
TA 48
Malam pertamaku dengan Bang Gama dihabiskan dengan tidur dan saling berpelukan, meskipun Cuma tidur dan berpelukan ini terasa berbeda bagi kami, kami melakukannya setelah sah menjadi suami istri, aku sangat bersyukur kita bisa menahan segala godaan selama ini.
Aku ingat, semalem saat melepas hijabku wajah Bang Gama terlihat kaget, mungkin karena itu pertama kalinya aku memperlihatkan rambutku di depannya. Aku sengaja mewarnai rambutku agak pirang, karena aku inget Bang Gama pernah cerita dia suka perempuan berambut pirang.
“Kamu canti banget dek” pujinya, setelahnya dia menghujani seluruh wajahku dengan ciuman. “Makasih Honey…”
Saat itu aku hanya nunduk sambil tersenyum malu, rasanya begitu senang dipuji seperti itu oleh suami sendiri.
Paginya Aku bangun lebih dulu, saat membuka mata rasanya sangat bahagia karena pertama kali yang kulihat adalah Bang Gama, aku senyum, kuamati wajahnya, terasa damai. Aku sudah pernah bilang kan kalau Bang Gama gak setampan Kak Al atau Bang Davin, dari segi umurpun Bang Gama lebih tua, tapi aku begitu senang melihatnya apalagi sekarang dia adalah suamiku.
Aku tau diluaran sana banyak gossip yang mengatakan aku menikah dengan Bang Gama karena dia kaya, mungkin mereka aneh karena jarak umur kita yang jauh, tapi aku gak peduli karena jujur aku memang menyayangi dia, terlepas dari harta yang dia punya.
Tanganku mulai menjelajah wajahnya, Perlahan Bang Gama mulai mengerjapkan matanya,merasa terusik dengan sentuhanku, beberapa kali dia berkedip, mungkin dia juga masih kaget karena orang yang dia lihat pertama adalah aku.
“Hay suami”
Dia tersenyum malu, “Dek…” dia langsung mendekap badanku erat.
“Masih ngantuk, tidur lagi”
Aku ketawa “Subuhan dulu sana”
“kamu udah?”
“Aku kan lagi halangan Bang, ayo sana! Kamu sekarang udah jadi imamku Bang, harus lebih semangat lagi ibadahnya”
“iya iya” meskipun terlihat malas akhirnya dia bangkit dan pergi ke kamar mandi.
Aku hanya melihatnya sambil duduk di ranjang, aku sangat senang melihat seseorang memakai baju koko, apalagi setelah sholat seperti ini, gantengnya langsung berlipat.
“Ganteng banget sih suamiku” kataku saat dia menghampiriku dan mecium kening.
“Gombal!”
“Hahaha… iya Bang”
Dia hanya mencibir sambil merapikan alat sholatnya, dia juga berganti pakaian santai yang dia pakai tidur. “Tidur lagi boleh ya, masih ngantuk”
“iya sini” kataku sambil menepuk bantal disebelahku
Tapi nyatanya kita malah gak tidur, saling bercerita dan bercanda. Rasanya memang menyenangkan.
Bang Gama sama sekali tidak mai melepas dekapannya.
kadang aku kasian saat tatapannya begitu mendamba, dan diselimuti dengan *****, dia mencium seluruh wajahku, akupun mempersilahkan dia memegang sesuatu yang dia inginkan. Dia makin keliatan frustasi, dan langsung menghentikan aktivitasnya. Dia memilihlangsung memelukku dan kadang milih memejamkan mata.
“Bang…” panggilku sambil noel pipinya
“hmmmm…”jawabnya masih sambil merem.
“Nyiksa banget ya?”
“Gak usah ditanyain dek”
“Mau dibantu gak?” tanyaku ragu
“Maksutnya?” tanyanya kaget dan langsung buka mata.
“aku bantu nyenengin abang ya? Pake tangan sama ini” kataku sambil nyentuh bibirku.
