
Flashback On 🍃
Setelah kepergian Kayla, kini hanya ada Rayhan dan Clara. Kedua nya saling terdiam, memperhatikan riak air yang bergelombang karena terpaan angin.
"Lo ngapain disini Han?" Suara Clara terdengar bergetar, gadis itu sesekali menyelipkan rambut dibalik telinga karena terpaan angin.
"Haaahhh" Rayhan menghela napas panjang, tak ada niatan untuk menjawab pertanyaan Clara.
"Ngapain Han?" Desak Clara, membuat Rayhan semakin merasa kesal. Pria itu menghadapkan dirinya pada Clara.
"Lo tadi bilang denger semua kan?" Tanya Rayhan acuh, menatap sekilas lalu membuang muka.
Clara melangkah maju,meraih tangan Rayhan yang bersedekap didepan dada. Lalu menggenggam nya erat.
"Tiga hari lagi acara pertunangan kita Han, ayo kita fitting baju," Clara berusaha bersikap lembut dan tersenyum manis.
Rayhan mendengus, lalu melepaskan genggaman tangan Clara.
"Clara.." Suara Rayhan terdengar lembut, kemudian lama terdiam seperti sedang menimbang-nimbang akan mengatakan sesuatu.
Clara masih tersenyum sambil menatap Rayhan percaya diri. Mungkin dalam hatinya, gadis itu mengira Rayhan akan menuruti kemauannya.
"Maaf sebelumnya.." Kali ini Rayhan yang menggenggam kedua tangan gadis itu. Clara tersenyum lebih lebar lagi, bola matanya berbinar menunggu apa yang dikatakan Rayhan.
"Sorry, tapi sepertinya gue nggak bisa lanjutin pertunangan kita. Gue nggak pantes untuk lo Clara." Gadis itu menarik tangan nya dari genggaman Rayhan, mundur beberapa langkah lalu menutup mulut dengan kedua tangan karena terkejut dengan ucapan Rayhan.
Clara menggeleng, air matanya sudah berjatuhan tanpa mampu ditahan. "Nggak Han, nggak!" Clara maju beberapa langkah lagi.
Tangan nya tergerak meraih lengan Rayhan, "Please jangan batalin pertunangan ini Han. Gue nggak mau!" Ucap nya lirih, tangan nya kini sudah memukul dada Rayhan.
Rayhan memegang kedua bahu Clara, mengguncang nya perlahan.
"Clara.. Tolong ngerti, gue bukan laki-laki yang baik. Lo terlalu sempurna, dan lo tau kan gue ini cowok pemabuk. Gue nggak punya masadepan, sedangkan lo? Orang tua lo sukses, baik, gue nggak mau mereka malu karena punya menantu seperti gue Clara."
"Nggak Han, nggak! Gue mau terima lo apa adanya, gue tau lo pemabuk dan gue nggak masalah dengan hal itu. Kita bisa mabuk bareng kan, please Han.." Isak tangis Clara semakin menjadi, gadis itu menutup wajah dengan telapak tangan. Lalu terduduk direrumputan yang menghijau.
"Clara.. Lo gadis baik, cantik, pintar dan gue yakin diluar sana masih banyak laki-laki lain yang jauh lebih sempurna untuk lo. Jangan sia-siain air mata dan perasaan lo untuk cowo kaya gue, itu percumah Clara."
"Nggak Han! Gue gak mau. Pertunangan akan tetap terlaksana, walaupun bukan tiga hari lagi tapi nggak boleh batal Han. Dan gue cuma mau lo, gue gak mau orang lain!"
"Clara.."
__ADS_1
"Cukup Han, gue nggak mau denger ucapan lo lagi. Apapun yang terjadi kita akan tetap tunangan. Lo nggak mikir Han, orangtua kita tokoh terpandang, apa kata publik kalau pertunangan kita sampai batal." Lirih Clara, bersuara disela isak tangis nya.
Rayhan ikut terduduk, lalu tersenyum lebar. Tangan nya tergerak menghapus sisa air mata diwajah Clara.
Manis! Manis sekali senyum pria itu, Clara sampai tercengang melihatnya. Hanya saja, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menikmati senyuman langka milik Rayhan.
"Clara.. Tolong ngerti, gue nggak sebaik yang lo sangka. Gue ini nggak punya masadepan cerah, lo terlalu sempurna untuk laki-laki yang nggak punya masadepan. Gue harap suatu hari nanti lo ketemu sama laki-laki yang bisa buat lo bahagia." Rayhan berujar lembut, senyuman nya kembali terlihat.
