
TA 109
“I-ini rumah klien kak Al?” saat ini mereka udah parkir di halaman depan rumah mewah itu.
“Iya, gede banget ya Ra?” tanya Valdi sambil senyum lucu.
“kak, ini gak salah alamat kan?” tanya Zia keliatan bingung
“hehehe… enggak sayank, emang ini rumahnya, aku beberapa kali udah kesini kog. Kaget kamu? Sabar ya yank,doain rejekiku lancar biar kita bisa punya rumah segede ini”
“aku gak mau!” jawab Zia cepat, matanya berkaca-kaca “Aku lebih bahagia sama rumah kita yang sekarang, gak mau yang lain”
“hei, kog malah mau mewek gini,iya iya kenapa?” tanya Valdi khawatir “badan kamu gak enak? Kita balik aja?”
Zia mengusap matanya yang udah berair “enggak kak,”jawab Zia tegas
Zia mengambil pouch make up dari dalam tasnya “aku udah cantik belum kak? Penampilanku gimana?”
Valdi terkekeh denger rentetan pertanyaan Zia “Istriku ini cantiknya selalu maksimal, gak perlu ditanyain lagi” kata Valdi sambil nyium tangan Zia
“Dih… kak Al gombal banget deh!”
“hahaha… mboh Ra, dibilangin gak percaya” Valdi pura-pura kesal
“hehehe… aku cabut deh omonganku tadi pagi, Kak Al pokoknya harus tampil ganteng maksimal, tunjukin pesona dan kecerdasan kakak” kata Zia sambil ngerapiin penampilan Valdi
“kamu kenapa sih?”
“Udah ayo, kita tebar pesona ke mereka” kata Zia semangat
Valdi senyum sambil geleng-geleng, dia mengikuti Zia keluar dari mobil, merapikan sedikit penampilannya lagi. Zia terlihat diam sambil terus memandang rumah besar nan mewah di depannya.
“Rumah sebagus ini mau diubah gimana lagi sih?” gumam Zia pelan
“Ayo sayank” ajak Valdi sambil gandeng tangan Zia.
“Siap bos!”
Dengan langkah tegap Zia melangkah ke depan pintu dengan tangan Valdi yang selalu mengenggamnya erat, bukannya dia mau pamer kemesraan, tapi Valdi takut Zia jatuh. Karena istrinya tadi terlihat sedikit kaget melihat bangunan rumah mewah didepannya.
“Ra, udah ih kamu gitu amat ngeliatnya, kayak yang gak pernah liat rumah bagus aja.” sindir Valdi
“Aku keliatan norak ya?” tanya Zia sambil senyum.
Daritadi setelah dipersilahkan masuk sama Art, Zia memang terus memandang rumah itu lekat, bahkan dia sampai melongokan kepala biar keliatan bagian dalam.
“Ck… malu nih aku sebagai suami kamu” kesal Valdi
“Hehehe… mau sebagus apa rumah ini, aku gak pengen punya rumah kayak gini. Terlalu besar, capek kalau mau bersih-bersih”
Valdi senyum denger omongan Zia
“yang penting dari sebuah rumah itu adalah penghuninya ngerasa nyaman dan hangat kayak rumah kita. kalau rumah ini terlalu besar dan auranya terlalu dingin” kata Zia lagi
“pinter banget sih ngomongnya” kata Valdi sambil ngusap tangan Zia
Tak lama terdengar suara orang yang jalan mendekat, Valdi menghela nafas panjang menunggu kliennya sampai. Sedangkan Zia sendiri terlihat menautkan jari-jarinya, tanda kalau dia sedag gugup.
“mas Rivaldi” sapa sang pemilik rumah
“Selamat siang Bu” Valdi berdiri menyambut pemilik rumah, bersalaman.
Zia yang awalnya Cuma nunduk, akhirnya ikut suaminya berdiri dan menatap perempuan paruh baya di depannya dengan tersenyum.
“apa kabar Ma?” tanya Zia lembut
“Zivara?” perempuan itu kaget “Ya Allah, anak Mama,”perempuan itu langsung meluk Zia.
Valdi yang daritadi Cuma ngeliat interaksi keduanya jelas kaget, dia sama sekali gak paham.
“jadi Rivaldi ini suami kamu Zi?”
“Iya Ma” jawab Zia sambil senyum kea rah Valdi
“Mama ikut bahagia dengernya, Rivaldi, Tante titip Zia ya, bahagiain dia”
“Iya tante, saya bakal terus berusaha bahagiain dia” kata Valdi sambil ngusap tangan Zia.
sekarang dia tau kenapa tadi Zia bersikap seperti itu, karena ini adalah rumah Gama, dan kliennya ini adalah Mamanya Gama.
