
Kata orang, hujan itu sebuah penenang.
Derai nya membawa rasa nyaman.
Rintik nya menghapus setitik rasa sakit.
Hujan kadang menjadi saksi, betapa hati merindu sebuah rasa yang tak pasti.
Hujan memiliki akhir, yang menyenangkan atau menyedihkan.
Aku suka hujan, tetes airnya menghapus luka.
Juga menghapus jejak air mata derita.
Tapi kali ini aku benci hujan, kala aku melihat mu terkapar tak berdaya.
Apa yang membuatmu begitu menderita, mungkinkah aku sebabnya?
❤❤❤
Kayla tercengang saat melihat rekaman CCTV di ruang kontrol keamanan. Terlihat jelas saat para pengawal sedang memukuli seorang pria disana. Kayla menajamkan matanya, seperti tidak asing dengan sosok pria yang sedang adu mulut dengan beberapa pengawal.
Sampai saat pemuda itu mendekati gerbang dan tidak sengaja melirik kamera CCTV membuat Kayla terkejut bukan main.
kak Ray!! pekik nya, lalu berlari sekuat tenaga yang dia bisa untuk keluar rumah.
Gadis itu kalut, sampai berlari dan menabrak beberapa pelayan yang masih sibuk bekerja mengurusi rumah nya.
"Maaf!" Sesekali Kayla berteriak meminta maaf tanpa menoleh.
Sampai di pintu utama, hujan yang mengalir dengan begitu deras nya tidak membuat gadis itu gentar, dalam pikiran nya hanya bagaimana agar dia segera sampai sebelum sesuatu terjadi pada Rayhan didepan sana.
Dengan bodoh nya, Kayla berlari menerobos hujan deras tanpa menggunakan payung atau apapun. Bahkan otak nya tak bisa ia gunakan dengan baik, bukankah jarak 500 meter bukanlah jarak yang mudah ditempuh hanya dengan berjalan kali.
Tapi gadis yang tengah kalut itu hanya berlari sekuat tenaga menerobos hujan. Kain hijab nya yang tadi tertata rapi kini sudah tak berbentuk diguyur hujan, sesekali Kayla akan mengeluh kelelahan.
Tolong jaga dia ya Allah. Hamba mohon lindungi dia ya Allah. Lirih nya dalam hati sambil terus berlari.
Namun naas, tepat saat Kayla sampai digerbang utama. Dia melihat Rayhan yang sudah terkapar tidak berdaya, dengan darah segar yang mengalir di setiap sudut wajahnya. Begitu mengenaskan laki-laki itu, membuat hatinya teriris perih.
"Astagfirullah. Stop!" Teriak nya sambil berlari menggapai Rayhan. Pria itu sudah kehilangan kesadarannya. Membuat Kayla semakin dilanda kepanikan.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" Bentak Kayla, gadis itu merasa geram. Tapi sedetik kemudian dia mengucap istigfar dalam hatinya.
"Maafkan kami kalau membuat nona tidak nyaman, tapi harus nya nona tidak perlu kesini. Kami akan segera menangani pria ini." Ujar salah satu pengawal yang memukul Rayhan dengan beringas tadi.
Kayla menoleh pada Rayhan lagi, mengangkat kepalanya dengan kedua tangan. Sungguh dirinya tidak berniat melakukan itu, tapi tak ada jalan lain. Air hujan yang membasahi nya membuat Rayhan terlihat semakin pucat. "Maafin Kayla kak." Lirih nya dengan air mata yang sudah tak terlihat bercampur air hujan.
"Tolong kalian bawa dia kedalam." Ucap Kayla menoleh sekilas pada para pengawalnya.
Para pengawal itu saling lirik bingung. Untuk apa harus membawa pria mabuk ini kedalam. Bukan langsung diusir saja. Begitu pikir mereka.
"Nona tidak perlu mengkhawatirkan, kami akan segera menyelesaikan masalah ini. Maaf karena mengganggu kenyamanan nona dan tuan Ian."
"Tolong dibawa kedalam pak, aku mohon." Lirih Kayla putus asa, melihat Rayhan yang sudah tidak sadarkan diri membuat Kayla takut ada luka parah yang dialami Rayhan.
* * * * * * * * * * * * *
Pukul 01:48 WIB
Rayhan mulai terbangun, dengan rasa pusing hebat yang menyerang kepalanya. Pria itu membuka matanya yang sayu.
Semua luka dibagian wajah dan tubuh nya tersisa rasa nyeri, membuat pria itu meringis sambil memegangi sudut bibirnya yang lebam kebiruan.
Rayhan terkejut saat penglihatan nya menangkap seorang gadis yang tengah melakukan Ibadah sholat.
Tengah malem begini solat apa? Gumam nya sambil memperhatikan gadis yang tengah khusyuk dalam doanya.
Ya Allah, Kayla nggak mau jadi orang munafik. Kayla masih menyimpan rasa yang sama seperti dulu. Tapi dia milik orang lain Ya Allah.
Memang sakit saat kita menyimpan sebuah rasa mendalam, namun kenyataan tak memihak. Ada begitu banyak hati yang saling mencinta tapi tak dapat bersua. Ada begitu banyak hati yang menanti namun berujung patah hati.
