
TA 103
Setelah kejadian hari itu Zia sama sekali gak pernah ke Taman ceria, dia milih menyibukan diri dirumah. Membuat resep-resep baru dengan Bunda dan Mbak Ani. Yang nantinya akan diajdikan menu di Triangel Café.
Sesekali dia bantu Valdi yang memang makin sibuk di kantor. Bahkan valid minta anak dokter design jogja membantunya disini sampai Valdi menemukan karyawan baru.
Dalam kondisi seperti ini dia gak mungkin memaksa Zia untuk ikut membantunya di kantor, dia jelas gak tega. Tapi dia dan anak kantor jelas gak bisa ngehandel semuanya. Akhirnya Valdi mulai mumbuka lowongan Baru.
Hari ini Zia berkunjung kerumah orang tuanya, sepertinya sudah lama dia gak main kerumahnya, jelas dia kangen. Apalagi dari kemaren Valdi juga selalu bilang kangen masakan Mama. Alhasil mereka nginep dirumah Zia. Meskipun Valdi tetep harus balik kantor.
Baru kali ini Zia ngeliat Valdi bener-bener disibukan sama kerjaan, dia tau Valdi itu tipe orang professional dan selalu menginginkan hasil kerjaan yang mendekati sempurna. Apalagi ini kantor baru, dia bener-bener pengen nunjukin karya yang istimewa.
Zia memaklumi itu, walaupun resikonya waktu mereka berdua jadi berkurang. Zia gak masalah, asal suaminya itu bisa mengatur waktunya dengan baik. Dan sebagai istri dia memang diharuskan selalu mendukung Valdi.
“Ma, ice cream di kulkas habis?” tanya Zia sambil nutup pintu kulkas.
“Iya, sekarang emang jarang stok ice cream, kamu taulah gimana ponakan kamu itu. Kalau ada ice cream gak bisa di control. Kalau udah batuk baru tuh semua pada heboh” jelas Mama Zia
Zia senyum mengingat tingkah konyol keponakannya, tapi bayangan segarnya ice cream memenuhi pikirannya. Semenjak hamil memang Zia suka makan yang seger-seger.
“Ice batu juga gak ada Ma?”
“Buat apa?”
“Dimakan Ma” jawab Zia santai, sejak hamil dia memang suka nyemilin es batu.
“gak papa gigi kamu?” tanya Mama, beliau bayangin aja giginya udah ngilu
“enak tau Ma, seger” kata Zia sambil ketawa
Setelahnya mereka berdua ngobrol seru tentang kehamilan Zia.dirumah memang lagi sepi. Semuanya sedang pergi. Dari tadi memang Zia ngobrol sama Mamanya, tapi pikirannya lagi gak disitu.
“Kamu kenapa sih?”
“kepikiran ice cream” jawab Zia “aku beli ke minimarket depan dulu ya Ma” katanya sambil berdiri.
“mau naik apa kamu?” tanya Mama khawatir
“Jalan kaki aja Ma, udah lama gak jalan sekitar sini” kata Zia sambil berlalu pergi.
Jarak rumah dan minimarket memang dekat, tapi Zia biasaya naik motor kalau kesini. Berhubung gak ada motor Zia milih jalan kaki. Entah kenapa rasanya dia pengen banget makan ice cream. Bawaan bayi mungkin.
Zia berjalan santai kea rah minimarket, daerahnya situ sudah banyak berubah. Sesekali Zia menyunggingkan senyum saat berpapasan dengan orang yang dikenalnya.
Selesai membeli ice cream dan beberapa camilan, Zia milih duduk di taman dekat situ.
Dia memakan ice creamnya, kalau nunggu makan saat tiba dirumah bisa-bisa ice creamnya udah meleleh. Zia memakan ice cream itu sambil senyum santai. Dia ingat dulu saat masih pacaran sama Valdi jaman SMA, mereka berdua suka dduk di taman itu, juga memakan ice cream.
“Zivara…” panggil seseorang dari arah samping.
zia masih diam di tempatnya, dia sangat hafal suara ini. Suara yang selalu bikin dada Zia sesak. Perlahan dia menoleh ke arah orang itu. Matanya semakin membulat.
"Ba-bang? " gumam Zia kaku
Gama, laki-laki itu berdiri tepat disamping Zia, dengan jarak yang gak terlalu jauh. Dia tersenyum, tapi senyuman itu terasa aneh bagi Zia. Jantungnya berdegup kencang. Rasanya dia pengen lari dari sini.
"Kamu apa kabar?" tanya Gama sambil jalan mendekat. Dia duduk di sebelah Zia.
