
sekarang aku disini, di ruang makan bersama keluargaku. awalnya kami makan dengan khidmat tanpa ada orang yang berbicara atau bermain ponsel seperti kebanyakan orang lainnya, namun tiba tiba.
"kamu harus tegas sama istri mu itu her, sudah berapa kali ibu bilang jangan lembek, lama lama bisa ngelunjak dia"
"ada masalah apalagi sih bu, sudahlah kita bahas ini setelah selesai makan nanti" ucapku, agar ibu berhenti menyalahkan Wulan. karna jujur, aku merasa serba salah. satu sisi ada istriku yang harus kulindungi dan kubela, dan disisi lainnya ada ibuku yang harus kuhormati dan ku jaga perasaannya. karna bagaimanapun beliau adalah surgaku, surgaku ada pada ibuku, yang harus kuhormati dan ku turuti perintahnya, bukannya memang seperti itu seharusnya.
pov Wulan.
hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. tak terasa kini sudah 3 tahun aku dan mas heru menjalani biduk rumah tangga.
__ADS_1
awalnya aku keberatan dengan keputusan mas heru yang memintaku untuk tinggal bersama ibunya . karna setelah menikah aku ingin hidup mandiri seperti teman temanku lainnya yang hidup terpisah dari orang tuanya setelah menikah.
namun, bukan berarti kami melupakan kewajiban kami kepada orang tua. ya, kalian pasti tau lah kehidupan mandiri seperti apa yang aku inginkan setelah menikah.
bahkan setelah menikah mas heru menyuruhku untuk resign dari pekerjaanku, padahal aku ingin resign setelah hamil nanti. tapi, mas heru bersih keras melarangku untuk bekerja, dengan alasan supaya aku bisa fokus mengurus dirinya juga anak anak kita nanti, sekalian bisa program hamil katanya.
tapi, lambat laun ibu mertuaku dan adik iparku semakin menunjukkan ketidak sukaannya padaku. hanya karna aku yang tak kunjung memberinya seorang cucu, bagaimana aku bisa hamil dan memberinya cucu. jika setiap hari pekerjaan rumah selalu aku yang mengerjakan semuanya, mulai dari memasak mencuci menyapu dan mengepel, semuanya aku yang mengerjakan sendirian.
"kamu tuh ya jadi menantu jangan malas, udah gak bisa ngasi ibu cucu, gak kerja, tapi selalu aja menyusahkan heri dengan menodong gajinya setiap akhir bulan, kamu pikir nyari duit itu gampang" hardik ibu mertuaku
__ADS_1
"ya wajar dong kalo menodong gaji suamiku sendiri, dari pada ibu yang selalu menodong gaji suamiku padahal ibu sendiri masih punya uang pensiunan dari almarhum bapak" ucapku melawan
kulihat raut wajah ibu kaget ketika aku membalas perkatanya. karna yang ibu tau selama aku jadi istrinya mas heru, aku selalu diam ketika ibu dan adik iparku merendahkanku dan menjelek jelekan ku di belakang ataupun di hadapan mas heru.
tapi kali tidak, sudah cukup selama 3 tahun aku selalu bersabar dan menerima semua perlakuan ibu dan adik iparku padaku.
"heh kakak ipar lak**at, seharusnya lo tu sadar diri" dengan angkuh dia menunjukku "jelas wajar dong kalo mas heru ngasih ibu uang, kamu lupa ya kalo mas heru itu tulang punggung keluarga" lanjutnya membentakku
kan bener, emang minus akhlak sekali adik ipar ku ini. dari awal aku datang ke rumah ini pun dia sudah seperti ini, tidak ada sopan santunnya sekali padaku sebagai kakak iparnya.
__ADS_1
"heh seharusnya lo tu juga sadar diri" kini aku balik yang menunjuknya. "sekolah di biayain bukannya rajin malah sering absen kelas" lanjutku, biarlah sekali ini saja aku melawan. memang seharusnya dia sadar diri kan kalo sekolahnya di biayain sama kakaknya yang secara garis beras adalah suamiku, bukannya sekolah yang rajin dia malah sering absen di sekolahnya.
jangan tanya aku tau dari mana kalo adik iparku ini sering absen di sekolahnya. karna jelas aku tau dari temanku yang berprofesi jadi guru, dan kebetulan dia mengajar di sekolah yang sama dengan adik iparku sekolah.