TriAngel

TriAngel
TA 110


__ADS_3

TA 110


“Yank, kita ke ruamh sakit sekarang” kata Zia heboh sampai datengin Zia ke kantor


“Ada apa?”


Valdi mendadak panic


Selama dua hari memang dia sama sekali gak jenguk Gama, karena selama dua hari ini Valdi ke Surabaya, ada kerjaan disana. Zia sendiri jelas hanya dirumah, Valdi gak ngebolehin dia kemana-mana.


“Kak Dea nelphon,katanya Bang Gama udah sadar”


“kita kesana sekarang” kata Valdi sambil megang tangan Zia.


Istri kecilnya itu suka ceroboh kalau gak dipegangin, apalagi dalam keadaan buru-buru gini.


Setelah dua puluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai dirumah sakit.


Dan ternyata Gama sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Jujur Zia dan Valdi sedikit kaget karena Gama ditempatkan diruangan itu, sebelumnya Dea minta Gama di tempatkan di ruang kelas 2 aja karena ngerasa gak enak ke Valdi yang biayain semuanya.


Saat Zia dan Valdi mau masuk, Dea malah keluar. Dia bilang Gama habis minum obat, dan sekarang dia sedang istirahat.


“kamu datang ke Mama Papanya Bang Gama Zi?” tanya Dea saat mereka bertiga duduk di taman.


“Maaf kak, waktu itu aku Cuma nemenin kak Al ketemu klien, tapi ternyata kliennya itu Mama Sinta. Jadi aku langsung ngomong ke merak tentang kondisi bang Gama”


“iya” Dea mengangguk


“Kenapa? mereka ngusik kalian?” tanya Valdi khawatir


“kemaren mereka datang kesini, aku jelas sangat kaget, aku juga sempat takut kalau mereka nyuruh aku pergi dari sisi Gama. Tapi ternyata malah sebaliknya”


“Maksutnya?” Zia masih bingung


“Iya, meskipun sikap mereka masih kaku ke aku, tapi setidaknya mereka udah mau ngajak ngomong, udah perhatian lagi sama Bang Gama, dan yang bikin aku makin seneng, mereka bisa nerima Dega” kata Dea sambil nangis


“Alhamdulilah kak, aku ikut seneng” kata Zia


“Iya, dan Papa sendiri yang berinisiatif memindahkan Gama ke ruang VVIP”


Terang Dea, Valdi dan Zia hanya mengangguk.


“Dega sekarang dimana?” tanya Valdi


“Dia ikut Mama Papa, mereka bilang selama Gama dirawat biar Dega sama mereka. Jadi aku bisa fokus” kata kak Dea sambil senyum.


“semoga kedepannya hubungan kalian jadi lebih baik lagi”


“Amiin… makasih ya Zi, kak Valdi. Kalian udah banyak membantu”


“Sama-sama kak. Ngomong-ngomong gimana keadaan Bang Gama?”


“alhamdulilah tadi udah sadar, ngomongnya masih agak kaku sih, tapi kata dokter kondisinya stabil, Cuma emang butuh waktu buat pemulihan’


“syukur deh, tapi semua aman kan?”


“Aman kog, tadi dia juga sempet nanyain kondisi kamu Zi, aku bilang kamu baik-baik aja, dan selama Bang Gama gak sadar kamu sama kak Valdi sering kesini. Dia bilang, setelah keadaanya mulai membaik dia pengen ketemu sama kamu” jelas Dea


Valdi mencibir “Zia aja nih yang diajakin ketemu” sindir Valdi sambil bersedekap dada


Dea tersenyum dan menggeleng


“sama kamu juga kak”


“kamu nih yank, gak usah diajakin juga kamu pasti ngintilin aku” canda Zia


“haruslah, wajib itu” kata Valdi santai


Dea tersenyum ngeliat tingkah kedua pasangan suami istri di depannya. Dia sangat ingat, sejak SMA dulu kedua pasangan ini memang selalu membuatnya iri.


Dulu Dea memang pernah dekat dengan Tama, tapi nyatanya Tama sama sekali gak mau memberi kepastian hubungannya.


Karena mereka satu band waktu itu, Valdi yang memang keliatan cuek, berhasil membuat Dea diam-diam membelokan hati ke dia. Dan Dea sendiri sudah sangat PD kalau Valdi juga mempunyai rasa sama dia, tapi nyatanya dia malah jadian dengan Zivara adik kelasnya, yang menurutnya biasa aja.


Dea ngerasa gak terima, sampai akhirnya dia membuat gossip-gosip miring, dan itu seperti bom bunuh diri buatnya. Karena tingkahnya itu hubungan baik yang selama ini terjalin dengan anggota bandnya, harus kandas. Mereka membubarkan diri dengan alasan gak jelas.


Semakin lama, Dea sering melihat kebersamaan Zia dan Valdi. Dan dari sana dia bisa melihat bagaimana keduanya saling mencintai, saling mendukung.

