak mau ngasih tau aku?”
“enggak” kata Valdi sambil melet
Zia mencibir “Ck… apaan main rahasiaan”
“hahaha… aku kan mau kasih kejutan buat kamu sayanku…” kata Valdi sambil nyubit hidung Zia
“istimewa dong berarti?”
“Iyalah”
“Awas aja kalau sampek aku gak terkesan”
Valdi mlengos “kalau emang kejutanku ini gak bisa bikin kamu baper, harusnya kamu peka dikit yank”
“Maksutnya?”
“Ya bisa kan pura-pura gitu,biar akunya gak kecewa, aku udah lama lo prepare”
“hahaha… biarin, pokok kalau aku gak terkesan, aku mau kita babymoon lagi”
“itu mah emang akal-akalan kamu aja,biar kita sering liburan” sindir Valdi
“Iya dong, hahaha”
Valdi ikut senyum “ betewe, anak Ayah baik-baik aja kan di dalem?” tanya Valdi sambil ngusap perut
Zia”
“Baik ayah” cicit Zia
Setelah itu keduanya sama-sama diam, Valdi terus mengusap perut Zia, sambil melafalkan doa keselamatan untuk mereka.
Sampai di jogja, Valdi dan Zia sudah dijemput Ferdi dan Farah. Seperti rencana awal, mereka akan pulang kerumah dulu. Melihat kondisi rumah yang saat ini dihuni Mbak MInah, Art Bunda. Sore harinya mereka berempat ke rumah NIko.
Sekedar member semangat sahabat mereka, padahal mereka mau ngerusuh. Mereka sangat tau kalau Niko si biang onar itu sekarang lagi gugup. Valdi yang dirasa lebih berpengalaman menceritakan gimana saat dia dulu mau nikah sama Zia.
Hampir jam 10 malam Zia dan Valdi baru sampai rumah, mereka langsung istirahat karena besok mereka akan mengikuti acara mulai pagi hari.
***
“SAAAAH…”
Suara para saksi dan beberapa orang yang datang di acara akad nikah Niko dan Rani menggema. Ballroom hotel yang sudah disulap begitu indah dengan berbagai macam bunga segar terasa bergetar. Karena disini sebuat ikatan janji suci pernikahan baru saja dilangsungkan.
NIko dan Rani yang sudah duduk berdampingan terlihat sangat ganteng dan cantik dengan balutan baju pernikahan dengan adat jawa kental. Keduanya sudah terlihat senyum-senyum.
Valdi, Zia, Winta, Satya, Farah dan Ferdi yang duduk di meja VIP ikut merasakan kegembiraan yang tiada terkira. Enam orang itu bergantian mengucapkan selamat dan berfoto bersama dengan berbagai pose.
Delapan orang itu terlihat sangat kompak dan konyol, apalagi selain Niko dan Rani. Keenam orang itu mengenakan baju seragam yang emang sudah disiapin Rani untuk sahabat suaminya. Yang perempuan menggunakan seragam kebaya berwarna biru laut dengan model yang berbeda, sedangkan para laki-laki menggunakan batik yang senada dengan jarit yang dipakai para perempuan.
Malam harinya digelar acara resepsi yang sangat indah, Niko dan Rani bener-bener seperti seorang Raja dan Ratu semalam. Zia dan yang lainnya juga gak kalah, Zia,Winta dan Farah menggunakan gaun berwarna silver, dan para cowok menggunakan setelan jas dengan warna senada.
“ntar di nikahan gue, gak perlu lah kita beliin baju seragam buat mereka beib, biar mereka pake seragam ini aja sekalian” kelakar Ferdi ke Farah
__ADS_1
Saat ini mereka berenam sedang duduk satu meja sambil menikmati hidangan, setelah tadi tentu aja mereka puas foto bersama, bahkan Zia diminta secara khusus sama Niko buat nyumbang nyanyi.
“wah, lo emang gak mau rugi banget Fer, buat temen aja masih peritungan” sindir Satya
“Bukannya gue peritungan, sayang kan, masak baju ini Cuma dipake dinikahan Niko, mubadzir entar”eles Ferdi santai
“Biarin aja Sat,Ferdi ngomong kayak gitu kayak benerean mau nikah aja, berani emang lo?” Canda Valdi
“ngraguin gue lo? Berani lah” kata Ferdi sombong
“Heleh, sampe sekarang aja hubungan lo masih pacaran, kapan nih di update jadi tunangan. Kelamaan lo!” sindir Valdi
“secepetnya”
“dari dulu itu mulu jawabannya. Farah, mending pikir-pikir dulu lah kalau mau sama Ferdi” Satya kompor
“Bener tuh Far, kalau ada cowok lain yang lebih serius sama elo, mending sama tuh cowok. Tinggalin Ferdi” Valdi makin menjadi
Ferdi langsung melotot mendengar candaan sahabat-sahabatnya, para cewek Cuma bisa senyum, malas ikutan.
