
Hembusan angin malam yang terasa menusuk tulang, dan pekat nya hitam yang menghiasi langit tanpa di temani bulan. Begitu juga dengan bintang, kedua nya tak nampak. Awan kelabu lah yang menjadi penghalang keduanya beradu.
Gadis bercadar itu tengah duduk di kursi taman dengan sebuah laptop di pangkuannya, jemari lentik nya menari dengan indah mengetikkan kalimat panjang. Sampai sebuah tangan melingkar di bahu nya dan kecupan manis dari seseorang dipuncak kepala membuat Kayla kehilangan fokus.
"Abang, Kaget tau!" Laptop dipangkuan nya dia letakkan diatas meja.
"Abang pulang nggak kabarin Kay dulu." Sungut nya kemudian. Sang abang yang masih setia memeluknya dari belakang terkekeh. "Biar kejutan dek."
Jawab nya kemudian beralih duduk di samping sang adik.
Ian sudah hampir seminggu berada diluar negeri untuk mengurusi beberapa masalah dikantor cabang disalah satu negara, memang sejak kepergian tuan Wijaya perusahaan mereka mengalami beberapa masalah dan gangguan. Tapi akhir-akhir ini sudah berangsur normal setelah Ian turun tangan sendiri mengurusi masalahnya.
"Kamu kenapa malem-malem diluar dek, dingin loh ini." Ian mengusap puncak kepala adiknya. Terbesit rasa bersalah dihatinya, bahkan sehari setelah pemakaman papanya Ian langsung disibukkan dengan berbagai urusan perusahaan. Dia bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar menanyakan apakah adik nya baik-baik saja selama ini.
"Nggak papa bang, aku lagi garap tugas sekalian cari angin. Bosen dikamar terus." Gadis itu tersenyum, lalu menghambur kedalam pelukan abangnya.
"Abang kangen Kayla nggak?" Tanya nya sambil mengeratkan pelukan pada Ian.
Pria itu tersenyum getir sambil mengangguk, lalu menjawab. "Abang kangen banget, maaf nggak ada waktu buat kamu dek."
"Abang kangen sama aku atau kak Vio?" Kayla mendongak mencari wajah sang abang. Satu kecupan lagi mendarat di puncak kepala nya dari Ian.
"Kangen dia sih, dia lebih ngangenin." Ian tersenyum geli, sedangkan adik nya memberengut tidak terima.
"Jahat banget, padahal Kay nungguin abang loh." Sungut nya sambil menatap tajam sang abang.
Ian terkekeh, lalu balas menatap adiknya. "Maaf abang sibuk terus, nggak ada waktu buat kamu." Imbuh nya lalu menepuk hangat pundak Kayla.
"Haha iya abang, Kay ngerti kok. Yang terpenting abang jangan sampai ketinggalan sholat nya."
__ADS_1
Ian terhenyak, lagi-lagi merasa bersalah dengan dirinya sendiri. Dia bahkan terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga sering terlupa dengan urusan akhiratnya.
"Yaudah abang masuk dulu mau sholat sama istirahat. kamu masuk juga gih, kaya nya bentar lagi hujan." Ian mendongak, memandang langit dikejauhan yang semakin hitam.
"Iya bang, Kayla masih betah disini." Kayla tersenyum, lalu mengecup singkat pipi Ian. Pria itu terkekeh geli, melihat kelakuan adik nya yang selalu menggemaskan.
Pria itu beranjak dari duduk nya setelah menepuk bahu Kayla dua kali. "Jangan kelamaan, disini dingin." Ucapnya, kemudian melangkah pergi.
Kembali sibuk dengan laptop dipangkuannya, Kayla mencoba memfokuskan pikirannya yang tadi sempat melayang jauh. Hari ini genap 3 minggu sudah dia menjadi seorang gadis yatim piatu, hanya Ian seorang yang masih dimilikinya didunia ini. Mencoba tersenyum, gadis itu mulai sibuk bermain kembali dengan papan keyboard nya. Sampai sebuah notice dari ponsel nya membuat konsentrasi Kayla kembali buyar.
Gue di gerbang utama!
