TriAngel

TriAngel
TA 102


__ADS_3

TA 102


Hari ini Zia akan pergi ke Taman Ceria, Valdi yang emang udah mulai sibuk mungkin nanti hanya bisa nganter. Sebenernya hari ini Zia gak ada rencana ke sana. Tapi tadi rekannya ngabari kalau Zia mendapat titipan dari anak asuhnya.


Beberapa hari ini anak-anak Taman ceria diajari menggambar, dan ada salah satu anak yang emang dari dulu dekat dengan Zia.


Dia menggambar Zia, dan anak itu pengen sekali memberikan gambar itu ke Zia. Jelas Zia terharu, dan saat itu juga Zia pengen langsung ke Taman ceria.


“kamu gak papa yank nanti sendirian? Kamu tau kan hari ini aku ada janji sama klien?” tanya Valdi ragu.


Akhir-akhir ini Valdi memang sudah mulai disibukan dengan kerjaannya. Dalam waktu dekat dia mendapat beberapa klien baru, dan tentu itu sangat meyita watu Valdi. Apalagi di kantornya yang baru hanya ada sedkit karyawan. Otomatis dia harus kerja dobel-dobel.


Sedangkan Zia sendiri sekarang lebih banyak di rumah, atau kadang ke Taman Ceria. Valdi benar-benar membatasi kegiatan Zia. Dia gak mau Zianya kecapekan. Apalagi beberapa hari yang lalu Zia sempat drop dan ada sedikit flek.


“Gak papa kak, nanti kak Al tinggal aja, aku udah bilang mbak Iva kalau pulangnya mau nebeng dia. “ kata Zia yang semangat mau ke taman ceria


“tetep aja aku khawatir yank” Valdi masih kekeh


“aku Cuma bentar kak, ini juga udah selesai jam ngajar kan.palingan ngobrol bentar terus balik pulang” kata Zia


menenangkan suaminya.


“Apa aku tungguin aja, terus ntar kamu ikut aku” bujuk Valdi


“Gak mau. Kak Al mau ketemu sama klien, ntar malah kliennya nungguin, gak enak dong. Lagian aku udah lama gak kesana, pengen ngobrol santai gak buru-buru” kata Zia sambil ngusap lengan Valdi.


Zia memang sudah beberapa minggu gak ke Taman Ceria, dia kecapekan. Dan dokter menyarankan Zia untuk lebih banyak istirahat di rumah. Apalagi Zia sendiri memang selama hamil lebih cepat capek, dan sering pusing.


“Yaudah, tapi nanti langsung balik ya gak usah klayapan. Kalau ada apa-apa langsung hubungin aku”


“Iya sayanku. Udah kak Al fokus sama kerjaan aja. Aku strong kak!” kata Zia sambil tersenyum manis.


“Iya. Awas aja kalau aku denger kamu macem-macem” jawab Valdi juga membalas senyum Zia.


“emang aku mau ngapain sih kak” kesel Zia


“biasanya kamu kalau aku biarin jalan sendiri tuh suka mampir sana-sini”


“Hahaha… palingan juga mampir buat jajan atau makan” Zia terkekeh.


“Kalau mau jajan atau makan sama aku aja. Nanti langsung balik! Aku gak mau…”


“Iya-iya” Zia memotong ucapan suaminya, takut nanti melebar kemana-mana.


“kebiasaan kamu tuh, kalau dibilangin suka bantah”


Dan akhirnya Valdi mengantar Zia ke taman Ceria. Biasanya dia ikut mengantar Zia sampai masuk ruangan, sekalian nyapa temen-temennya.


Tapi karena dia juga udah ada janji, jadi dia menurunkan Zia di jalan depan gang. Tentu diikuti dengan rentetan pesan untuk Zia.


Zia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, suaminya itu makin kesini suka parno. Padahal Zia Cuma gak mau terlalu jadi beban suaminya.