“jangan di dengerin Beib, dasar sahabat lucknut!” kesal Ferdi
“Hahaha…”Satya dan Valdi sama-sama ketawa, sambil berhigh five berdua.
Pukul 9 malam, Valdi dan Zia ijin ke kamar hotel duluan. Valdi gak mau Zia kecapekan. Apalagi besok mereka akan pergi liburan.
Keesokan harinya Valdi bener-bener membuat Zia terkejut. Valdi sengaja mengajak Zia menginap di sebuah Villa yang langsung menghadap ke laut.
Valdi sangat tahu Zia menyukai pantai, dan dia pikir mengajak Zia kesini adalah ide yang pas.
Valdi juga memilih Villa yang langsung menghadap laut biar Zia bisa puas main di pantai, mereka berdua sangat menikmati masa-masa babymoon ini.
Valdi sangat memanjakan Zia, apapun akan dia turuti untuk istri tersayangnya.
Tapi mereka hanya disana selama dua hari, tuntutan kerjaan membuat mereka berdua harus lebih pandai mengatur waktu. Apalagi sekarang kantor jasa design milik Valdi sudah semakin ramai.
“suka gak?” tanya Valdi saat mereka duduk berdua di pantai
“Suka banget, makasih sayank” jawab Zia sambil bersandar di bahu Valdi
Zia tersenyum dan terus bersandar di suaminya, menikmati pemandangan nan indah di depan sana. Dengan seorang suami yang sangat dia sayangi.
***
Ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Zia, Winta dan Resti, yaitu pembukaan Triangel Café. Selama beberapa hari kemaren 3 orang itu terlihat sangat sibuk menyiapkan segala keperluan agar Café mereka terlihat sempurna.
Suami-suami mereka juga gak kalah sibuk, mereka turut membantu persiapan Café ini.
Acara di mulai dari pagi hari, tapi acara diadakan di sebuah masjid deket rumah Valdi, yaitu doa bersama anak panti asuhan.
Kebetulan Zia yang emang deket dengan Yayasan Taman ceria, maka panti asuhan dibawah naungan Yayasan semua di undang.
Acara doa bersama pagi itu cukup lancar, selain anak panti dan beberapa pengurus Taman ceria, hanya anggota Triangel dan beberapa tetangga sekitar yang datang.
Baru sore hari, Zia, Winta dan Resti mengundang keluarga serta temen-temen deket mereka untuk menghadiri pembukaan Triangel Café.
Banyak yang menyukai konsep dan hidangan di sini. Terutama para perempuan yang sudah berkeluarga dan punya anak.
“kalian ya, keren banget sih bikin Café gini” kata Saras
Saras, dan Renata yang merupakan sahabat mereka saat SMA dulu ikut datang di acara ini.
“Iya, kalau kayak gini kita bisa nongkrong sambil bawa si kecil” kata Rena yang emang udah punya anak
“Emak-emaknya pada gossip, terus anaknya juga bikin acara gossip sendiri” kelakar Resti yang lagi gendong bayinya
Mereka kembali ngobrol dan bercanda, kadang juga sambil nostalgia saat-saat SMa dulu.
***
7 bulan kemudian…
Triangel Café sudah beroperasi selama beberapa bulan, selama itu pula Zia jelas ikut sibuk dengan Cafenya. Resti dan Winta juga gak kalah sibuk. Hampir tiap hari mereka bergantian memantau Café.
__ADS_1
“Sayank, kamu jangan terlalu capek ya, aku gak tega liatnya” kata Valdi saat mereka lagi santai di rumah.
Hari ini Valdi sengaja nyelesain kerjaanya lebih cepat, dia juga sengaja minta Zia buat pulang dari Café nemenin dia.
“iya yank. Aku tau batasannya kog, lagian aku disana juga gak ngapa-ngapain, Cuma liat-liat aja”
“tetep aja,kamu harus banyak istirahat”
“iya-iya, kamu sendiri juga harus inget waktu, kerja terus” sindir Zia
Valid memang sekarang jadi lebih sibuk kerja, jasa designnya berkembang cukup cepat. Banyak yang menyukai gaya design Valdi. Dan kesempatan itu jelas gak di sia-sian sama Valdi. Apalagi nanti setelah anaknya lahir jelas mereka butuh biaya yang gak sedikit.
