TriAngel

TriAngel
105


__ADS_3

TA 105


Sudah seminggu lebih sejak kejadian Zia bertemu Gama, setelah hari itu Valdi sama sekali gak ngebiarin Zia kemana-mana sendiri. Valdi akan meluangkan waktunya untuk menemani istrinya kemanapun dia pergi.


Masalah kerjaan, Valdi sedikit terbantu dengan adanya karyawan baru dan juga bantuan dari anak dokter design jogja. Total sekarang ada 6 orang yang bekerja di kantor jasa design milik Valdi.


Sedangkan Gama sendiri juga tidak ada tanda-tanda menampakan diri lagi, tapi tetep aja semua keluarga Zia dan Valdi lebih siaga menjaga Zia.


Mereka semua gak mau kejadian beberapa hari lalu terulang lagi, yang mengakibatkan kandungan Zia sedikit bermasalah.


Saat ini Valdi, Zia, Winta dan satya sedang berkumpul dirumah Valdi, mumpung weekend. Mereka membahas tentang Triangel Café yang sudah hampir jadi. Mereka lagi berembuk tentang semua kebutuhan dan perlengkapan yang harus segera mereka cicil untuk beli.


Resti dan Fian gak bisa ikutan kumpul, karena dua minggu yang lalu Resti melahirkan. Jadi dia lagi sibuk mengurus si kecil.


“Buat masalah perkakas dan lain sebagainya biar gue yang urus deh Zi, kasian elonya kalau disuruh wira-wiri sana sini. Lagi hamil juga. Elo bantuin Valdi buat mempercantik interiornya aja. Lo kan jago tuh kalau urusan pernak pernik gitu” kata Winta


“iya deh,lagian gue gak sanggup kayaknya kalau disuruh beli ini itu” kata Zia sambil makan bakso.


Para suami lagi asyik nongkrong di halaman belakang, sambil ngerokok.


“masalah menu gimana?”


“aku udah bikin listnya, udah nyoba juga. Ntar deh kapan gitu kita kumpul lagi, sekalian nyobain menu.”


“Sip deh, kalau masalah itu gue serahin ke elo.”


“Iya, untung sih gue dibantuin Bunda, Mbak Niken, Mama sama Mbak Ani. Kalau enggak, gak ngerti deh gue”


“mereka mah udah pada jago Zi, apalah daya kita yang Cuma bisa makan, hahaha” kelakar Winta


“tapi elo udah nemu orang buat koki utama belum?”


“belum, sementara kalau emang masih beum nemu, kita bisa ngandeli Mbak Ani, sambil pelan-pelan nyari orang yang bisa diandelin. Kalau buat bagian depan udah ada beberapa orang sih, tetangga gue”


“oke. Berarti udah fix ya, nanti sisanya bahas lewat chat aja”


“Iya”


“Ini jadi berangkat ke tempat Resti jam berapa? Elo makan mulu Zi” sindir Winta yang daritadi ngeliat Zia gak berenti makan bakso.


“Hahaha… maklum buk, sering laper sekarang” kata Zia tanpa ngerasa bersalah.


Setengah jam kemudian, mereka berempat sudah dalam perjalanan ke rumah Resti. Mereka sudah pernah jenguk Resti saat baru melahirkan di Rumah sakit.


Dan hari ini mereka memang sengaja kesana lagi, udah kangen mau liat bayi perempuan Resti, yang mirip sama Fian.


Saat sampai dirumah Resti mereka pada heboh, pasalnya bukan hanya mereka yang lagi jenguk anak Resti. Tapi ada Radit, Andi dan Oka. Entah gimana ceritanya mereka bisa kumpul disitu, tanpa mengajak pasangannya.


"Gak nyangka gue" kata Radit saat ngeliat Zia dan Valdi, bahkan dia sampai geleng-geleng.


"apaan sih lo, lebay amat! " kata Zia yang tau maksud radit.


"tapi gue lega sih Zi, lo nikah lagi sama kak Valdi.daripada sama mantan suami lo yang songong itu" kesal Radit


Radit emang punya dendam sendiri ke Gama, pasalnya gara-gara dia hubungan baik Zia dan teman-teman yang lain jadi renggang. Bahkan dulu Zia sempet ngilang dari peredaran.


"kenapa? Cemburu lo?!" sindir Valdi dengan niat bercanda.


