
Hy semua !
_
_
_
Keheningan masih menyelimuti Mira dan Revan meskipun mobil yang mereka tumpangi sudah keluar dari kawasan sekolah.
Mira masih canggung dan sejujurnya rasa sakit yang Revan goreskan masih terasa ada.
" Gimana kabar kamu ? " Tanya Revan berusaha mencairkan suasana.
" Baik "
" Kamu kemana aja selama ini ? "
" Masih di negara ini "
" Maksud aku kamu... Ah udah lah " Akhirnya Revan menyerah untuk berbincang dengan Mira.
Mira hanya diam tidak menanggapi, untuk nya tidak ada yang penting lagi yang harus dibicarakan. Ah akhirnya dia teringat sesuatu.
" Van " Panggil Mira.
" Apa ? " Jawab Revan cepat.
" Udah ya , sampe sini aja "
__ADS_1
" Kantor kamu masih jauh loh ,Mir. Yakin mau turun disini " Revan berusaha membujuk Mira.
Mira menarik napasnya dan membuangnya kasar.
" Maksud aku , cukup sampai disini aja. Kita udah ga ada hubungan apa - apa lagi , kamu ga usah terlalu deket sama aku. Kamu menjauhlah dari ku dan dari Arga "
" Kenapa ? " Hanya kata itu yang mampu Revan ucapkan , dia tidak menyangka bisa merasa sesakit ini mendengar Mira yang memintanya menjauh .
" Kamu masih nanya kenapa , Van ? " Sabar Mira sudah habis .
" Aku tau aku udah nyakitin kamu , Mir. Tapi , apa kesempatan itu udah bener - bener ga ada buat aku ? " Pinta Revan.
" Kamu punya banyak kesempatan, Van. Kamu punya 7 tahun buat nyari aku , tapi sedetikpun ga ada usaha kamu. Sekarang saat tiba - tiba ketemu lagi , kamu bilang Arga anak kamu dan minta kesempatan sama aku ? Apa kamu ga keterlaluan, Van ? " Mira terkekeh sinis.
" Aku tau, Mir. Aku tau udah keterlaluan , tapi apa kamu ga tega sama Arga ? Dia butuh sosok seorang Ayah "
" Kalo Arga butuh seorang Ayah , aku bisa kasih. Kami udah biasa hidup tanpa kamu , jadi buat apa aku hadirin kamu lagi ? " Revan menggeram marah , dia benar - benar tidak suka mendengar gagasan Mira tentang memberi Ayah untuk Arga.
Namun sedikitpun kemarahan Revan membuat Mira gentar , dia bukan lagi Mira yang dulu yang bisa seenaknya Revan injak dan campakan.
" Siapa yang bilang ? Kamu bilang Arga anak kamu ? Cuma kamu yang berhak jadi ayahnya ? Aku tanya sekali lagi , kemana kamu dulu ? Kamu ngerasa pernah berbuat itu sama aku harusnya tau kalau aku pasti ngandung anak kamu. Tapi kenapa kamu ga cari aku , kenapa Van ? "
Revan kehabisan kata - kata , apa yang Mira katakan adalah kebenaran yang tak bisa Revan elak lagi.
" Kamu bukan orang sembarangan, Van. Cukup balikin telapak tangan kamu aja , kamu bisa tau aku ada dimana " Mira meluapkan amarahnya yang tersisa.
" Aku harap kita ga akan ketemu lagi , udah cukup Van. Biarin aku dan anakku hidup tenang , tolong turunin aku disini " Mira menunjuk halte di depannya.
" Aku... "
__ADS_1
" Cukup Revan ! Aku bilang cukup . Aku mau turun atau aku buka pintu ini sekarang ?! "
Revan mengalah dan berhenti tepat di depan halte yang Mira tunjuk , Mira turun dari mobil Revan dan membanting pintu nya.
Seakan itulah amarah yang bisa ia tunjukkan pada Revan untuk terakhir kalinya.
Mira duduk di halte dengan air mata yang bercucuran , sejak ia membuka pintu mobil Revan sejak itu pula air matanya meluruh.
Beberapa pasang mata yang ada di halte itu pun hanya bisa melihatnya , tidak ada yang berani mendekati nya seakan tau jika wanita itu hanya butuh waktu untuk sendiri.
" Mba , Mba ga apa - apa ? " Tanya seorang pria yang seumuran dengan Mira .
Pria yang entah datang darimana dan dengan berani nya bertanya pada Mira saat orang lain hanya bisa menatap nya iba.
Mira menolehkan kepalanya dan sedikit kaget dengan pria yang ada di hadapannya.
" Mira ?! Kamu Mira kan ? " Tanya pria itu.
Mira hanya mengangguk kan kepalanya , enggan untuk menjawab.
" Kamu masih inget aku kan ? Aku Raka , kita pernah sekelas waktu SMA "
Mira hanya menganggukkan kepalanya lagi , sejujurnya ia sedikit malu karena bertemu dengan teman lamanya dalam keadaan seperti ini.
_
_
_
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung , vote , like and komen !