
TA 75
Valdi semakin hari terus meyakinkan Bunda kalau dia sayank sama Dinda. Tapi Bunda yang udah terlanjur sakit hati tentu aja gak bisa nerima omongan Valdi yang baik-baikin dinda.
Bagi Bunda, Dinda dan keluargaya udah masuk dalam dahtar hitam, akan sulit untuk menghapusnya.
“kalau kamu masih nganggap Bunda, turutin omongan Bunda” ucap Bunda saat mereka lagi ngobrol dirumah
“tapi Bun aku tuh…”
“Masih banyak perempuan lain selain Dinda Val!”
“Tapi aku udah sayank sama dia Bun”
“Enggak, Bunda gak setuju”
“Bunda katanya pengen cucu, akan butuh waktu lama lagi kalau Valdi harus nyari cewek lain”
“gak juga. Kamu bisa sama Ziva. Bunda masih berharap kamu bisa sama dia, apalagi kalau kalian bisa sampai nikah. Bunda akan sangat senang dan bersyukur”
“Bunda, aku dan Ara udah gak ada hubungan. Kita Cuma teman”
“Bunda akan terus berdoa biar kalian berjodoh”
“Bunda!” Valdi sedikit kesal “Lagian Ara sekarang lagi dekat sama Ferdi Bun” ucap Valdi putus asa.
“Ferdi?” Bunda langsung noleh ke Valdi
“Iya Ferdi, temen Valdi”
“ya Allah, temen kamu yang suka bantuin Bunda? Pantes sih kalau Zia lebih milih Ferdi daripada kamu” kata bUnda akhirnya
“kog Bunda ngomong gitu?”
“Ya emang gitu, Ferdi itu menantu idaman. Mangkannya kamu jangan sampai kalah dari dia”
“Bunda tuh suka gak belain anaknya” kesal Valdi
“Kali ini Bunda bakal dukung Ferdi, karena dia lebih pintar memilih mana berlian, sedangkan kamu lebih milih batu kerikil” kesal Bunda
“kog gitu sih Bun”
“Iyalah, lagian kenapa sih kamu gak sama Zia? Bunda liat kalian juga masih dekat kayak dulu”
“Udah gak ada perasaan Bun,Zia juga pasti sama”
“perasaan itu bisa ditumbuhin lagi, Bunda Cuma gak mau kamu nyesel Val. Bunda yakin Zia yang terbaik buat kamu,ini feeling seorang ibu. Kamu harus pikirin itu”
“Tapi Bunda, Ara itu…”
“Apa? Karena dia janda? Apa salahnya Val? Kalau boleh memilih Zia juga gak mau ngerasain perceraian dan jadi janda”
“Bukan itu Bun”
“Terus?”
***
Hari terus berlanjut, gak kerasa udah 4 bulan Zia kerja dan tinggal di Jogja. Selama ini dia sudah menjalani harinya dengan sangat menyenangkan. Teman-temannya disini semua menyenangkan. Terlebih ada Valdi dan Bunda. Jadi dia ngerasa gak sendirian.
“Kak Al…” panggil Zia sambil senyum manis
Valid melihat sekilas “Paan?”
“Hari ini boleh ya aku pulang duluan. Kerjaanku udah beres kog” rayu Zia
“Mau kemana kamu?”
“Aku ada janji mau ketemu temen”
“Temen? Ferdi?”
“ya pokoknya janjian sama temen” Zia beralasan
“kamu tuh harus professional dong, urusan pribadi kan bisa nanti”
“Aku udah professional kak, kerjaan udah aku selesain. Kurang 2 jam juga udah pulang kantor, ya?please…” rengek Zia
Valid natap Zia, dan menghela nafas panjang “segitu senengnya kamu mau ketemuan?”
Zia tersenyum lebar “iya dong, hehehe”
“aku ikut seneng kalau kamu bahagia Ra” ucap Valdi tulus
“Hahaha… amin kak, udah ah, diijinin kan ini?”
“Iya. Ati-ati” ucap Valdi sambil tersenyum
“Siap bos!”
Valdi menatap Zia yang terlihat semangat dan gembira sampai dia menutup pintu. Setelah itu dia menghela nafas panjang lagi dan tersenyum samar.
Zia pergi seorang diri menaiki taxy online, dia menuju pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan Zia tersenyum simpul. Siang ini dia janjian sama Bunda. Dan Bunda sengaja menyuruh Zia merahasiakan pertemuan ini dari Valdi. Entah apa maksud Bunda.
Sampai di Mall, Zia mencari Bunda yang katanya menunggu di salah satu Café dalam Mall. Setelah ngobrol bentar mereka milih keliling Mall dan belanja. Bunda minta Zia menemaninya belanja dan jalan-jalan.
Setelah cukup lama keliling Mall dan puas belanja keduanya memilih duduk santai di salah satu resto masakan jawa.
__ADS_1
“Bunda denger kamu lagi deket sama Ferdi?” Tanya Bunda langsung
Zia tersenyum “Pasti kak Al gossip macem-macem ya Bun?”