"hahaha... Rada cemburu sih emang" jawab Radit "dikit"


"sini lo gue hajar dulu" Canda Valdi


Mereka semua pada ketawa,


semua paham gimana cerita Zia, Valdi, dan Radit dulu. Tapi itu hanya cerita masa SMA yang sekarang cuma bisa dibuat guyonan.


"kalian nih pada kesini gak sama pasangan? Kayak para abg tua aja kalian" sindir Winta


"mulut lo tetep pedes aja Ta" balas Oka


"hahaha... Udah dari sononya ini, gak bisa berubah" jawab Winta


"kita tuh gak ada rencana kesini, tadi emang lagi janjian ketemu bertiga. Terus keinget Resti lahiran, spontan aja kesini" jawab Andi


"bahkan mereka gak bawa apa-apa buat anak gue" sindir Resti


"Ya Allah nih anak, daritadi dibahas mulu yang itu, dibilangin tadi gak kepikiran. Ntar deh kita kesini lagi bawa kado yang besar" Radit membela diri


"alasan itu Res, palingan ntar lupa lagi. Minta transferan aja sekarang" Winta kompor.


"nih anak minta disumpel emang ya, untung ada suami lo. Kalau enggak... " ucap Oka


"kalau enggak apa? " tantang Winta


"Kalau engak udah gue taliin lo di pohon depan sono" jawab Oka sekenanya


"hahaha... Terus dikasih telur sama tepung, jadi inget dulu waktu Winta ulang tahun digituin di pohon depan situ" kelakar Andi


"iya, dan nih anak lebay banget, teriak-teriak histeris kayak diapain aja, sampek ditegur sama tetangga gue" kata Resti mengingat masa lalu.

__ADS_1


Mereka semua akhirnya bahas nostalgia jaman SMA dulu, kalau lagi kumpul gini emang bisa dipastikan bahasannya gak jauh-jauh dari masa lalu.


Setelah cukup lama ngobrol, akhirnya mereka semua pada pamit pulang. Begitu juga dengan Valdi dan Zia.


Mereka berdua milih gak langsung balik rumah, tapi ke supermarket dulu berniat membeli perlengkapan rumah yang dikira habis.


Tadi mereka berdua nebeng mobil Satya, jadi mereka di turunin di seberang supermarket.


"Yank, kamu mau nunggu aku apa duluan? " tanya Valdi saat mereka mau nyebrang.


"kamu mau ngapain?"


"Mau beli rokok dulu, di toko itu" lata valdi sambil nunjuk toko kelontong pinggir jalan.


"Aku duluan aja deh, biar cepet selesai juga. Tapi kamu cepetan nyusul"


"iya, kamu ati-ati" kata Valdi sambil berlalu ninggalin Zia.


Zia tersenyum sendiri dengan sikap Valdi. Dia terus memikirkan gimana interaksi Valdi dengan teman-temanya tadi. Dia sangat bersyukur Valdi bisa memposisikan dirinya dengan baik, gak seperti Gama dulu.


Zia menyebrang dengan pikiran gak fokus, sampai dia gak sadar ada motor yang melaju kencang nyalip mobil. Zia gak ngeliat karena motor itu kehalang mobil. zia yang gak siap ngehindar hanya bisa teriak.


"Aaaarrrgghh.... " teriak Zia


Braaaak....


"Araaaaa! " jantung Valdi seperti mau copot saat ngeliat kejadian barusan.


Tubuh Zia tergeser ke pinggir jalan, dadanya masih terus bergemuruh. Air mata menetes deras dari matanya. Bukan karena Zia yang tertabrak.


Tapi karena tadi saat Zia mau ketabrak ada orang yang mendorongnya, dan sekarang orang itu terkapar di Tengah jalan. Dengan darah yang menggenang disekitar badannya.


Tubuh orang itu sempat terpental ke aspal, karena memang motornya melaju kencang.


"Ra... " teriak Valdi sambil mendekat ke arah istrinya "kamu gak papa?"


"enggak, kak dia... "zia gak nyelesain ucapannya karena terlalu syok.


Valdi melihat ke arah pandang Zia, dia sangat tahu siapa yang terkapar ditengah jalan dan dikerumuni banyak orang. Valdi juga sama terkejutnya dengan Zia.


"kamu berdiri dulu" ajak Valdi


"bantu dia kak, aku mohon" ucap Zia dengan terus menangis.


