TriAngel

TriAngel
TA 71


__ADS_3

TA 71


“Makasih ya kak udah nganter ke rumah sakit, aku ke kosan aja deh kak. Udah mendingan kog” kekeh Zia


“kamu di kosan ntar gak ada yang rawat Ra, dirumah kan ada Bunda, Mbak Minah, ada aku juga.”


“Aku gak mau ngrepotin kalian kak”


“Yaudah, sini ponsel kamu, biar aku telphon kak Arga. Biarin dia tau kamu sakit”


“jangan…”


“Mangkannya nurut kalau dibilangin” kata Valdi sambil berenti di lampu merah.


Valdi memegang dahi Zia, masih hangat. “mau makan sesuatu gak, biar sekalian beli?”


“gak ***** makan kak,gak enak rasanya” ucap Zia sambil memejamkan matanya.


“yaudah sabar ya, bentar lagi nyampek kog” kata Valdi terus melihat depan.


Sampai dirumah Bunda udah heboh, tadi Valdi nelphon kalau Zia kena gejala Typus. Bunda langsung nyuruh Zia istirahat di kamar tamu. Bunda dengan telaten merawat Zia dibantu Mbak Minah.


“Ra… udah bangun?” Tanya Valdi saat ngeliat Zia membuka mata. Valdi sudah daritadi nungguin Zia tidur. “Gimana rasanya? Masih pusing?”


Zia ngangguk lemas “Bunda mana?” jujur dia gak nyaman di kamar berdua sama Valdi.


“Bunda ke kajian sama Mbak Minah”


“Kak al gak ada acara?”


“Enggak. Kamu butuh sesuatu?”


“Minta tolong minum kak” pinta Zia, dengan sigap Valdi mengambilkan minum, serta membantu Zia meminumnya.


“tadi Kak Arga nelphon”


“Kakak angkat?”


“Enggak, takut malah khawatit kalau yang ngangkat cowok”


Zia ngangguk “Nanti aja aku telphon balik”


Valid megang dahi Zia, udah mulai berkurang panasnya, tapi Zia keliatan masih lemes.


“Kak, boleh keluar gak? Gak nyaman”


“Yaudah ayok,”


Valdi ngebantu Zia buat berdiri dan keluar dari kamar. Mereka berdua milih duduk di ruang tengah sambil nonton tv. Mereka berdua duduk bersampingan tapi saling diam, hanya suara tivi yang terdengar.


“kak…”


“heemh?”


“aku seneng bisa ketemu lagi sama kak Al juga Bunda. Jujur dulu aku sempat benci sama kak Al, tapi makin lama aku sadar gak ada gunanya juga benci sama kak Al, karena kak Al pasti punya alasan”


“Maafin aku ya Ra…”


“kak Al hutang penjelasan ke aku”


Valdi tersenyum, “Iya nanti aku jelasin, kamu sekarang istirahat aja biar gak pusing”


“Baru keluar kamar, masak harus balik lagi sih. Capek ah…”protes Zia


“yaudah tidur disini aja” ucap Valdi sambil nyandarin kepala Zia di bahunya. “udah nyaman belum?”


Zia ngangguk samar “makasih”


“jangan sakit lagi Ra”

__ADS_1


“Kak al khawatit aku sakit? Perhatian banget sih” goda Zia sambil senyum samar


“Di kantor lagi banyak kerjaan, kalau kamu sakit kasian anak-anak pada kerja dobel”


“Ck… kirain” Zia manyun, Valdi malah ketawa.


“Cepet sembuh” ucap Valdi sambil ngusap kepala Zia lembut.


“heeem..” gumam Zia sambil memejamkan mata lagi, rasanya nyaman seperti ini.


Cukup lama Valdi dan Zia di ruang keluarga, awalnya hanya Zia yang tertidur tapi lama-lama Valdi juga tidur disamping Zia. Mereka baru bangun ketika Bunda datang, dan heboh ngeliat Valdi dan Zia tidur berdua di sofa.


“kamu ini gimana sih Val, Zia itu masih sakit malah diajakin tidur di sofa, badannya bisa tambah remuk entar’ omel Bunda


“Bukan salah kak Al Bun, tadi aku yang ngajakin duduk disitu, eh malah ketiduran. Maaf ya Bun” ucap Zia pelan


Bunda menatap Zia dan Valdi gantian, lalu geleng-geleng.


“yaudah Zia balik ke kamar ya istirahat, Mbak minah lagi nyiapin makan malam, tunggu sebentar.”


“Iya Bun”


“kamu, sana mandi. Jam segini masih kucel aja” ucap Bunda sambil jewer telinga Valdi


“Sakit Bun…” rengek Valdi.


“Dasar kamu, cari kesempatan aja” kesal Bunda


“Apa sih Bun” kata Valdi sambil lari kearah kamarnya.


Selesai makan malam dan minum obat, Bunda dan Valdi nemenin Zia di kamar. Mereka ngobrol ringan sambil menghibur Zia. Bunda pamit duluan untuk istirahat, tinggal Valdi dan Zia di kamar itu berdua sambil masih terus ngobrol.


“Ra, berani gak tidur disini sendiri?” Tanya Valdi. Dia hafal betul kalau Zia penakut, apalagi di tempat baru.


“berani kak” jawab Zia sambil nunduk


“aku panggilin Bunda atau Mbak Minah ya, biar nemenin kamu tidur sini”


“yaudah, aku aja yang nemenin kamu disini, nanti kalau kamu udah tidur baru aku balik kamar” kata Valdi santai


“Gak usah, kak Valdi istirahat di kamar aja, besok juga kerja kan”


“gak usah banyak protes, buruan diminum obatnya” perintah Valdi


Tak lama setelah minum obat, Zia mulai mengantuk dan tidur. Valdi berniat menemani sampai Zia bener-bener pulas. Dipegang dahi Zia, udah mulai dingin. Valdi tersenyum sambil terus memandangi wajah Zia.


