TriAngel

TriAngel
TA 51


__ADS_3

TA 51


Haripun terus berganti, hubunganku dengan Bang Gama semakin hari makin memburuk menurutku, entah kenapa dia juga makin emosional sekarang.


Menikah dengannya memang sangat berbeda dengan hidupku dulu, kini tak ada lagi yang namanya kemesraan, yang ada hanyalah kesengsaraan.


Hampir tiap hari Bang Gama marah-marah, ucapannya sangat pedas. Dia gak pernah main kasar atau mukul aku, tapi dia nyakitin aku dengan segala kata-kata kasarnya, merendahkan,umpatan makian.


Tapi kadang dia juga bisa bersikap manis, tentu kalau ada maunya. entahlah, dia seperti bukan Bang Gama yang aku kenal dulu.


Kondisi rumahpun gak kalah memusingkan, hampir tiap hari Bang Gama tengkar sama Papa atau Mama, lebih banyak tentang urusan kerjaan. Untuk masalah itu aku sama sekali gak ikut campur, dan lebih ke masa bodoh.


Tapi tetep aja kepalaku rasanya pusing.


Keluarga ini sangat berbeda dengan keluargaku dulu, palingan dulu kita tengkar Cuma masalah sepele, itu pun bisa dibilang kayak bercanda, tapi di rumah ini, heeemhh… mereka suka berkata kasar dan bicara dengan nada tinggi, awal tinggal disini jelas aku sangat kaget,tapi sekarang udah mulai terbiasa.


Hari ini Bang Gama ngajakin aku pergi ke Mall, kita mau belanja bulanan, sekalian mau membeli kado untuk anaknya Kak Arga yang mau ulang tahun ke 2. Bang Gama meskipun kasar dia suka anak kecil,Satria anak Kak Arga cukup dekat dengan dia. Saat berada ditengah keluargaku Bang Gama akan menjadi sosok yang hangat seperti dulu.


Saat kita berdua lagi bersantai makan di resto dalam Mall, ponsel Bang Gama bunyi beberapa kali, tapi gak diangkat. Awalnya aku cuek, tapi karena ponsel itu terus bunyi aku jadi protes.


“Kenapa gak diangkat Bang? Sapa tau penting” kataku sambil makan dan melirik dia.


“Biarin!”


“emang sapa? Dari kantor?”


“Bukan, Dea”


“Kog gak diangkat!”


“Ck… palingan Cuma mau iseng. padahal udah sering aku bilang kalau lagi sama kamu aku gak mau diganggu. Dasarnya dia aja yang cemburuan, suka gak trima kalau waktuku lebih banyak buat kamu” katanya cuek


Aku menghela nafas panjang, mana ada istri yang gak cemburu suaminya sama cewek lain. Akupun sebenernya juga kayak gitu, tapi selama ini coba aku sembunyiin. Tak lama malah ponselku yang bunyi.


“Siapa?” tanyanya curiga


Ku lihat ponselku “Kak Dea”


“Tuh anak emang gak bisa dibilangin ya” kesalnya” sering dia nelphon kamu?” tanyanya sambil ngrebut ponselku.


“Kan Abang selalu pegang ponsel aku, masak gak tau” sindirku


“seingetku baru kali ini dia telphon”


“cuekin aja”


“Gak gitu juga Bang, kalau sampai nelphon aku berarti penting. Siniin ponselnya aku yang angkat”


“Assalamualaikum kak… ada apa?”


“Zi Mas Gama mana? Tolongin aku Zi, perutku sakit. Toloooong… aarrgghh…” kata Kak Dea dalam telphon.


“Kita kesana sekarang!” kataku dan langsung nutup telphon


“Bang, kak Dea minta tolong, perutnya sakit” kataku heboh


“Palingan Cuma acting, sering dia kayak gitu ke aku” katanya cuek.


“Bang, tapi aku khawatir, tadi dia bener-bener kesakitan.Ayok!” kataku sambil narik tangannya.


Beberapa menit kemudian kita sampai di rumah Kak Dea, aku baru pertama kali ke daerah ini, rumahnya cukup mewah dilingkungan perumahan yang menurutku enak dan nyaman. Rumahnya memang gak semewah rumah Bang Gama yang aku tempatin sekarang, tapi setidaknya ini rumahnya sendiri, Mungkin ini juga pemberian Bang Gama, jujur aku iri.

