TriAngel

TriAngel
TA 82


__ADS_3

TA 82


--RIVALDI POV—


Kukerjapkan mataku, kupandangi wajah wanita yang selama ini selalu menganggu ketenangan hidupku. Tak ada yang berbeda, hidungnya, matanya, dan bibir mungilnya.


Rasanya ingin sekali aku menikmati bibir mungil itu. Tidur dengan saling berpelukan ternyata membawa banyak dampak buatku. Dan yang jelas aku sangat bahagia.


Kucium bibirnya sekilas.


Dia tampak terganggu, dan aku tersenyum tipis. Sampai kapan aku harus menyembunyikan perasaanku ini, entah, ada rasa takut disana.


Takut kalau ternyata Ara belum bisa menerimaku, takut kalau dia jadi canggung. Tapi kita sudah suami istri, gak ada salahnya kan kalau saling mencintai.


Aku sadar sampai saat ini Ara masih ada rasa trauma dengan pernikahan, rasa gak percaya diri, rasa takut dihianati, bahkan hanya dengan mengingat masa lalu, tubuhnya sudah bergetar hebat.


Tugasku sekarang harus mengembalikan Araku yang dulu, yang penuh semangat, penuh aura positif dan penuh rasa percaya diri.


Kubelai rambut hitamnya, kucium kepalanya beberapa kali, berharap dia akan terganggu dan bangun. Nyatanya dia malah makin mengeratkan pelukannya padaku, aku tersenyum.


Semalaman kami hanya tidur dengan saling berpelukan, dia tampak tidur nyenyak, aku yang merasa makin gak tahan. Untung pagi segera datang.


“Araa… Bangun yuk!” kuusap pipinya, lalu kutusuk pipinya dengan jariku. “Araaa…”


“hmmm…” dia mulai bergerak, dan membuka matanya.


Kami saling tatap, kuberikan senyum manisku “Selamat pagi sayank”


Dia malah menyembunyikan wajahnya dalam dadaku.


“Lah kenapa?” tanyaku


“Malu, baru bangun” cicitnya


“Hahaha… udah daritadi aku liatin wajah kamu Ra,” kataku sambil ngusap rambutnya “Cantik, aku suka”


“Awww…” dia malah nyubit pinggangku, rasanya panas “sakit Ra!”


“Habis masih pagi gini malah gombal”


“hehehe… sholat dulu yuk, keburu habis waktunya."


Kita berdua gantian ke kamar mandi dan sholat berjamaah. Selesai sholat aku hanya membaca doa singkat dan kembali tiduran diranjang, diluar masih hujan, rasanya masih sangat dingin. Kuliat Ara masih bergelut dengan ponselnya, membaca Al-qur’an.


Aku tersenyum, dan terus memperhatikan dia. Rasanya bener-bener sejuk dan menenangkan. Aku bertekad akan membuat Ara bener-bener nerima aku.


masalah traumanya harus segera diselesaikan. Dia mulai membenahi mukenanya dan menyisir rambut.


“Padahal aku pengen liat Sunrise, malah ujan” gumamnya


“Udah sini aja” kataku sambil nepuk ranjang.


Dia manyun dan keliatan salah tingkah, tapi dia nurut dan duduk disebelahku. Ku tarik tangannya agar dia ikut berbaring disebelahku.


“Mau tidur lagi?” tanyanya


“Enggak, rebahan aja, dingin Ra, pengen peluk” akhirnya dia ikut berselimut, dan kupeluk tubuhnya.


“Kak…”


“Apa?”


“boleh gak sih, sebelum kita makin jauh, kak Al selesaiin dulu dengan Dinda” ucapnya sambil nunduk


Aku menghela nafas panjang, ternyata memang dia masih belum bisa melangkah karena dipikirannya aku masih cinta sama Dinda.


“Ra… aku sama Dinda gak ada hubungan apa-apa, gak ada yang perlu diselesaiin”


“oke kak Al ngerasa gitu, tapi tetep aja disini tuh aku kayak tiba-tiba masuk dalam hubungan kalian. Jatuhnya aku kayak pelakor” katanya sambil berkaca-kaca.


Kuusap kepalanya “Ra, kenapa mikirnya sampai jauh kesana sih?”


“Aku tuh takut kak” kesalnya


Kami sama-sama diam, kutatap wajah sendunya. Entah apa yang sekarang ada dalam pikirannya.


“Ra… apa sih yang bikin kamu jadi mikir negative terus? Trauma kamu?” tanyaku pelan, takut dia kesinggung


Ara menghela nafas panjang, “aku ngerasa dari dulu selalu ngalamin percintaan yang buruk kak”


“maksutnya?”