"CUKUP!! Ini semua karena dia kan?!" Tanya Clara sarkas, Rayhan mengernyit bingung.
"Karena Kayla, cewek bercadar yang munafik itu kan?" Tanya Clara dengan nada marah, sudah tidak ada isak tangis walau air mata masih membasahi pipi nya. Kali ini Rayhan tersenyum lagi, mungkin jujur akan lebih baik. Memang itu salah satu alasannya, dan Rayhan tidak mau berbohong.
Rayhan menghela napas dalam, matanya menghunus dalam manik Clara.
"Dia emang salah satu dari banyak alasan keputusan ini."
"Ini nggak adil Han, lo mau berjuang untuk dia tapi kenapa nggak kasih gue kesempatan yang sama?!" Teriak Clara penuh amarah, benar dia memang marah. Bukan hanya Clara, mungkin gadis manapun akan merasakan hal yang sama. Saat pria yang kita cintai, berjuang untuk cinta lain dan tidak memberi kesempatan untuk kita melakukan perjuangan yang sama.
"Maaf Clara, gue cuma bisa berdoa semua yang terbaik untuk lo." Rayhan pergi setelah tersenyum manis, dan menepuk halus puncak kepala Clara.
Gadis itu hanya bisa menangis dan menatap punggung Rayhan yang hampir menghilang di persimpangan jalan.
flashback of 🍃
* * * * * * * * * *
Pria dengan kaos hitam polos berlengan pendek dan kemeja navy yang sudah tersampir di atas bahu itu masuk dengan santai kedalam rumah.
Setelah menutup pintu dan berjalan beberapa langkah, Rayhan terhunyung saat sebuah hantaman keras membentur kepalanya. Rayhan terduduk dilantai, merasa pusing dan marah seketika.
"Anak bodoh!" Suara teriakan terdengar dari belakang. Tak perlu ditanyakan,kalian sudah pasti hapal pelaku nya, bukan?
Rayhan terkekeh, dia mengerti duduk perkaranya. Pasti perihal putus nya pertunangan dengan Clara yang membuat papa nya kembali murka.
"Bodoh kamu!" Lagi, suara teriakan itu terdengar membuat Sonya dan Roland berlari menuju sumber suara.
"Ada apa pah?" Tanya Roland sambil membantu adik nya berdiri. Roland melirik Wijaya, ditangan kanan nya ada sebuah kayu yang diyakini pasti alat yang dipakai untuk menghantam Rayhan tadi.
"Apa lagi?! Kamu tanyakan dengan adik kamu yang bodoh dan tidak tahu diri itu!" Teriak nya kesal, urat-urat dileher nya menonjol, terlihat mengerikan. Sonya menghampiri suami nya, dan mengusap bahu memberikan ketenangan.
"Maaf pa, Ray.."
__ADS_1
"Jangan panggil saya papa, manusia kepar4t! Tidak tahu di untung kamu. Ini balasan kamu kepada kami yang sudah membesarkan kamu dari kecil?! Hanya ini yang kamu bisa?!" Wijaya Kesuma melepas rangkulan istrinya, melempar kayu yang tadi di genggam. Lalu menyerang Rayhan dengan brutal. Tinjuan diperut, diwajah beberapa kali ia layangkan. Tamparan keras menghantam sudut wajah bagian kiri, tak lama menyusul bagian kanan pula. Tendangan di perut juga Rayhan dapatkan dari papa nya. Belum merasa puas, Wijaya Kesuma menarik rambut Rayhan dan membenturkan kepala anak bungsu nya itu ketembok beberapa kali.
Rayhan diam! Hanya diam tanpa perlawanan, bukan melawan tak sanggup dia lakukan. Tapi pria yang sedang menyerang nya adalah seorang papa yang begitu dia sayang. Seorang papa yang selama hidup dia jadikan panutan, papa yang kasih sayang nya selalu Rayhan dambakan.
Brukkk
Rayhan terhempas kelantai, dengan darah segar yang mengucur dari sudut bibir dan hidung. Dan juga luka lebar dipelipis bagian kirinya, Sonya berlari mendekap anak bungsu kesayangan nya. Sedangkan Roland menarik paksa papa nya yang sudah bersiap akan menyerang lagi.
