TriAngel

TriAngel
TA 61


__ADS_3

TA 61


Seharian ini Zia melewati harinya dengat semangat kerja yang tinggi, rasanya sudah lama sekali dia gak menjalani hari semenyenangkan ini.


Dan ini bukan karena dia bertemu Valdi, sama sekali gak ada hubungannya. dia memang senang bertemu Valdi, tapi Cuma sebagai teman, bagi Zia Valdi hanya masa lalu.


“Zi, kamu kos dimana?”


Tanya Niko yang entah kapan datangnya, sekarang dia udah nongkrong di depan meja Zia.


“Di daerah perumahan jalan Y kak”


“Owh iya-iya, kesini bawa kendaraan?”


“enggak belum hafal jalannya, jadi lebih suka naik ojol” kata Zia santai sambil terus ngerjain laporannya.


“Niko modus terus” sindir Rani


“Sirik aja lo Ran, cemburu?” semprot Niko


“Dih rugi banget cemburu sama lo.”


“Bilang aja lo daridulu naksir gue, lagian diliat dari segi apapun cakepan gue daripada si Tomang”


“dih, gak punya kaca ya lo!” Rani gak mau kalah


“Berisik amat sih kalian, Nik design rumah yang gue minta udah jadi belum?” kata Valdi yang tiba-tiba muncul.


“hehehe… belum bos, santai lah, deadline seminggu lagi kan?” bela Niko


“Gak bisa, selesain secepetnya, gue mau liat dulu” protes Valdi.


“Yadeh, mentang-mentang yang pesen mantan kakak ipar, dikejar mulu gue” kata Niko sambil berlalu pergi


Valdi jadi salah tingkah, matanya sempet ngelirik ke Zia, tapi cewek itu keliatan lebih santai dan masa bodoh.


“project kakaknya Dinda masih jalan?” Tanya Rani


“Masih”


“Ck… kalau gue jadi elo, ogah banget gue urusin” kata Rani yang juga berlalu pergi.


Zia mengendikan bahu mendengar obrolan mereka, dia lebih fokus ngelanjutin kerjaan.


“Ada masalah gak Ra?” Tanya Valdi yang berdiri di depan Zia


“Ha? Ehm… gak ada, aman!”


“oke lanjutin”


“Mas Bos, ada email dari JM corp, proposal kita diterima” kata Santi, karyawan lain. “Besok kita diminta datang ke kantor pusatnya buat tindak lanjut sama tanda tangan kerja sama”


Valdi senyum puas “siapin semuanya, jangan sampek kelewat. Nanti malam ajak anak-anak makan, kalian pilih tempatnya” kata Valdi sambil berlalu pergi.


Jam pulang kantor sama seperti yang lainnya, jam 4 sore, dan rencananya mereka makan malam jam 6. Masih ada waktu longgar 2 jam. Sebagian ada yang lembur nerusin kerjaan, sebagian ada yang santai di rooftop, sebagian juga ngilang entah kemana.


Di kantor ini emang gak banyak karyawan, jadi mereka bener-bener maksimalin kerja karyawan, gak jarang kerjaan mereka tumpang tindih sesuai kebutuhan. Tapi kental dengan rasa kekeluargaan.


Baru beberapa hari Zia kerja disini semuanya bisa welcome, gak ada yang nyinyir. Bahkan mereka gak sungkan buat ngajak curhat. Ada sekitar 10 orang karyawan, termasuk Valdi.


Diantara semuanya, saat ini Zia lebih dekat dengan Rani, Niko, Santi, dan Romi. Karena hanya mereka berlima yang menempati lantai 2, yang lainnya di lantai 1. Valdi sebenernya juga di lantai 2 tapi dia punya ruangan sendiri.


“Zi, lo Malang kan? Pantainya banyak ya disana? Gue pernah sekali kesana” kata Romi.


Saat ini Zia, Romi, Niko dan Santi lagi santai di rooftop.