"Ba-baik" jawab Zia sambil nunduk, kedua tanganya terkepal.
Gama tersenyum lagi "kamu kenapa keliatan gugup gitu?"
"hah? Enggak... "
Keduanya sama-sama diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Merasa suasana begitu gak nyaman, apalagi di taman ini jarang ada orang, Zia berinisiatif untuk berdiri.
gama mendongak, menoleh ke arah Zia yang sudah berdiri kaku. "mau kemana? "
"Maaf bang aku harus pulang"
gama kembali senyum tipis "segitu gak sukanya kamu sama aku Zi, bahkan aku belum ngomong apa-apa.kita butuh ngobrol"
"Maaf bang, aku udah punya suami, kalau emang abang mau ngobrol datanglah kerumah, tentu saat ada suamiku" jawab Zia sambil nunduk.
zia gak mau natap Gama, selain mereka sudah bukan muhrim. zia masih ngerasa takut buat berhadapan sama Gama.
mendengar ucapan Zia, mendadak dada Gama bergemuruh, masih ada rasa cemburu saat tahu Zia sudah menikah. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras.
zia yang menyadari hal itu milih menghindar "aku duluan bang" kata Zia sambil melangkah pergi.
Baru beberapa langkah Zia berjalan, dia merasakan ada seseorang yang merengkuh badannya dari belakang. Gama memeluknya.
"Sebentar saja Zi, kasih aku kesempatan sebentar" suara Gama terdengar bergetar.
Tubuh Zia kaku, pikiranya gak bisa bekerja. Dia tau ini gak pantas, tapi Zia seperti gk bisa berbuat apa-apa.
"aku kangen kamu Zi, kangen banget" bisiknya lembut.
"lepasiin.. "bentak Zia
Zia memejamkan matanya, rasanya dia pengen nangis dan berlari kencang dari sini, Zia mulai berontak. Tapi tubuh Gama jelas gak membiarkan itu, dia semakin erat memeluk mantan istrinya.
__ADS_1
"lepasin bang!" Zia terus berteriak
"Brengseek!" teriak seseorang
Zia tersentak dan reflek langsung mendorong tubuh Gama yang sempet gak fokus karena ada orang yang teriak.
Zia berlari ke arah Valdi, ya, yang teriak tadi adalah Valdi. Kedua mata mereka saling bertemu. Zia yang wajahnya sudah penuh dengan air mata, dan Valdi yang wajahnya memerah menahan emosi.
Valdi terus berjalan tanpa meduliin Zia, fokusnya adalah cowok brengseek yang tadi secara paksa meluk istrinya.
Bugh...
Valdi mukul wajah Gama yang daritadi terlihat menjengkelkan. Gama mundur sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Laki-laki itu tersenyum miring.
"jadi ini suami kamu Zi? Mantan pacar sekaligus cinta pertama kamu. Dia cowok yang dulu selalu kamu umpat karena sikap pengecutnya kan?" sindir Gama
Zia memelototkan matanya, dulu tiap kali membahas Valdi dengan Gama dia memang selalu emosi. Jelas karena dulu Valdi hanyalah mantan pacar dan Gama pasangannya. Tapi beda dengan sekarang.
valdi makin emosi mendengar sindiran Gama. Gama sendiri memang sengaja mancing Valdi, karena jujur sampai sekarang Gama masib cemburu.
"kamu bahagia Zi sama dia? Heeh... "gama terlihat menyepelekan.
Valdi yang memang daridulu gak suka sama cowok itu langsung memanas, apalagi tadi cowok itu seperti menyepelekan. Tanpa pikir panjang Valdi langsung mendekat, mencengkeram kerqh Gama dan memukulnya berkali-kali.
Gama sama sekali gak membalas, tapi dia malah terus menampakan wajah menyepelekan.
"Kak Al stop! "teriak Zia
Bukanya berenti, Valdi malah semakin kuat memukul Gama yang sekarang sudah tersungkur di tanah.
Zia teriak histeris, dia paling gak suka situasi seperti ini. Di tolehnya kanan kiri, gak ada orang sama sekali. Dan dia makin miris ngeliat dua laki-laki di depannya.
"Stop! Berenti sayank" ucap Zia yang meluk tubuh Valdi dari belakang "aku takut"
Valdi langsung berenti, tubuhnya kaku. Dia sangat tahu kalau istrinya gak suka kekerasan. Apalagi dia sekarang lagi hamil, jelas ini akan berpengaruh ke janinnya.
Valdi memutar badannya dan meluk tubuh Zia yang tegang. Istrinya itu jelas ketakutan, apalagi tadi Valdi seperti orang kerasukan.