“kamu tau Zi, Mama sempet kecewa sama kamu, karena setelah kamu pisah sama Gama, kamu seperti menghilang, bahkan gak mau ketemu sama Mama Papa”
“Zia minta maaf Ma, saat itu Zia bener-bener ngerasa down dan trauma. Jadi Zia sempet ke rumah saudara di Kalimantan selama beberapa bulan sampai putusan sidang keluar” kata Zia jelasin
“pantesan, Papa itu sempet nyuruh orangnya buat nyari kamu, tapi gak ketemu”
“Iya Ma, sempet tinggal di Malang sebenernya, Cuma karena waktu itu Bang Gama sempet datang kerumah dan ada sedikit masalah jadi aku milih ke jogja”
__ADS_1
“Jogja? Ya Allah Zi, padahal Mama itu punya saudara di jogja, bahkan beberapa bulan lalu Mama tinggal lama di jogja”
“Owh ya?”
“Mama sama Papa itu sebenernya masih pengen ngejaga silaturahmi sama keluarga kamu, bahkan beberapa bulan kemaren Mama masih sering tukar kabar sama Mama kamu. Sampai akhirnya Arga datang, dia minta kami buat ngelarang Gama gangguin keluarga kamu, terutama kamunya.”
Mama Sinta menghela nafas, “Saat itu Mama bener-bener malu sama tingkah Gama, jadi kita milih buat jaga jarak sama keluarga kamu, karena sebenernya kami juga ngerasa bersalah”
“iya Ma, aku paham kog”
Selanjutnya obrolan dilanjutnya dengan Valdi yang membahas design terbarunya untuk rumah ini. dan Mama Sinta bener-bener seneng sama cara kerja Valdi, dia juga mengagumi setiap gambar design yang Valdi tunjukan.
Akhirnya mereka sepakat untuk secepatnya merenov rumah itu. Dan Zia sekarang paham, yang dimaksut anak kliennya yang dulu suka godain Valdi adalah Mona, adik Gama.
Zia sangat hafal tabiat Mona, dia sudah punya suami, tapi sampai sekarang belum punya anak. dan gayanya emang selalu centil ke cowok.
“Assalamualaikum…” salam seseorang, Papa Adam. Papanya Gama
“Waalaikumsalam…”jawab semua serempak
“Pa, liat siapa yang datang” kata Mama sambil narik tangan Papa ke depan tamunya.
“Zivara?”
“Pa,” Zia menyalami Mantan Papa mertuanya itu, begitu juga dengan Valdi.
“Kamu apa kabar ZI?”
“Baik PA, Papa juga sehat terus kan?”
“Alhamdulilah, sepeerti yang kamu liat, Papa semakin tua” kelakarnya
“Kamu tau Pa, jadi Ziva ini ternyata istrinya Rivaldi, arsitek yang mau kita pakai” kata Mama dengan semangat.
Papa Adam tersenyum “kalian berdua cocok, titip Ziva ya” kata Papa Adam sambil nepuk bahu Valdi
“Iya Om, siap” jawab VAldi tegas
“Kamu sekarang keliatan lebih segar Zi” goda Papa Adam “pasti sekarang hidup kamu penuh bahagia”
“Alhamdulilah Pa”
“Gimana kabar Mama Papa?”
“Alhamdulilah mereka sehat semua”
“Iya Pa”
“Zia juga sekarang tambah cantik ya Pa, udah mau dandan, gak cuek kayak dulu” goda Mama Sinta
“hehehe… Mama masih inget aja” Zia terlihat malu
Mereka berempat akhirnya terlibat obrolan yang panjang, mulai dari masalah kerjaan dan juga masalah pribadi. Dan dari obrolan itu Papa Adam memercayakan Valdi bukan Cuma masalah design rumahnya, tapi kedepannya karena dia juga pengusaha property, dia pengen menggandeng Valdi untuk menghandel design arsitektur sebuah perumahan elit.
“ngomong-ngomong kamu sedang hamil Zi? Mama lihat ada yang beda”
“Iya Ma, dua bulan lebih”
“Duh… selamat Ya”
“Makasih Ma”
“Mama jadi pengen cucu lagi, itu si Mona dari dulu masih mau nunda momongan, Mama sampek capek bilanginnya” keluh Mama Sinta yang keliatan masih cantik di usianya yang udah tua.
