
TA 29
setelah Renata bilang tentang kak Al yang datang ke Dome kemaren, aku gak bisa fokus. aku chat kak Al berapa kalipun gak ada balasan, bahkan chatku gak ada yang dibaca, padahal jelas dia sedang online. kenapa? apa dia sengaja?
Pulang sekolah aku coba mampir ke rumah kak Al, tapi sepi. Sama sekali gak ada orang. Aku pulang kerumah dengan hati yang bingung. Tapi saat kulihat sebuah motor parkir di halaman rumah aku langsung senyum. itu pasti dia.
"Zi, ini daritadi ditungguin Valdi" kata Mama membuyarkan lamunanku.
Sudah beberapa detik aku berdiri diam di pintu, memastikan kalau itu bener kak Al, sampai akhirnya Mama menyadari kedatanganku.
Kak Al menoleh ke arahku, "Ra... " sapanya dan dia berdiri.
Tanpa pikir panjang aku langsung memeluknya, rasa malu karena ada Mama sudah gak aku pikirkan lagi.
"Kak Al jahat, aku kangen banget" bisikku.
"Iya, lepasin dulu ada Mama gak enak " bisik kak Al sambil berusaha melepas pelukanku.
"gak mau" bantahku sambil menggeleng. Aku memeluknya erat.
Dia menghela nafas dan akhirnya membiarkanku, di usapnya kepalaku lembut.
"Zi, lepas dulu pelukannya, belum muhrim! mau kamu Mama paksa nikah sekarang" kata Mama tegas.
Terpaksa aku ngelepas pelukanku dan manyun "Ck... Mama nih,"
kulirik kak Al yang tersenyum samar, akhirnya kita berdua duduk, tapi aku tetep gak mau jauh dari dia, Mama sampai geleng-geleng, dan akhirnya pamit karena mau kerumah tetangga yang lagi ada hajatan.
"Ra... apa kabar?" tanya kak Al sambil genggam tanganku.
"Kabar buruk! " ketusku, dia mengernyit.
"Kenapa?"
"Kak Al kenapa gak balas chat dan angkat telphonku! terus kenapa kemaren ke Dome tapi gak nemuin aku?" kesalku sambil nunduk.
Dan semuanya tumpah saat ini, rasa seneng, kesal, sedih, kecewa, kangen semua rasanya ngumpul, dan aku gak kuat buat nahan tangisku lagi. Kak Al narik aku dalam dekapannya.
Dia gak ngomong apa-apa cuma diam, sambil terus meluk dan ngusap kepalaku. aku juga diam, hanya suara tangisku yang kedengaran.
"Aku kangen kak Al" gumamku.
" Iya, aku juga kangen kamu Ra" jawabnya sambil nyium kepalaku sekilas.
Setelahnya kita sama-sama diem lagi, hanya saling terus berpelukan, rasanya aku gak mau melepasnya, tempat ternyaman dengan wangi parfumnya yang menenangkan, aku kangen semua ini, dan rasanya masih seperti mimpi.
"kak Al kapan sampek sini?" tanyaku sesaat setelah kulepas pelukanku.
"kemaren siang"
"Dan langsumg ke Dome?" tanyaku, dia ngangguk " kenapa gak nemuin aku?"
Kak Al masih diem gak jawab pertanyaanku, dia nunduk. ku usap pipinya "kenapa?"
__ADS_1
"Aku gak mau ganggu kamu"
"Ganggu aku? kemaren kita semua emang pada seneng, tapi banyak juga yang nyamperin, gak ada yang ngerasa keganggu." Tak lama aku menutup mulutku.
"Jangan bilang kak Al kemaren liat aku sama kak Davin?" tanyaku sambil natap dia, kak masih nunduk.
"Kak... please jangan mikir macem-macem," ku genggam tanganya "Aku gak tau kalau kak Davin datang, dia datengin aku cuma mau ngasih kiriman buket bunga dan hadiah dari kak Arga" jelasku.
" Percaya sama aku kak... " kataku melas.
