
"Assalamualaikum." Dua orang berjalan beriringan masuk kedalam kelas. Mengundang perhatian dari semua penghuni yang ada didalamnya. Termasuk Rayhan dan Agung yang tadi sibuk membahas tugas nya.
Lisa yang tadi sibuk berdandan juga menghentikan aktivitasnya.
"Waalaikumsalam." Jawab semua hampir serentak.
Pria belasteran yang ada disamping Kayla sontak menjadi pusat perhatian para gadis, bahkan Lisa pun langsung mendekati Alex dengan percaya dirinya.
Setelahnya, Kayla membawa Alex untuk diantara nya dan Lisa. Kayla terlalu fokus menyimak obrolan Lisa dan Alex yang baru beberapa menit lalu saling mengenal tapi langsung menjadi akrab.
Sedangkan dipojok sana, Rayhan sudah melengos kesal melihat kedekatan Kayla dengan pria itu.
Rayhan masih sibuk menatap Alex dari kejauhan dengan mata elang nya hingga tak menyadari kalau Agung sudah menghampiri mereka.
"Selamat datang ya, nama lo siapa?" Tanya Agung sambil mengulurkan tangannya.
Alex tersenyum, lalu menjabat tangan Agung. "Alex, sahabat nya Ay." Jawab nya kemudian menoleh pada Kayla.
"Oh, lo sahabat nya Kayla? Nama gue Agung, dan ini sahabat gue Rayhan." Agung menepuk bahu Rayhan yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.
Alex tersenyum lagi, lalu mengulurkan tangan pada Rayhan. Tapi respon pria itu sungguh menyebalkan, dia hanya melirik tangan Alex lalu tersenyum sinis. "Rayhan!" Ketus nya lalu membuang muka.
Alex terkekeh, bingung dengan respon Rayhan terhadapnya.
"Lo pindah dari Mesir juga?" Agung bertanya lagi, sedangkan Rayhan sesekali mencuri pandang pada Kayla yang tengah mengobrol dengan Lisa.
"Iya, haha. Pindah kesini karena kangen Ay." Ucap Alex enteng. Mungkin Kayla, Lisa, dan Agung menganggapnya bercanda. Tapi tidak dengan Rayhan, pria itu langsung berdecih mendengar ucapan Alex.
Rayhan duduk di samping Alex, lalu menyikut lengan pria itu agar menjauh. Alex mengernyit bingung dengan kelakuan Rayhan, apa masalah nya? Baru pertama bertemu tapi seperti sudah menyimpan dendam pribadi padanya.
"Ninja." Rayhan memanggil Kayla, setelah mendengar ucapan Alex tadi Rayhan jadi mengerti kalau pria itu pasti memiliki perasaan pada Kayla. Dan Rayhan tidak rela jika miliknya diganggu orang lain.
Kayla menoleh, risih dengan panggilan baru Rayhan padanya. Tapi belum sempat menjawab, Alex lebih dulu menyela ucapan Rayhan.
"Ninja? Siapa yang kamu panggil ninja?" Tanya Alex sambil menarik bahu Rayhan, sebenarnya nada bicara nya biasa saja. Tapi sentuhan tangan nya dibahu Rayhan mengundang amarah pria itu.
__ADS_1
"Hati-hati tangan lo." Ucap nya memperingatkan. Lalu menatap Kayla lagi. "Ninja, gue mau bicara sama lo."
"Mau ngomong apa kak?" Tanya Kayla heran, pasal nya ini kali pertama Rayhan menyapanya duluan di depan orang lain.
"Jangan lupa sama janji lo!" Setelah mengatakan itu, Rayhan bangkit kemudian keluar kelas. Meninggalkan Kayla yang masih mencerna maksud ucapan nya tadi. Lisa juga yang mendengar ucapan Rayhan bertanya-tanya apa maksud kalimat pria itu.
Janji apa?! Kayla berperang dengan pikiran nya, mencerna ucapan Rayhan. Tapi kemudian getaran ponsel di dalam tasnya membuyarkan semua pikiran Kayla.
"Assalamualaikum. Halo kenapa bang?!" Tanya nya keheranan. Pasal nya dia tau abang nya tidak akan menelfon nya pada jam kerja, terlebih lagi sejak Tuan Wijaya terbaring koma dirumah sakit sejak itu pula Ian dan sekretaris Hendra lah yang mengehandle semua perusahaan.
"Papa keadaan nya drop dek, kalo bisa ke rumah sakit sekarang. Abang lagi di bandung, mungkin nanti sore baru bisa pulang." Suara Ian terdengar sangat berbeda dari biasanya yang selalu tenang. Kali ini Ian tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
"Innalillahi.. Makasih abang karena kasih tau Kay. Sebentar lagi Kay langsung kerumah sakit, abang selesain aja dulu urusan nya. Biar Kayla yang jaga papa, abang jangan khawatir ya." Kayla berusaha menenangkan abang nya, walaupun dirinya sendiri sangat gugam mendengar kondisi papa nya yang memburuk.
"Iya dek. Kamu tolong jaga papa sampai abang pulang ya. Bilang sama papa harus tunggu abang dulu."