Ini memang pertama kalinya Zia melihat Valdi sepertj ini. Padahal dulu saat di jogja Valdi sering menghajar orang, bahkan lebih parah.
"jangan kotori tangan kamu untuk orang kayak dia" ucap Zia pelan.
Dia melirik sekilas ke Gama yang di wajahnya ada beberapa luka. Belum lagi badannya, karena tadi Valdi lebih banyak memukul dada Gama.
"kamu gak papa?" tanya Valdi dengan suara menegang. Dia merasa bersalah membiarkan Zia melihat dirinya yqng seperti itu.
"aku gak papa, sudah yank."
"urusan kita belum selesai! Jangan pernah muncul lagi di depan istri gue" bentak Valdi ke Gama
Bukannya takut, Gama malah terkekeh "segitu takutnya Zia bakal berpaling, padahal gue cuma ngajak ngobrol! "
Valdi mau kesulut emosi lagi, tapi Zia memeluk tubuh Valdi erat. Dan dia menggeleng.
"kalau emang elo mau ngobrol datang kerumah! Elo tau kan etika ngobrol sama istri orang!" bentak Valdi
"dan sekali lagi lo nyentuh istri gue, gue matiin lo! " kesal Valdi
Gama makin terkekeh, bikin Valdi naik darah. Dengan posesif dia ngajak Zia pergi dari tempat itu. Mengarahkannya ke mobil yang dia parkir di depan minimarket.
"Sialaaaaan!" teriak Valdi sambil memukul setirnya keras.
Zia yang duduk disampingnya jelas kaget, baru kali ini dia melihat Valdi seemosi ini. Zia jelas sangat takut.
"yank... "gumam Zia pelan
Valdi sama sekali gak melihat ke arah Zia, emosinya masih meluap-luap, apalagi setelah dia ingat tadi Gama memeluk Zia secara paksa.
Setelah dirasa tenang, Valdi langsung menyalakan mobilnya dan melaju ke arah rumah Zia. Sepanjang perjalanan Zia cuma bisa menangis. Valdi sebenernya gak tega, tapi dia masih kecewa ke Zia.
Sampai dirumah terlihat sepi, mungkin Mama Zia sedang istirahat.dan yang lain belum pulang.
Valdi langsung jalan tanpa menunggu Zia, dia masuk ke kamar Zia. Dengan pelan Zia mengikuti suaminya masuk dalam kamar. Suaminya itu sudah tidur tengkurap. Emosinya masih naik turun.
Zia bingung harus bersikap bagaimana, dia sangat tahu suaminya masih emosi dan kecewa ke dia. Tapi Zia jelas gak mau mereka seperti ini.
"Sayaaank... "panggil Zia sambil meluk tubuh Valdi dari belakang.
Perlahan Valdi bergerak dan bangkit duduk, Zia tentu ikut pindah posisi. Valdi natap Zia tajam.
"Aku minta maaf, aku gak tau kalau bakal ketemu sama bang Gama, apalagi sampai dia meluk kayak tadi" ucap Zia sambil nangis.
"berapa kali aku ngomong sama kamu, jangan pergi kemanapun sendiri! Hal kayak gini yang aku khawatirin"
"Maaf yank, tadi aku cuma pengen ice cream, dan aku duduk disana cuma buat nostalgia saat kita pacaran dulu"
Valdi mendengus kesal "kamu kan bisa nelphon aku Ra!"
"Aku tau kak Al lagi sibuk, aku gak mau ganggu cuma karena hal sepele"
"sepele? Kalau kejadiannya jadi kayak tadi kamu masih bilang sepele? Aku lebih milih ninggalin kerjaanku dan pulang kesini nemenin kamu! " bentak Valdi
__ADS_1
"kak... "
"untung aku tadi cepet dateng, kalau enggak aku gak tau dia bakal ngapain kamu lagi! " kesal Valdi sambil natap Zia kesal.
"aku minta maaf yank... "
"Istirahat, jangan kemana-mana! " kata Valdi ketus tanpa meduliin omongan Zia dan beranjak keluar kamar.
"yank... " gumam Zia sambil terus nangis.
Setelah Valdi keluar, Zia meremas dadanya yang sesak. Pikirannya melayang saat Gama memeluknya dari belakang tadi. Ada rasa sesal dan jijik di situ.
Dengan cepat Zia ke kamar mandi yang ada di kamarnya, tanpa menanggalkan bajunya dia Mengguyur badannya dibawah shower. Menggosok dengan keras punggungnya. Dia menangis disana.