__ADS_1


Aku langsung narik tangan Bang Gama untuk masuk kerumah, menurut cerita Bang Gama selama perjalanan tadi, Kak Dea memang sering kayak gini, katanya Cuma drama aja. Dulu pas awal Bang Gama juga kalang kabut, tapi nyatanya Kak Dea bohong dan dia bilang lagi kangen, dan itu terus terulang.


“kenapa kamu ajak dia sih Mas?” Tanya kak Dea yang lagi duduk santai sambil nonton tivi.


Jelas aja aku kaget, tadi dia seperti beneran kesakitan, aku sampai melongo, padahal selama ini waktu Bang Gama lebih banyak sama dia, apa harus dia sampai seperti ini. segitu pengennya selalu sama Bang Gama, apa mungkin benar kata Bang Gama tadi, ini Cuma akal-akalan Dea biar aku gak punya waktu berduaan sama Bang Gama.


“Kamu liat kan Dek, dia bohong lagi!” sindir Bang Gama, Kak Dea hanya senyum tipis.


“kak Dea apa-apaan sih, tadi itu aku khawatir banget tau” kesalku, kulirik perutnya yang udah besar, lagi hamil masih aja ngebohong.


“Khawatir? Bukannya kamu senang kalau aku kesakitan? Atau jangan-jangan kamu kesini biar bisa liat aku yang lagi kesakitan” katanya sinis.


“Dea!” bentak Bang Gama “Ziva tadi bener-bener khawatir sama kamu”


“Munafik! Dia itu Cuma acting di depan kamu mas, biar keliatan baik. Dan kamu makin cinta sama dia dan ninggalin aku”


Rasanya sakit dituduh seperti itu, aku sama sekali gak kepikiran sampai sana, bahkan selama ini aku selalu ngingetin Bang Gama buat merhatiin kak Dea, dan itu tulus karena aku mikirin kandungannya, gak ada sama sekali niat apapun di baliknya.


“Cukup Dea!” bentak Bang Gama lagi


“Apa? Terus aja kamu bela perempuan gak tau diri ini! kamu yang udah ngrebut MAs Gama! Dan sekarang kamu bersikap seolah aku yang ngrebut dia dari kamu! Bahkan kamu ngrebut hak aku buat jadi istri sahnya!” Kak Dea emosi,


Aku hanya diam, aku paling gak suka situasi ini, aku gak suka ditekan dan disudutin kayak gini, rasanya aku udah gak kuat gini terus. Beberapa kali aku sampai ingin bunuh diri kalau mengingat masalah yang menimpaku.


“Dea!”


“Aku benci sama kamu! Kamu itu pelakor! Kamu ngancurin hidup ku! Ngancurin kebahagian anak aku! kamu gak lebih dari seorang pelacuur!”


Plaaakkk…


Aku menangis….


“Keterlaluan kamu Dea! Sejak kapan kamu jadi kasar dan liar seperti ini?!” geram Bang Gama, bahkan dia yang tadi nampar Kak Dea.


“Tega kamu Mas! Tega kamu nampar aku di depan dia!”


“Dea!”


“apa kamu mau nunjukin kalau aku semenyedihkan ini? terus… terus lakukan sesukamu, bunuh aku sekalian!” katanya sambil menampar pipi dan menjambak rambutnya.


Kak Dea histeris, akupun ikutan nangis, berat banget rasanya, rasanya aku pengen kabur dan menghilang dari dunia ini. kalau bisa aku pengen kembali ke hidupku yang normal seperti dulu.


“Kamu udah gila ya!” teriak Bang Gama sambil megang tangan Kak Dea


“Iya aku gila! Dan itu karena kalian! Kalian udah ngebunuh aku! ngerti” teriak Kak Dea gak kalah.


Aku hanya bisa beristighfar dalam hati, pengen rasanya aku ikutan menjerit, disini bukan hanya dia, tapi aku juga ngerasa sakit, aku juga ngerasa dibunuh. Oh ayolah, aku juga korban…


“aaarggh…” teriak Kak Dea sambil megangin perutnya


“Gak usah acting kamu! Muak aku liatnya” kata Bang Gama


“Mas…” ucap Kak Dea lirih sambil terus nangis dan megangin perutnya


“Kita pergi Dek, biarin dia terus berakting. Bosan aku!” kesal Bang Gama sambil narik tanganku.


