UHIBBUKA FILLAH!

UHIBBUKA FILLAH!
UF A.E


__ADS_3

Selepas sholat isya, Rayhan masih berdiam diri dikamarnya. Pria itu sudah mengenakan jas putih, dengan tatanan rambut yang lebih rapi dari biasanya.


Pria itu berdiri di balkon kamar, menatap nanar bintang di kejauhan sana.


Indah, tapi mustahil bisa dimiliki.. Lirih nya sambi tersenyum getir. Rayhan meraih ponsel disaku jas, menekan beberapa ikon menu.


Rayhan menatap gusar, menimbang-nimbang akan menelfon atau tidak.


Pria itu menatap lekat layar ponsel yang tertera nama Ninja❤ disana.


Menghembuskan napas dalam, pria itu memutuskan menghubungi nomor dengan nama ninja itu.


"Halo, Assalamualaikum." Suara gadis itu terdengar setelah sambungan telfon terhubung.


"Waalaikumsalam." Jawab Rayhan berusaha setenang mungkin.


"Kak Ray...,"


"Kayla.." ucap Rayhan menyela kata-kata gadis itu. "Gue sayang lo Kay." Rayhan berbisik halus, hampir tidak terdengar.


Kayla, gadis itu menggigit bibir bawah saat mendengar lirihan Rayhan. Berusaha sekuat mungkin menahan air mata agar tak keluar.


"Gue sayang lo." Lirihan itu kembali terdengar, membuat Kayla semakin merasa teriris, gadis itu terdengar menghela napas dalam.


"Tunggu gue sebentar..," Ucap Rayhan ambigu, entah apa maksud ucapan dari pria itu.


Tuutt. Sambungan telfon terputus, Rayhan memasukkan ponsel nya kedalam jas lalu melirik jam ditangan kiri.


Masih ada waktu sekitar dua jam. Gumam pria itu lalu menyambar kunci mobil di atas meja.


Rayhan berlari keluar kamar, baru beberapa langkah menapaki anak tangga Rayhan dikejutkan oleh suara papa nya.


"Mau kemana kamu?" Sentak Wijaya Kesuma, pria paruh baya itu mendekati Rayhan. Menatap penampilan anak bungsu nya yang malam ini terlihat sedikit berbeda.


"Mau keluar sebentar pa, ada urusan."

__ADS_1


"Jangan coba-coba mau lari kamu, saya tidak akan membiarkan kamu keluar."


"Terserah papa, aku cuma keluar sebentar." Rayhan berlalu, tidak mendengarkan ucapan papa nya.


* * * * * * * * * * * * * *


Disisi lain, setelah mendapat telfon dari Rayhan. Kayla yang tadi diruang tengah, segera berlari ke kamar. Gadis yang hanya mengenakan gaun tidur dan hijab yang menjuntai lebar itu melangkah dengan cepat.


Belum jauh melangkah, lengan nya diraih oleh seseorang.


"Ealah buset, lo gak pergi kondangan emang?" Suara Lisa blekping mengejutkan Kayla, gadis itu mengusap bekas air mata diwajah nya.


"Sorry Lis, aku kaya nya nggak pergi." Kayla tersenyum singkat, lalu duduk kembali di sofa. Diikuti Lisa yang sudah tampil sempurna dengan gaun pesta nya.


"Kenapa Kay? lo kan harus nya pergi, gue sama Candra udah susun rencana buat batalin pertunangan ini." Ucap Lisa dengan bangga, seoalah memberitahu sebuah misi rahasia penaklukan sebuah negara.


Kayla langsung menatap tajam sambil menyikut lengan sahabat nya. "Astagfirullah, kalian mau ngapain coba?" Tanya Kayla, matanya menatap tajam membuat Lisa nyengir kuda.


"Aku nggak mau pergi Lis, titip salam aja buat kak Ray sama Clara." Ucap nua sambil berusaha tersenyum selebar mungkin.


Lisa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Kayla, dia tahu jika sahabat nya itu sangat mencintai Rayhan. Tapi sedikitpun tidak pernah ingin memperjuangka perasaan nya, buktinya sampai detik ini Kayla masih bisa duduk santai walaupun mengetahui dalam beberapa jam kedepan Rayhan akan bertunangan.


Aku bisa apa Lisa, selain berjuang lewat doa. Sebesar apapun perasaan buat kak Ray, kalau kami nggak jodoh gimana. Lirih gadis itu dalam hati, Kayla melepas kain cadarnya setelah memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.


Lisa tertegun beberapa saat, sudah sejak lama tidak melihat wajah Kayla membuat gadis itu terpana saat melihat kecantikan sahabat nya. Kadang Lisa merasa iri, melihat kecantikan Kayla yang hampir dikatakan tidak ada kurang nya.