Valdi pergi ke teras samping, dia merokok disana. Kebiasaan yang sempet berenti karena Zia hamil. Dia mengusap wajahnya kasar.
Dia tahu kalau ini bukan salah Zia, tapi dia juga kesal ke istrinya itu karena selalu bertindak semaunya.
Setelah menghabiskan beberapa putung rokok dan mulai tenang, Valdi kembali masuk ke dalam.
Valdi tidak melihat Zia di atas ranjang, tapi dia mendengar suara gemericik air. Istrinya itu pasti sedang mandi. Dia rebahan sebentar.
Setelah menunggu cukup lama, Valdi merasa heran karena istrinya itu gak keluar-keluar. Dia berdiri dan membuka pintu kmar mandi.
Dilihatnya Zia yang duduk meringkuk dibawah shower dengan memeluk lututnya. Jelas Valdi sangat kaget, apalagi Zia menyembunyikan wajahnya di dalam lutut.
"Ra... " teriak Valdi.
Secepatnya dia matiin shower, Zia mendongak ke arah Valdi, dan terus menangis.
"Maaf... "gumam Zia dengan badan bergetar.
Valdi jelas ngerasa bersalah ngeliat Zia seperti itu, dipeluknya istrinya.
Dia membantu Zia mengganti baju, setelah Zia selesai dibaringkannya istri mungilnya itu. gantian Valdi yang mengganti bajunya.
Selesai ganti baju, Valdi melihat Zia yang tidur sambil memunggunginya. valdi menghela nafas panjang. Perlahan dia ikut naik ke atas ranjang dan memeluk Zia dari belakang.
"lebih nyaman pelukanku apa pelukan cowok brengseek itu?" bisik Valdi ditelinga Zia.
Zia ingin membalikan badan, tapi Valdi tetap menahannya "aku pengen ngehapus pelukan cowok itu" katanya
"aku minta maaf kak"
"udah, aku tau kamu gak salah. Aku tadi cuma emosi yank. Maaf kalau bikin kamu takut"
Zia hanya diam, kedua tangannya memegang tangan Valdi yang melingkar diperutnya.
"perut kamu udah gak sakit? " tanya Valdi sambil ngusap perut Zia
Saat di kamar mandi tadi, Zia sempat mengeluh kalau perutnya terasa kram. Valdi yang panik langsung mengangkat Zia.
"udah enggak"
"tadi dia ngapain kamu?" tanya Valdi
Zia menceritakan semuanya, mulai dia duduk di taman, sampai Valdi datang.
Tadi Valdi memang sengaja pulang kerumah mertuanya lebih cepat, dia ngerasa gak enak, apalagi memang dia jarang main kesana. Sampai rumah Mama bilang Zia ke minimarket daritadi dan belum balik.
Entah kenapa perasaan Valdi gak enak, dia milih nyusul Zia. Sampai minimarket dia nanya ke petugas yang jaga. Dia bilang tadi melihat Zia pergi ke taman. Dan akhirnya Valdi nyusul dan melihat semuanya.
"aku minta maaf yank, aku gak nyangka dia berani meluk aku. Aku udah coba berontak tapi gak bisa"
"iya aku tau"
"aku ngerasa berdosa sama kamu, aku ngerasa udah ngianatin kamu, aku..."
"ssuuutszz.. Gak usah mikir macem-macem, aku percaya sama kamu. Maaf tadi marah-marah, aku cuma khawatir dan cemburu"kata Valdi sambil ngeratin pelukannya.
"maaf" cicit Zia, mereka berdua kembali diam cukup lama. "baru kali ini aku liat kamu kayak tadi,"
Valdi senyum "dulu aku bisa lebih parah Ra"
"aku gak suka kamu kayak tadI"
"kamu takut? "
"takut banget, walaupun sekilas kamu keliatan keren tapi nyeremin"
"hahaha... Aku gak bakal kayak gitu kalau gak emosi banget Ra. Maaf bikin kamu ngelihat aku yang kayak gitu"
Zia mengangguk dalam dekapan Valdi, keduanya kembali diam. Menyelami perasaan dan pikiran masing-masing.
"jadi lebih nyaman pelukanku apa pelukan dia" bisiknya tepat di telinga Zia.
"pelukan kamu gak ada yang ngalahin sayank, ternyaman" kata Zia malu malu
Valdi tersenyum dan nyium rambut Zia, menyalurkan rasa nyaman. Dalam hati dia berjanji gak bakalan bikin wanitanya ketakutan seperti tadi.
"kak, aku mau jujur... "
__ADS_1
***