Dalam hal ini tak ada pihak yang bersalah, yang mendamba atau terdamba. Yang menyakiti atau tersakiti, bahkan Tuhan sekalipun tak bersalah.
Tak ada seorang yang bisa menentukan kemana dan dimana hatinya akan berlabuh, entah akhir nya akan menjadi tempat bersimpuh atau hanya menjadi kenangan masalalu yang lusuh.
Ekheem. Rayhan berdehem, sudah mengubah posisi nya bersandar dikepala tempat tidur. Kayla menoleh, lalu berjalan mendekati Rayhan.
"Kakak udah lebih baik?" Tanya gadis itu, mengambil segelas air putih di nakas lalu memberikan pada Rayhan.
"Baju kak Ray basah, jadi aku suruh orang buat gantiin. Maaf kalau nggak sopan." Mengambil kembali gelas setelah isinya tandas.
"Thanks." Suara Rayhan akhir nya terdengar, bergumam namun masih jelas dalam indra pendengaran.
__ADS_1
"Dan sorry ngerepotin lo gini." Rayhan tersenyum sekilas, lalu menunduk. Ada kekhawatiran besar dalam hatinya.
"Kak Ray kenapa bisa tiba-tiba di depan gerbang, mabuk lagi?"
Nah kan, yang menjadi kekhawatirannya benar-benar terjadi. Akhir nya gadis itu mengetahui satu sisi buruk yang dimiliki Rayhan. Bukan tak ada niat dalam hatinya untuk berubah, sungguh dalam hati kecil nya juga ada niatan besar Rayhan untuk merubah diri.
Namun rasa sakit yang menancap diulu hatinya akibat ucapan sang papa, memaksa Rayhan kembali terjerumus dalam lubang terkutuk yang menjadi pelarian dari sakit hatinya.
"Maaf." Hanya itu yang mampu Rayhan katakan, terlihat jelas raut kecewa dari gadis yang berdiri dihadapannya.
"Maaf?" Nada suara Kayla terdengar tidak suka. "Untuk apa kakak minta maaf sama aku? Aku nggak berhak menerima permintaan maaf itu. Kak Ray harus nya minta maaf pada Allah." Gadis itu berpaling, lalu berjalan kearah pintu, sebelum ucapan Rayhan menghentikan langkahnya.
"Untuk apa? Gue bahkan kecewa sama takdir hidup."
Ucapan Rayhan sukses membuatnya menghentikan langkah, lalu berbalik menatap tidak suka pada Rayhan.
"Istigfar kak, jangan ngomong gitu. Kak Ray nggak boleh menyalahkan takdir Allah." Ucapnya memperingatkan. Rayhan hanya terkekeh sinis, lalu berjalan mendekati Kayla.
Kedua nya saling berhadapan, dengan jarak 2 meter yang membentang. Kayla menatap Rayhan, tersenyum getir dibalik cadarnya.
Laki-laki yang begitu dia dambakan nyatanya tak sebaik yang pernah dia pikirkan. Seorang pria yang berteman dengan kemaksiatan.
Tatapan nya seolah terkunci, enggan berpaling dari mata hitam milik Rayhan yang menatapnya dalam. Kali ini Rayhan lebih dulu memutus kontak mata diantara keduanya.
"Gue cuma bingung aja." Pria itu berujar santai, menutupi segala sakit dalam hatinya.
"Selama ini gue selalu berbuat baik dalam kehidupan, tapi kenapa Tuhan nggak pernah kasih gue takdir baik ya. Jadi setelah dipikir, bukannya lebih baik jadi jahat sekalian."
Kayla membuang nafas kasar, mendengar ucapan Rayhan membuat hatinya lebih terpuruk dalam kekecewaan.
"Takdir nggak bisa disalahin kak. Baik buruk kehidupan itu semua takdir Tuhan. Tergantung kita menjalankan, berlapang dada menerima kenyataan. Atau terpuruk dalam jurang kesesatan."
Rayhan terdiam, dalam hati ingin sekali memeluk gadis ini. Gadis yang selalu mampu memberinya ketenangan dan kekuatan.
Tapi Rayhan bimbang, dia bingung harus memperjuangkan atau melupakan gadis ini. Ucapan Sonya tadi pagi juga membuat Rayhan terjatuh dalam dilema.
"Tolong terima keputusan papa kamu Ray, mama yakin papa kamu ingin yang terbaik buat kamu. Papa kamu itu sangat menyayangi kamu. Kalau kamu terima pertunangan ini, papa pasti akan menyayangi kamu dan merubah sikap nya."
Pemuda itu bimbang, disatu sisi dia sangat ingin memperjuangkan gadis idaman yang sejak dulu dia dambakan. Namun disisi lain, rasa haus akan kasih sayang papanya membuat Rayhan juga ingin menerima perjodohan itu. Jika itu satu-satunya cara agar dia bisa mendapatkan kasih sayang yang selama ini tidak pernah dia dapatkan. Maka Rayhan tidak keberatan untuk menerima perjodohan itu.
* * * * * * * * * * * * *
__ADS_1