
"apa apaan kamu mas, kamu hanya memberiku uang bulanan 1,5 juta kamu pikir ini cukup untuk kebutuhan sebulan? sedangkan ibu kamu kasih uang bulanan 2,5 juta" hardikku
beginilah setiap kali mas heru gajian, dia hanya memberiku uang bulanan 1,5 juta sedangkan untuk ibunya di jatah sebanyak 2,5 juta. padahal sudah sering kali aku protes atas ketidak adilan mas Heru dalam memberi uang bulanan, sebagai istri aku tidak pernah melarangnya memberi uang pada ibunya, karna aku tau anak laki-laki sampai kapanpun masih milik ibunya meskipun dia sudah menikah, tapi bukan berarti dia lalai dengan kewajibannya sebagai suami yang harusnya juga menafkahi istrinya secara layak.
"udahlah Wulan gak usah membantah karna kuberi segitu, seharusnya kamu jadi istri pandai-pandai bersyukur, sudah Bagus masih ku beri nafkah, sedangkan kamu aja gak melakukan apa-apa di rumah ini" ucapnya lalu pergi meninggalkan ku begitu saja.
selalu seperti ini setiap kali aku protes atas nafkah yang dia berikan. bagaimana aku tidak protes uang yang di berinya hanya untuk kebutuhan dapur, air, listrik dll, bahkan sering kali uang itu tidak cukup sampai akhir bulan, dan selebihnya aku yang harus memutar otak mencari cara untuk menutupi kekurangan itu! bahkan di akhir bulan sering kali aku berhutang di warung bu siti untuk sekedar belanja bahan dapur.
mengeluh sama mas heru pun percuma, karna sudah pasti dia gak mau tau tentang itu! yang dia tau adalah, dia sudah memberiku nafkah setiap dia gajian. padahal ibu juga sering kali minta uang padaku, ketika uang bulanan yang di beri mas heru habis.
hari sudah semakin siang tanpa menunggu lama lagi aku segera pergi ke warung bu siti untuk belanja sekaligus membayar hutang belanjaanku sebelumnya
__ADS_1
"siang bu siti" sapaku
"eh,, ada mbak wulan, mau belanja mbak?"
"iya bu"jawabku sambil memilih belanjaan yang akan kumasak hari ini. "ini bu sudah, berapa semuanya bu? sekalian sama belanjaan yang kemarin bu" ucapku
"ini totalnya 43000 di tambah belajaan yang kemarin 55000 jadi total semuanya 98000 ya mbak"
segera kuberi uang lembaran seratus ribu untuk membayar total belanjaanku pada bu siti, "ini bu uangnya"
lalu segera aku melangkah cepat keluar dari warung bu siti agar cepat sampai di rumah, karna aku harus cepat memasak untuk makan siang karna memang sudah waktunya makan siang.
__ADS_1
"dari mana kamu wulan" bentak ibu mertuaku
"dari warung bu belanja" jawabku singkat
"ini sudah jam berapa? kenapa kamu belom masak makan siang, kamu mau lihat ibu kelaparan karna menunggumu yang hanya leha-leha di kamar" sentak ibu mertuaku lagi
begitulah ibu mertuaku, padahal sudah jelas jelas aku baru pulang dari warung bu siti dengan menenteng kresek belanjaan. dan ini, beliau malah memarahiku karna aku telat memasak makan siang, padahal ada anak gadis kesayangan nya di rumah,kenapa selalu menunggu untuk memasak makan siang untuk mereka.
"wulaaaan, lama banget sih masaknya, kami sudah kelaparan menunggumu" teriak ibu mertuaku
"iya bu ini sebentar lagi selesai" ucapku pelan
__ADS_1
sabar itulah yang harus kulakukan sekarang, karna percuma aku mengeluh pada suamiku, dia pasti akan menjawab dengan. "sabar sayang, sebenernya ibu orangnya baik,pengertian kamu harus sabar menghadapi ibu, karna bagaimanapun juga surga mas masih pada ibu, kamu tahu kan mas anak lelaki satu satunya ibu, mas wajib menghormati ibu" selalu begitu jika aku mengeluh atas sikap ibu yang setiap hari tambah semena mena padaku.
masakan pun sudah selesai kuhidangkan di atas meja makan, ibu dan adik iparku pun langsung duduk di kursi meja makan dan mulai makan dengan lahap, mungkin beliau memang benar benar lapar karna memang ini sudah sangat melewati jam makan siang.