"iya Ra" jawab Valdi sambil nuntun Zia duduk di trotoar.


"kamu disini dulu, buk tolong temenin istri saya, dia sedang hamil" kata Valdi


Perempuan itu terlihat kaget, dan langsung memberikan Beberapa pertanyaan ke Zia. valdi sendiri langsung mendekat ke kerumunan yang sekarang sedang membantu korban.


"langsung dibawa ke rumah sakit aja mas, dia teman saya" kata Valdi ke orang yang disana


Sedangkan pengendara motor yang cuma lecet-lecet langsung diamankan warga, takut kabur.


Valdi menghela nafas melihat kondisi orang yang tadi sudah menyelamatkan Zia.


Banyak darah yang keluar dari tubuhnya. Mendadak dia langsung berkaca-kaca.


Dengan dibantu warga sekitar, orang itu akhirnya cepat dilarikan ke rumah sakit. Zia dan Valdi mengikutinya di mobil lain.


"kak... "


"kamu tenang sayank, insyaAllah semua baik-baik aja" Valdi mencoba menenangkan dengan memeluk tubuh istrinya.


Sampai di Rumah Sakit, orang yang menyelamatkan Zia langsung dibawa ke UGD. Valdi yang tadi mengaku sebagai temannya disuruh mendaftarkan pasien. Saat di tanya tentang data korban jelas Valdi kebingungan dan dia memanggil Zia.


"Namanya Gama, Gama Saylendra" ucap Zia saaf ditanya tentang nama korban.


***


Valdi dan Zia menunggu kabar dari dokter dan perawat yang menangani Gama. Iya orang yang menolong Zia tadi adalah Gama.


Saat kejadian itu, entah bagaimana ceritanya Gama ada disekitar Zia berada.


Saat ngeliat ada motor yang melaju kencang dan Zia terus berjalan, Gama spontan langsung lari dan mendorong tubuh Zia ke pinggir, sehingga dia yang tertabrak motor itu.


"yank gimana ini?" tanya Zia yang jelas panik.


"kamu tenang Ra, aku udah nelphon Dea. Dia lagi perjalanan kesini. Kita tunggu kabar selanjutnya dari dokter"


Tadi Valdi juga sekalian mengecekan kondisi kandungan Zia, takut ada masalah seperti sebelumnya. Dan alhamdulilah ternyata kandungan zia baik-baik aja.


"Dea" gumam Valdi


Dari kejauhan terlihat seorang wanita berhijab besar yang sedang menggendong anaknya, dia terlihat bingung dan berlari ke arah Valdi dan Zia. Mendengar gumaman Valdi,Zia langsung menoleh.


"Zi, dimana Gama. Gimana kondisinya?" tanya Dea dengan berderai air mata.


Zia hanya bisa nangis sambil membalas genggaman tangan Dea. Melihat itu Valdi yang akhirnya menjawab.

__ADS_1


"Gama masih di dalam, masih diperiksa" kata Valdi "kalian duduk dulu, Ra duduk sini" ajak Valdi.


Untung beberapa waktu kemaren Zia sempet minta nomer Dea dari mbak Iva, rencananya Zia dan valdi mau mengajak bertemu. Tapi gak nyangka mereka malah ditemukan di tempat dan kondisi seperti ini.


Sampai tak lama dokter keluar, menemui keluarga pasien.


"pasien kehilangan banyak darah, butuh transfusi darah dan harus segera di operasi" kata seorang dokter laki-laki.


"lakukan dok, selamatkan dia" ucap valdi


"iya pak, kami sedang mengusahakan, butuh persetujuan dari wali, dan juga kami butuh donor darah, karena stok dari PMI kosong"


"donor darah?"


"iya kami butuh golongan darah O. Mungkin dari pihak keluarga bisa membantu mencari" kata dokter itu sebelum dia masuk karena dipanggil perawat.


"De, hubungi keluarganya, kita butuh pendonor, kemungkinan besar dari pihak keluarga ada yang golongan darahnya sama" kata Valdi mendekat ke arah Dea yang masih keliatan syok.


Dea menggeleng, "aku gak bisa hubungin keluarganya" ucap Dea sambil nangis.


Valdi mengusap wajahnya kasar, saat kayak gini dia jelas bingung. Tadi dia sudah menghubungi keluarga dan orang terdekatnya dan gak ada yang punya golongan darah O.


