
TA 49
Plaaakk…
Aku syok mendengar suara tamparan itu, karena setelah melihat foto itu aku udah gak fokus lagi, pikiranku langsung melayang entah kemana. Duniaku rasanya langsung runtuh. Semua terasa gelap.
Kulihat kak Dea nunduk sambil masih memegangi pipinya yang tadi kena tampar Bang Gama, ya Bang Gama terlihat sangat marah sampai menampar kak Dea
“Maksudnya apa ini Bang?” tanyaku sendu
Bang Gama menoleh ke arahku “Dek, Maafin aku”
“Apa maksud ini semua!” bentakku.
“Udah jelas semua kan Zi, aku ini juga istrinya Bang Gama, meskipun Cuma istri sirih” ucap Kak Dea dengan berderai air mata.
“Diam kamu!” bentak Bang Gama.
Samar kulihat Kak Dea langsung nunduk, aku tau pasti sedih rasanya dibentak di depan orang, tapi sekarang bukan saatnya kasian ke dia, karena nasibku sekarang lebih menyedihkan.
“Kamu tega sama aku mas, aku lagi ngandung anak kamu!” teriak kak Dea
Ya Allah, hatiku sangat sakit, di hari keempat pernikahanku, aku harus menerima kenyataan kalau Bang Gama sudah menikah dengan perempuan lain, dan bahkan sudah hamil. Ku pejamkan mataku, rasanya kepalaku sudah pening.
Aku terduduk di sofa dengan tanganku meremas foto pernikahan Bang Gama dan Kak Dea, kenapa mereka berdua sejahat ini ke aku? apa salahku ke mereka. Perlahan ku rasakan tangan Bang Gama menggenggam tanganku tapi segera ku tepis.
“Dek, abang minta maaf” ucapnya,
aku hanya diam rasanya sangat muak mendengar ocehan laki-laki ini. “Aku akan ngasih kamu waktu, nanti kita bicara, aku antar Dea dulu”
“Aku mau ngomong sama Ziva mas” kata Kak Dea, aku hanya menatapnya tajam.
“Gak sekarang Dea, sekarang bukan waktu yang tepat. Sudah berkali-kali aku bilang sama kamu kita cari waktu yang tepat buat ngomong. Kalau kayak gini Mama Papa bakal terus benci kamu, dan semuanya bakal hancur” kata Bang Gama keliatan marah.
“Tapi Mas…”
“Cukup! Pulang sekarang!” bentaknya
Kulirik Bang Gama narik tangan kak Dea pergi dari rumah ini, rasanya itu sangat menyakitkan, aku belum bisa nerima kenyataan kalau aku menjadi istri kedua dari seorang Gama.
Apa salahku selama ini, kenapa aku harus ngalamin hal kayak gini.
Setelah Bang Gama pergi aku langsung mengunci diri di kamar, mengabaikan semua orang yang mengetok pintu kamarku. Aku terus menangis, sampai tak sadar kalau aku tertidur.
Matahari sudah mulai menerobos masuk melalui celah-celah, aku mengerjapkan mataku, kepalaku sangat pusing, efek terus-terusan menangis, dan seingetku aku terakhir makan saat sarapan kemaren. Kupaksakan diriku untuk berdiri dan duduk di ranjang. Air mataku kembali menetes mengingat nasib yang harus aku jalani.
Tok… tok.. tok…
“Dek… buka pintunya, Abang denger dari kemaren kamu gak keluar kamar, gak makan juga, Dek!” suara Bang Gama dari luar.
Aku tersenyum sinis, dari ucapannya tadi aku bisa tau kalau dari kemaren dia sama sekali gak pulang. Apa-apaan ini, dimana janji manisnya padaku selama ini, kemana seorang Gama yang dulu selalu menspesialkan aku, kini aku sadar kalau itu semua adalah kamuflase untuk menutupi kebohongannya.
“Astaghfirullah…” gumamku
“Mama… Papa… Kak Arga…” kupanggil orang-orang yang ku sayank dengan gumaman.
Sekilas terbayang wajah ketiga orang itu, gimana Mama dan Papa menangis saat aku meminta restu, Kak Arga yang milih datang ke kamarku malam sebelum akad, apa jadinya mereka kalau sampai tau keadaanku sekarang.
