
TA 55
Deg…
Mataku langsung tertuju ke kak Arga dan Mbak Niken, kenapa mereka berdua ada disini, apa yang sedang mereka debatkan. Kenapa Bang Gama keliatan frustasi gitu, ada apa ini sebenernya.
Aku masih belum bisa nangkep inti perdebatan mereka. Tapi lututku langsung lemas saat melihat orang yang sedang menangis di dekat pintu.
Ya Allah…. Apalagi ini… pikiranku langsung terbang kemana-mana…
“Zia!” bentak Kak Arga
“Kak Arga… a-ada apa?”
“begini tingkah suami yang selama ini kamu banggakan?” bentaknya sambil nunjuk Bang Gama.
“Arga, tenang dulu. Ada apa ini sebenernya?” Tanya Mama Sinta yang juga kaget dan bingung.
Kak Arga terlihat sangat marah, dan aku bisa menebak alurnya “Maaf tante kalau saya bikin keributan. Tapi saya bener-bener gak terima”
“apa maksudnya?Gama ada apa ini?” Tanya Mama Sinta bingung,
“Dea?” gumamnya saat melihat ada kak Dea disitu,aku Cuma nunduk,bingung harus gimana.
“Tante kenal perempuan itu? Apa tante juga sekongkol sama laki-laki brengseek ini?” kata Kak Arga emosi.
“Mas… tenang” Mbak Niken mencoba menenangkan.
“Tante gak kenal, tapi tante tau kalau dia mantannya Gama”
“Mantan? Perempuan ini istrinya Gama tante, dan dia juga lagi ngandung anaknya Gama”
Mama keliatan sangat kaget, sampai dia mundur selangkah, dia menggeleng “Gak mungkin. Gama? Apa maksutnya ini!”
Bang Gama Cuma bisa nunduk aku tau dia juga emosi, tapi saat ini memang dia gak berhak marah karena dia memang tersangkanya, apalagi ada Mama Sinta disini, makin gak bisa berkutik dia.
“Jelasin Brengseek!” bentak Kak Arga sampai mau mukul Bang Gama
“Kak…. Udah” teriakku.
“Zi?!” kata Kak Arga gak percaya “Dia selingkuh di belakang kamu Zi, dia hianatin kamu!”
Aku hanya bisa nangis dan ngangguk “ Iya Kak, tapi aku gak suka keributan gini” kataku,
Kepalaku rasanya mau pecah, jantungku berpacu dengan cepat, aku gak bisa bayangin apa yang bakal kejadian nanti.
“Jangan bilang kamu udah tau?”Tanya Kak Arga, “Zia!”
Aku makin nangis dan terduduk di sofa, “iya aku udah tau”
“Astaga Zia, kamu tau?” teriak Kak Arga “kenapa kamu selama ini diam Zi?”
“Aku harus gimana kak? Mungkin emang ini udah nasibku” kataku pelan.
“Ziva… Mama masih belum ngerti” kata Mama Sinta yang juga udah nangis.
Aku menoleh ke Bang Gama dan Kak Dea, Bang Gama menatapku dengan tatapan yang gak aku mengerti, sedangkan Kak Dea dia melihatku dengan tatapan sayu dan memohon. Aku menghela nafasku, mengingat obrolan kita saat di rumah sakit beberapa waktu lalu.
FLASHBACK ON
“Zi, aku boleh minta satu permintaan ke kamu gak?” Tanya Kak Dea
“Apa?”
“Suatu saat, ketika ada kesempatan aku mohon sama kamu, tinggalin Mas Gama, lepaskan dia, aku mohon Zi, aku hanya punya dia sekarang, dan anakku juga sangat membutuhkan seorang Papa.”
“Bukannya sekarang Bang Gama juga bakal jadi Papanya”
__ADS_1
“Beda Zi, aku Cuma istri sirih, kapanpun dia bisa ninggalin aku. gimana nasib anakku kalau Mas Gama sampai nyeraiin aku Zi? Aku mohon sama kamu relain Mas Gama buat aku dan calon anakku”
FLASHBACK OFF
Aku menangis lagi saat ingat pembicaraan itu, apa yang harus aku lakukan sekarang, apa aku harus nyerah sekarang? Atau aku harus terus maju memperjuangkan kebahagiaanku dengan suamiku. Jujur aku sangat bingung, gak tau harus bersikap gimana.