"kak Davin" gumam Zia, "yank, kak Davin golongan darahnya O, minta tolong dia yank"kata Zia sambil mengguncang tubuh Valdi.


Dengan cepat Valdi menghubungi Davin, dan alhamdulilah dia mau membantu mendonorkan darahnya. Setelah donor, Davin menghampiri Zia dan Valdi.


"Val, siapa yang kecelakaan?" tanya Davin.


Tadi memang Valdi gak bilang siapa pasiennya, dia hanya bilang butuh donor darah O. Dan Davin yang memang golongan darahnya O langsung menuju ke Rumah sakit.


"Gama" jawab Valdi singkat


"Gama?" Davin terbelalak "mantannya Zia?"


Valdi melirik sebentar ke Dea yang sekarang sedang duduk ditemani Zia. Dia ngerasa gak enak ke Dea, karena Davin keliatan gak suka ke Gama.


"ceritanya panjang kak, tadi Gama nyelamatin Zia, jadinya dia yang ketabrak dan sekarang lagi di operasi dan butuh donor darah" Valdi menjelaskan.


"parah?"


valdi ngangguk pelan "kita doakan aja kak"


"Zia gimana? Kandungannya??"


"Alhamdulilah baik-baik aja, tapi dia masih syok dan ngerasa bersalah"


Davin menghela nafas panjang, dia menepuk bahu Valdi pelan. Mencoba menguatkan. Tak lama Davin pamit pulang, kini tinggal mereka bertiga yang menunggu jalannya operasi.


"kak Dea, maafin aku ya, gara-gara nolongin aku, Bang Gama jadi kayak gini, harusnya aku yang sekarang di dalam sana" ucap Zia sambil genggam tangan Dea.


"jangan ngomong gitu Zi, kita doain aja. Memang sudah jalannya kayak gini" Dea masih mencoba tegar.


Valdi yang duduk disamping Zia hanya bisa pasrah. Dia juga menyesal tadi membiarkan Zia menyeberang sendirian. Dan dia juga sama sekali gak menyangka kalau Gama datang nyelametin Zia.


Setelah berjam-jam menunggu, akhirnya operasi Gama selesai. Dokter memberi tahu kalau operasinya lancar, tapi Gama masih dalam pantauan, karena sekarang masih dalam masa kritis.


"lebih baik kalian pulang, Zia pasti capek, apalagi dia sedang ngandung" kata Dea sambil senyum.


"enggak, kita bakal disini nemenin kak Dea" kata Zia


"pulang aja Zi, aku gak papa, lagian Gama juga masih belum sadar. Kak Valdi, ajakin Zia balik, kasian dia udah daritadi" bujuk Dea.


"kamu juga mending balik De, aku udah minta tolong temen buat jaga disini malam ini. Kasian anak kamu" kata Valdi sambil ngusap seorang anak.


Anak itu namanya Dega, umurnya maaih belum 1tahun. Dan Dea memang gak bisa ninggalin dia dirumah sendiri.


"makasih kak"


"kamu tenang aja, aku punya kenalan dokter disini, aku udah minta tolong buat bantu mantau suami kamu"


Setelah orang suruhan Valdi datang untuk jaga dirumah sakit, Valdi dan Zia mengantar Dea pulang kerumahnya menggunakan mobil yang dibawa orang tadi.


Ternyata selama ini mereka berdua ngontrak rumah sederhana di pinggir kota.


"Ra, udah ya gak usah dipikirin. Dia pasti baik-baik aja" kata Valdi saat mereka perjalanan pulang.


"Maafin aku kak, bukannya aku ngawatirin bang Gama, aku cuma ngerasa bersalah karena dia bisa kayak gitu karena nolongin aku"


"iya sayank, aku paham. Tapi aku juga gak mau kamu terlalu kepikiran. Kasian anak kita" kata Valdi sambil ngusap perut Zia.


"iya" jawab Zia pelan.


Sampai dirumah, Bunda sudah heboh karena Zia dan Valdi baru pulang tengah malam. Ditambah daritadi mereka gak bisa dihubungi.


Valdi menceritakan Semuanya, Bunda juga ikutan sedih. Zia yang daritadi diam, hanya bisa nangis dalam pelukan Valdi.


"udah sayank, kita doakan aja ya"bisik Valdi. Dan dia mencium pucuk kepala Zia.


***

__ADS_1


__ADS_2