
"iya bang Ibu bener" kini giliran ku yang setuju dengan pendapat Ibu
"masalahnya Ratna gak mau kalo di nikahin secara siri bu"
_________________
aku bingung harus gimana! sedangkan Ibu menuntutku untuk segera menikahi Ratna, padahal sudah jelas Ibu juga mengetahui kalau peraturan di kantor melarang keras yang namanya poligami.
cucu!! Ibu menginginkan seorang cucu dariku, bukan tanpa alasan ibu menyuruhku untuk segera menikahi Ratna, selain wulan yang sekarang berubah menjadi pembangkang dan suka melawan pada kami semua, ibu juga tidak pernah suka terhadap wulan, menurut ibu, wulan itu perempuan miskin, kampungan juga tak berpendidikan.
__ADS_1
aku memang tidak pernah cerita pada ibu, bahwa sebelum aku menikahi wulan, pekerjaan dan jabatan wulan jauh di atas ku sehingga aku menyuruhnyaa, ah tidak! lebih tepatnya memaksanya resign dari pekerjaannya, dengan alasan supaya dia lebih fokus menjadi Ibu rumah tangga dan mengurus anak anak kita nantinya.
mendengar kata anak! wulan langsung menyetujui usulan ku, memang awalnya kami tidak berniat untuk menunda memiliki momongan, walaupun ku pribadi, lebih memilih untuk menundanya, tetapi karna kasihan kepada Ibu sehingga aku memutuskan untuk tidak menundanya, karna Ibu sangat menginginkan kehadiran seorang cucu agar tidak kesepian ketika di tinggal kerja olehku dan di tinggal anita sekolah.
tapi ternyata sampai tiga tahun usia pernikahan kami, tidak sekalipun ada tanda tanda kehamilan pada diri wulan, itu juga salah satu penyebab Ibu tidak menyukai wulan, menurut Ibu wulan yang bermasalah alias mand*l, meskipun berkali kali wulan membantah tuduhan Ibu dengan mengatakan bahwa dirinya tidak bermasalah! aku juga tau itu, karna saat itu aku sendiri yang mengantarnya ke rumah sakit dan aku sendiri juga yang mendengar hasilnya, dokter mengatakan kalau dia baik baik saja alias tidak mand*l.
bukankah seorang dokter bisa salah mendiagnosa, kalau aku sendiri! tidak usah periksa, karna aku sangat yakin kalau aku tidak ada masalah, Ibu juga bilang gitu, yang bermasalah pasti wulan bukan aku, karna dalam sejarah keluargaku semuanya memiliki keturunan tidak ada yang mand*l, jadi kesimpulannya disini wulan yang bermasalah bukan aku!.
"gak bisa bu, heru gak mau cerai sama wulan, heru cinta sama wulan bu" Ibu merongrong ku untuk menceraikan wulan, ku akui bahwa aku telah menghianati nya, namun bukan berarti aku mau menceraikannya, aku mendua dan berselingkuh di belakangnya pun hanya untuk kesenangan semata, tidak ada niat untuk menikahi Ratna sama sekali.
__ADS_1
meskipun bosan melihat wulan yang setiap hari hanya mengenakan daster, apalagi di tambah sekarang dia yang berubah menjadi pembangkang dan suka melawan, entah karna hasutan siapa dia bisa berubah begitu, padahal dia jarang keluar rumah bahkan pegang ponsel pun jarang, entah kedapatan hasutan dari setan mana dia, sepertinya kapan kapan aku harus membawanya ke orang pintar supaya jadi penurut lagi seperti dulu.
memikirkan perubahan wulan membuat ku pusing, ku lirik Ibu dan anita yang masih setia duduk di sampingku.
"xixixixi" tawa cekikikan yang keluar dari bibir Ibu, entah dia berbalas pesan dengan siapa di ponselnya, sampai sampai cekikikan seperti itu.
"her, besok Ibu minta uang buat bayar arisan di komplek sebelah" kini atensinya beralih melihatku setelah sekian menit tertawa cekikikan menghadap ponsel nya,
"kan minggu lalu uang bulanan Ibu udah heru kasih bu, masak udah habis sih" tanyaku, pasalnya selama ini uang bulanan Ibu jumlahnya lebih banyak dari uang dapur wulan.
__ADS_1
"ya udah habis lah her, kamu ini sama Ibu sendiri kok perhitungan gitu sih" dengan entengnya Ibu mengatakan uangnya sudah habis, heran sungguh heran, meskipun aku tau Ibu mengikuti beberapa grub arisan, tapi yang aku tau setiap bulannya tidak akan lebih dari 1 juta uang Ibu keluarkan untuk membayar arisan arisan itu, lalu kenapa sekarang Ibu mengeluh uang nya habis. Ibu belanjakan apa saja uang itu, keluar rumah pun Ibu jarang bahkan hampir tidak pernah kecuali hanya untuk membayar arisan, kumpul dengan teman temannya pun hanya saat arisan, lalu Ibu kemanakan uang itu. seharusnya uang yang ku kasih bisa Ibu tabung untuk keperluan mendesak jika di butuhkan.