“dulu saat aku udah sangat percaya ke kak Al, gantungin semua mimpiku bareng kakak, ternyata kak Al ninggalin aku. saat aku mulai membuka hati buat Kak Davin, dan sayank sama dia ujungnya dia nikah sama cewek lain. Lebih parahnya saat aku nikah sama Gama, malah ada cewek lain”


“Dan sekarang kamu takut aku juga kayak gitu?”


“iya, aku takut saat aku sudah ngasih semua rasaku ke Kak Al, tapi kak Al juga ninggalin aku”


“Aku bakal buktiin kalau aku gak kayak gitu Ra, kamu tau kan aku gimana” kataku berusaha membuatnya yakin.


Ara menoleh ke arahku dan tersenyum “Aku pengen percaya ke kak Al, tapi aku ragu, apalagi udah lama kita gak ketemu. Banyak yang berubah dari kak Al”


“aku gak akan maksa kamu Ra, kita jalani semuanya bareng-bareng.” Kataku akhirnya, gak mungkin juga aku terus maksa Ara.


“Bantu aku buat percaya dan jatuh cinta lagi sama kak Al” katanya sambil natap mataku.

__ADS_1


Aku tersenyum, kucium pipinya.


Dia malah manyun. “kenapa?”


“jangan cium, aku belum mandi” katanya


“hahaha… “ kupeluk lagi dia, rasanya aku bener-bener gak kuat


“Ra, aku mau ngaku”


“Apa?”


“aku kalah”


“Hah?”


“aku udah jatuh cinta sama kamu” kataku sambil natap matanya, dia malah mlengos “lah, kog gitu responnya?”


“Kak Al ngomong cinta karena tadi aku curhat gitu? Kak Al kasian sama aku?”kesalnya, bibirnya mengerucut.


Kusambar bibirnya, kucium sekilas “lemes banget sih nih mulut”


“Kak…”protesnya


“Apa? Orang bilang cinta malah nanggepinya gitu” aku juga jadi ikutan kesal.


“habisnya kak Al tuh, kemaren gak cinta, sekarang tiba-tiba cinta gimana aku bisa percaya?” dia keliatan emosi


Kuhembuskan nafasku, dan ku peluk dia “Maafin aku Ra”


Dan aku menceritakan semuanya, gimana aku gak pernah lupain dia, aku yang selalu kangen. Aku emang jalan sama banyak cewek, tapi gag ada satupun yang bisa menggeser posisi Ara.


Semuanya aku ceritain, saat dia tiba-tiba datang ke jogja dan kembali membuat aku jatuh cinta. Aku yang cemburu ke Ferdi, semuanya.


“terus Dinda?” katanya masih gak percaya


“Ck… Dinda lagi. Aku sadar aku gak cinta sama dia Ra, mungkin bener kata anak-anak itu Cuma rasa bersalah.”


“tapi kak Al sendiri yang bilang ke aku, kalau kak Al sayank ke dia”


“itu Cuma karanganku aja Ra, aku deket sama dia belakangan ini juga sebenernya gara-gara kamu”


“Aku?”


“ya. Aku takut rasaku ini bikin kamu gak nyaman, dan jadi ngejauhi aku. mangkannya aku terus deket sama Dinda biar kamu gak mikir macem-macem ke aku. dan aku sebenernya mancing, kira-kira kamu cemburu apa gak” kataku


“tapi kamunya lempeng aja, malah aku yang kamu bikin cemburu sama Ferdi” kesalku


“hahaha…” dia ngakak, ku cubit hidungnya.


“aku serius Ra, dulu, sekarang dan selamanya aku cinta sama kamu” ucapku sambil natap dia.


“kamu gak percaya?” tanyaku frustasi


“Kak Al ngomong cinta bukan karena ngejar malam pertama kan?” tanyanya


“ya Allah Ra… gitu banget kamu ke aku?” aku bener-bener frustasi.


Jujur salah, gak jujur juga salah.


“Hahaha… iya-iya, makasih kalau kak Al udah cinta sama aku, tapi please beri aku waktu buat nerima ini semua. Jujur aku masih sulit buat percaya 100%” katanya tulus


Aku mengerti, sangat mengerti, dan ini memang tugasku untuk ngeyakinin dia. “Aku paham Ra”


“Maaf Kak, kita coba pelan-pelan ya” kata Ara sambil memeluku.


