UHIBBUKA FILLAH!

UHIBBUKA FILLAH!
UF A.G


__ADS_3

❤❤❤


KLIMAKS!! hati-hati BAPER:(


❤❤❤


"Pak ke bandara." Ucap Rayhan pada supir yang sejak tadi menunggu dimobil karena perintah sang papa.


Tadi sebelum berhasil keluar dari rumah, Rayhan sempat berdebat dengan papanya.


Hingga akhirnya Wijaya Kesuma mengizinkan dengan syarat Rayhan keluar bersama supir, agar Rayhan tidak kabur atau melakukan hal lain yang tidak dia inginkan.


"Kenapa ke bandara, tadi tuan menyuruh saya agar segera mengantar den Ray." Sang supir melirik ke belakang, melihat Rayhan sedang menunduk sambil memijit pelipisnya.


"Ke bandara pak." Ulang Rayhan, tapi mobil masih melaju dengan kecepatan tinggi. Menandakan sang sopir tidak akan menuruti kemauan Rayhan.


"Tolong bantu saya kali ini aja pak, saya gak mau pertunangan ini terjadi. Saya punya gadis lain yang sangat saya cintai."


"Tapi den, saya nggak mungkin melanggar perintah tuan. Saya bisa dipecat,"


Mendengar penolakan lagi, Rayhan terdiam. Memikirkan bagaimana cara agar bisa pergi ke bandara secepatnya, dengan atau tidak diantar sopir suruhan papa nya.


"Bapak namanya siapa?" Tanya Rayhan lagi, mendekatkan diri pada sopir itu.


"Nama saya Yusuf den." Jawab pria paruh baya yang bernama Yusuf itu, masih menatap lurus kedepan.


Rayhan mengangguk, lalu menoleh ke jendela. Menatap mobil yang berlalu lalang walau sedang hujan. Barisan gedung tinggil berlarian meninggalkan nya, karena pacuan mobil yang cepat.


"Bapak tahu, saya pernah suka sama cewek teman SMA saya." Rayhan membuka cerita, sedangkan pak Yusuf menajamkan telinga mendengarkan.


"Dia dulu penyemangat saya, yang selalu ada saat saya butuh. Tapi ternyata kebaikan dia semua nya palsu. Setelah dia, saya juga kenal gadis lain. Gadis cantik yang nggak mau dibilang cantik dan mengaku cantik, gadis kaya yang punya segala nya tapi justru ingin kelihatan sederhana. Kayla namanya, dia cantik, papa nya orang kaya, tapi ternyata hidup nya gak sebahagia yang saya kira.


Dia punya harta, tapi nggak dapat kasih sayang orangtua. Mama nya, meninggal sewaktu kecil."

__ADS_1


Rayhan menghela napas dalam, setelahnya tersenyum lirih menatap hujam yang masih turun dengan derasnya.


"Papa nya, sibuk dengan bisnis bahkan kadang mereka ketemu sekali sebulan. Abang nya Kayla, dia ada di Amerika. Gadis cantik itu kesepian, teman cerita dia nggak punya. Bapak tahu? Saya banyak sisi unik gadis itu yang buat saya jatuh cinta. Saya berharap, saya adalah orang yang akan menjadi tempat dia berbagi luka dan bahagia. Saya ingin bersama dia, tapi saya rasa belum pantas jadi pendamping gadis itu....,"


Ucapan Rayhan terpotong, saat menyadari mobil sudah putar arah dan melaju dalam kecepatan tinggi.


"Kita cari jalan pintas, kalau jam segini biasa nya jalanan macet karena jam pulang kantor den." Ucap pak Yusuf sambil melirik Rayhan dari kaca depan.


Rayhan tersenyum, detik berikutnya dia menepuk bahu pak Yusuf mengungkapkan rasa terimakasih nya.


"Menurut bapak, apa yang saya lakuin ini benar atau salah?" Tanya Rayhan setelah lama terdiam.


"Menurut saya den, nggak ada salah nya memperjuangkan sesuatu yang kita inginkan. Bapak dukung den Rayhan, kalau memang itunyang terbaik." Ujar pak Yusuf tulus, pria paruh baya itu tahu benar tentang kehidupan majikan nya. Tentang Rayhan yang juga tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang papa nya.


Hujan semakin deras, membuat penglihatan sedikit terganggu. Laju mobil pun sedikit berkurang, jalanan yang sepi dari lalu lalang mobil lain karena jalan yang dilalui adalah jalan alternatif menuju bandara.


Suara petir bergemuruh, membuat Rayhan sesekali memejamkan mata merasakan ada perasaan aneh.


Ninja, sampai sekarang gue belum tau kenapa gua bisa jatuh cinta sama lo. Apapun yang terjadi, perasaan gue akan tetap sama. Meskipun suatu saat nanti gue udah nggak ada didunia ini.