__ADS_1


“Iya Mas, banyak pantai yang baru dibuka sekarang, bagus-bagus, kapan-kapan deh liburan bareng kesana” ajak Zia


“bener tuh, gimana kalau acara kantor akhir tahun ke Malang aja, gue baca review di internet banyak lo destinasi disana” kata Santi


“nanti gue bilang ke Valdi, lagian dia kan juga besar disana, sapa tau pengen pulang kampung, sekalian nemuin mantannya dia” Canda Niko


“Uhuuuk….”


“Pelan minumnya” kata Valdi sambil duduk di depan Zia “Lo sekali lagi bacot gak penting, gue gantung!” geramnya ke Niko


“hahaha… sory bos, gue kira elo di ruangan”


“ketahuan banget lo sering gosipin gue” kata Valdi sambil nyalain rokok.


Zia daritadi ngeliat Valdi, dia kaget sih sama tampilan Valdi yang sekarang lebih santai, dia udah ganti kaos beda dengan tadi pagi yang memakai kemeja, dan sejak kapan Valdi jadi perokok. Ck…


Valdi ngelirik Zia, dari tatapannya dia bicara, ‘ngapain liat-liat?’. Zia langsung mlengos dan sibuk sama ponselnya lagi. Meskipun sekarang jadi bos, Valdi gak pernah bikin karyawannya gak nyaman.


Saat waktu luang kayak gini mereka akan jadi teman, tapi saat kerja harus professional. Ada batasan antara atasan dan karyawan.


“eh Bos, beneran besar di Malang, setahun kerja disini aku baru tau, kirain jogja asli” seloroh Santi


“gak penting” kata Valdi sambil ngerokok dan main ponsel.


“kacang lupa sama kulitnya!” gumam Zia pelan


“bener tuh kata Zia, lo mah sotoy! Bilang aja takut ketemu mantan” sindir Niko


“owh Mas bos aliran CGMO” kata Romi


“apaan?” Santi penasaran


“Cowok Gagal Move On” kelakar Romi


Semuanya ketawa, termasuk Zia, jelas dia ngerasa di atas angin, dia tau banget mantan Valdi di Malang Cuma dia doang. Bukan GeEr sih, tapi lebih ke suka karena ada yang nyindir Valdi.


“ya ya… disetiap tikungan emang ada, tapi gak ada yang jelas” cibir Niko yang ber tos ria dengan Romi.


“tapi emang beneran bos gagal move on sama yang di Malang?” Tanya Santi lagi.


“ini lagi diperjelas” seloroh Niko


“Cinta Pertama, Mantan yang tak terlupakan, eyaaaaa, hahaha”


“Berisik! Pada sok tau!” kesal Valdi, jelas dia malu, apalagi ini di depan si objek utama.


“Bos aneh deh, kalau emang mereka salah kenapa harus kesel gitu mukanya. Orang Cuma bercanda. Padahal yang di Malang palingan juga udah pada lupa sama Bos” kata Zia santai, masih tetep ngeliat ponsel.


“Bener tuh kata Zia, berapa tahun bos lo gak balik sana?” Tanya Romi penasaran


“kata siapa gak pernah balik, orang tiap tahun dia masih rutin ke Malang” kata Niko


Valdi Cuma nunduk, kini giliran Zia yang natap Valdi. Dia gak nyangka ternyata selama ini valid masih sering ke Malang, tapi kenapa gak pernah nemuin dia atau temen yang lain. Berarti dia emang sengaja gak mau ketemu.


“Nemuin mantan?” Romi penasaran


“Mana berani dia” kelakar Niko.


“kenapa pada ngomongin gua sih? Gak ada bahasan lain?” Valdi mulai gak nyaman. Zia juga paham itu.


“Mbak Santi, di daerah sini tau gak tempat yang jual pernak-pernik buat kerajinan?” Tanya Zia mengalhkan pembicaraan.


“Ehm… Malioboro banyak kayaknya”


“Gak ada yang aku cari, pengennya langsung ke toko kerajinan yang lengkap.” Kata Zia kekeh.

