
TA 104
“Kak, aku mau jujur…” kata Zia menggantung
Valdi mengernyitkan dahi, dia membalik tubuh istrinya sehingga mereka berhadapan. Jujur dia sedikit kaget, karena selama ini dia kira Zia selalu jujur dan gak pernah nutupin apapun darinya.
Zia nunduk, Valdi mengangkat dagunya. Ditatapnya wajah istrinya itu. “ada apa?”
“kak Al inget gakaku pernah cerita kalau di Taman ceria ada pengajar baru?”
“iya, satu-satunya pengajar yang digaji kan?” Valdi balik nanya
“iya. Beberapa hari yang lalu saat aku ke Taman ceria mbak Iva cerita. Dan Kak Al tau gak siapa dia?”
“enggak lah, siapa emangnya?”
“Dea, Kak Dea” kata Zia sambil natap Valdi lama
“Dea?”
“kog bisa dia ikut gabung situ?”
“Awalnya aku juga kaget, kata Mbak Iva dia gak sengaja ketemu terus ngobrol. Intinya kak Dea lagi butuh kerjaan, dan saat Mbak Iva nawarin dia langsung mau”
“jadi Dea ngajar disana? Kamu ketemu dia?” Tanya Valdi khawatir
“Enggak, waktu itu kan emang udah jam pulang, kak Dea juga udah pulang kayaknya.”
Valdi keliatan mikir “kenapa Dea butuh uang?”
“gak tau, dan Mbak Iva juga bilang kalau kak Dea juga kerja part time di Resto masakan jawa yang dulu kita pernah kesana. Jadi bener dugaan aku kalau yang waktu itu kak Dea”
“suaminya?” Valdi ragu nanyain itu
“Aku gak paham, Mbak Iva juga gak tau”
“kamu penasaran?”
“Iya, gimanapun juga aku ngerasa gak tega ke kak Dea, lepas dari segala masalah kita dulu. Aku ngerasa punya ikatan gitu kak ke dia. Apalagi kata Mbak Iva tiap ngajar dia selalu bawa anaknya yang masih bayi, kasian kan” kata Zia
Valdi menghela nafas panjang “kamu pengen ketemu sama dia?”
“Kalau kak Al ngijinin” jawab Zia pelan
Valdi senyum “Iya gak papa temuin aja, tapi harus sama aku. aku gak mau ya kamu nemuin dia sendirian”
,” iya kak” Zia senyum, tapi wajahnya langsung berubah “Dan satu lagi kak”
“Apa?”
“jadi saat aku ke Taman ceria terakhir itu, kan aku mampir ke minimarket buat beli camilan. Saat keluar minimarket itu aku ngerasa kayak ada yang liatin. Reflek aku ngeliat sekitar dong. Dan disana ada tukang ojek yang terus ngeliat ke aku, jujur aku ngerasa takut. “
“Saat balik pun orang itu seperti tau kalau aku nebeng mobil Mbak Iva. Dia terus natap tajam kea rah mobil. Dan aku ngerasa ada hubungannya sama Gama. Aku baru sadar saat ngeliat mata Bang Gama tadi. Cara pandang mereka sama yank”
“jadi kamu ngerasa ada yang nguntit kamu? Dan kamu gak bilang ke aku? Ra!” bentak Valdi sambil duduk menghadap Zia
Tadi emosinya udah mulai reda, tapi saat Zia baru cerita hal sepenting ini dia langsung emosi lagi.
“Kak…” Zia kembali nangis
“Kamu tau kan, tiap hari aku ngawatirin kamu. Dan ada hal kayak gini kamu sama sekali gak ngasih tau aku?” kesal Valdi
“aku minta maaf, aku Cuma gak mau hal ini bikin beban kamu, aku tau kamu sibuk, aku Cuma gak mau berbagi hal yang bikin kamu makin khawatir”
“Ra! Kamu tau kan kalau kamu itu lebih penting dari apapun buat aku? apalagi kamu lagi ngandung. Bisa bayangin gak kalau sampe ada hal yang gak enak nimpa kamu?”
“Kak, aku tuh…”
“Apapun alasan kamu, aku gak bisa nerima Ra! Kamu keterlaluan. Aku bisa gila kalau sampe laki-laki brengseek itu macam-macam ke kamu!”
__ADS_1
“maaf kak” Zia sesenggukan.
dia tau dia salah tapi entah kenapa saat ini Zia ngerasa terpojokan. Dia paling gak suka situasi ini. rasa sesak itu kembali muncul, pikirannya kacau. Valdi juga keliatan emosi dengan masih ngomong kesana kemari.
