
❤❤❤
” Dan Boleh Jadi Kamu Tidak Menyenangi Sesuatu, Padahal Itu Baik Bagimu, Dan Boleh Jadi Kamu Menyukai Sesuatu ,Padahal Itu Tidak Baik Bagimu, Dan Allah Mengetahui Sedangkan Kamu Tidak Mengetahui”
(Al Baqarah : 216)
❤❤❤
Rayhan terdiam didalam kamar, pagi ini dirinya lebih didalam kamar tidak keluar sama sekali.
Bahkan sudah beberapa kali ketukan dipintu dari sang mama, tidak berhasil membuat nya berkeinginan keluar.
Pria itu duduk di tepi tempat tidur, dengan penampilan nya yang tampak kacau dan tangan sebelah kiri memegang botol wine.
Sesekali Rayhan meneguk minuman nya, lalu tertawa sumbang tanpa alasan.
Ketukan di pintu kembali terdengar, Rayhan hanya menoleh sekilas lalu kembali meneguk botol wine nya.
Tapi sebuah tangan kemudian merampas botol tersebut dari tangan nya, Rayhan mendongak. Mendapati Roland sedang menatap tajam.
"Mau minum sampai mati lo?" Dengus Roland, pria itu berjalan ke arah baklon. Lalu melempar botol minuman itu kebawah.
Rayhan hanya diam tak perduli, pria itu masih menunduk dengan sesekali tertawa sumbang. Pagi ini dia mendapat kabar dari beberapa pelayan rumah, persiapan acara pertunangan nanti malam hampir rampung. Acara nya di selenggarakan disebuah hotel mewah bintang 5.
Rayhan menoleh sudut ruangan, disana tergantung jas putih dengan beberapa setelan mewah lain nya yang akan dia kenakan untuk acara nanti malam.
Dering ponsel membuat Rayhan menoleh, sebelum pria itu bergerak Roland sudah lebih dulu merampas ponselnya.
Clara. Roland berdecak malas saat melihat nama penelfon. Menghembuskan nafas kasar, akhir nya Roland menjawab.
"Halo,kenapa?" Singkat Roland tak mau basa-basi.
"Waah kakak ipar, apa kabar?" Tanya Clara dengan suara girang.
"Heem, kenapa?" Ulang Roland, dirinya terlalu malas untuk menanggapi ucapan Clara.
"Kakak ipar sensi banget, gue mau bicara sama Han. Gue lagi cobain baju untuk nanti malem, gue pengen dia liat."
"Ray nggak ada, lagi perawatan disalon."
"Uwaahh, bagus dong kakak ipar. Nanti jangan lupa bilang Han...,"
Tuuutt. Sambungan dimatikan begitu saja, Roland kembali melempar ponsel di kasur lalu duduk disamping adiknya.
"Gue tau lo nggak setuju pertunangan ini, tapi lo juga harus terima kalau ini emang bener-bener takdir lo Ray." Roland menepuk bahu adiknya, memberikan semangat.
__ADS_1
"Kadang, ada sesuatu yang menurut kita baik tapi kenyataan nya cuma membawa mudharat. Kadang, sesuatu yang kita anggap buruk justru itu yang baik untuk kita." Suara Sonya terdengar dari kejauhan. Membuat Rayhan dan Roland langsung menoleh.
Wanita paruh baya itu mendekat, dengan nampan berisi roti dan susu di tangan nya.
"Makan ya sayang, kamu belum makan apa-apa." Sonya mendekat, lalu mengelus puncak kepala Rayhan.
Detik berikut nya, tepukan halus itu berubah menjadi jambakan kasar.
"Kamu minum lagi?" Tanya Sonya, dengan garang mode on.
"Kamu ini Ray, Ya Allah. Mama udah nggak sanggup lagi..," Sonya memijit pelipis nya, merasa denyutan tiba-tiba yang menyerang kepala.
"Ray, kamu mau sampai kapan begini terus nak? Mama sama papa ini udah tua, kalian udah seharus nya nggak jadi beban pikiran mama dan papa lagi."
"Aku bukan anak papa!" Suara serak Rayhan terdengar lantang, membuat Roland menepuk bahunya memperingatkan.
Sonya, wanita paruh baya itu menghela napas lalu menunduk. Rasa bersalah menyeruak dalam hatinya.
"Kamu anak papa, sayang." Ucapnya kemudian.
Rayhan kembali menggeleng, sorot mata nya yang hampa menyerukan penolakan.
"Nggak ada papa yang begitu sikap nya sama anak sendiri, mah." Rayhan menolak lagi, Roland hanya diam menyimak. Kali ini dia setuju dengan adiknya. Memang benar, papa mana yang begitu kejam pada anaknya sendiri.