“gak boleh! Mereka gak boleh tau! Aku udah banyak ngecewain mereka, ini adalah kesalahan yang udah aku buat sendiri. Mereka gak boleh ikut ngerasain!” ucapku seorang diri.
__ADS_1
Ya aku harus kuat demi mereka, demi orang-orang yang sayank aku, apapun yang terjadi saat ini dan nanti aku akan coba ngadepin.
“kamu bisa Zi, pasti bisa”
gumamku sambil terus menangis.
Kuberanikan diriku buat jalan dan bukain pintu bang Gama, semarah-marahnya aku, rasanya gak pantas kalau harus mengabaikan dia, gimanapun juga dia adalah suamiku.
Kupersilahkan dia masuk, dan Bang Gama menutup pintunya, kita sama-sama diam sambil duduk di sofa.
Tak lama ada yang mengetok pintu, ternyata Mbak Minah yang datang sambil membawakan makanan buatku. Bang Gama menyuruhku untuk makan lebih dulu, bahkan dia mengancam menyuapiku kalau aku masih nolak makan, terpaksa kulahap makanan itu, perutku juga memang sangat lapar.
Aku hanya memakan setengah, sisanya aku biarin, meskipun lapar tapi rasanya perutku menolak semua makanan ini, daripada nanti aku muntah mending aku hentikan.
“Maafin abang, ini semua salah abang” ucap Bang Gama sambil nunduk, bisa kudengar suarak putus asanya
“ ini semua memang kesalahan Bang Gama yang pengecut, dan mungkin ini juga salah aku yang terlalu gampang percaya sama orang” kataku geram
Bang Gama menghela nafas panjang. “Aku memang pacaran dengan Dea cukup lama, tapi Mama gak ngrestuin kami buat nikah. Mama selalu maksa buat ngejodohin aku sama perempuan lain, tapi aku nolak, sampai akhirnya aku ngenalin kamu ke Mama.”
“Awalnya Mama agak ragu sama aku, terlalu aneh menurut Mama setelah sekian lama aku kekeh mau nikah sama Dea tiba-tiba aku ngenalin kamu sebagai pacarku, tapi aku rayu Mama, dan Mama lihat kamu membawa dampak positif bagi aku jadi Mama setuju saat aku minta Mama buat segera nikahin kita”
Aku hanya diam mendengarkan semua cerita Bang Gama, walaupun rasanya masih perih, tapi aku mencoba untuk memahami situasi ini, kini gak ada orang lain yang bisa aku percaya, aku harus berjuang sendiri untuk hidupku.
Aku mendongak “Aku masih belum ngerti”
“Mama Papa pernah bilang ke aku, mereka gak bakal ngasih aku apapun kalau sampai aku menikah dengan Dea, Bagian ku akan mereka berikan setelah aku menikah dengan perempuan yang mereka setujui, dan mereka setuju aku menikah dengan kamu. Tepat setelah acara resepsi kita, Papa memberikan satu perusahaan propertynya ke aku”
Jedaaar…
Jadi selama ini aku Cuma dimanfaatkan sama Bang Gama? Apa sebegitu bodohnya aku? jadi selama ini kebaikan dan perasaannya padaku hanya sebuah kebohongan? Ya Allah…
Bang Gama menghela nafas panjang “Dea memang istri siri ku, kami menikah dua bulan kemaren, seperti yang kamu tau Mama gak suka sama Dea, tapi aku juga gak bisa ninggalin Dea gitu aja”
“jadi selama ini semuanya bohong? Sikap manis abang, perhatian abang, semuanya?” tanyaku sambil natap dia
Bang Gama nunduk dan memainkan tangannya “Awalnya memang aku Cuma iseng sama kamu, tapi makin kesini aku sadar kalau aku juga sayank sama kamu”
“abang bilang sayank sama aku, tapi juga gak bisa ninggalin Kak Dea”
“aku sayank kalian berdua” jawabnya tenang
Aku tersenyum sinis “Egois! Abang anggep apa aku?” dia Cuma diam tanpa bisa menjawab pertanyaanku.
“Sekarang abang udah dapat semuanya kan? Perusahaan, bahkan abang juga akan mendapatkan anak dari Dea!”