“Aargggh…” Zia memegangi perutnya
“Ra! Kenapa?” Valdi panic
“Sakit kak, perutku… Arrraghh…” Zia terus mengerang kesakitan.
Beberapa kali saat Zia ngerasa pikirannya tertekan dan lagi dalam kondisi emosional atau sedih, mendadak perut Zia langsung sakit. Seperti ditusuk-tusuk, dan dia ngerasa mual. Seharian ini memang Zia seperti dalam tekanan. Pikirannya kacau.
“Yank, jangan bikin aku takut” Valdi heboh, dia mengusap perut istrinya.
Zia terus menangis sambil merasakan sakit diperutnya. “Kak sakit…”
“Iya sayank… aku panggil Mama ya” kata Valdi yang sudah berkaca-kaca.
Zia ngangguk dan terus nangis sambil ngusap perutnya. Valdi langsung berlari keluar kamar memanggil Mamanya. Tak lama Valdi dan Mama datang ke kamar. Valdi langsung ngusap perut Zia.
“Kenapa Zi?” tanya Mama khawatir
“Sakit Ma…”
“Ambilin minum Val” pinta Mama
Valdi keluar kamar, dan kembali dengan memabawa segelas air putih. Diikuti Arga dan Niken dibelakangnya.
“Kenapa?” Tanya Niken
“Perut Zia sakit” kata Mama sambil bantu Zia minum.
“Rileks Zi, tenangin pikiran kamu. Coba dzikir, ajak ngomong anak kamu” kata Niken sambil duduk disamping Mamanya.
“Aku panggil Bidan Rima dulu” kata Arga sambil berlari keluar kamar.
“Ra, tenangin pikiran kamu. Maafin aku ya” kata Valdi sambil nyium kepala Zia.
“Gimana rasanya Zi?” tanya Bidan Rima yang baru datang, dia langsung memeriksa kondisi Zia. Dia Bidan yang tinggal dekat rumah Zia.
“kayak ditusuk-tusuk gitu mbak, sesak juga mual.” Jawab Zia yang udah mulai tenang, meskipun kadang wajahnya mengernyit menahan sakit.
“pikirannya coba ditenangkan ya, hamil itu pikirannya gak boleh stress. Kamu juga ada masuk anginnya ini Zi” katanya. Dia meminta Zia meminum obat yang tadi udah dia siapin.
“terus kandungannya gimana?” tanya Mama Zia
“InsyaAllah gak papa kog, dia kuat. Nanti aku kasih penguat kandungan sama vitamin aja. 5 jam setelah minum obat kalau masih ngerasa sakit mending langsung ke rumah sakit, buat mastiin aja”
“Iya, makasih ya Rima” kata Mama Zia
“Iya tante” jawab Rima sambil senyum
“suaminya tolong dibantu ya Zia, bikin suasana hatinya seneng terus, diajakin bercanda ngobrol ringan.”
“Iya” jawab Valdi singkat
“Sehat terus dong bumil, anak kamu termasuk kuat lo ini, konsumsi vitamin sama susunya jangan telat, makannya juga dijaga, terus air putih dibanyakin Zi” pesan bidan Rima
“Iya, makasih ya mBak, malah ngrepotin” kata Zia yang keliatan udah mulai tenang setelah minum obat.
“Santai aja” kata Rima sambil senyum.
Tak lama Rima pulang, sekarang dikamar Zia sudah ngumpul Mama, Papa, Arga, Niken dan Valdi. Valdi masih setia duduk disamping Zia dengan ngusap perutnya.
“ada apa sih sebenernya? Kalian tengkar?” tanya Mama memulai obrolan.
Zia dan Valdi saling lirik, tak lama Zia ngangguk. Valdi menghela nafas panjang.
“maafin Valdi Ma, Pa. tadi memang Valdi sempat kesal dan marah ke Zia” kata Valdi nunduk
__ADS_1
“kenapa? gak biasanya kamu marah ke Zia?” tanya Papa
“Tadi saat ke minimarket, Zia ketemu sama Gama” kata Valdi
Semua orang disitu kaget, karena jujur ini yang mereka khawatirin. Mantan suami Zia itu gak bisa ketebak. Dan juga Zia sendiri lagi hamil jelas ini berpengaruh ke janinnya.