"Cukup papa, cukup!" Teriak Roland penuh amarah, sudah cukup sabar dirinya selama ini melihat perlakuan Wijaya Kesuma yang begitu kejam terhadap adiknya.
"Rayhan anak papa, kenapa tega sampai buat dia begitu pa?!" Tanya Roland masih mencengkram kuat lengan papanya.
"Dia bukan anak papa, anak papa hanya kamu Roland. Dia sama sekali bukan anak papa!"
Rayhan melirik lemah dari balik dekapan sang mama, darah yang berceceran dilantai sudah cukup menjadi bukti bagaimana kejam nya amukan Wijaya Kesuma beberapa waktu lalu.
"Pertunangan kamu dan Clara hanya tinggal tiga hari lagi, lalu apa maksud kamu memutuskan Clara hah?! Kamu mau membuat malu keluarga ini? Gil4 kamu Rayhan, benar-benar tidak punya ak4l!!"
"Rayhan nggak cinta sama Clara pa, Rayhan punya gadis lain!" Suara itu terdengar menggelegar, bukan milik Rayhan. Melainkan suara kakak nya.
Ya, Roland pelaku nya. Dia tahu betul bagaimana hati adiknya, dan dia pun tahu betapa besar perasaan yang dimiliki Rayhan untuk mantan tunangan nya dulu.
Memang benar jika Roland pernah mencintai Kayla, sempat terbesit dihatinya untuk bersaing dengan Rayhan mendapatkan hati Kayla. Tapi kemudian Roland sadar, dua insan itu saling mencintai. Dan alangkah kejam jika Roland lah yang menjadi penghalang perasaan dua sejoli itu.
"Siapa? Siapa gadis itu, apa yang dia punya sampai berani berfikir untuk dicintai keluarga kita? Punya apa dia hah?!" Tanya Wijaya Kesuma sombong, dia berfikir jika gadis yang dicintai Rayhan bukanlah gadis istimewa dengan kekayaan yang berlimpah seperti Clara.
"Apa di pikiran papa hanya ada uang? Apa semua yang kita miliki sekarang masih kurang untuk menunjang kebutuhan papa? Kenapa papa begitu tergila-gila dengan harta dan uang?" Bentak Sonya penuh amarah, wanita paruh baya itu menangis sambil mengusap darah yang memenuhi wajah Rayhan.
"Didunia ini siapa yang akan menghargai keberadaan kalian tanpa adanya uang? Apa yang bisa kalian punya tanpa uang? Dan apa yang bisa membuat kalian bahagia kalau tidak ada uang." Ujar pria paruh baya itu dengan santai.
Bagi seorang Wijaya Kesuma, uang dan jabatan adalah segalanya. Uang adalah tujuan hidup dan jabatan adalah penentu kehormatan.
"Astagfirullah papa. Uang bukan segala nya, kenapa papa begitu dibutakan dengan uang. Kami bukan cuma butuh uang dan jabatan, kami butuh kasih sayang." Lirih Roland dengan mata yang berkaca-kaca. Tak habis pikir dengan motto hidup yang dimiliki papanya. Uang, jabatan,kekayaan semua itu adalah kenikmatan.
Wijaya Kesuma berdecih sinis, kedua tangan nya bersedekap di depan dada.
"Jangan munafik kalian, memang apa yang bisa kalian lakukan tanpa uang? Tanpa uang dan jabatan yang papa miliki, kalian semua bukan siapa-siapa sampai hari ini." Ujar nya penuh kesombongan dan mengangkat kepala bangga.
"Tiga hari lagi, pertunangan akan dilangsungkan. Saya tidak peduli apapun yang terjadi, pertunangan ini tidak boleh batal. Walaupun tanpa kaki kamu harus tetap datang!" Tatapan pria paruh baya itu menghunus tajam pada Rayhan.
"Pertunangan itu boleh batal jika kamu mati atau dunia ini diambang kehancuran. Diluar dua alasan itu, tidak ada alasan apapun untuk membatalkan pertunangan ini. Kau dengar itu, anak kep4rat?!"
__ADS_1
Wijaya Kesuma melangkah pergi, meninggalkan Roland yang berdiri menahan emosi dan air mata yang membasahi pipi. Sonya yang menangis terisak-isak sambil mendekap anaknya. Dan Rayhan yang terkulai lemas tak berdaya.
* * * * * * * * * * * *