Hampir Setiap hari Valdi lembur bekerja, untungnya kantor jasa designnya sangat dekat dengan rumah. Zia sendiri meskipun sibuk di Café dia bakal langsung nyamperin Valdi kalau suaminya itu terlalu sibuk dan lupa makan.
Disamping itu kehidupan rumah tangga mereka sekarang juga jadi lebih hangat, meskipun disibukan dengan kerjaan, mereka akan berusaha mencari waktu untuk kencan berdua. Pertengkaran dan salah paham juga kadang masih mereka alami, tapi itulah indahnya sebuah kehidupan.
Pagi ini tubuh Zia kerasa gak enak, beberapa kali perutnya seperti kram, tapi gak lama hilang. Dia masih sempat pergi ke Café bentar karena kebetulan ada temen SMPnya yang datang berkunjung.
Setelah dari Café, Zia sebenernya pengen ke kantornya Valdi. Rasanya dia pengen bermanja ria dengan suami. Tapi badannya teraa sangat capek. Akhirnya Zia milih pulang ke rumah.
“Mbak Ani, minta tolong bikinin air gula dong,aku rasanya kog lemes,” kata Zia sambil duduk di sofa
“iya mbak bentar ya” kata mbak Ani sambil berlalu ke dapur
“kenapa Zi?” tanya Bunda yang ikut duduk dissampingnya
“Gak tau bun, rasanya badan gak enak, perut juga beberapa kali kerasa kayak kram gitu”
Bunda memperhatkan Zia yang kadang seperti mengernyit nahan sakit.
“aku tadi pengen ke kak Al Bun, tapi rasanya uda capek banget, jadinya pulang deh” keluh Zia
“Bunda telphonin” kata Bunda sambil beranjak ke kamar ngambil ponsel.
Tak lama Valdi datang dengan tergopoh-gopoh, dia langsung meminum satu gelas air putih di depan meja tempat Zia duduk. Zia dan Bunda jelas heran sama tingkah Valdi
“kamu kayak habis dari mana aja Val, orang kantor kamu deket ini” sindir Bunda
“Aku baru dari rumah Pak Doni Bun, langsung lari kesini”
Pak Doni adalah ketua RT yang jarak rumahnya sekitar 1kilo dari rumah Valdi.
“La ngapain Kak Al lari? Gak bawa kendaraan?”
“enggak, tadi dianter anak-anak. Di telphon Bunda tadi, kalau nunggu anak-anak jemput kelamaan” kata Valdi “kamu kenapa Ra?” tanay Valdi sambil duduk disebelah Zia
“Kangen sama Kak Al, pengen peluk” kata Zia manja
“Astajim…” keluh Valdi. Bunda hanya bisa nahan senyum.
Valdi pikir Zia sakit, karena tadi Bunda nelphon seperti orang panik, Valdi yang denger itu jelas khawatir dan tanpa pikir panjang langsung lari. nyatanya sampe rumah, Zia malah cuma pengen dipeluk, bermanja ria.
Malam harinya, Zia bener-bener gak bisa nahan rasa sakitnya, bahkan dia sampai menjerit kesakitan. Bunda akhirnya nyuruh Valdi buat bawa Zia ke rumah sakit, sepertinya Zia sudah mau lahiran. Lebih cepat dari perkiraan dokter.
Benar saja, ternyata Zia sudah bukaan lima. Itu tandanya sebentar lagi Zia akan lahiran. Semua keluarga inti sudah datang kerumah sakit. Zia dan Valdi meminta maaf dan doa kepada seluruh keluarga, terutama kepada Mama dan Bunda, berharap lahirannya lancar serta ibu dan bayinya sehat.
Tepat pukul 1 dini hari, seorang bayi laki-laki lahir secara normal , dialah anak Valdi dan Zia. Seorang bayi tampan yang wajahnya sangat mirip dengan Zia.
"makasih sayank, kamu istri dan ibu yang sangat hebat, I love you…”
Valdi mencium kening istrinya dengan lembut, Zia tersenyum dengan mata menatap Valdi sekilas, dia berkaca-kaca. pandangannya kembali ke bayi tampan itu.
“siapa namanya kak?” tanya Zia saat menyusui anak mereka untuk pertama kalinya.
“Erlangga Putra, dan kita manggil dia Elang” terang Valdi sambil
memainkan tangan mungil anaknya.
Zia tersenyum, sebenernya beberapa kali mereka berdua ribut masalah anak. Dan Erlangga adalah usulan Zia yang pertama kali, tapi dulu Valdi bilang kurang setuju. Tapi sekarang malah Valdi sendiri yang menamai bayinya Erlangga.
“Assalamualaikum Elang... "
---TAMAT---
__ADS_1
***