Valdi sudah mulai sibuk, bahkan beberapa hari ini dia selalu pulang kerumah hampir subuh, Valdi milih ngebut nyelesain kerjaanya.


“rejekinya calon bayi yank, harus lebih semangat dong ayahnya” kelakar Valdi saat Zia mengingatkan.


Zia mampir sebentar ke minimarket sebelah Taman ceria, memberikan beberapa camilan untuk temen-temennya. Saat keluar dari minimarket, Zia ngerasa ada yang merhatiin. Reflek dia noleh sana-sini.


Tanpa sengaja matanya bertemu dengan seorang pengendara motor yang markir motornya di seberang minimarket. Mungkin dia ojek online yang lagi nunggu penumpang, karena dia memakai jaket ojek online.


Daerah situ memang selalu jadi pangkalan ojek online karena daerahnya cukup ramai. Dan banyak orang jualan makanan.


Zia tidak melihat wajahnya, karena memang orang itu memakai helm dan masker. Tapi Zia ngerasa orang itu selalu melihat ke arahnya.


Entah kenapa perasaan Zia mendadak gak enak.


Mendadak tubuh Zia seperti kaku, dunianya seperti berenti.


Jantungnya berdegup dengan cepat. Tangannya mulai panas dingin, Zia mulai diselimuti rasa panic. Apalagi orang itu terus menatap kea rah Zia.


Zia menelan ludahnya kasar, tapi dia segera menguasai keadaan. Dia milih langsung pergi tanpa meduliin orang itu.


“Assalamualaikum…” sapa Zia saat masuk dalam ruangan guru.

__ADS_1


“Waalaikumsalam” jawab semua serempak dan noleh ke sumber suara.


“Wah, bumil akhirnya muncul juga” canda Sindi


“Hahaha… maaf baru bisa datang” kata Zia sambil menyalami satu-satu rekannya.


Tak lama Zia sudah memulai obrolan seru bersama temen-temennya karena memang sudah lama gak ketemu. Ada sekitar emapat orang yang masih disana, termasuk Zia.


Ini memang sudah lewat dari jam pulang ngajar, jadi udah pada balik. Anak-anak juga sudah diantar kembali ke panti sekitar setengah jam yang lalu.


“Mbak Iva, maaf ya aku belum bisa gabung ngajar lagi” kata Zia saat dia duduk di samping Iva yang lagi beresin buku.


“Santai Zi, kesehatan kamu lebih penting. Gimana masih sering pusing?” tanya Iva lembut


“udah enggak terlalu sih Mbak, tapi kak Al masih suka rempong sendiri”


“hehehe… maklum lah, dia khawatir, anak pertama. Dulu Tama juga gitu, duh pokoknya heboh dia. Aku sampek malu sendiri kadang”


“Kak Tama emang gak berubah ya dari dulu” kata Zia sambil nginget mantan idolanya dulu.


“ya gitu deh” jawab Iva


“tapi aman kan mbak disini? Gak keteteran? Aku jadi gak enak, dulu maksa ikutan ngajar, eh malah sekarang harus berenti dulu” Zia ngerasa gak enak


“udah gak usah dipikirin,lagian udah ada pengajar baru, dan dia bisa diandelin buat ngehandel anak-anak” kata Iva sambil senyum


“owh yang mbak bilang dulu ya?”


“Iya. Kamu pasti gak nyangka kalau dia gabung sini. Belum pernah ketemu kan?”


“belum, udah lama juga aku gak kesini, siapa sih bikin penasaran aja,katanya aku kenal?” Zia sedikit membenarkan posisinya lebih deket ke Iva


Iva senyum “Dea”


“Hah? Dea? Dea siapa?”


“Dea, yang dulu pernah jadi musuh bersama kita” jawab Iva santai


“Serius? Dia gabung disini?”


“tapi kog bisa? Dia yang mbak bilang minta digaji dengan ngajar full itu kan?”


Jujur Zia sangat kaget, beberapa minggu gak kesini dan ternyata ada hal besar yang dia lewatkan.