Mobil masih terus melaju menembus deras nya air hujan, suara dering ponsel pak Yusuf membuyarkan lamunan panjang Rayhan. Rayhan tersenyum dan mengangguk saat pak Yusuf melirik meminta persetujuan mengangkat telfon.


Rayhan kembali memejamkan mata, tak ingin mendengarkan percakapan pak Yusuf dengan seseorang disambungan telfon. Namun suara keras klakson mobil membuat Rayhan terkejut, didepan sana sebuah mobil truk tengah hilang kendali berjalan mendekati mobil yang ditumpangi Rayhan.


"Awas pak!" Teriak Rayhan, membuat pak Yusuf semakin hilang kendali. Kecelakaan tidak dapat dihindarkan lagi, pak Yusuf banting setir ke sisi kanan jalan yang ternyata adalah sebuah jurang.


BRRUUKKK


* * * * * * * * * * * *


Disisi lain, para tamu undangan dan kolega besar keluarga Rayhan dan Clara sudah berkumpul. Acara seharusnya sudah dimulai sejak setengah jam lalu, namun karena pihak pria belum menampakkan diri membuat semua orang merasa risau.


Terlebih lagi Clara, gadis cantik yang sudah mengenakan gaun putih yang memperlihatkan bahu serta leher jenjang nya itu tengah berdiri disudut ruangan.

__ADS_1


Sesekali Clara meletakkan ponsel ditelinga nya, menghubungi seseorang sepertinya.


Sesekali juga mata nya berkeliling, mencari sosok pria yang sudah dia tunggu kehadiran nya.


Han lo dimana sih, angkat telfon gue please! Gumam Clara masih berusaha menghubungi Rayhan, calon tunangan ya. Clara kembali mengedarkan pandangan, mencari keberadaan Rayhan.


Namun emosi nya tiba-tiba muncul saat melihat kehadiran gadis bercadar yang tengah mengobrol bersama beberapa tamu lain. Clara menghampiri gadis itu, lalu dengan kasar meraih lengan Kayla.


"Dimana Han?" Tanya Clara tak santai, menguatkan cengkraman tangan nya dilengan Kayla. Kayla meringis, lalu menghempas tangan Clara.


"Aku nggak tau Clara, aku kan baru dateng." Jawab Kayla lembut, lalu berbalik. Tapi tarikan dihijab nya membuat Kayla kembali menoleh.


"Jangan bohong, dimana Han. Gue tau pasti karena lo kan dia telat dateng." Sentak Clara dengan kasar. Lisa yang ada di samping Kayla langsung mendorong gadis itu.


"Jangan kasar sama sahabat gue, dan kami nggak tau dimana kak Ray. Jadi tolong jangan ganggu Kayla." Lisa memperingatkan dengan tegas, tangan nya terkepal menahan emosi. Jika saja tidak berada ditempat seramai ini mungkin saja Lisa sudah adu mulut dengan Clara.


Lisa menarik tangan Kayla, mencari sudut rungan terjauh agar tidak bertemu Clara lagi.


Waktu terus berjalan, tamu undangan semakin banyak yang hadir. Ruangan yang sudah didekorasi sedemikian rupa akan menjadi saksi pertunangan Rayhan dan Clara. Namun hampir satu jam menunggu, belum juga ada tanda-tanda kehadiran Rayhan. Membuat Kayla merasa khawatir akan keberadaan pria itu.


Di depan pintu masuk, Wijaya Kesuma dan juga Roland sedang menunggu dengan gelisan. Semakin banyak tamu yang hadir, semakin banyak pula yang sudah mempertanyakan keberadaan Rayhan.


"Sialan, anak bodoh!" Sesekali Wijaya Kesuma mengumpat kesal saat mencoba menghubungi Rayhan namun tidak tersambung. Roland, pria itu bahkan sudah beberapa kali keluar masuk ruangan menunggu kehadiran adik nya.


Roland khawatir, ada perasaan tidak enak yang sejak tadi terus menganggu pikiran nya. Yang saat ini dipikirkan Roland hanya keberadaan adiknya, pria itu sudah tidak memikirkan lagi bagaimana nasib para tamu undangan jika Rayhan memang benar-benar tidak datang.


Lo dimana Ray, jangan buat gue khawatir. Lirih Roland sambil menatap nanar pintu masuk, berharap adik nya segera muncul.


"Roland, coba kamu hubungi adik kamu itu. Jangan membuat papa malu, tamu undangan udah banyak yang datang."


"Sabar pa, mungkin Rayhan terjebak macet. Lagipula diluar masih hujan pa." Ujar Rayhan menenangkan.


Sejujurnya, Roland pun merasa khawatir. Namun pria itu berusaha tetap tenang, karena dia yakin tidak mungkin terjadi sesuatu pada Rayhan.

__ADS_1


__ADS_2