
Hai para readers !
_
_
_
" Arga gk boleh cengeng, Arga bisa anggap Om Revan sebagai Papa Arga. Kalau mau panggil Papa aja " Ucap Revan berusaha menenangkan Arga.
" Tolong anda jangan berbicara sembarangan " Ucap Mira dingin.
" Di saat kayak gini kamu masih memikirkan ego mu ? " Tanya Revan.
Apa yang di katakan Revan memang benar ada nya. Mungkin dia harus mengurangi kadar ego nya sedikit demi putra kesayangan nya.
" Apa itu bener, Ma ? Arga boleh memanggil Om Revan sebagai Papa Arga ? " Tanya Arga dengan nada gembira.
" Iya boleh kok " Jawab Mira yang tak tega melihat putra nya itu menangis lagi.
" Papa " Ucap Arga dengan nada gembira. Mendengar panggilan yang Arga ucap ia sangat bahagia dan terharu.
Makanan yang mereka pesan pun tiba, lengkap dengan makanan tambahan yang tadi Revan pesan.
" Arga jangan lupa baca doa ya sayang " Ucap Mira mengingat kan anak nya itu.
" Papa, boleh gk Arga minta sesuatu ? " Pinta Arga.
__ADS_1
" Kamu mau apa sayang ? Jangan aneh - aneh " Tegur Mira.
" Bilang aja sayang " Ucap Revan.
" Tolong jangan memanjakan anak saya " Ucap Mira berusaha mengingatkan Revan, takut anak nya itu meminta yang aneh - aneh.
" Boleh kah kalau Papa yang mimpin doa ? " Tanya Arga.
" Boleh kok " Jawab nya Revan dengan senyum manis.
Sejujurnya ia tak tega membiarkan ayah dan anak itu terpisah, tapi apa mau dikata rasa sakit berkhianati itu masih terngiang - ngiang di pikiran nya.
Ia masih sedikit mencintai Revan tapi rasa kecewa telah melebihi nya. Apalagi Mira masih sungkan dengan kehadiran Revan yang tiba - tiba ini.
Setelah mereka berdoa, mereka mulai makan bersama ada aura hangat yang menyelimuti mereka meski tidak ada pembicaraan di antara Mira dan Revan.
" Ma, Arga gk mau ini juga " Ucap Arga dengan menyisihkan wortel nya.
" Arga, kamu harus banyak - banyak makan sayur " Ucap Revan yang berusaha membujuk anak kecil itu tanpa ia sadari jika ia juga sedang menyisihkan sayuran yang ada di piring nya.
Mira yang melihat hanya terkekeh dalam diam saat melihat sepasang Ayah dan Anak yang sama - sama tidak suka dengan sayuran .
" Tapi Papa juga sama - sama menyisihkan sayuran nya " Arga menujukkan piring yang ada sayuran.
Revan yang baru menyadari pun tergelak sendiri. Kenapa ia menyuruh anak kecil itu makan sayur padahal ia sendiri saja tidak suka.
Hancur sudah image Papa yang kece. Di lirik nya sedikit Mira sedang menahan tawa. Wajah Revan yang memerah padam membuat tawa Mura meledak seketika.
__ADS_1
" Hahaha " Tawa Mira menggelegar.
" Ya ampun, wajah mu itu loh kayak waktu Sma hahaha " Ucap Mira tanpa ia sadari memanggil Revan tanpa embel - embel.
Sebuah senyum terbit di bibir Revan , menyadari jika mantan istri nya itu masih mengingat nya.
Mira yang baru sadar dengan kelepasan berbicara itu pun langsung diam. Sungguh gawat berada bersama Revan terlalu lama , dinding pertahanan yang ia buat bisa - bisa hancur tiba - tiba.
" Ehem " Mira berdehem pelan, berusaha menetralkan tenggorokan yang tiba - tiba kering.
" Mau minum, Mir ? " Tanya Revan.
" Nggk, terima kasih " Tolak Mira.
Ada rasa kecewa yang muncul di hari Revan sebab Mira dari Sma sampai jadi istri nya tidak pernah menolak apa yang ia beri.
" Arga makan nya jangan lama - lama ya, Mama harus cepet balik ke kantor " Jelas Mira yang mulai mengabaikan Revan lagi.
" Papa kerja di mana ? Sama kayak Mama ? Waktu itu Arga liat Papa di kantor Mama " Ujar nya dengan tiba - tiba, sebab dari kemarin bertemu dengan Revan namun ia belum sempat menanyakan nya.
" Enggk sayang, Papa kerja di Dream Company, klo udah besar kamu pasti tau " Ucap Revan dengan mengusap kepala Arga.
•
•
•
__ADS_1
Jangan lupa dukung, vote, like and koment !