“Iya, jangan bilang kamu masih ada dendam sama dia” tebak Iva yang ngeliat ekspresi Zia


Zia tersenyum maksa, memang gak ada yang tahu tentang rumitnya hubungan Zia dan Dea. Semua orang hanya tahu kalau Zia pernah bercerai, tanpa tahu penyebabnya, bahkan banyak juga yang gak tau kalau Zia pernah bercerai, mereka mikirnya Zia memang dari awal Cuma menikah sama Valdi.


“Dendam?” Zia tersenyum miring


“Udah bertahun-tahun Zi, lagian Valdi juga masih setia sama kamu. Dan kamu kalau ketemu sama Dea pasti bener-bener gak nyangka, dia bener-bener berubah Zi”


“owh ya?” tanya Zia pura-pura kaget, alinya dia malas. “tapi aku penasaran kog dia bisa ikut gabung sini?”


“sekitar sebulan yang lalu aku gak sengaja ketemu sama dia, akhirnya kita ngobrol-ngobrol. Nah dari situ aku tahu kalau dia lagi butuh kerjaan, kasian anaknya juga masih kecil, aku tawarin disini dan dia langsung mau. Apalagi dia bisa ngajak anaknya juga disini”


“Anaknya?”


“Iya, jadi tiap kesini dia sama anaknya juga” terang Iva


“Suaminya?” tanya Zia agak ragu


Iva keliatan mikir “aku gak paham sih, selama disini dia lebih sibuk sama anak-anak, jarang ngomongin hal pribadi. Kamu juga tahu kan kalau anak-anak gak suka ngurusin privasi orang”


Zia ngangguk, dikepalanya sudah berkecamuk banyak hal. Pikirannya buruknya lebih mendominasi. Kenapa Dea yang pasti berkecukupan mau gabung disini dan minta dibayar.


Apalagi mengingat bagaimana sikap Dea dulu, rasanya ini semua mustahil.


Seperti rencana awal, Zia pulang nebeng Mbak Iva yang memang selalu membawa mobil sendiri. Saat melewati minimarket, reflek Zia menoleh kea rah tukang ojek online yang tadi ngeliatin dia.


Dan orang itu masih ada disana, dan sepertinya dia tau kalau Zia ada di dalam mobil itu, karena orang itu juga ngeliat kea rah mobil.


Kalau seperti ini Zia ngerasa seperti sedang diuntit. Untungnya kaca mobil mbak Iva gelap, jadi dari luar gak bisa ngeliat ke dalam. Beda dengan Zia yang bisa leluasa ngeliat orang itu.

__ADS_1


Zia bisa ngeliat kalau mata orang itu tajam ngeliat kea rah mobil Iva, Zia mendadak merinding.


“Gak mungkin…” gumam Zia


***


Seharian ini Zia milih mengurung diri di dalam kamar, bahkan dia gak ikut bantu Bunda masak. Dia beralasan kalau sedang gak enak badan. Valdi sendiri belum pulang, dia tadi hanya nelphon kalau lagi di kantor lembur.


Meskipun kantir Valdi ada disamping rumah tapi Zia gak mau ganggu, karena dia tau suaminya itu lagi sibuk.


Sebenernya tubuh Zia baik-baik aja, Cuma pikiran dan hatinya yang sekarang lagi gak enak. Entah kenapa setelah kejadian tadi siang Zia langsung ngerasa sesak.


Kenyataan kalau Dea ikut gabung di Taman ceria masih memenuhi pikirannya. Dari cerita Mbak Iva, bisa dipastikan kalau saat ini keadaan ekonomi Dea lagi gak baik-baik aja, dan Iva membenarkan kalau Dea juga bekerja part time di resto masakan jawa yang dulu pernah Zia datangi.


Pikirannya gak berenti disitu, ditambah tadi dia gak sengaja ngeliat tukang ojek online yang Zia yakin selalu ngeliat ke arahnya.


