Uangku Bukan Berarti Uangmu Mas

Uangku Bukan Berarti Uangmu Mas
bab 21


__ADS_3

"boros gimana bu?" tanyaku heran, pasalnya dari segi mana aku borosnya, bukankah uang 1,5juta yang di beri anaknya sudah kugunakan dengan baik, mulai dari membayar PDAM, listrik, wifi, dan lain lain, sisanya juga ku buat belanja kebutuhan dapur, lalu dari segi mana aku bisa melakukan pemborosan itu.


jika di bulan bulan lalu ku tutupi kekurangannya dari uang tabunganku, namun tidak untuk bulan ini dan seterusnya.


kalian bisa menganggap ku bodoh karna selama ini mau aja di perlakukan seperti ini oleh ibu mertua, bahkan suami ku saja acuh jika ibu sudah memarahiku karna hal sepele yang tidak di sukainya, karna bagi suamiku kemarahan ibu padaku adalah hal baik, baginya ibu tidak memarahiku melainkan menasehatiku.


bisa kalian pikir secara logika menasehati dan memarahi versi ibu mertua. jika menasehati saja intonasi suaranya seperti itu lalu bagaimana dengan marah versi nya!.


"kalo bukan pemborosan terus apa namanya? hah" hardiknya melotot melihat ke arahku, seakan akan mau menerkam ku tidak Terima dengan pembelaan yang aku lontarkan padanya, "biasanya uang segitukan bisa sampe akhir bulan terus kenapa sekarang enggak" lagi, dia mempertanyakan hal itu lagi, bahkan ibu rumah tangga lain pun akan setuju dengan pendapatku bahwa uang yang di beri mas heru sebesar 1,5 juta itu tidak akan cukup jika harus memenuhi semua kebutuhan rumah tangga.

__ADS_1


bukan, bukannya aku tidak pandai bersyukur, hanya saja ini beda lagi kasus nya. jika dia bisa memberi ibu dan adiknya lebih banyak dari yang dia kasih kepadaku, lalu kenapa aku harus menutupi kekurangan ini dengan uang tabunganku. tidak, aku tidak akan melakukan itu lagi, cukup sudah aku di perlakukan seperti ini, kali ini keputusan ku sudah bulat aku tidak akan melakukan hal itu lagi.


dan juga, jika dia sampai benar terbukti menghianati ku, lihat saja aku akan langsung menggugat cerai nya tidak peduli dia setuju atau tidak dengan keputusanku nantinya, bagiku tidak ada kesempatan kedua atau ketiga pada seorang penghianat, karna sekali dia selingkuh maka seterusnya akan seperti itu.


"kali ini beda bu, kalo biasanya bisa sampe akhir bulan itu karna aku menutupi kekurangannya dengan uang tabunganku'' jawabku pelan dan santai agar ibu mengerti dengan ucapanku


" ya sudah kalo gitu, kamu beli ayamnya pake uangmu dulu, lagian kan memang kayak gitu seharusnya, seorang istri akan menutupi kekurangan suaminya, jadi adil namanya" dengan tidak tau malunya ibu berucap, tidak kah dia ingat dengan kejadian tempo lalu, saat itu aku lupa tidak membayar wifi, lalu aku meminta tolong mas heru untuk membayarnya karna kebetulan dia belum berangkat ke kantor. lalu kalian bisa tebak apa jawaban ibu? dia mengatakan aku yang harus membayarnya karna mas heru sudah memberiku uang untuk membayarnya. memang betul mas heru sudah memberiku uang bulanan tapi apa salahnya jika sesekali dia yang membayarnya, toh uang bulanan yang dia kasih sudah habis karna aku harus membayar belanjaan ibu di mamang sayur sebesar 354.000, jadi secara tidak langsung ibu lah yang menghabiskan uang bulanan itu bukan aku, dan ibu bilang itu tanggung jawabku untuk membayarnya, dia melarang ku untuk meminta uang lagi pada suamiku.


ku akui memang bulan ini gaji mas heru dia berikan full padaku, namun siapa bisa jamin kalo ini memang full gajinya, bukan mau berburuk sangka! tapi siapa yang percaya kalo uang semalam memang full gajinya.

__ADS_1


hem, baiklah kali ini aku mengalah, aku berjalan menuju kamar mengambil dompet lalu pergi kepasar dengan mengendarai motor yang kubeli waktu belum menikah dengan mas heru.


sampai pasar tidak hanya ayam yang kubeli, namun aku juga membeli beberapa bumbu dapur yang sudah mulai habis di rumah, juga membeli daging untuk ku masak rendang nanti malam.


selesai dengan semua belanjaanku, segera aku pulang untuk memasak ayam pesanan ibu mertua, agar dia tidak kembali mengomel di pagi hari yang cerah ini, bisa bisa pengang kupingku tiap hari harus mendengar ocehannya itu. "ya Allah maafkan aku yang sudah tidak sopan pada ibu mertua" doa ku dalam hati.


"sudah pulang kamu?"


"astaghfirullah" kaget ku mengelus dada karna tiba tiba melihat ibu sudah tepat berada di belakangku, tidak bisakah dia melihat kalo aku sudah pulang dan memasak ayam pesanannya, bahkan ayam yang ku masak pun sudah hampir matang.

__ADS_1


"kenapa kamu kaget gitu, kamu pikir saya hantu sampe kamu kaget kayak gitu" melotot matanya melihat kekagetanku tadi.


"maaf Bu" maaf ku, menghindar dari keributan yang akan terjadi jika aku terus meladeni ucapannya.


__ADS_2