__ADS_1


Dan sampai saat ini pemandangan seperti itu masih terpancar dari keduanya, padahal selama beberapa tahun mereka sama sekali gak komunikasi.


Berbeda dengan dirinya, dia harus rela merendahkan dirinya dulu di depan Gama, baru laki-laki itu memandangnya. Padahal mereka adalah sepasag suami istri. Dan dulu mereka sempat berpacaran cukup lama. Terlebih keluarga besar Gama juga belum bisa menerima Dea.


“Kak De… hay…” Zia melambaikan tangan di muka Dea


“eh iya?”


“Ck… si Dea malah ngelamun” celetuk VAldi


Zia tersenyum “ada apa kak? Ada yang dipikirin?”


“Ah enggak,” Dea tersenyum


“Owh… aku sama kak Al pamit dulu deh ya kak, biarin bang Gama istirahat dulu. Nanti kalau kondisinya udah membaik insyaAllah aku kesini lagi” Zia


“Iya, sory De, beberapa hari ke depan aku sama Ara harus ke Jakarta, ada acara di sana, jadi kemungkinan belum bisa jenguk dalam waktu dekat” Valdi ikutan ngomong.


Keluarga Zia memang berencana ke Jakarta, karena kebetulan sepupu Zia nikah, jadi mereka sepakat berangkat kesana, sekalian liburan keluarga. Bukan hanya keluarga Zia, tapi Bunda juga diajak sekalian.


“iya gak masalah, kalian jangan ngerasa terbebani karena masalah ini. Gama juga udah siuman. Kalian sudah banyak membantu” kata Dea tulus


“gak papa kak, yaudah kalau gitu kita langsung ya” pamit Zia


“iya, hati-hati” pesan Dea


“Iya” jawab Zia sambil berdiri


Valdi hanya membalas dengan senyum singkat dan langsung berdiri mengekori istrinya. Mereka berdua jalan beriringan menuju parkiran, sesekali Valdi melirik Zia yang keliatan sudah santai, gak tegang seperti hari sebelum-sebelumnya.


“kak, mampir supermarket yuk, sekalian beli kerperluan buat ke Jakarta besok”


“pulang aja lah Ra, nanti gampang aku yang belanja, atau gak gitu minta tolong mbak Ani aja” kata Valdi santai sambil menjalankan mobilnya


“Ih… aku kan pengen beli sekalian yang lengkap gitu kak biar gak bingung”


“Gampang, nanti di list aja. Aku gak mau ya kamu kecapekan. Untung sama dokter Novina udah dikasih ijin, mau kamu besok gagal berangkat karena kecapekan lagi” terang Valdi panjang lebar


“Iya-iya” kata Zia manyun


Setelahnya kedua orang itu sama-sama diam, Valdi yang memang sibuk melihat jalan, dan Zia yang masih agak kesal karena kemauannya gak dituruti.


“udah dong, gitu aja manyun sih? Ini demi kebaikan kamu Ra” kata Valdi tulus


“Iya aku tau, tapi kayak kesel aja kak”


“gini deh, bumilku yang cantik. Kamu gak pengen beli apa gitu? Makanan?”


“emang boleh?” tanya Zia dengan wajah melas


Valdi yang melihat ekspresi Zia jelas ketawa “ya boleh dong sayank kalau kamu pengen beli makanan. Kan langsung ke tempatnya, duduk. Beda kalau ke supermarket kan mesti muter-muter gak jelas dulu”


Zia langsung tertawa lebar “hehehe…”


“pengen apa?” tanya Valdi sambil nyubit hidung Zia gemas


“Aku pengen seblak yang puedes”


“seblak? Siang-siang gini?”


“emang kenapa? gak ada salahnya kan?” Zia kembali pasang wajah jutek


“Iya, tapi seblak langganan kita kan bukanya malem yank” kata Valdi sambil garuk rambutnya


“emang gak ada lagi orang jualan seblak?” kesal Zia “kalau emang kak Al gak niat beliin, mending daritadi gak usah nawarin!”


“Ya Allah, salah lagi kan” gumam Valdi “ iya-iya, kita cari sambil jalan, kamu coba sambil liatin ada yang jual gak” perintah Valdi


“Gak usah, kak Al keliatan gak ikhlas gitu nurutin aku”


“Ya Allah Ra, ini drama apalagi sih?” Valdi bingung


“kak Al tega amat sih bilang aku drama?” kesal Zia, matanya udah berkaca-kaca “ini kan juga bukan mauku, anak kamu yang minta. Uda deh pulang aja. Mending aku pesen grebfood”


“yaudah kalau kamu maunya gitu” jawab Valdi akhirnya


“tuh kan! Kak Al tuh emang ngeselin!” teriak Zia

__ADS_1


“lah lah… kan kamu yang minta gitu sayaaaank” Valdi masih mencoba sabar


“Ya peka dikit kek, tetep turutin!” Zia malah langsung nangis


Valdi menelan salivanya kasar, dia mencoba menepikan mobilnya, memarkir di pinggir jalan.