“Mama kan sekarang juga punya cucu baru, cowok lagi, impiannya Papa Mama dari dulu kan?” pancing Zia
Zia sangat tahu kalau mantan mertuanya itu ingin cucu laki-laki, karena sampai sekarang cucu mereka dari Gilang, kakak Gama, dua-duanya perempuan. Mama Sinta dan Papa Adam saling lirik, belum paham maksut Zia.
“Cucunya Mama, anak Bang Gama, dia cowok, namanya Dega” ucap Zia hati-hati
Mama Sinta terlihat berkaca-kaca, Papa Adam yang dari tadi terlihat diam, tapi Zia yakin dia juga sedikit terkejut.
“Ini Ma, liat deh” kata Zia sambil nunjukin ponselnya “itu Dega, cucu Mama, lucu banget dia Ma”
“Dia…”
“Iya Ma, dia anaknya Bang Gama, dan perempuan itu Kak Dea” jelas Zia, karena di foto itu Dea menggunakan gamis dan hijab besar.
Suasana menjadi sedikit kaku, Mama Sinta terus memandangi foto itu, dia terlihat menangis, Papa Adam masih acuh, tapi dia juga sedikit berkaca-kaca.
“Maafin Zia Ma, Pa. gara-gara Zia semuanya jadi kayak gini. Jujur Zia ngerasa bersalah”
“Itu bukan salah kamu Zi, Gama saja yang bodoh karena lebih milih perempuan itu daripada keluarganya. Bahkan dia sudah menyia-nyiakan perempuan seperti kamu” ucap Papa Adam tegas
“itu sudah jadi pilihannya Bang Gama Pa” Zia berkaca-kaca
“Maafin Zia kalau bahas masalah ini dan terkesan ikut campur. Karena jujur selama ini Zia gak ngerti tentang masalah Bang Gama dan Kak Dea. Baru beberapa hari kemaren Zia tau semuanya, dan itu bikin Zia makin ngerasa bersalah ke Mama Papa”
__ADS_1
“kamu sering bertemu Gama Zi?”
“enggak Ma, sekitar dua minggu yang lalu saya dan bang Gama sempat ketemu, tapi kita sempet bersitegang karena Bang Gama yang ngelewati batas, jadi Kak Al sempet marah dan tengkar sama dia. Dan baru tadi pagi saya dan Kak Al nemuin dia lagi”
“Anak itu memang keras kepala! Kelakuannya susah sekali dirubah!” geram Papa Adam “Biarkan saja dia menerima balasannya”
“Gimana kabar Gama Zi?” tanya Mama Sinta dengan menangis
“Bang Gama sedang koma Ma, Pa”
“Koma?” Mama sinta jelas kaget, begitu juga dengan Papa Adam
“Sekali lagi Zia minta maaf, gara-gara nolongin Zia yang hampir ketabrak Bang Gama jadi ngalamin ini. operasinya berjalan lacar, tapi sampai sekarang dia belum sadar”
“Biarkan dia nerima semua buah dari perbuatannya Zi” ketus Papa Ada.
Valdi yang daritadi Cuma jadi pendengar sedikit kaget melihat sikap tegas Papa Adam ke Gama.
“Bang Gama sudah berubah Pa, dia bahkan rela jadi ojek online untuk biaya hidup sehari-hari” terang Zia
“Ojek online?” Mama keliatan kaget, beda dengan Papa yang Cuma diam.
“Zia tau, Papa Mama gak suka ke kak Dea selain karena kejadian sama Zia dulu, juga karena masa lalu kak Dea kan. insyaAllah dia udah berubah, dia bukan cewek manja, cewek matre dan suka dunia malam, dia sekarang bener-bener jadi istri dan Ibu yang baik. Dia masih nemenin bang Gama dikondisinya yang lagi dibawah”
“Papa pasti sangat tahu bagaimana hidup mereka saat ini, Zia Cuma ngerasa kasian ke Dega Pa, gimanapun juga dia cucu Papa. Masalalu seseorang memang gak bisa dirubah, tapi sikap dan sifat seseorang kedepannya jelas bisa berubah”
“Papa masih sakit hati dengan sikap Gama Zi, dia seakan gak nganggep pendapat Mama Papanya” kata papa Adam sambil nunduk
“Iya Pa, Zia tahu. Bang Gama memang salah, semua orang pasti juga setuju akan hal itu. Tapi setidaknya Bang Gama sudah menyadari kesalahannya”
“tapi tetep aja dia lebih milih perempuan itu daripada orang tuanya”
“Aku sendiri juga gak paham masalah itu Pa, Cuma aku ngerasa Bang Gama Cuma mau bertanggung jawab ke hidup Kak Dead an anaknya. Papa juga tau kan kalau sekarang kak Dea Cuma sebatang kara, dia hanya bisa bergantung ke Bang Gama. Mungkin Bang Gama juga gak mau ngelawan Papa Mama, tapi keadaan yang memaksa harus seperti itu”
“kamu sudah memaafkan dia Zi?”