Bunda tersenyum “Bunda kenal Ferdi sejak dia kuliah bareng Valdi. Bunda juga kenal keluarganya. Ferdi itu laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Bunda dukung kalau kamu sama dia”
“Bunda… aku sama mas Ferdi gak ada hubungan apa-apa, Cuma temen ga lebih”
“mungkin kamu ngerasa gitu, tapi Ferdi?”
Zia senyum, “jujur sih Bun, mas Ferdi pernah bilang tertarik dan minta ijin buat kenal lebih dekat, tapi aku tolak. Aku masih belum siap Bun, rasanya masih trauma sama sebuah hubungan. Lagipula aku ini janda Bun, dia laki-laki yang baik dan mapan. Harusnya dapat pasangan yang sepadan”
“kamu kenapa ngomong gitu sih Zi?”
“Iya, mungkin itu memang pemikiran sepihak Zia Bun, tapi memang sekarang Zia masih belum mau berhubungan dengan laki-laki. Zia ingin menikmati hidup dan menata semuanya dulu Bun”
Bunda tersenyum dan menggenggam tangan Zia “Bunda dukung kamu, kalau butuh cerita Bunda selalu siap”
“makasih ya Bun. Bunda sama Kak Al udah banyak bantuin Zia”
Bunda hanya tersenyum, selanjutnya mereka ngobrol banyak hal. Juga tentang hubungan Valdi dan Dinda. Dalam masalah ini Zia gak mau ikut campur, dia hanya mendengarkan keluh kesah Bunda.
Zia sadar diri, disini dia hanya sebagai penonton.
Pukul 8 malam Zia pulang, mereka berdua memang sengaja ngabisin waktu sekalian makan malam. Zia gak tau kalau daritadi Valdi kelimpungan nyariin. Dan dia kaget saat sampai di kosan, ternyata mobil Valdi udah nunggu di depan kos.
“Kak Al…” panggil Zia sambil gedor kaca jendela mobil
Valid langsung keluar dan megang tangan Zia, dia narik cewek itu “masuk!” perintahnya
Zia yang dari awal bingung hanya bisa pasrah, dia duduk diam sambil nunggu Valdi masuk. Di dalam Valdi langsung natap Zia, mengamatinya dengan seksama.
“Kak Al kenapa sih?” Tanya Zia heran
“Kamu darimana?” Tanya Valdi dengan kesal
“jalan-jalan”
“Sama siapa?”
“Rahasia”jawab Zia santai
“Zivara jawab! Kamu jalan sama siapa?” kesal Valdi
“kak Al apaan sih” Zia ikutan kesal
“aku tadi ketemu sama Ferdi, dia jalan sama keluarganya dan dia bilang sama sekali gak janjian sama kamu”
“terus?”
“terus? Terus kamu jalan sama siapa? Aku gak masalah kamu sama Ferdi, karena dia bisa dipercaya Ra. Tapi kenapa kamu malah sama cowok lain?”
“Ra… dengerin, kamu jangan mudah percaya sama cowok! Diluaran sana banyak cowok yang bisa mainin kamu”
“aku tau” jawab Zia santai
“Kalau tau kenapa kamu masih jalan sama sembarang cowok? Ra, disini itu aku ngerasa tanggung jawab sama kamu, kalau kamu main rahasiaan kayak gini ke aku, gimana aku bisa jagain kamu”
“terserah aku kan mau ketemu siapa?”
“ra, kamu kenapa sih? Bilang gak tadi jalan sama siapa?”
“Gak mau!” kesal Zia
“Araaaa…” geram VAldi,
Mereka berdua saling tatap. Valdi terus menatap Zia lekat, begitupun sebaliknya. Tapi tak lama Zia melengos, kesal.
“Kak Al nyebelin!”
“kamu lebih nyebelin! Bilang gak tadi sama siapa? Kamu lagi kencan sama cowok mana Araaaa!”
Zia menatap Valdi kesal “Aku tuh tadi jalan sama Bunda!”
“Bunda?”
“iya Bunda, beliau gak mau kak Al tau, mangkannya aku gak boleh bilang”
Valid masih menatap Zia gak percaya “jangan bawa-bawa Bunda buat nutupin rahasia kamu”
“dih, kalau gak percaya yaudah” kata Zia mau membuka pintu mobil.
“Mau kemana?”
“masuk ke kos”
“enak aja, aku udah nungguin kamu lama, main masuk aja”
“siapa yang nyuruh nungguin? Lagian aku malas sama cowok tukang marah. Bisanya suudzon mulu” kesal Zia
Valid mengusap tengkuknya, dia salah tingkah “Maaf” ucapnya kemudian “aku pikir kamu pergi sama cowok, habisnya tadi keliatan seneng gitu”
“emang aku seneng soalnya mau jalan sama Bunda” Zia masih kesal
“Iya-iya, maaf Ra. Aku itu khawatir sama kamu. Aku tuh ngerasa tanggung jawab ke kamu Ra”
“Lain kali gak usah berlebihan. Dan gak ada yang nyuruh kak Al buat tanggung jawab ke aku, jadi biasa aja” kata Zia tanpa melihat Valdi.
__ADS_1
“jalan yuk!” ajak Valdi
“Ogah!”