“4 hari setelah pernikahan, aku baru tau kalau ternyata Bang Gama sudah menikah sirih dengan Kak Dea. Dan setelah itupun aku juga sangat tau gimana hubungan mereka” kataku menjelaskan.
“Dan kamu Cuma diam Zi? Kamu nerima gitu aja semua ini?” bentak Kak Arga
“Aku harus gimana kak? Aku harus gimana?” teriakku sambil terus nangis.
Persetan dengan tatapan tajam Bang Gama dan Kak Dea, aku terus menangis, menyalurkan segala perasaan sesak dan tertekanku.
“Jadi maksut kamu, kamu tau mereka nikah selama ini dan kamu menerimanya Zi?” Tanya Mama Sinta
Aku menatap Mama dan ngangguk. “aku juga sakit Ma, sangat sakit, tapi aku gak tau harus gimana”
“Dek…” Bang Gama coba deketin aku.
“Berenti, diem kamu disitu!” bentak Kak Arga, saat ini dia sangat emosi. Bang Gama langsung diam di tempat.
“kenapa kamu gak cerita ke Mama sayank? Selama ini kita hidup di tempat yang sama” kata Mama sambil terus nangis dan meluk aku.
“Maafin aku Ma, banyak hal yang aku pikirin”
Mama melepas pelukannya dan menatap tajam Bang Gama “Gini cara kamu membalas Mama Gam? Kamu gak hanya nyakitin Mama tapi juga Ziva. Puas kamu?”
“Ma… aku punya alasan sendiri”
“Alasan apa? Karena perempuan itu?” Tanya Mama sambil nunjuk Kak Dea. “Mama Papa gak pernah nyetujuin hubungan kamu karena ada alasannya!”
“tapi aku juga gak bisa ninggalin Dea”
“Kalau emang kamu gak bisa ninggalin perempuan itu kenapa kamu bawa Ziva masuk dalam keluarga kita?” bentak Mama
“aku juga sayank sama Ziva Ma…” kata Bang Gama melas
“Brengseek! Laki-laki macam apa kamu? Apa kamu gak sadar banyak orang yang kamu sakiti gara-gara sikap bodoh kamu!” bentak Kak Arga
“aku memang salah, iya aku akuin. Tapi selama ini aku, Dea dan Ziva kami sama-sama bahagia” kata Bang Gama
Aku langsung noleh ke arahnya, Bahagia dia bilang? Apa dia sama sekali gak bisa ngeliat gimana sedihnya aku? gimana menderitanya aku?
“Gila kamu!” bentak kak Arga
“Oke, aku bakal nyeraiin Dea setelah anak kita lahir, dan aku udah berencana mau ngerawat anak itu sama Ziva, ya kan Dek?” Tanya Bang Gama
Aku langsung menggeleng, sandiwara macam apa lagi ini? kenapa sekarang hidupku jadi penuh drama, aku seperti sedang syuting sinetron. Bahkan dia sama sekali gak pernah bicarain ini denganku, kenapa sekarang langsung nembak dengan pertanyaan seperti ini? Gilaaa…
“ENggak… aku gak mau pisah. Aku gak mau kamu ceraiin Mas, apalagi harus pisah dari anaku. Jangan….” Teriak Kak Dea sambil nangis histeris.
Ya Allah… aku melupakan dia, pasti sekarang dia sangat tertekan, ini gak boleh, bisa bahaya buat janinnya. Aku berdiri dan ngajak Kak Dea buat duduk disebelahku. Aku tau semua orang menatap ke arah kami.
“Tenang kak, gak ada yang ngambil anak kakak” kataku sambil genggam tangannya.
“Zi?” kak Arga sangat kaget dan menggeleng melihat tingkahku.
“Dek… “ Bang Gama mau mendekat kembali ke arah kami, dan entah kenapa aku ngerasa takut dengan sikap Bang Gama sekarang.