Kayla mengernyit bingung saat menerima pesan dari seseorang yang tidak dikenalnya. Memutuskan untuk tidak perduli dengan pesan itu Kayla segera memberesi barang barang nya dan masuk kedalam rumah. Gemericik air yang turun perlahan, menjadi pertanda hujan akan segera turun.
"Assalamualaikum pak, di gerbang utama ada orang ya?" Untuk menghilangkan rasa penasaran, Kayla bertanya pada salah satu penjaga yang berdiri didepan pintu.
Pria paruh baya itu menunduk hormat, lalu menjawab. "Iya nona, seorang pria mabuk. Akan segera diurus oleh penjaga bagian depan."
"Tolong bilang sama pihak keamanan, jangan diusir dulu pak. saya mau liat." Kayla memberikan laptop dan beberapa tumpuk buku nya pada seorang pelayan yang kebetulan di dekat mereka.
"Tolong bawa kekamar saya ya." Ucapnya sambil tersenyum. Pelayan itu menunduk, lalu meninggalkan Kayla.
Gadis itu kembali mendongak, hujan yang turun semakin deras saja. Membuatnya ragu untuk melihat seseorang tersebut.
"Yaudah pak, biarin aja saya mau masuk dulu." Ujarnya kemudian melangkah masuk.
* * * * * * * * * * *
"Awas lo bang5at, gue mau ketemu ninja!" Umpat Rayhan sambil memberontak minta dilepaskan.
__ADS_1
Beberapa pengawal bertubuh besar tak membuatnya gentar dan mengurungkan niat masuk kedalam, meskipun harus mendapat pukulan dari orang-orang ini.
"Disini tidak ada ninja, kamu sedang mabuk kenapa bisa sampai ditempat ini hah?" Pria itu menatap nyalang, seperti siap kapanpun untuk melayangkan pukulan.
"Gue nggak mabuk Nj1ng, buka gerbang!" Teriak Rayhan sambil berlari kearah gerbang. Belum sempat mencapai bangunan tinggi menjulang itu. Tubuhnya sudah ambuk mendapat serangan dari belakang.
"Silahkan anda pergi dari sini, tuan kami tidak menyukai kekerasa. Jadi tolong pergi baik-baik." Pria berseragam serba hitam itu kembali memperingatkan.
"Gue cuma mau ketemu ninja." Suara Rayhan melemah, dengan melawan justru akan membuatnya semakin tidak mungkin untuk masuk.
"Tolong bawa dia pergi!" Teriak pria yang tadi menyerang Rayhan kepada beberapa temannya. Hujan yang semakin deras membuat mereka enggan untuk berlama-lama mengurusi masalah ini.
Mendengar itu, tentusaja Rayhan kembali memberontak. Dengan sisa kekuatan yang masih dia punya, Rayhan berusaha untuk menerobos pintu gerbang.
Cukup sudah! Habis kesabaran orang-orang itu, jalan keluar dari masalah ini hanya dengan menyeret paksa Rayhan dari tempat ini. Para pengawal itu dengan geramnya menghujani Rayhan dengan pukulan dan hantaman.
Pemuda itu jatuh tersungkur, dengan darah segar mengalir disudut bibir dan hidungnya. Rayhan terkekeh sinis, jika kalian berpikiran dia akan menyerah tentu saja tidak. Rasa putus asa lah yang menuntunnya datang ketempat ini, lalu mengapa harus kembali menyerah.
Para penjaga keamanan itu bersiap akan menyerang lagi saat melihat Rayhan masih berusaha mendekati pintu gerbang.
Satu lagi pukulan keras dikepala nya, membuat Rayhan kembali tersungkur dengan sakit yang luar biasa.
Seperti sudah menduga bahwa Rayhan tidak akan menyerah begitu saja, para pengawal itu terus menyerang nya dengan membabi buta.
Membuat Rayhan terkapar lemah di dengan darah yang mengalir deras dan hujan terus mengguyur.
Satu tendangan keras didada nya, membuat Rayhan benar-benar kehilangan tenaga.
"Astagfirullah. Stop!" Sebuah samar suara terdengar di tengah deras nya hujan, membuat Rayhan menajamkan pendengaran.
__ADS_1
Namun sayang, gelapnya malam perlahan-lahan membuatnya kehilangan kesadaran.
* * * * * * * * * * * * *