“Gama? Dia ngapain kamu Zi?” Arga keliatan emosi
“Dia Cuma ngajak ngobrol, tapi aku yang emosi karena saat aku datang Gama maksa meluk Zia, dan akhirnya tadi aku ngehajar dia. Saat emosiku udah mulai reda, Zia cerita kalau beberapa hari kemaren dia ngerasa ada yang nguntit dia, dan dia yakin ada hubungannya sama Gama”
“Hah?” Arga keliatan mengepalkan rahangnya
“Aku marah dan kecewa sama Zia, karena dia gak bilang ke aku, dan milih nyimpen semuanya sendiri. Jadi tadi aku sempet marah dan bentak dia”
“kak…”Zia megang lengan Valdi, suaminya itu tersenyum
“maaf” kata Valdi sambil ngusap pipi Zia “Aku Cuma khawatir sama kamu Ra” Zia ngangguk.
“Gama…” gumam Papa “Arga, kamu ikut Papa, kita datangi rumahnya” Papa Zia keliatan sangat emosi.
“Percuma Pa, Gama udah gak tinggal dirumah itu, dan keluarganya sendiri juga gak tau dimana Gama sekarang” kata Arga yang juga emosi.
Mereka semua keliatan cemas, terlebih mereka juga khawatir sama kondisi Zia. Tapi dari situ mereka bisamelihat bagaimana Valdi sangat menyayangi istrinya, terbukti dia terus mengusap perut dan memperlakukan Zia dengan sayang.
“Yaudah kamu istirahat dulu Zi” kata Papa “Val, temenin istrimu, balikin suasana hatinya jadi senang. Papa gak mau anak dan calon cucu papa kenapa-napa” kata Papa sambil nepuk bahu Zia
“Iya Pa” jawab Valdi sopan.
Sepeninggal mereka semua, Valdi dan Zia keliatan canggung. Meski begitu Valdi masih terus mengusap bahkan mencium perut Zia dengan sayank.
“anaknya doang yang dicium, aku juga mau” ucap Zia pelan
Valdi menatap ke Zia, dia tersenyum dan menyentil dahi Zia pelan.
“Jangan bikin aku khawatir terus Ra, aku sayang sama kamu dan calon anak kita. aku bakal jadi orang terbodoh kalau sampai kalian kenapa-napa” kata Valdi
“Iya, maafin aku kak”
“Iya, aku juga minta maaf. Masih sakit?” Valdi member perhatian
“udah mendingan”
Mereka saling tatap, Valdi membenarkan rambut Zia yang berantakan diwajahnya. Mereka salig senyum.
Cup…
Valdi mencium Zia sekilas.
Cup… kecupan rasa sayank.
Setelah beberapa kali memberikan kecupan singkat, Valdi menahan tengkuk Zia, mencium bibir Zia dengan dalam, saling menautkan, memberikan segala rasa ke Zia. Setelah cukup lama dipelaslah ciuman itu.
Valdi kembali natap Zia, dia tersenyum. Matanya berkaca-kaca, ada sedikit cairan bening di sudut mata Valdi, yang setelah berkedip turun butiran air bening ke pipinya, Valdi menangis. Zia sedikit kaget. Tapi dia tersenyum dan mengusap pipi Valdi lembut.
“Aku sayank banget sama kamu Ra, sayank bangeet…” ucap Valdi lembut.
Zia ikut menangis “Makasih kak, makasih buat semua rasa yang kakak berikan ke aku”
Keduanya sama-sama diam, saling tatap dan tersenyum. Perlahan Valdi mengarahkan Zia untuk tidur disebelahnya. Mengusap kepalanya dengan lembut.
“istirahat ya, aku gak mau kamu sakit kayak tadi” kata Valdi penuh perhatian.
“tapi temenin, aku pengen perutku di usap terus sama kamu” ucap Zia
“Manja!” kata Valdi sambil nyentil kening Zia pelan.
“Biarin!” cibir Zia
Mereka berdua sama-sama ketawa, hari ini keduanya sudah mengalami hal yang mengejutkan. Dan secara gak langsung itu membuat kandungan Zia sakit. Mungkin anak mereka peka kalau kedua orang tuanya sedang dalam mode bertengkar.
__ADS_1
Saat keduanya akur dan saling manja begini, buktinya kandungan Zia anteng-anteng aja. Keduanya sama-sama mempunyai maksud yang baik, intinya mereka hanya mau saling melindungi, tanpa mau member beban berlebih ke salah satu pasangannya.
***