Meskipun Zia gak yakin, tapi feelingnya kuat tentang orang itu.


Mendadak tubuh Zia kembali menggigil, pikirannya penuh, dadanya terasa sesak.


Dia mulai ngerasa mual, di pegangi perutnya, diusap calon anaknya, entah kenapa Zia malah meneteskan air mata.


Saat seperti ini rasanya Zia pengen berbagi dengan suaminya, tapi Zia tahu kalau saat ini suaminya itu sedang sibuk kerja. Dan Zia gak mau menambah beban suaminya dengan bercerita yang Zia sendiri gak yakin benar atau salah.


Zia milih memendam semuanya sendiri dulu, toh dia juga gak punya bukti apa-apa. Dan yang terpenting dia gak mau bikin Valdi khawatir lagi.


Saat seperti ini harusnya Zia bisa lebih mendukung karir Valdi, yang alhamdulilah makin kesini makin menunjukan hasil positif.


“Yank…” panggil Valdi saat masuk dalam kamar “Kamu kenapa? kata Mama gak enak badan”


Zia senyum “pusing aja kayak biasanya”


Valdi menghela nafas panjang “Makan yuk, terus minum vitamin”


Valdi meletakan nampan berisi piring yang penuh makanan dan segelas susu coklat, khusus untuk Zia. Valdi mencium bibir Zia sekilas.


“Maaf ya aku jadi sibuk gini” cicit Valdi sambil benerin rambut Zia yang nutupin pipinya.


Zia duduk dan sandar di kepala ranjang “Kamu ngomong apa sih? Aku seneng dong kalau kamu sibuknya masalah kerjaan, asal jangan sibuk sama cewek lain”


Valdi mencibir dan menyentil dahi istrinya pelan, Zia terkekeh. Tadi dia ngerasa tertekan sendiri, tapi saat Valdi datang Zia mencoba menekan egonya.


Dia harus jadi istri yang menenangkan suaminya. Dan kehadiran Valdi sendiri mendadak ngerubah mood Zia jadi lebih baik.


Mereka makan sepiring berdua, Valdi memang sengaja mengambil porsi banyak untuk dimakan berdua. Setelah habis dia membantu Zia meminum susu dan vitamin.


“kamu gak balik kantor?” tanya Zia yang ngeliat Valdi ngebuka kemejanya.


Valdi noleh ke Zia “kamu ngusir aku?” tanyanya dengan suara melas


Zia senyum “sekarang kan kamu lebih betah di kantor” sindir Zia


“Bosen lah di kantor terus, gak ada yang bisa di peluk” kata Valdi yang udah ganti kaos, dan sekarang ikut duduk di samping Zia, meluk cewek itu posesif.


“Kangen” bisik Valdi lembut “Maaf ya akhir-akhir ini aku suka lupa waktu,kamu jadi tidur sendiri.”


“gak papa yank, tapi kamu juga harus inget waktu, jangan di forsir. Kebiasaan kamu dari dulu kalau udah fokus sama sesuatu, suka lupa sama yang lain” kata Zia sambil narik hidung Valdi sayang.


Valdi senyum “Iya, gimana kabar anak kita? gak nakal kan?” tanya Valdi sambil ngusap perut Zia yang udah sedikit menonjol.


“dia baik, gak nakal” kata Zia ikutan megang tangan Valdi yang lagi ngusap perutnya.


“Sehat terus ya nak, gak boleh jahilin Bunda” kata Valdi sambil natap Zia dan senyum.


“Iya ayaaah” jawab Zia manja


“tapi kalau ayah yang jahilin Bunda, boleh dong…” kata Valdi sambil tangannya sudah merayap kemana-mana.


“hahaha…”


Zia ketawa dengan sikap Valdi, sejenak dia melupakan rasa sesaknya yang seharian ini terus mengikutinya.


Dan mereka melakukan sesuatu yag seharusnya mereka lakukan…

__ADS_1


***


__ADS_2