"Percaya sama mama, nak. Kamu anak papa." Ucap Sonya meyakinkan lagi.
"Apa alasan papa begitu membenci anak nya sendiri, sampai papa nggak mengakui Rayhan. Apa alasan semua itu mah?" Tanya Rayhan bertubi-tubi.
Sonya berdiri, meletakkan nampan diatas nakas. Lalu kembali duduk disisi Rayhan, menepuk halus pundak putra sulung nya.
"Dulu, waktu mama mengandung kamu dan Roland masih umur dua tahun...," Sonya membuka cerita. Dua anak laki-laki nya terdiam menyimak.
"Sebelum menjadi politikus, dulu papa seorang..,"
"Tunggu mah!" Roland menjeda, pria itu kemudian berlari kearah pintu. Membantingnya keras, kemudian kembali duduk di samping mamanya.
"Kampret, gue kira lo mau ngapain." Dengus Rayhan sambil menyikut lengan kakak nya.
"Dulu, sebelum menjadi politikus besar. Papa kamu itu seorang pengusaha sukses, dia membangun usaha nya dari nol sampai besar. Tapi sahabatnya, Tuan Wijaya. Ternyata skil nya dalam dunia bisnis jauh lebih unggul dari papa, dia menang berbagai tender dan kerjasama dengan perusahaan asing.
Papa kamu bangkrut...,"
Air mata Sonya mulai menetes, wanita paruh baya itu mulai sesenggukan mengingat kejadian beberapa puluh tahun silam.
"Malam itu, papa pulang kerumah. Keadaan nya berantakan, dia marah-marah sama mama. Dan menyalahkan bayi dalam kandungan mama. Papa menganggap, anak yang mama kandung saat itu adalah anak pembawa sial. Jadi papa suruh mama untuk gugurkan kandungan itu, tapi mama nggak mau...,"
__ADS_1
"Dan papa...,"
"Udah cukup mah." Suara Rayhan terdengar dingin, pemuda itu kemudian beranjak ke kamar mandi.
Sedangkan Roland terdiam, mengelus bahu mama nya yang masih menangis.
* * * * * * * * * * * * * *
Rayhan mengunci pintu kamar mandi, pria itu berdiri didepan cermin menatap nanar diri sendiri.
Rayhan tersenyum getir, mata yang memerah karena terlalu banyak minum menjadi semakin merah menahan air mata.
Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan Rayhan?
Bagaimana bisa, seorang anak yang masih didalam kandungan sudah dibenci oleh papa nya untuk kesalahan yang sama sekali bukan karena nya.
Bagaimana bisa, seorang papa begitu kejam. Melimpahkan semua kesalahan dan takdir kehidupan pada seorang bayi yang bahkan belum lahir kedunia?
Rayhan terduduk lemas dilantai, menyembunyikan wajah dibalik lipatan kaki. Perlahan, isak tangis terdengar dari pria yang sedang terduduk dipojokan kamar mandi itu.
Hati nya teriris, bagai sayatan belati yang menancap tiada henti. Menyadari fakta bahwa dirinya sudah dibenci bahkan sebelum hadir didunia ini.
Seolah kehadiran nya adalah kesalahan, dan kehidupan nya membawa kesengsaraan.
"Bangs4t!" Rayhan mengumpat berkali-kali, pria itu masih menyembunyikan wajah dibalik tekukan kaki.
Detik berikut nya Rayhan tertawa, menertawakan diri sendiri. Begitu bodoh dirinya yang selama ini begitu mengharapkan kasih sayang seorang papa. Tapi pada kenyataan nya, justru kehadiran nya tidak pernah diharapkan.
"Hahahaha..., bodoh." Lirih Rayhan disela tangisnya.
Entah untuk siapa kata bodoh itu, untuk dirinya yang terlalu mengharapkan kasih sayang.
Atau untuk Wijaya Kesuma yang menyalahkan Rayhan tanpa alasan.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Terkadang, manusia terlalu terpuruk dalam kesedihan. Hingga kadang lupa, jika baik buruk kehidupan takdir yang menentukan.
Jangan berkecil hati. Hanya karena satu orang yang membenci, lantas membuat mu bergundah hati.
Ingat! Bahkan Nabi, manusia sempurna dimuka bumi ini. Yang sempurna Akhlak dan rupa nya, tetap ada yang membenci, tetap ada yang ingin menyakiti.
Lalu bagaimana dirimu, yang akhlak sendiri masih di perbaiki, paras sempurna tak kau miliki.
Dan masih mengharap kehidupan yang begitu sempurna untuk kau jalani?
__ADS_1
Biarkan saja, semua makhluk membenci mu. Asal jangan Pencipta-mu yang membenci!
* * * * * * * * * * * * * * * * * * *