“ah elah Ra, marah?”
“iya marah! Emang kak Al aja yang bisa marah-marah!” teriak Zia
Valdi menutup telinganya “Iya Ra iya, kan udah minta maaf, namanya orang khawatir”
“mau jalan kemana?” Tanya Zia sinis
Valdi menahan senyum “Kamu pengennya kemana? Aku ngikutin kamu deh”
Valdi dan Zia milih jalan ke malioboro, entah kenapa Zia sangat suka menikmati malam disini. Valdi yang daritadi jalan disamping tersenyum tipis.
Dia sadar tadi berebihan, gak tau kenapa saat tau Zia gak sama Ferdi dia jadi lega tapi juga khawatir, takut Zia sama laki-laki iseng.
“Ra, maaf ya tadi aku gitu ke kamu” ucap Valdi saat mereka lagi duduk di kursi pinggir jalan
“Iya, tapi lain kali jangan gitu kak. Dan aku juga gak mau kak Al terbebani karena aku”
“Ra… aku gak bisa, kamu itu udah kayak adik aku sendiri, apalagi disini kamu sendirian, aku harus mastiin kamu baik-baik aja dan sama orang yang tepat” kekeh Valdi
“gak perlu repot kak, aku malah gak nyaman kak Al kayak gitu, insyaAllah aku bisa jaga diri kog” ucap Zia
“Ra… “.
“udah ih aku malas bahas itu” ucap Zia masih sibuk menikmati keramaian kota.
Valdi menghela nafas panjang, “Gimana kamu sama Ferdi?”
“gak gimana-gimana, aku masih belum siap ngejalin hubungan yang lebih dari teman. Aku masih pengen sendiri”
“dia nembak kamu?” Tanya Valdi
“gak nembak sih, dia Cuma bilang pengen ngenal aku lebih deket, tapi aku gak mau” ucap Zia
“Kenapa?”
“Ih… dibilangin aku masih belum siap sama hubungan baru kak”
Valdi senyum “ iya iya”
“kak Al sendiri gimana sama dinda?”
“Dinda minta kejelasan dari aku, dia minta aku nembak dia”
“Nembak? Bukannya kalian udah balikan?” Tanya Zia heran, setahu dia Valdi selama ini udah pacaran sama Dinda
“ENggak, selama ini kita gak ada status, mangkannya Dinda minta kejelasan”
“Terus?”
“gak tau, kalau aku sih iya aja Ra, tapi Bunda masih kekeh gak mau nerima Dinda”
“Sabar ya kak, tadi Bunda juga cerita banyak, aku juga gak bisa nyalahin Bunda sih. Dari sudut orang tua apa yang dikhawatirin Bunda itu bener. Dan sebagai orang yang berpengalaman, nikah itu berat kak, gak Cuma ngelibatin kita sama pasangan, tapi juga keluarga. Apalagi restu seorang ibu itu bener-bener pengaruh” jelas Zia panjang lebar
Valdi senyum tipis, “Mama dulu gak ngrestuin kamu?” tebak Valdi
“Mama Papa ngrestuin, tapi emang kepaksa sih kak, hehehe”
“kalau aku sih mending mundur daripada ngecewain Bunda”
“bener, tapi ntar kak Al malah kawin lari atau nikah diam-diam dibelakang Bunda”
“Hahaha… kita ini hidup di dunia nyata, aku mikirnya pake logika sih, apa untungnya coba nikah kayak gitu. Itu Cuma di novel yang kamu baca aja Ra”
“eh sapa bilang, ada tau di dunia nyata. Gara-gara gak direstui akhirnya nikah siri sama cewek itu. Dan buat ngelabui orang tuanya dia nikah sama cewek lain biar gak ada yang curiga”
Valdi mengernyitkan dahi “untung banget tuh cowok, punya istri dua”
“Iya, dasar cowok brengseek!” umpat Zia
“Hahaha… emosi banget kamu Ra?”
“Iyalah, siapa coba yang gak kesel sama cowok kayak gitu”
Valdi tersenyum simpul. Dia melihat Zia sekilas, tak lama mengalihkan pandangan ke jalanan. Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
“kak Al… aku boleh minta tolong gak?”
“Apa?”
“Bisa gak kak Al memperlakukan aku kayak yang lain”
“maksutnya?”
“Aku gak mau kak Al terbebani gara-gara aku, jangan pernah ngerasa tanggung jawab sama aku, perlakukan aku seperti temen atau anak-anak kantor yang lain”
“ngapain harus gitu sih Ra, aku…”
“Aku gak nyaman kak” Valdi langsung noleh ke Zia.
“Ra…”
“Please kak… aku bener-bener gak nyaman dan gak mau kak Al terus kayak gini. Jadi aku sangat mohon ke kak Al, kita gak usah terlalu deket. Aku gak mau” ucap Zia
__ADS_1
“kita memang punya cerita di masa lalu, tapi semuanya udah selesai. Sekarang kak Al punya cewek lain, dan mungkin kedepannya aku juga akan ada orang lain. Aku gak mau ada salah paham, dan aku mau kita bener-bener ada batasan yang jelas”
***