“shuuutzz… sayank, kog malah nangis sih?” tanya Valdi sambil ngusap pipi Zia


“aku kesel sama kamu”


“iya-iya maaf, udah dong jangan nangis gitu. Aku turutin deh,kita cari seblak ya. Bentar aku cari di internet dulu orang jualan seblak yang deket” kata Valdi sambil ngutek ponselnya


“aku juga mau jus alpukat, pentol bakar, jajanan pasar sama sekalian beli kebab buat camilan dirumah”


“iya iya”


“itu di pujasera deket rumahnya Resti ada semua yang aku sebutin tadi” kata Zia sambil ngusap air matanya, nadanya masih terlihat kesal


Valdi langsung noleh sambil menghembuskan nafas panjang “Ra…”


“Apa? Mau protes lagi?” belum sempet Valdi ngomong Zia udah protes duluan


“enggak sayanku, kita kesana sekarang” jawab Valdi sambil nyalain mobilnya. Dia sudah malas berdebat lagi, saat seperti ini mengalah lebih tepat.


“sekalian aku mau mampir bentar nengok Vanya” kata Zia santai


Vanya adalah anak Resti dan Fian.


“tapi…”


“bentar doang kak”ucap Zia manja dan udah mulai berkaca-kaca lagi


Valdi mengusap wajahnya kesal


“iya Ra, iya.”


Zia diam, gak menanggepi kekesalan Valdi. Dia memalingkan mukanya kea rah jendela, sambil menahan senyum. Kapan lagi bisa ngerjain suaminya kayak sekarang.


“udah gak usah ditahan gitu ketawanya” sindir Valdi yang ngelihat Zia nahan senyum


“hehehe…”


“Dasar ratu drama, bilang aja daritadi mau minta anterin ke rumah Resti, pake acara minta seblak sambil mewek-mewek” kesal Valdi


Zia memukul lengan Valdi “sembarangan, gak ya! Aku emang daritadi pengen seblak, terus keinget kalau di deket rumah Resti ada yang jualan. Yaudah sih sekalian aja”


“heleh… alasan!”


“gitu aja dibikin ribet turutin aja kenapa sih? Lagian aku tuh emang suka kangen liat wajah gembulnya Vanya, gemesin. Mirip banget sama kak Fian wajahnya”


“Ck… kamu ngomong gitu kayak lagi kangen sama Fian aja, padahal gantengan aku kemana-mana”


“iya dong, suamiku kan emang gantengnya paripurna” goda Zia sambil ngelus pipi Valdi


Valdi senyum-senyum gak jelas dipuji istrinya seperti itu.


“eh yank, misal nih ya anak kita ntar cowok. Seru kali ya kalau di jodohin sama Vanya” kata Zia semangat


“kamu gak usah aneh-aneh deh Ra, jodoh, rejeki, maut itu udah diatur sama Allah. Gak baik ah ngrencanain kayak gitu.”


“Iya ya kak, kog aku gak kepikiran ya” Zia terlihat benerin hijabnya


“kamu tuh kebanyakan nonton drama sama novel, lagian nih yank, apa kamu gak kasian sama anak kita? kamunya udah heboh ngejodohin. Padahal anak kita udah punya pilihan sendiri, kesiksa gak batinnya? Seneng kamu kayak gitu?” ceramah Valdi panjang lebar


“Iya iya, tadi kan Cuma bercanda aku yank”


Valdi gak menjawab, dan hanya melihat ke istrinya sekilas dan mengusap kepalanya sayank.


“Ra… nanti beneran Cuma sebentar ya, aku harus ngecek kerjaan anak-anak soalnya, sekalian mau briefing, jadi pas kita di Jakarta ntar anak-anak gak pada bingung”


“Iya sayank, ngerti aku tuh” kata Zia sambil touch up makeup


Seperti ucapannya tadi, di pujasera Zia bener-bener membeli segala macam makanan yang tadi dia sebutin. Selesai beli makanan mereka langsung ke rumah Resti.


Dasar perempuan, kalau udah ketemu sama sesame jenisnya selalu lupa waktu. Resti dan Zia sibuk mengobrol banyak hal. Valdi malah sempet Bete karena merasa terabaikan. Apalagi emang Fian jelas lagi kerja. Lengkap deh penderitaan Valdi hari ini.


Tapi demi sang istri tercinta dia bakal ngelakuin apa aja, dia sangat ingat bagaimana dari dulu memang Valdi gak bisa ngelawan Zia, dia selalu nurut atas semua kemauan Zia.

__ADS_1


Tapi dia sendiri juga gak kecewa, karena Zia sendiri juga bersikap sama, selalu berusaha nurut dan ngerti apapun kemauan Valdi.


***


__ADS_2