Namun kerap kali, Lisa juga merasa heran mengapa wajah secantik itu harus disembunyikan dibalik tabir cadar.


"You're so beautiful." Puji Lisa tulus, Kayla tersenyum menanggapi ucapan gadis itu.


Lisa menggeleng beberapa kali, gadis itu kehilangan fokus karena terpana tadi.


"Sekarang lo harus siap-siap dan pergi ke acara nya," Lisa menarik tangan sahabat nya berdiri, lalu mendorong Kayla menuju kamar nya. Kedua gadis itu langsung naik ke lantai atas, dan bersamaan dengan Ian yang keluar dari kamarnya dengan setelan yang sudah rapi pula.


"Mau kemana dek?" Tanya Ian sambil menatap kedua gadis itu, setelah menjawab pergi ke kamar Kayla dan Lisa berlalu begitu saja meninggalkan Ian yang sepertinya masih ingin membicarakan sesuatu.

__ADS_1


Setelah masuk kedalam kamar, Lisa langsung mendorong Kayla untuk duduk disofa dekat tempat tidur.


"Sekarang lo siap-siap gue tunggu disini."


"Gue nggak pergi Lis," Kayla masih kekeuh pada pendirian nya. Memang nya dia sudah segila itu, datang dan menyaksikan sendiri pertunangan pria yang dicintainya dengan wanita lain.


Lisa mendengus, lalu menarik kuat tangan Kayla. "Gue nggak habis pikir sama lo Kay, lo sebener nya sayang nggak sih sama kak Ray?" Bentak Lisa tanpa sengaja, gadis itu sudah cukup lelah dengan sikap sahabat nya yang keras kepala.


"Aku sayang Lisa! Tapi aku harus gimana,?" Teriak Kayla tak kalah keras, runtuh sudah pertahanan gadis itu.


"Tapi aku bisa apa, dia udah dijodohin sama Clara. Dan aku tau, sekuat apapun perasaan kami satu sama lain kami nggak akan pernah bisa bersatu." Lirih Kayla sambil menangis sesenggukan, Lisa masih diam. Merasa harus mendengarkan semua isi hati sahabat nya.


"Aku rasa kami emang gak jodoh Lis, dari awal aku dijodohin sama kak Roland, papa suruh aku pergi, sampai sekarang kak Ray yang dijodohin. Bukan nya itu pertanda kami nggak jodoh kan?"


Menghela napas dalam, Lisa akhirnya menjawab. "Gue tau lo lebih tau masalah takdir Tuhan, dan kali ini lo harus bener-bener percaya kalau kalian dua emang ditakdirkan bersama Kay. Lo harus berjuang, perjuangin cinta lo sama kak Ray." Suara Lisa merendah, tangan nya memegang kedua bahu Kayla yang bergetar karena menangis.


"Percuma lo mau nangis sampai pagi, kalau lo tetap disini kak Ray akan tetap tunangan sama Clara." Sentak Lisa kemudian, membuat tangisan Kayla semakin menjadi.


"Lo bukan Kayla yang gua kenal dulu, Kay yang dulu itu gadis yang optimis, berjuang untuk apapun, dan Kayla yang gue liat sekarang jauh beda dari itu semua. Lo gak bisa cuma percaya sama takdir Kay, lo juga harus berusaha!"


"Kalau pun aku dateng kesitu, apa yang bisa aku lakuin Lis? Aku gak mau keluarga kak Ray malu kalau pertunangan itu batal."


"Kayla, lo harus berusaha. Inget, usaha tanpa doa itu sombong, dan doa tanpa usaha itu sia-sia namanya. Lo boleh percaya kalau jodoh itu takdir yang tentuin, tapi lo jangan lupa gak akan dateng jodoh kalau gak dicari."


Kayla terdiam, isak tangis nya perlahan mereda. Ucapan Lisa terngiang di telinga nya, ada benar nya juga ucapan Lisa.


Bukan kah jika kita menginginkan sesuatu, kita harus berjuangan untuk mendapatkan nya. Bukan hanya diam dan menunggu takdir sampai menjadikan milik kita.


"Haaaahhh." Kayla melenguh panjang, lalu menundukkan kepala dalam. Mencoba memutuskan hal besar apa yang akan dia lakukan.


"Tolong bantu aku ketemu kak Ray." Ucapnya kemudian, membuat Lisa tersenyum.


"Ini baru sahabat gue, selamat berjuang Kayla. Hwaiting!" Lisa memberi semangat, lalu memeluk erat sahabat nya untuk memberi dukungan.


* * * * * * * * * * * * * * * * * * *

__ADS_1


__ADS_2