__ADS_1
Dia senyum tapi lama kelamaan malah ketawa “kamu belajar nakal dari siapa sih?” tanyanya sambil narik telingaku
“Aku udah gede bang, meskipun gak pernah ngelakuin tapi sedikit paham masalah kayak gitu”
Dia senyum dan langsung narik aku dalam pelukannya “Gak usah Honey… masak Malam pertama pake mulut sama tangan sih, gak mau lah aku, harus special dong!”
“Maaf ya” kataku ngerasa bersalah
“Gak papa, aku juga udah reschedule bulan madu kita ke Singapura, jadi kita berangkatnya menjelang kamu selesai menstruasi, jadi Malam pertama kita ntar di Singapura aja, oke?”
Aku ngangguk “Iya”
“Selama kamu masih halangan kita santai aja, aku bisa nahan kog”
“terus kita ngapain 3 hari nginep hotel? apa pulang aja?”
“enak aja, kita nikmatin lah selama disini, udah dibayar juga”
“Abang gak bosen?”
“Bosen? Gak lah! Tiap hari bisa santai tanpa mikir kerjaan dan bisa puas-puasin berdua sama kamu kenapa harus bosen” Aku senyum lagi dan langsung meluk Bang Gama erat.
“Jangan pernah tinggalin abang ya dek” ucap Bang Gama sambil mencium kepalaku.
“Aku kan istri Abang sekarang, mana mungkin bisa ninggalin abang”
“Janji?” tanyanya sambil menatapku lekat.
“Janji. Tapi abang harus janji jangan pernah nyakitin aku”
“Aku bakal berusaha bahagiain kamu terus Honey…”
“Kog malah ketawa?”
“geli aja denger abang dari semalem manggil Honey”
“Aneh ya?” tanyanya sambil garuk rambut.
“lucu sih, keliatan maksa” dia keliatan manyun “ tapi aku suka” kataku sambil nyium pipinya. Kita sama-sama ketawa.
***
Selama 3 hari nginep di hotel Bang Gama bener-bener menikmati, akupun juga. Meskipun kita gak ngapa-ngapain, hanya ngobrol bercanda, bermesraan. Semua terasa menyenangkan walaupun kita belum bisa beribadah ranjang seperti penganten baru pada umumnya.
Siang ini kita pulang kerumah, seperti rencana awal kita milih tinggal dirumah Bang Gama, orang tuaku pun gak masalah, mereka hanya berpesan kalau kami harus sering datang kerumah.
“Assalamualaikum” Aku dan Bang Gama mengucapkan salam
“Waalaikumsalam” jawab Mama Bang Gama dari arah dalam.
“Kalian udah pualang?”
“Udah Ma” jawabku sambil mencium tangan Mama Sinta
“semuanya udah balik Ma?”
“Iya Gilang sama Mona kan juga harus kerja” jawab Mama “Kalian udah makan siang belum? Kita makan siang bareng yuk!”
“kita emang sengaja pulang jam segini biar bisa makan siang sama Mama” jawab Bang Gama.
Akhirnya kita makan siang bareng, Papa Bang Gama masih di kantor, dari awal memang aku gak terlalu dekat dengan orang tua Bang Gama, karena Bang Gama sendiri jarang ngajak aku bertemu orang tuanya. Tapi yang aku tahu mereka selama ini selalu meyambutku dengan hangat.
__ADS_1
Selesai makan siang aku milih buat ngerapiin baju-bajuku di lemari Bang Gama, untung aku Cuma bawa sedikit baju, karena ternyata Mama udah beliin baju buat aku, dan kata Bang Gama Mama sengaja nyiapin satu lemari khusus buat bajuku. Aku jadi terharu.
Malam ini kita habiskan seperti malam sebelumnya, ngobrol dan saling berpelukan, rasanya seperti gak pernah bosan, malah menyenangkan, mungkin ini yang membuat orang senang menikah hanya terus berpelukan aja udah bikin seneng, apalagi kalau melakukan yang lebih, eaaaa…. Jadi malu sendiri.
