Uangku Bukan Berarti Uangmu Mas

Uangku Bukan Berarti Uangmu Mas
bab 10


__ADS_3

aku tersenyum penuh kemenangan!! sangat senang rasanya karna mulai bulan depan aku bisa memegang seluruh keuangan mas heru, mungkin diriku akan terlihat serakah bagi orang orang yang tidak tau dengan kehidupan yang aku jalani sekarang, karna dengan seenaknya meminta semua uang gaji suami.


tapi bukankah itu wajar, jika seorang suami harus terlebih dahulu memenuhi semua kebutuhan istrinya. namun bukan berarti aku melarang mas heru untuk memberi uang pada ibu dan adiknya, karna aku sadar sebagai anak lelaki ia masih milik ibunya terlepas dia sudah menikah atau belum, dan dia juga wajib berbakti pada ibunya.


tapi bukan berarti dia mengabaikan tanggung jawabnya padaku, sudah cukup aku mengalah selama ini, bahkan jika ingat dia hanya menjatahku sebanyak satu setengah juta untuk keperluan dapur, rasa rasanya aku sangat marah sekali!! kalian pasti juga tau kan kalo hampir semua kebutuhan dapur itu naik, apalagi dengan jatah uang segitu yang harus cukup kubagi bagi untuk kebutuhan dapur, air, listrik, dan sebagainya. itupun kadang kadang terpotong karna diminta ibu untuk bayar arisan atau uang jajan anita, padahal aku tau hampir seluruh uang gaji mas heru di berikan pada ibu, tapi yang aku heran kenapa selalu habis sebelum waktunya, dan selalu saja merongrong uang dapurku.


dan ketika aku mengatakannya pada mas heru perihal ibu yang selalu meminta uang dapurku, mas heru marah dan bilang kalo aku yang terlalu boros dalam mengatur uang. pernah suatu hari dia memergoki ibu yang meminta uang arisan padaku, ku pikir setelah dia melihat sendiri dengan mata kepalanya dia akan mulai percaya padaku, tapi ternyata aku salah! bahkan dengan gampang nya dia menyuruhku untuk memberi uang yang ibu minta dengan dalih uang yang dia berikan padaku juga ada hak ibu di dalamnya.

__ADS_1


karna walau bagaimanapun pekerjaan dan jabatan yang sekarang dia dapatkan adalah hasil dari jerih payah ibu yang menyekolahkan dia sampai sarjana, dan di sertai dengan doa ibu maka sekarang dia dapat pekerjaan yang mapan dan mendapat jabatan sebagai manajer dengan gaji puluhan juta seperti sekarang! begitu katanya.


tapi walaupun begitu, tidak seharusnya dia bersikap tidak adil begini padaku, ku akui memang pekerjaan dan jabatan yang dia dapatkan sekarang tidak luput juga ada doa ibu di dalamnya, tapi jangan lupa juga kalo doa istri juga turut menyertainya. jangan hanya karna berpatokan baktinya pada ibu maka dia bisa berbuat dzolim pada istrinya.


dengan mengabaikan kebutuhan istri dan hanya memberi uang nafkah yang tak seberapa menurutku, bukankah itu sedah termasuk dzolim pada istrinya. bukan, bukan aku tidak bersyukur dengan uang yang dia berikan, hanya aku merasa tidak adil dengan pemberian nafkah ini. seharusnya dia juga tahu bahwa setiap kebutuhan yang ada di rumah ini akulah yang mengaturnya, bahkan uang di berikan mas heru pada ibu pun hanya untuk keperluan nya sendiri, sedangkan uang yang di berikan padaku untuk memenuhi semua kebutuhan disini, bahkan hanya untuk urusan perutnya pun ibu enggan untuk mengeluarkan sepeser uangnya.


drrt ddrrrttt

__ADS_1


kulihat nama airin lah yang memanggil, gegas ku angkat telpon darinya "iya halo rin" jawabku


"halo lan, gimana dengan tawaranku?" tanya to the poin


"aku mau rin, tapi apa bisa untuk sementara waktu aku mengerjakannya dari rumah? " tanyaku


"iya gpp lan, aku ngerti pasti suami toxic mu tidak mengizinkan kamu kembali kerja kan" tebaknya, karna sebelumnya memang aku sudah cerita tentang mas heru padanya, bukan niat membuka aib suami sendiri, tapi bukankah demi kewarasan mental dan pikiran aku harus cerita pada orang yang tepat, dan airin lah orang yang tepat menurutku, karna airin sudah ku anggap sahabat bahkan saudara bagiku, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


"kamu bener rin, mas heru keberatan kalo aku balik kerja kayak dulu lagi" kuceritakan semua kejadian tadi dan tentang syarat yang ku ajukan, dan airin mendukungku serta membenarkan semua tindakanku.


__ADS_2