Wajah polosnya terasa tenang saat tidur.


Dulu Valdi sangat menyukai Zia yang tampil polosan gini. Semakin memandang wajah Zia, Valdi semakin mengingat tentang hubungannya dengan Zia dulu.


Gimana manjanya Zia, gimana Zia sangat bergantung ke dirinya, gimana Zia kalau ngambek. Tak terasa Valdi senyum-senyum sendiri mengingat itu semua.


“aku masih inget itu semua Ra…” gumam Valdi sambil mengusap kepala Zia yang masih memakai hijab.


Adzan subuh seperti alarm buat Zia, dia langsung terbangun dan kaget saat mendapati kak Al masih di kamarnya, dia tidur sambil duduk di kursi samping ranjangnya.


Pikiran Zia mulai berkecamuk sangat gak pantas mereka semalam berduaan di dalam kamar.


Zia melirik pintu yang masih terbuka, mungkin Valdi lupa dan gak sadar kalau ketiduran disitu. Zia menatap wajah Valdi, masih sama seperti dulu, gak ada yang berubah, masih tampan, perlahan Zia tersenyum.


“Astaghfirullah…” gumam Zia saat sadar kalau dia malah memikirkan Valdi.


“kak… Kak Al… bangun” ucap Zia sambil menggoyangkan tangan Valdi.


Tak lama Valdi terbangun, sepertinya dia juga kaget, beberapa detik mereka saling tatap, sampai Zia memutus duluan kontak mata itu.


“Kak Al ngapain tidur sini?” Tanya Zia sambil nunduk


Valdi mengusap tengkuknya “Maaf Ra, ketiduran, hehehe”

__ADS_1


“Buruan balik kamar, gak enak sama Bunda”


“Iya” jawab Valdi sambil berdiri dan jalan kea rah pintu.


Tak lama dia malah berbalik ka


rah Zia lagi, memegang dahinya. Sudah dingin. Semalam Valdi terus menjaga Zia, mengganti kompresnya agar cepet dingin. Bahkan Valdi juga mengaji disamping Zia.


“gimana? Udah enakan?” Tanya Valdi


“Udah kak…”


“yaudah, aku ke kamar ya” ucapnya sambil ngusap kepala Zia.


Semenjak mendengar kabar kalau Zia sakit, pikiran dan perasaan Valdi gak tenang. Dia seperti heboh sendiri, selalu ingin memastikan sendiri kalau Zia udah gak apa-apa. Dan rasanya berat kalau harus ninggalin Zia.


Zia tinggal dirumah Vldi sudah 4 hari, selama itu pula Valdi selalu pulang cepat dari kantor. Bunda yang tau Valdi sangat mengkhawatirkan Zia sering jahil.


“tumben pulang cepet terus sekarang?” Tanya Bunda suatu hari


“kerjaan udah selesai Bun, lagian mau mastiin Zia udah minum obat apa belum, anak itu suka gak mau minum obat kalau gak aku paksa”


Bunda mencibir “rasanya khawatir banget ya, seperti seorang suami yang selalu khawatir kalau istrinya sakit” goda Bunda


Valdi langsung mengurungkan niat untuk ke kamar Zia, dan menoleh ke Bunda.


“bunda gak usah ngomong aneh deh” kesal Valdi


“dih… Bunda itu Cuma inget, dulu Ayah kamu juga khawatir kayak kamu gini kalau Bunda lagi sakit” kata Bunda santai


“aku itu Cuma khawatir sebagai adek ke Ara Bun, apalagi dia sendirian disini”


“Iya-iya Bunda tau. Tapi jujur Bunda seneng liat kalian. Bunda selalu berdoa yang terbaik buat kamu dan Zia”


Valid hanya menghela nafas panjang, “terserah Bunda deh”


“di aminin dong Val”


“Iya Amin” kata Valdi dan langsung lanjut jalan ke kamar Zia.


Tok…tok…tok…


“Masuk”


Valdi membuka pintu, terlihat Zia masih menggunakan mukenah dan baru menutup Al-qur’an. Valdi tersenyum ke Zia, begitupun sebaliknya.


“Gimana kondisi kamu?” Tanya Valdi sambil duduk di kursi samping ranjang Zia


“alhamdulilah, udah jauh lebih enak kak. Boleh ya malam ini Zia balik ke kos. Besok udah pengen ngantor” pinta Zia memelas


“Big No!” jawab Valdi tegas “besok siang aku anter ke kos, lusa baru ngantor”


“Ck… aku gak enak kak ngrepotin terus”


“Gak ada yang ngerasa direpotin, kita malah khawatir kalau kamu di kosan”


“Ck… kak Al mah gitu” kata Zia manyun.


“Kamu gak enak karena ngrepotin atau bosen karena di kamar terus?”


“hehehe… dua-duanya” jawab Zia sambil senyum manis


Valdi menyentil dahi Zia, “habis makan malam kita nonton”


“Ke bioskop?”


“dirumah, kita streaming. Baru sembuh aja udah gaya mau nonton di bioskop” kata Valdi sambil berdiri dan keluar kamar Zia.


Zia terus memandang Valdi, sampai lelaki itu keluar kamar. dia menghela nafas panjang.

__ADS_1


“please kak… jangan gini terus” gumam Zia sambil nunduk.


***


__ADS_2