
Langit diatas jakarta sudah gelap. Bulan bersinar penuh dan terang. Kayla keluar dari sebuah gedung perpustakaan dengan perasaan berat. Gadis itu sudah beberapa hari ini menghabiskam waktunya diperpustakaan, berkutat dengan berbagai buku tebal yang menjadi salah satu kegiatan favorite nya.
Tugas nya hari ini sudah selesai, gadis itu mempercepat langkah kaki ingin segera sampai rumah dan tidur sepuasnya.
Kayla sengaja beberapa hari ini tidak membawa mobil sendiri, dia hanya ingin mengubah beberapa rutinitas kesehariannya.
Kaki nya berhenti sejenak di depan kedai kopi di gedung sebelah perpustakaan. Gadis bercadar itu sedang menimbang-nimbang untuk membeli kopi. Kayla menghadapkan badan nya ke jendela kaca besar milik kedai itu. Dari luar, dari posisi nya berdiri, Kayla bisa melihat menu kopi yang tertulis disebuah papan besar dalam restoran, diatas meja panjang ada pelayan.
Hmmm, kayak nya espresso hangat itu enak juga, katanya dalam hati.
Gadis itu merogoh sesuatu dalam tas selempang nya, gadis itu memiliki kebiasaan menaruh uang kembalian di dalam tas terpisah. Kadang-kadang jumlah nya melebihi uang tunai yang ada dalam dompetnya.
Benar juga! Kayla menunduk menghitung uang yang ada di tangan nya, beberapa lembar uang ada ditangan nya. Lebih dari cukup! pikir nya puas.
Kayla mendongak kembali kearah menu tadi. Dikaca, papan tempat menu yang tadi dilihat nya sudah tidak ada. Sebagai gantinya ada bayangan wajah Clara disana.
Kayla berteriak tanpa suara. Suara nya tercekik dileher. Gadis itu cepat-cepat memutar tubuhnya, napas nya memburu, tangan nya mengepal. Clara berdiri setengah meter jaraknya didepan Kayla, dia memandangi Kayla penuh amarah. Ratusan pikiran melayang-layang dikepala Kayla.
"Kayla," Panggil nya. Suaranya tanpa diduga terdengar lembut.
"Sorry gue nggak bermaksud buat lo kaget. Tadi gue mau panggil, tapi gue takut lo pergi."
Pergi? Kata-katanya memberi Kayla ide. Secepat kilat gadis bercadar itu bergerak untuk berlari meninggalkan Clara.
"Kayla." Tangan Clara tiba-tiba sudah mencekam lengan Kayla. Lembut tapi kokoh.
"Kayla tolong jangan pergi, gue mau bicara." Tangan Clara menahan Kayla untuk tidak berlari. Kayla berusaha lepas tanpa membuat orang-orang di jalan curiga, tapi tidak bisa.
Gadis itu terlalu kuat memcengkram tangan Kayla. Kalau Kayla ingin lepas darinya sepertinya Kayla harus membuat keributan disini.
"Oke gue lepasin, tapi tolong jangan lari. Gue bener-bener mau bicara sama lo." Pinta Clara. Pegangan tangannya mengendur.
"Mau bicara apa?" Suara Kayla serak. "Bukan nya kamu udah kasih undangan buat aku?"
Pegangan tangan Clara terlepas mendadak. Gadis itu tersenyum. Wajah nya memucat dibawah lampu jalan.
"Gue nggak mau bahas itu, tapi karena lo yang bahas duluan jadi lebih baik gue kasih tau." Clara tersenyum sumbang, menatap remeh pada Kayla. Kalimat lembutnya beberapa saat tadi sudah hilang tanpa jejak.
"Mau bahas apa?" Tanya Kayla santai, membuat Clara berdecih sinis.
"Apa hubungan lo sama Han?" Tanya Clara tegas, kedua tangan nya terlipat didepan dada.
__ADS_1
"Ukhuwah Islamiah. persaudaraan sesama umat muslim." Jawab Kayla lebih santai lagi, Clara menghela napas. Berbasa-basi sepertinya bukan pilihan tepat untuk menyelesaikan masalah.
"Apa hubungan kalian dimasalalu?"
Kayla menghela napas, dirinya sudah terlalu lelah. Sudah tidak sanggup menghadapi pertanyaan tidak penting yang dilontarkan Clara.
"Clara. Apapun hubungan ku dan kak Ray dimasalalu, itu cuma masalalu. Dan sekarang kami udah punya jalan masing-masing. Dia sekarang tunangan kamu, jadi nggak ada alasan kamu harus tau hubungan kami dimasalalu."
Kayla melangkah meninggalkan Clara, tapi lagi-lagi gadis itu menahan tangan nya.
"Gue belum selesai ngomong, lo punya sopan santun gak sih?!" Bentak Clara,membuat beberapa orang yang lewat menatap heran.
"Maaf Clara, aku harus pulang." Kayla tetap tenang, walau ada sedikit rasa jengkel dihatinya karena sikap keras kepala Clara.
"Gue belum selesai Kayla!"
"Gue mau ketemu lo karena suatu alasan," Ucap Clara pendek.
Kayla tidak bereaksi.
"Jauhi Han!"
Kayla tidak yakin apakah harus tertawa atas kebodohan Clara, atau sekalian saja memakinya saat itu juga. Akhirnya, Kayla memilih untuk tertawa.
Clara berdiri didepan nya dengan tegang. Bibirnya bergetar. Ketika dia membuka mulutnya, suaranya bergetar dan serak.