Keesokan harinya setelah sarapan Bang Gama juga kembali ngajak aku ke kamar, katanya dia pengen malas-malasan sama aku, karena besok dia udah harus balik kerja. Mama Papa juga udah berangkat ke Jakarta, ke tempat Kak Gilang, anak pertamanya.
Tok…tok… tok…
“Siapa sih ganggu aja” gerutu Bang Gama sambil membuka pintu “Kenapa Mbak”
“Itu mas, ada tamu” ucap Mbak Minah bingung
“Siapa?”
“katanya namanya Dea” Bang Gama heboh, begitupun aku yang sebenernya ga tau apa-apa.
Aku yang emang udah memakain hijab instanku langsung nyusul Bang Gama yang udah lari ke lantai bawah. Sampai lantai bawah aku rada kesal ke Bang Gama yang malah diam seperti patung.
“Zivara” aku seperti gak asing dengan suara ini, aku menoleh ke sumber suara. “Hay” sapanya sambil melambaikan tangan dan tersenyum.
“Kak Dea?” tanyaku kaget, dia kakak kelasku SMA yang dulu pernah digosipin sama Kak Tama dan Kak Al. “kakak kog bisa disini?”dia hanya diam, dengan senyum sinis.
Aku melihat ke arah Bang Gama, lebih tepatnya meminta penjelasan, tapi dia malah masih diam mematung, dan terlihat kaget saat tau ternyata aku kenal sama kak Dea.
“Kamu kenapa ke sini?” Tanya Bang Gama ketus
“Aku mau penjelasan!” kata kak Dea
“Ada apa Bang?” kini aku yang keliatan bingung.
“Nanti aku jelasin ” katanya sambil menatapku, wajahnya kelihatan panic.
“Bang”panggilku
“Nanti aku jelasin” kata Bang Gama lagi kali ini sedikit bentak, jujur aku sangat bingung, ada apa ini sebenernya. Dan kenapa Kak Dea ada disini.
Dalam diamku aku melirik Kak Dea, dia kelihatan kesal dan jengah, tak lama Bang Gama mencium kepalaku,
“Abang pergi bentar ya” pamitnya, aku hanya diam “Kita bicara diluar” kata Bang Gama ke kak Dea.
“Gak mau! Mending langsung ngobrol disini” katanya angkuh “Mumpung ada Ziva juga, kamu tau mas Ziva ini adik kelasku SMA, dan dia dulu pernah bikin aku sangat kesal” katanya sambil menatapku.
“Kenapa masa lalu dibawa-bawa, aneh banget tau gak” kataku mulai kesal tapi juga senyum ngejek.
“kamu lihat, dari dulu dia selalu sombong dan selalu merebut miliku” katanya lagi, aku malah senyum, jujur aku gak paham sama dia.
“jaga bicara kamu,gimanapun juga Ziva adalah istriku,” kata Bang Gama tegas
“aku tau, sangat tau. Dan karena tau istri kamu adalah Zivara mangkannya aku berani kesini. Aku gak terima!” katanya emosi.
“Terima atau enggak, aku sekarang adalah istri Bang Gama, gak ada urusannya sama Kak DEa. Dan tentang Kak Tama atau kak Al itu udah lama banget, bahkan aku aja udah lupa sama mereka” kataku gak kalah judes. Bersama Bang Gama aku mulai bisa berani melawan orang sekarang.
“Kamu gak akan sekuat ini kalau udah liat foto ini” kata kak Dea sambil nyerahin beberapa foto ke arahku.
“Jangan dilihat dek!” bentak Bang Gama
Karena penasaran dan memang fotonya udah ditanganku aku milih langsung melihatnya, air mataku langsung menetes, kakiku langsung lemas dan mundur selangkah.
Plaakkk…
***
__ADS_1