__ADS_1


“Di daerah pertokoan Jalan S ada, tinggal nanya ada disana, lengkap” kata Valdi tanpa natap Zia, dia masih sibuk dengan ponselnya.


“Owh ya ya…” Zia ngeliat jam tangannya, “aku ke bawah duluan deh”


“Lah kemana Zi?” Tanya Niko


“Absen dulu” jawab Zia sambil berlalu pergi, karena emang ini udah masuk waktu sholat maghrib.


Valdi terus natap Zia yang mulai turun tangga, dia menghela nafas panjang. Bagi Valdi, Zia memang masa lalu, terlebih saat ini dia lagi fokus ngejar satu cewek. Tapi tetep aja, fakta kalau Zia yang seorang janda mengusik pikirannya.


“Si Zia absen apaan sih?” Tanya Romi bingung


“Maksutnya sholat Oneng!” kata Valdi sambil berdiri, dia ngikutin Zia ke mushola di lantai bawah.


Bukan ngejar Zia, tapi emAng dia juga mau sholat. Sebisa mungkin dia akan jaga jarak dengan Zia, dia gak mau ada yang salah paham. Pisah bertahun-tahun pasti banyak perubahan di antara mereka, terutama masalah hati.


Dan Valdi meyakinkan dirinya kalau Zia hanyalah masa lalu dan hanya partner kerjanya sekarang, gak lebih gak kurang. Titik.


“Apa liat-liat?” Tanya Valdi saat dia selesai wudhu dan berpapasan dengan Zia


“Kak Al ngejar aku?”


“Ck… GeEr, aku juga mau sholat” kata Valdi Santai.


“Owh… kirain” kata Zia sambil ngekor di belakang Valdi.


“obrolan anak-anak tadi gak usah dipikir, terutama Niko, dia emang suka mengarang bebas” kata Valdi tiba-tiba.


“aku tau mereka Cuma bercanda, lagian itu kan Cuma masa lalu, emang pantesnya Cuma buat candaan, gak penting juga” kata Zia santai


“syukur deh kamu gak baper”


“Ck…”


“Udah sana sholat ngapain masih diem?”


“jamaah ya,hehehe” pinta Zia


Valdi menghela nafas panjang “yaudah buruan”.


Zia segera memposisikan diri di belakang Valdi, dan segera sholat berjamaah dengan Valdi. Valid emang sengaja bikin mushola di lantai 1, musholanya juga dibuat hanya ruangan luas tanpa sekat antara perempuan dan laki-laki.


Dia fikir karyawan Cuma dikit,dan akan keliatan sempit kalau dipisah. Valdi juga membuat interior mushola ini berbeda, keliatan lebih adem.


Selesai sholat mereka berdua masih berdiam diri disana, Valdi sibuk dengan dzikirnya yang dibiasin seusai sholat, begitupun dengan Zia. Untung mereka sholat lebih awal dari yang lain. Jadi mushola masih sepi, hanya ada mereka berdua.


Valdi selesai lebih dulu dan kaget saat ngeliat Zia ternyata masih diam dibelaangnya, mereka saling liat.


“Kenapa? mau salim?” canda Valdi


“Bukan muhrim!” kata Zia sambil berdiri melepas mukenahnya.


“dulu ada yang selesai sholat jamaah selalu salim,padahal juga bukan muhrim” seloroh Valdi. , dia ingat dulu tiap mereka selesai sholat jamaah bareng, Zia selalu salim ke Valdi.


“yang jelas bukan aku” kata Zia santai


“Masaaa?” goda Valdi


“Bos, jangan modusin Zia, dia masih polos”bela Rani yang baru datang bersama beberapa karyawan lain.


“Tenang aja Mbak Ran, udah kebal aku sama model playboy beginian” balas Zia “Duluan ya Mbak!” dia langsung berlalu pergi.


“Resek lo Ran!” kesal Valdi


“Hahaha…” Rani malah ketawa.

__ADS_1


***


__ADS_2