“Iya Pa, gak ada salahnya saling memaafkan. Toh Zia sekarang udah bahagia sama hidup dan suami Zia. Mungkin Bang Gama juga sekarang sudah bahagia sama kak Dea dan Dega. Jadi apa lagi yang dipermasalahkan?”
Valdi sedikit senyum dengan semua ucapan Zia, istrinya satu ini memang banyak kejutan.
“Maafin Bang Gama sama Kak Dea Pa, mereka pasti akan sangat bahagia kalau Papa Mama mau menjenguk” ucap Zia sambil senyum tulus.
“Maaf kalau aku lancang ikut campur masalah ini, aku sendiri juga gak tau kalau bakal bertemu sama Mama Papa. Dan aku ngerasa mama Papa perlu tahu kondisi bang Gama.”
Mama Papa Gama masih sama-sama diam, entah apa yang mereka pikirkan. Mama masih menangis, dan Papa masih setia dengan sikap diamnya.
“Sekali lagi Maaf kalau Zia sampai ngomong kayak tadi. Kalau Mama Papa bersedia jenguk Bang Gama, dia dirawat di ICU Rumah sakit Bhayangkara” kata Zia
Tak lama Zia juga pamit pulang. Saat Zia pamit Mama Sinta memeluk Zia lama, beliau berkali mengucapkan terimakasih dan Maaf. Kepada Valdi beliau juga berpesan banyak hal, yanh intinya harus membahagiakan Zia.
“huuuuh….” Zia mengeluarkan nafas keras saat dia udah dalam perjalanan pulang
“kenapa?”
“aku gak nyangka kak, bisa ngomong kayak tadi. Bayangin kak, aku sama orang tua Bang Gama itu gag sedeket kayak ke Bunda. Dan tadi saat mereka seperti welcome ke aku, aku gunain aja kesempatan itu buat ngomong” kata Zia
“hehehe… kamu hebat sayank, salut aku tadi sama kamu”
“Aku ngelakuin itu juga biar rasa bersalah aku sedikit berkurang kak, semoga aja setelah ini mereka bisa rukun kembali, bisa saling nerima”
“aamiin” kata Valdi “tapi emang kamu yakin kalau Dea sama Gama itu udah beneran berubah? Secara kita kan baru beberapa kali ketemu, kesehariannya mereka kita gak tau kan?”
“ih… kak Al kog ngomong gitu, aku kan jadi parno lagi ini. mana tadi aku kayak kekeh banget mereka berubah, gimana dong kak?”Zia keliatan galau
“hahaha… kamu udah ngomong yang sesuai porsi kamu Ra, masalah dia beneran berubah atau enggak, itu bukan kapasitas kamu lagi. Ya tergantung Gama sama Deanya”
“Iya sih, tapi kalau mereka sebenernya gak berubah, bisa-bisa aku dipancung sama Papa Adam” Zia bergidik ngeri
“hahaha… gak mungkin lah, mereka keliatan sayank sama kamu”
“dulu tuh aku emang yang sering nemenin mereka dirumah, anak-anaknya pada sibuk kerja, saat Mama atau Papa sakit aku yang ikutan heboh. Dan mereka syok banget saat tau bang Gama udah nikah sama kak Dea duluan. Mungkin itu sih, jadi mereka kayak kasian ke aku”
“aku juga gak nyangka kalau mantan kamu itu beneran sultan”
“hahaha… percuma juga sultan, kakak tau sendiri gimana mereka sekrang, daridulu tiap hari selalu ada aja yang mereka ributin. mending kayak kita yank, semua serba biasa, tapi selalu bahagia”
“Amin…”
“Kak… aku beliin bakso jeroan yang kuah pedes dong, sama es degan, mantap kayaknya” kata Zia melas
“hahaha… kamu habis tadi disana ceramah, baru kerasa laparnya sekarang” sindir Valdi
“biarin Ih.., pokonya bakso!”manja Zia
“Iya Ra” Valdi nurut.
***
__ADS_1