Aku hanya pasrah sambil nunduk, sekilas aku melihat ke arah Kak Dea, tapi jantungku rasanya mau copot saat melihat ada rembesan darah yang mengalir di kaki kak Dea.


“Bang, Kak Dea” teriakku sambil nepis tangan Bang Gama, dan langsung berlari kea raj Kak Dea.


“Kak, kenapa?”

__ADS_1


“Sakit… tolong…” kurasa badannya seperti lemas, dia berpegangan ke tanganku. Bang Gama masih cuek, dan terus berjalan acuh.


“Bang! Tolongin, ada darah!” seruku bingung, aku terus nangis.


Dia langsung noleh, dan melihat kea rah kami, seketika wajahnya pucat “Dea”


“Bang cepet tolongin, aku gak kuat!” kataku sambil terus nangis.


Dengan cepat Bang Gama mendekat dan memeluk tubuh Kak Dea. Dia kelihatan bingung


“kenapa sampe gini”


“Tolong… sakit….aarrrgghh..”


“Ke rumah sakit!” kataku tegas


Bang Gama langsung gendong kak Dea keluar rumah, setelahnya kita langsung pergi dengan mobil.


“Ini kemana?” Tanya Bang Gama


“Kerumah sakit Bang!” jawabku kesal,


“Ke Bidan aja, Dea biasanya ke bidan” katanya keliatan bingung


“ Abang gila! Di Bidan alatnya gak memadai. Langsung ke rumah sakit RSIA aja, deket sini kan”


“tapi aku gak mau resiko ngajak dia ke sana, nanti pasti ada yang kenal aku…aku…”


“Bang, nyawa kak Dea dan Bayinya lebih penting! Persetan dengan nama baik abang!”


“Tapi…”


“Cepetan! Ngebut!” teriakku. “Kak, yang kuat ya, terus istighfar, baca doa apapun yang kak Dea bisa,”


“Sakit…” teriaknya


“iya kak, tenang dulu, Allah… Allah… Allah…”bisiku di telinganya


Tak lama dia mulai tenang dan terus genggam tanganku,kulihat bibirnya juga mulai mengikuti menyebut asma Allah, akupun terus berdoa dalam hati.


Beberapa menit kemudian kami sampai dirumah sakit, kak Dea langsung dibawa ke UGD dan ditangani oleh perawat dan dokter jaga. Aku dan Bang Gama nunggu di luar, aku terus berdoa, sesekali Bang Gama keliatan mengumpat dan mengacak rambutnya kasar. Dia pasti frustasi.


Ku dekati dia dan ku ajak dia duduk, ku genggam tanganya.


“Abang harus lebih kuat dari Kak Dea, support dia, yang dia butuhin hanya abang, doain dia Bang, percuma abang emosi, yang bisa kita lakuin sekarang Cuma berdoa” ucapku sambil berkaca-kaca.


Bang Gama nunduk dan ngangguk, dia membalas genggaman tanganku, “Makasih dek,”


Aku senyum dan ngangguk. Tak lama perawat datang dan memberi tahu kalau pasien sudah ditangani, ibu dan calon bayi bisa ditolong, kini kak Dea harus rawat inap, agar kondisi dia dan calon bayinya lebih kuat.


Aku terus melihat Bang Gama yang sedikit berlari menuju ruangan, aku tersenyum miris, lagi-lagi aku seperti perempuan bodoh. Apa aku sekarang lagi kena prank? Atau lagi syuting?


dari sekian banyak perempuan, kenapa harus aku yang mengalami hal seperti ini? apa salahku sangat besar sampai harus bernasip seperti ini, kadang aku menyalahkan semuanya, aku harus bagaimana???


Aku berharap saat ini sedang mimpi buruk. Dan saat bangun nanti aku akan kembali ke hidupku yang dulu, yang normal dan penuh canda tawa.


Aku kangen hidupku…


Andai ada Triangel di sebelahku, pasti aku gak bakal semenyedihkan sekarang, aku kangen kalian… aku butuh kalian…


***

__ADS_1


__ADS_2