"Aku percaya sama kamu Ra"
"Terus kenapa gak nyamperin? kenapa gak ngehubungin aku?"
"Aku cuma lagi mikir Ra"
"Mikir apa?"
"Mikir tentang kita" jawabnya.
Kutatap kak Al, perasaanku mendadak gak enak, wajah Kak Al terlihat sendu, tapi kucoba tepis semua "kak Al kapan balik Jakarta?"
"Besok siang"
hah? Aku bener-bener kaget, secepat itu?
"Aku gak ada libur Ra, ini aja kebetulan ada sedikit senggang dan aku putusin buat kesini."
Kak Al menatapku, dia senyum dan ngangguk, "Iya Ra, hari ini aku milikmu"
"Kak Al emang miliku, selamanya. titik!" ucapku tegas, kak Al hanya senyum samar.
"iya iya"
Akhirnya kita menghabiskan sisa hari ini dengan muter-muter dan saling berbagi cerita. Sampai sekitar jam 8 Malam kak Al ngajak aku ke rumahnya.
"Ra, kita harus ngobrol" ucapnya, aku hanya diam, pikiranku sudah menebak kemana arah tujuannya.
Digenggamnya tanganku "Ra, aku sama Bunda udah mutusin buat pindah kesana, aku gak tau bakal balik sini atau enggak. Dan aku gak mau terus egois ke kamu."
"Kak... "
"Dengerin aku dulu" ucapnya sambil nutup mulutku dengan jari telunjuknya.
"Aku udah mikirin ini semua Ra, aku gak mungkin terus ngikat kamu sama hubungan kita, karena aku sendiri belum bisa janjiin apa-apa buat kamu. Kamu berhak bahagia Ra,"
"Aku bahagia sama kak Al"
"Aku tau Ra, aku juga bahagia sama kamu. Tapi mau sampai kapan kita bisa ngejalanin ini. Sebelum nanti kita ngadepin masalah yang lebih banyak, aku pengen ngelepas kamu Ra"
Aku nunduk, rasanya gak kuat buat denger ini semua.
"Aku sama kak Arga gak bisa jagain kamu kayak dulu, kamu pasti butuh orang lain disini Ra, yang selalu ada buat kamu, yang selalu ada disamping kamu, dan orang itu bukan aku"
__ADS_1
"Kak Al udah gak sayank sama aku?"
"Aku masih sayank banget sama kamu Ra, dan karena rasa sayankku ini aku mau lepas kamu"
Aku ngangguk, sangat paham dengan ucapannya, "boleh aku peluk kak Al?"
Dia senyum dan ngangguk "Kamu harus bahagia disini Ra"
"Aku gak bisa janji kak, tapi insyaAllah aku ikhlas ngelepas kak Al"
"Maafin aku ya Ra"
"Kak Al harus janji, tepati janji kak Al buat sukses, jangan bikin kecewa Bunda"
"InsyaAllah Ra"
"Janji, harus bahagia juga dengan orang lain"
Sama sepertiku dia gak bisa jawab janji itu. kita sama-sama diam, masih terus berpelukan.
***Tak pernah kusangka ini terjadi
Kisah cinta yang suci ini
Kau tinggalkan begitu saja
Sekian lamanya kita berdua
… Tak kusangka begitu cepat berlalu
'Tuk mencari kesombongan diri
Lupa segala yang pernah kau ucapkan
Kau tinggalkan daku
… Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu
Selagi masih ada waktu (Pergilah kasih)
Jangan hiraukan diriku
Aku rela berpisah demi untuk dirimu
Semoga tercapai segala keinginanmu ***
Setelah kak Al nganter aku pulang, tangisku bener-bener pecah, Mama Papa sampai bingung, tapi ternyata kak Al sudah bicarain semua dengan Mama, dan Mama memberikan nasihat juga penyemangat buatku.
Dikamar, kuputar lagu Chrisye itu berkali-kali, sampai aku ngerasa capek dan tertidur. Dalam tidurpun aku masih memimpikan dia, rasanya ini begitu sulit..
Zia : GUE PUTUS!
***
__ADS_1