Uangku Bukan Berarti Uangmu Mas

Uangku Bukan Berarti Uangmu Mas
bab 22


__ADS_3

"dasar menantu kampungan, bo*oh" cemooh nya lagi dibelakang ku.


memang aku berasal dari kampung, tapi setidaknya aku tau cara menghormati orang lain, tidak seperti dirinya yang selalu saja merendahkan orang lain. sudah seperti paling benar aja hidupnya, seharusnya di usia nya yang semakin hari semakin bertambah, dia bertaubat dan memperbaiki diri bukan malah semakin menjadi jadi seperti ini.


"dasar perempuan mand*l, mimpi apa si heru dulu kok bisa bisanya punya istri modelan kayak gitu" masih ku dengar suara ibu mertua yang mengatai ku mand*l, meski sudah sering dia mengatai ku mand*l tapi tetap aja rasanya sakit, menantu mana yang tak sakit hati apabila mertua nya mengatakan seperti itu, bahkan ibu juga tidak segan segan merendahkan ku di hadapan ibu ibu arisan.


bukannya aku tak menginginkan keturunan, hanya saja memang Tuhan belum mempercayakan aku dan mas heru memiliki momongan, mungkin aku harus sedikit bersabar lagi agar Tuhan segera mempercayakan kami memiliki anak.


"aku harus nyuruh heru buat segera nikahin Ratna biar aku juga cepet gendong cucu, kalo nunggu wulan kelamaan, buktinya sampe 3 tahun pernikahan masih aja belum pernah hamil" gumam ibu yang duduk di ruang tamu, masih bisa ku dengar karna memang aku berniat memanggilnya kesana untuk sarapan, tapi tanpa sengaja mendengar rencana ibu yang akan menyuruh mas heru untuk menikah lagi!! tapi tunggu, dengan siapa tadi kata ibu? Ratna? apakah Ratna yang sama dengan Ratna yang airin katakan tadi malam! kalau memang iya, berarti benar selama ini mas heru sudah tega menduakan ku dan menghianati pernikahan ini.


"tunggu aja pembalan ku mas" geram ku dalam hati. yaa, aku bertekad akan membalas semua perbuatannya padaku selama ini, termasuk dengan penghianatan ini, aku akan lihat sampai mana dia berani bermain api dengan gundiknya itu di belakang ku.

__ADS_1


dengan langkah pasti tentunya juga dengan pura pura tidak mendengar semua rencananya tadi aku memanggilnya untuk segera sarapan, "bu, sarapannya sudah siap" ujarku memberi tahu nya.


"sejak kapan kamu disitu" hardiknya marah, "kamu nguping ya" ucapnya lagi dengan gelisah takut takut kalau aku mendengar rencananya


"kenapa ibu marah seperti itu? memang ibu tadi bilang apa?" ucapku pura pura bodoh, padahal nyatanya aku sudah mendengar semua rencana nya tadi


"ya sudah kalau kamu tidak mendengar nya" ku lihat ada nafas kelegaan yang dia hembuskan, se akan akan memang tidak menginginkan aku mengetahui nya, memang nya kenapa kalau aku mengetahui rencana nya itu, bukankah itu lebih bagus jika aku lebih dulu mengetahui nya, aku juga bisa langsung meminta anaknya menceraikan ku bukan! bukankah dia juga sangat tidak menyukai ku karna aku tidak kunjung memberinya seorang cucu, sehingga dia mendukung anaknya berselingkuh di belakang ku.


apa yang kita tanam itu lah yang kita petik, apa yang kita tabur makan kita jugalah yang akan menuai hasilnya, bukankah seperti itu guys? setuju gak dengan pendapatku? komen di bawah ya guys.


melihat ibu yang sudah lahap dengan menu sarapannya, ku langkah kan kaki menuju kamar guna untuk membangunkan si beruang kutub lagi, siapa lagi kalo bukan mas heru, dia memang sangat susah sekali di bangunkan kalo weekend seperti ini.

__ADS_1


"mas bangun, ini sudah siang" bangun ku dengan mengguncang tubuh nya


"kamu apaan sih Lan, kamu tau gak kalo aku itu ngantuk, bisa gak sih kamu bangunin aku aga siangan dikit" bentak nya marah karna aku yang terus terusan membangunkannya


"mas, kamu bisa liat gak sih, ini tu udah siang udah jam 7, lagian kamu tadi malem pulang jam berapa? gak biasanya kamu kayak gini" tanyaku balik marah karna dia sudah berani membentak ku, bahkan selama menjalani pernikahan dengannya ini kali pertama dia membentak ku karna hal sepele seperti ini, "oke kalau kamu gak mau bangun, mulai saat ini aku gak bakalan lagi mau bangunin kamu" ancam ku berharap dia mau bangun, lagian walau weekend gini dia biasanya bangun pagi gak biasanya kayak gini.


menunggu hampir 5 menit "oke, kalau kamu gak mau bangun, mulai besok kamu bangun sendiri buat ke kantor, aku udah gak mau bangunin kamu lagi, tidur udah kayak kebo susah di bangunin" gerutu ku meninggalkannya menuju meja makan untuk mengisi perut sebelum melakukan tugas rumah seperti biasanya.


karna jemur pakaian sudah ku lakukan, sekarang tinggal melipat dan menyetrika baju yang dari kemarin memang ku biarkan menumpuk, berharap ibu atau anita akan membantu tapi nyatanya tidak, jangankan membantu yang ada mereka marah marah karna baju bajunya belum ku setrika.


baiklah ini terakhir kalinya aku melakukan ini, besok aku tidak akan melakukannya lagi, cukup punya ku dan mas heru yang akan ku cuci dan menyetikanya serta melipatnya. punya mereka akan ku biarkan saja, lagian Anita seorang perempuan yang suatu saat nanti akan menjadi seorang istri, dia harus bisa belajar untuk melakukan semua pekerjaan ini.

__ADS_1


__ADS_2