“Berenti Bang! Stop jangan ngarang apapun lagi”
“Dek…”
“Ziva, kenapa kamu malah belain perempuan itu, dia yang ngrebut Gama” kata Mama
“Enggak Ma, Kak Dea gak salah, dia juga korban sama kayak aku. kita sama-sama gak tau apa-apa. Dan tolong jangan bikin kak Dea tertekan, kasihan bayinya, dia calon cucu Mama” kataku ke Mama Sinta
__ADS_1
“Zi, pulang sama kakak!” kata Kak Arga
“Gak bisa! Ziva istriku dia gak boleh kemana-mana” kata Bang Gama
“Masih berani ngomong kamu? Setelah semua ini kamu masih punya muka buat ngelarang-ngelarang Zia?” bentak Kak Arga
“kenapa memangnya? Aku punya hak penuh atas Ziva! Aku suaminya”
“Kalau gitu ceraiin Ziva”kata seseorang dari arah pintu
Semua orang menatap kearah pintu, ternyata Papa Adam yang dateng, Papanya Bang Gama.
“Pa!” kata Bang Gama
Papa Adam sama sekali gak meduliin Bang Gama dan berjalan ke arahku “Papa minta maaf Ziva, karena selama ini Papa Cuma bisa diam tanpa bisa membela kamu, dan mungkin sekarang saatnya”
“Maksut Papa apa?” Tanya Bang Gama
“Jangan kamu fikir selama ini Papa gak tau tingkah kamu diluaran sana Gam! Papa juga sangat tau kamu menikahi Ziva karena iming-iming dari Papa”
“Tapi aku juga sayank sama dia Pa, bukan Cuma karena perusahaan!” teriak Bang Gama.
Meskipun sering debat, tapi aku tau Bang Gama gak bakal bisa ngelawan Papa Adam.
Aku makin menunduk dan nangis, sumpah cerita hidupku seperti di sinetron,dan aku sangat malu sekarang. Aku seperti perempuan bodoh.
“Kalau memang kamu sayank, lepasin Ziva” bentak Papa Adam.
“Kamu jangan jadi pengecut Gam!”
“Aku gak mau pisah sama Ziva Pa” kata Bang Gama “Dek… kamu juga gak mau pisah sama aku kan? Kamu udah janji gak bakal ninggalin aku!”
Aku sangat bingung, harus apa aku sekarang, semua orang sedang menatapku. Papa dan Bang Gama masih terus berargumen.
Kak Arga juga sesekali ikutan ngomong, suasana semakin panas. Kepalaku semakin pusing, rasanya aku udah gak kuat.
Perlahan aku ngerasa ada tangan yang menggenggam tanganku
“maafin Mama Zi, Mama gak tau kalau selama ini Gama udah nyakitin kamu. Kamu harus bahagia Zi, kalau kamu ngerasa udah gak kuat lepasin Zi, minta cerai dari Gama. Tapi kalau kamu masih ingin sama Gama pertahankan. Mama dukung semua keputusan kamu”
Aku nunduk, Ya Allah… aku harus gimana. Kupejamkan mataku, aku mencoba membaca semua doa untuk menenangkan hati dan pikiranku.
Samar ku dengar Bang Gama masih terus ngotot untuk mertahanin aku, tapi Kak Arga terus debat dia. Aku tau Kak Arga Cuma mikirin peraaan aku, masalah yang lain bisa diurus belakangan. Dan saat kayak gini aku bener-bener gak tau harus gimana. Semua pasti ada resikonya.
“Kak Arga… udah Kak, jangan kayak gini terus” kataku sambil natap kak Arga.
“Zi, kakak gak terima kamu diginiin. Selama ini kami selalu memperlakukan kamu dengan baik. Tapi dia malah nyakitin kamu kayak gini!” katanya tegas.
“aku tau kak, tapi biarin aku nentuin sendiri hidup aku. makasih Kak Arga udah selalu peduli sama aku” kataku
“Dek… percaya sama aku, aku juga sayank sama kamu. Abang janji setelah ini akan selalu bikin kamu bahagia,abang yakin bisa bahagiain kamu” kata Bang Gama sambil megang tanganku.
Kulirik kak Dea yang dari tadi terus nangis dan nunduk, aku tersenyum ke arah Bang Gama “Iya Bang, aku percaya abang sayank sama aku”
“mulai sekarang aku bakal turutin semua keinginan kamu Dek” katanya
“janji?” tantangku sambil natap Bang Gama.
“iya dek aku janji” katanya tegas
“Zi! Apa-apaan kamu?” bentak kak Arga
“Maaf kak, aku udah punya keputusan sendiri” kataku sambil terus natap Bang Gama.
“Maksut kamu apa Zi?!” Tanya kak Arga yang keliatan frustasi.
***
__ADS_1