“Ya aku mendapatkan semuanya, termasuk kamu”
“Aku termasuk hitungan? Bukannya disini aku Cuma sebuah alat buat ngelancarin keserakahan abang”
“Dek… aku gak pernah nganggep kayak gitu, aku udah bilang kan aku juga sayank sama kamu. Dan ini semua juga buat kita”
“Dea tau semua ini?”
“enggak, dia baru tau setelah ngeliat foto pernikahan kita di sosmed temennya, aku juga kaget karena ternyata kalian saling kenal”
“jadi selama ini abang macarin dua orang sekaligus? Hebat!”
“Dek… abang minta maaf, abang terpaksa kayak gini”
__ADS_1
“Terus apa mau abang sekarang?”
“Abang mohon sama kamu, jangan pernah bilang tentang Dea kepada siapapun, termasuk keluarga kita. abang bakal cari solusi”
“Solusi apa? menceraikan salah satu dari kita?” bentakku
“Kalau emang perlu abang bakal lakuin itu”
“Abang mau nyerain aku?” tanyaku gak percaya
“Abang gak mungkin nyerain kamu dek, kita udah nikah secara agama dan negara, dan terlalu ribet karena Papa Mama pasti gak setuju, pilihannya hanya satu, nyerain Dea”
“Abang gila! Dea lagi hamil anak abang!” kataku kesal
“gak ada cara lain dek, abang lebih gak bisa nyerain kamu!”
“Abang lebih milih aku karena perusahaan itu kan?”
Bang Gama menunduk, dia gak bisa jawab pertanyaanku, sakit banget rasanya, dia memilihku karena aku adalah kunci untuk mengambil harta orang tuanya, brengseek.
“Oke! Aku gak akan minta cerai, dan aku akan coba mempertahankan pernikahan kita” ucapku ragu, mungkin saat ini Cuma ini solusi terbaik.
Bang Gama menatapku sambil sedikit senyum, dasar sialaan, dalam situasi seperti ini dia masih bisa senyum.
“Tapi aku punya beberapa syarat”
Bang Gama mengernyitkan dahinya “ Apa?”
“jangan ceraikan kak Dea, gimanapun juga dia juga korban keegoisan abang, terlebih dia juga lagi ngandung anak abang, akan sangat gak adil buat anak yang dia kandung”
Bang Gama memejamkan mata sebentar, dan begitu matanya terbuka dia mau menggenggam tanganku, tapi langsung ku tepis.
“Syarat kedua, seperti kata abang, ini semua rahasia kita bertiga, jangan sampai ada yang tau, terutama keuarga. Mbak minah mungkin kemaren denger, jadi nanti abang coba ngomong”
“Iya, Mbak minah udah abang kasih tau kemaren” jawabnya sambil ngangguk.
“kak Dea? Aku gak mau karena sakit hati akhirnya dia nekat ngomong ke semua orang”
“Dia gak kayak gitu, udah aku pastiin, dia kemaren berani kesini karena tau Mama gak ada, dan karena ternyata aku nikahnya sama kamu. Kayaknya dia punya masalah pribadi sama kamu” katanya sambil menatapku.
“Ck… masa lalu yang gak penting” ucapku acuh.
“Dek, kamu beneran gak masalah kalau harus di madu”
“entah siapa yang jadi madunya disini” jawabku sinis “Mungkin ini yang terbaik buat sekarang, jujur aku sangat sakit hati sama abang! Sangat kecewa. Baru beberapa hari kita nikah tapi kamu udah kayak gini, mana janji kamu dulu yang bilang gak bakal nyakitin aku?” bentakku.
“Abang jahat… jahat sama aku” ucapku sambil nangis pilu, ku pukuli dadanya, kuluapkan segala sesak yang menghimpitku.
“Dek… aku minta maaf, aku gak nyangka kalau Dea bakal datang kerumah dan bongkar semua” ucapnya
Aku menatapnya tajam, dan tersenyum sinis “aku malah bersyukur dia datang kesini, jadi aku bisa tau brengseeknya abang dari awal” kataku judes
“Deeek…”
“Aku juga punya satu syarat lagi, ini yang paling penting” kataku tegas
“Apa?”
***
__ADS_1