"Dia nggak mau lupain lo..."
Kayla tidak tahu apakah Clara tahu dengan jelas bagaimana hubungan nya dengan Rayhan dimasalalu, dan apa alasan perpisagan mereka. Kayla juga tidak yakin apakah bijak mengatakan hal itu pada Clara. Jadi Kayla hanya menunggu gadis itu melanjutkan urusan apapun yang dia inginkan dari Clara.
"Dia nggak mau gue deket-deket sama dia..."
Mata Clara menatap Kayla tapi pandangan nya hampa. Bola mata itu berkabut dan penuh kesedihan. Semakin banyak dia bicara, semakin pahit kalimatnya. Clara yang biasanya penuh semangat dan selalu siap menyebarkan kemolekannya pada setiap laki-laki disekitarnya. Wajahnya yang biasa selalu rapi terpoles make-up, rambutnya yang dicat pirang selalu tergerai indah, tubuhnya selalu tertutup wangi parfum mahal. Pilihan bajunya mudah diprediksi: pendek dan terbuka.
Namun Clara yang sekarang berdiri dihadapan Kayla hampir-hampir tidak bisa dia kenali. Satu-satunya persamaan antara Clara yang sekarang dengan yang tempo hari adalah mereka berdua terlihat sama-sama kaya.
"Dia nggak peduli sama gue.." Desis Clara.
Semakin lama Clara semakin terlihat menyedihkan. Setelah perjodohan itu, Kayla mengira dia akan bahagia karena bisa bersama dengan Rayhan. Pria pujaannya. Tapi nyatanya sekarang, dia disini, dihadapan Kayla, terlihat sangat menderita.
Jika Kayla mengingat rasa sakit dihatinya karena kehilangan pria yang dia cintai seharusnya dia merasa menang dan senang. Tapi Kayla justru merasakan sesuatu yang tajam dan berdarah dihatinya. Luka dihati Kayla masih menganga, tapi sekarang dia dipaksa untuk melihat orang yang menjadi sebab luka dihatinya menangis penuh derita. Clara terisak seakan-akan Kayla dan dunia ini tidak ada.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kamu mau, Clara?" Tanya Kayla akhirnya. Kayla mulai tak sabar, dingin nya malam sudah membuatnya begitu kelelahan.
Clara menarik napas dalam-dalam. Lalu dia menatap Kayla.
"Gue udah bilang, gue mau lo jauhi Han."
"Clara, biar aku jelasin lagi..," Kayla memasang wajah kosong sebisanya. "Kamu nggak perlu khawatir tentang itu," Tanpa mampu menahan lagi, Kayla menambahkan.
"Aku sadar kalau aku cuma bagian dari masalalunya, dan masalalu nggak pernah bisa jadi bagian dari masadepan." Kayla berpikir kata-katanya membuat Clara senang, tapi ternyata Kayla salah. Clara menunjuk Kayla dengan marah.
"Pembohong!"
"Apa?!"
"Lo pikir gue nggak tau, gue liat kalian!" Napas Clara turun-naik. "Gue liat dari awal lo dan Han. Kalian berdua di danau, romantis banget!"
Kayla menggigit bibir bawahnya, supaya rasa terkejut tidak keluar dari mulutnya.
"Kamu salah paham Clara."
"Lo bilang mau jauhin Han?" Clara menyindir tajam. "Hah! Lo bahkan nggak sabar mau ketemu dan peluk dia kan. Lo nunggu dia disitu kan?!" Tuding Clara tajam.
Kemarahan menyeruak dari dalam dada Kayla, dan tanpa Kayla sadari tangan nya terangkat. Kayla menampar gadis itu sekeras mungkin. Clara sontak bergerak mundur dan berteriak, "Dasar perempuan jalang!"
"Astagfirullah. Jaga ucapan kamu Clara."
Mata Clara membesar. Dia membuat gerakan maju, Kayla mengacungkan jarinya. Menunjuk wajah Clara.
"Jangan coba-coba!" Ancam Kayla. Clara kembali terkekeh sinis, lalu menatap tajam.
"Kamu tunangan kak Ray, dia akan jadi milik kamu. Dan aku nggak akan pernah ganggu hubungan kalian!" Kayla melangkah mundur dan berencana untuk pergi. Tiba-tiba Clara menarik kain hijab panjang nya.
"Lo nggak akan rebut dia dari gue?!" Jerit Clara. "Gue nggak akan biatin lo dekat-dekat Han!"
"Aku nggak ada niat untuk dekat sama kak Ray, kamu berpikir terlalu jauh Clara. Tolong jangan salah paham." Kayla menghempas tangan Clara yang mencengkram kain hijabnya.
"Terus apa yang lo lakuin sama Han didanau, hah? Lo pikir gue bidoh?"
"Terserah kamu Clara, yang jelas aku nggak ada punya niat untuk merebut kak Ray. Cukup Allah yang mengatur, kalau kamu sama kak Ray memang berjodoh maka kalian akan bersama. Dan insyaallah aku doain yang terbaik untuk kalian."
"Tapi ingat Clara, diluar sana ada seseorang yang selalu berjuang untuk kak Ray. Melalui lantunan doa di sepertiga malam. Dan seseorang itu selalu berdoa agar Allah mempertemukan mereka sebagai jodoh yang halal. Aku harap kamu hati-hati, kekuatan doa lebih kuat dari kekuatan materi dan ambisi. Aku pamit, Assalamualaikum."
__ADS_1
* * * * * * * * * * * *