Ku balas pelukannya, aku janji Ra bakal bikin kamu bahagia. Akan aku tunjukin besarnya rasa cintaku ke kamu. Kucium keningnya.


Setelah hujan reda, kita pergi keluar. Mencari sarapan yang merangkap makan siang. Menikmati keindahan pulau Lombok. Menjelajah semua sudut yang belum pernah kita kunjungi.


Kita berdua sudah gak canggung lagi, saling bercanda dan menikmati liburan. Kita baru balik hotel sekitar jam 8 malam, tentu aja sebelumnya kita menikmati kulineran khas Lombok. Selesai bersih-bersih badan dan sholat isya kita santai di Balkon.


“kak, ada telphon tuh” kata Ara yang baru keluar


Ya daritadi ponselku berdering. Dinda. Ara melihat ponselku, kulirik ekspresinya yang mulai berubah. Dia langsung berdiri dan akan masuk lagi ke dalam. Kutarik tangannya, kududukan dia dalam pangkuanku.


“Kak…” dia berontak ingin kabur.


Aku mencoba menahan badannya dengan melingkarkan tanganku di perutnya “ Diam sayank!” ku geser tomblo hijau, dan aku pencet tombol loudspeak.


“Valdi…. Ya ampuun… kamu tuh kemana aja sih? Semingguan ini kamu sama sekali gak ada kabar. Tega ya kamu sama aku?” cerocosnya.


Aku memutar mataku jengah. Zia keliatan kesal. Kudekap kembali badannya. “Ada apa?” tanyaku.


“ada apa? Aku khawatir Val… kamu dimana sekarang? Kata Niko kamu di Malang”


“Dinda… berapa kali aku bilang sama kamu, berenti khawatirin aku, kita gag ada hubungan apa-apa”


“Aku tau kamu gak pernah cinta sama aku, tapi kenapa kamu gak pernah ngehargai aku sih? Aku pikir setelah aku pergi dan balik lagi ke jogja kamu bakal berubah”


“Din, aku uda bilang kan? Aku bersikap kayak gini karena aku gak mau ngasih harapan palsu ke kamu. Aku gak bisa cinta sama kamu Din”kataku mulai kesal, sudah berkali-kali aku bilang ini ke dia.


“ kasih kesempatan aku Val” kata Dinda, terdengar dia menangis


“Maaf aku gak bisa, aku juga udah pernah bilang kan, hatiku Cuma buat satu cewek” kataku sambil senyum natap Ara.

__ADS_1


“Siapa? Mantanmu waktu SMA itu? Kenapa sih kamu gak bisa lupain dia Val? Apa lebihnya dia dibanding aku?” kesal Dinda


Aku tersenyum dan kembali mendekap badan Ara “Ya, dia mantanku dan masa depanku. Jelas banyak kelebihanya dia Din. Tapi yang jelas hatiku selalu milih dia”


“Kamu keterlaluan Val”


“lupakan aku Din. Maaf” kataku dan menutup telphonnya.


Perlahan tangan Ara merangkul leherku, dia kelihatan senyum-senyum malu. Semakin ku tatap, wajahnya semakin memerah.


“Kamu selalu jadi alasanku gak bisa melangkah Ra. Karena Cinta selalu pulang kerumahnya” ucapku.


Tanpa kusangka Ara mencium bibirku sekilas, rasanya duniaku langsung berhenti. Apa ini sebuah tanda? Dia terus menatapku, seakan menantang keberanianku.


Ku dekatkan bibirku, kusatukan bibir kami. Beberapa kecupan kecil kuhadiahkan untuk dia.


Dia tersenyum sangat manis,


“Jangan pernah sakiti dan tinggalin aku Kak” pintanya


“Gag akan sayank” jawabku tegas


Kembali kucium bibirnya, awalnya hanya ciuman biasa, lama-lama aku terus menuntut untuk melumaat bibirnya, mendobrak masuk ke dalam bibir mungilnya.


Ara semakin mengeratkan pelukannya di leherku. Aku anggap dia memberi lampu hijau.


Terus ku jelajahi sudut bibirnya, tak ku biarkan dia lari.


Hasraat yang selama ini kupendam rasanya sudah gak bisa kutahan. Aku terus membawa Ara dalam manisnya sebuah ciuman. Setelah puas kulepas bibirku. Kuusap bibir indahnya.


“Ra…” panggilku dengan suara serak penuh nafsuu.


“Aku milikmu kak…” ucapnya sambil tersenyum malu.


Hatiku seperti tersiram air es, rasanya sangat dingin dan menyegarkan. Aku anggap dia mau menyerahkan semuanya.