"Iya bang. Assalamualaikum!" Pungkas Kayla langsung menutup sambungan telfon.
Lisa dan Alex yang sejak tadi mendengar langsung bertanya, tak kalah khawatirnya dengan Kayla. Karena beberapa kali Lisa menjenguk Tuan Wijaya, pria paruh baya itu keadaan nya memang makin hari makin memburuk.
"Ay, aku anterin ya. Kamu panik gitu bahaya kalau naik mobil sendirian." Alex menawarkan diri. Lisa juga langsung menyetujui usulan Alex, dia juga ingin ikut bersama sahabatnya.
Kayla menyetujui tanpa banyak berdebat, selain tidak ada waktu untuk itu. Juga yang dikatakan Alex memang benar. Akan berbahaya jika dia menyetir sendiri saat dalam suasana kalut seperti ini.
* * * * * * * * *
Setelah hampir setengah jam perjalanan yang hanya diisi keheningan. Tiga orang itu sampai dirumah sakit. Kayla langsung berlari menuju ruang perawatan papa nya, namun suster yang barusaja keluar dari ruangan itu mengabarkan jika Tuan Wijaya sudah dipindahkan keruang operasi karena harus segera dilakukan tindakan medis.
Lagi, Kayla berlari secepat nya menuju ruang operasi. Gadis itu benar-benar kalut, membayangkan akan terjadi hal buruk pada papanya. Kayla belum siap untuk segala kemungkinan terburuk. Dia bahkan belum sempat melepas kerinduannya setelah 4 tahun tak bertemu dengan papanya.
Sampai didepan ruang operasi, gadis bercadar itu langsung terduduk lemas di depan pintu. Kedua kaki nya sudah tak sanggup lagi untuk menyangga beban berat yang dirasakan Kayla. Badan nya bergetar, air mata sejak tadi sudah mengucur deras.
Sejak tadi, hanya rentetan kalimat dzikir yang dilafazkan gadis itu. Berdoa pada Allah agar papa nya baik-baik saja didalam.
Ya Allah, jagalah papa hamba. Berilah dia kesehatan ya Allah. Izinkan hamba menjadi anak yang berbakti disisa usia nya ya Allah. Engkau lah Maha pengampun Maha Pendengar ya Allah.
__ADS_1
Klek! Suara pintu terbuka setelah hampir 2 jam mereka menunggu di depan ruang operasi.
"Bagaimana papa saya dokter, apa udah sadar sekarang?!" Kayla langsung beranjak dan bertanya dengan harap-harap cemas.
"Forgive me." Dokter itu menunduk, tak sanggup memberi kabar buruk.
"We tried our best, but we couldn't save his life. God wills others!" Lanjutnya kemudian.
"No! My dad is still alive right doctor ?! Do not say my daddy died! He still turn on? Please say he's fine!" Kayla tersungkur jatuh kelantai. Kalimat yang diucapkan dokter bule itu sungguh tidak dipercayainya.
"Maafkan saya. Kami sudah mengupayakan yang terbaik untuk kehidupan papa anda. Tapi Tuhan lebih ingin menjaganya. Saya turut berduka." Pungkas dokter itu, kemudian berlalu dengan kepala yang menunduk.
"Innalillahi wa'inna ilaihi roji'un."
Kayla terduduk lemah, dia menangis sejadinya di lantai.
Langit nya runtuh, dunia nya hancur. Saat orang terakhir yang menjadi tempatnya menumpukan harapan dan kekuatan pergi meninggalkannya juga. Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba seperti runtuh dan menimpanya.
Dia kehilangan separuh jiwanya. Kayla begitu lemah dan tak berdaya.
"Kayla sabar ya.." Lisa ikut menangis sambil mendekap Kayla kedalam pelukan nya.
Mengapa semua terjadi begitu tiba-tiba, tak ada firasat apapun. Tak ada tanda-tanda bahwa papanya akan pergi secepat ini. Bahkan sebelum Kayla sempat berbakti sebagai seorang anak yang taat dan patuh.
Kini tak ada lagi yang berharga dalam hidupnya, syurga nya sudah lebih dulu meninggalkannya belasan tahun lalu. Dan kini, malaikat pelindungnya pun pergi. Tak adalagi teman hidup nya, semua sudah pergi.
Resmilah hari ini Kayla menjadi yatim piatu tanpa ayah dan ibu.
Allah lebih dulu memanggil papanya, sebelum gadis itu sempat mengucap kata maaf. Sebelum dia dan Ian menjadi anak yang membanggakan, menjadi harapan masadepan. Masih terlalu banyak dosa yang belum mereka hapuskan, masih terlalu banyak rencana yang belum mereka wujudkan. Dan masih terlalu banyak kenangan yang harus mereka lukiskan. Namun apa daya, tidak ada manusia yang bisa menghentikan kehendak tuhan. Lagi-lagi membuktikan, bahwa manusia bisa merencanakan, mempersiapkan dengan matang. Namun kehendak Tuhan tetap tidak bisa terelakkan.
Kayla lemah, dirinya hancur bersama dengan penglihatan nya yang perlahan menghitam.
Gadis itu kehilangan kesadaran.
* * * * * * * * * * * * * * * *
__ADS_1