Tanpa pikir panjang kulanjut aktivitas menyenangkan tadi. Kumanjakan dia dengan ciuman yang memabukkan.


Kucium seluruh wajahnya dengan penuh rasa sayank. Perlahan ciumanku turun ke bawah, ke leher jenjangnya. Kuberikan satu tanda disana, dia mulai mengerang.


Rasanya aku bener-bener mabuk. Tanganku mulai meraba dua gunung kembarnya yang dari kemaren terus menggodaku.


“Aaakkkhh… kak, jangan disini, nanti ada yang liat” rengeknya dengan suara menggoda.


Aku tersenyum miring, gimana mungkin dia berpikir ada yang ngintip. Memang kita dibatasi kaca besar, tapi jelas aktivitas disni gak bisa diliat dari luar.


Kuangkat tubuhnya ke dalam. Kubaringkan dia. Kembali kuulang ciuman panas tadi, tapi tanganku sudah gak bisa dikondisikan lagi. Dia sudah menjelajah kemana-mana.


“Kak Al…” erangnya saat kumainkan kedua puncak gunung kembarnya.


“Keluarkan sayank, jangan ditahan. Aku suka desahaanmu” ucapku sambil membelai rambut hitamnya.


Kembali kujalankan aksi gilaku, mencium seluruh wajahnya. Tanganku sudah mulai melepas bajunya. Menampakan pemandangan indah tiada duanya.


Badanku semakin panas, dengan cepat kulucuti pakaianku sendiri. Aku mulai menindih badanya, kulit kami saling bersentuhan. Aku sudah tidak memakai apa-apa lagi, juniorku jelas sudah sangat tegak.


Ara terus memejamkan matanya daritadi, aku makin gemas, sambil meraba bagian sensitifnya yang masih tertutup pembungkus, kucium lagi bibirnya.


“Aaaakhh… Kak Al…” racaunya


“Aaakhhh…”


“ tatap aku Ra” pintaku sambil mengelus pipinya. Dia membuka mata “ boleh?”


“lakukan kak… aku milikmu” ucapnya sambil mencium bibirku sekilas


Aku tersenyum senang. Kembali kujalankan misiku untuk membuat dia sangat terbuai, aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menikmati setiap inci tubuhnya. Penantian selama 28 tahun akhirnya…


Kucium setiap lekuk tubuhnya, kulepas pengait BeHanya dan kubuang entah kemana. Ku nikmati kedua gunung kembar itu dengan mulutku. Dia semakin mendesah.


Tanganku mulai meraba bagian bawah. Tak jarang kugesekan juniorku ke bagian luarnya. Rasanya sangat nikmat luar biasa.


“Aku masukin ya Ra” kataku udah gak tahan, dia mengangguk


dengan menggigit bibir bawahnya, membuatku semakin gemas.


Kucoba memasuki milik Ara, beberapa kali usaha selalu gagal. Sepertinya sudah benar, tapi kenapa susah sekali, harusnya kan langsung bisa masuk. Mengingat dia pernah menikah. Setelah mencoba beberapa kali dan masih gagal aku mulai frustasi, juniorku sudah mulai berontak.


Kulirik Ara yang tersenyum seakan mengejek, dasar cewek satu ini. selalu bikin aku kalang kabut. Aku coba mengalihkan dengan menciumnya lagi, merambah seluruh badannya. Berhenti dengan menatap wajahnya dan mengelus pipinya.


“Sabar ya sayank, hehehe” ucapku, kutau dia juga sudah gak sabar.


“susah ya kak?” godanya sambil nahan senyum.


Aku mendengus kesal bibirnya aku cium lagi dengat sedikit gigitan, menghukum dia yang seakan meremehkanku, kucoba sekali lagi, tapi tetep aja sulit. Ini memang pertama buatku, tapi rasanya mustahil aku sebodooh ini. perlahan Ara menarik badanku mendekat.


“Aku masih virgiiin sayank…” bisiknya lembut


“Hah?” aku langsung mundur menatapnya gak percaya “Ra?”


“Iya” jawabnya sambil tersenyum sangat manis


Dengan semangat empat lima aku mulai mencobanya lagi, dan kini aku mengerahkan segala tenaga dan usahaku. Benar ternyata, ada rembesan darah ketika kami bersatu. Aku melakukannya dengan senyum terus mengembang.


Kumanjakan Ara dengan segala kemampuanku. Setelah cukup lama, kami mulai mencapai puncak bersamaan.

__ADS_1


“Terimakasih sayank” bisikku sambil memeluknya erat.


***


__ADS_2