
Kayla dan Lisa saat ini tengah berada sibuah cafe tak jauh dari hotel tempat acara pertunangan Rayhan dan Clara akan dilangsungkan.
Setelah tadi susah payah membujuk Kayla, sekarang Lisa harus kembali membujuk gadis itu. Pasal nya sejak dimobil tadi Kayla kembali hilang percaya diri dan mengurungkan niat untuk datang ke acara itu.
Kayla melirik Lisa yang tengah asik bermain ponsel dan sesekali menyeruput minuman pesanan nya.
Gadis yang sudah berdandan sedemikian rupa itu tengah cemberut menunggu Candra dan dua antek-antek nya bernama Doni dan Agung.
"Assalamualaikum Ay." Suara Alex terdengar dikejauhan, Kayla dan Lisa sontak menoleh mencari sang empu suara.
Lisa kembali tertegun saat melihat penampilan Alex malam ini, Pria blasteran itu datang mengenakan baju motif batik ciri khas orang kondangan.
"Hati-hati zina mata." Tepukan di bahu nya dari Kayla membuat Lisa tersadar, lalu tersenyum canggung.
"Waalaikumsalam," Kayla tersenyum lalu menggeser kursi nya mempersilakan Alex duduk di sisi kanan nya.
"Kenapa disini Lex? Kamu gak takut telat?"
"Lah kamu ngapain disini Ay, gak takut telat juga?" Tanya Alex balik, membuat Kayla gelagapan sambil menggaruk kepala yang terbalut hijab.
"Kita lagi nunggu Candra sama dua antek-antek nya gak dateng dari tadi." Sungut Lisa sambil mengaduk-aduk minuman nya, gadis itu semakin tak bisa menahan kesal menunggu Candra yang belum juga muncul batang hidung nya.
"Oii bro, disini juga lo?" Suara jenaka Candra terdengar, tak lama Doni juga ikut muncul dan menepuk bahu Alex. Sedangkan Agung yang selalu datang terakhir, langsung duduk disisi kiri Kayla.
"Assalamualaikum Kay..," Sapa nya ramah sambil tersenyum, membuat Kayla yang tadi hanya diam sambil menunduk kemudian menoleh dan tersenyum.
"Waalaikumsalam, kak Agung." Jawab nya lembut, membuat Agung semakin tersenyum lebar. Jika boleh jujur, Sejak pertama kali bertemu Agung sudah menyimpan simpati pada Kayla.
Ada sisi lain dari gadis itu yang membuatnya sedikit tertarik.
"Woi Agung, gausah modus lo kampret!" Teriak Doni yang duduk di samping Candra, pria itu sudah sibuk mengunyah makanan yang dipesan oleh Lisa.
"Berisik lo ah, kaga modus gue!" Dengus Agung melempar tatapan tajam pada sahabatnya.
"Btw kenapa panya nyangkut disini dah, acara pertunangan nya si bos kan bentar lagi, kalau telat dateng takut gak kebagian kue gue nya." Celetuk Doni sekenanya, mengundang tatapan tajam dari semua orang.
"Otak lu makanan doang isi nya, udah muka kaya relief candi di makeup in. jangan badan lo juga melar,"
"Nah bener, makin nelangsa aja hidup lo kalau gak ada yang mau." Tambah Lisa saat Candra mengumpat sahabat nya, yang membuat Doni langsung menatap tajam dan bersiap melayangkan kepalan tangan pada Candra.
Tapi deheman seseorang membuat mereka sontak menoleh kesumber suara, dan mendapati Rayhan sedang berdiri tak jauh dari meja tempat mereka berkumpul.
Rayhan yang mengenakan jas putih dan tatanan rambut yang sudah lebih rapi dari biasanya membuat mereka terkagum-kagum. Pria yang cendrung tanpa ekspresi itu berdiri santai dengan kedua tangan dimasukkan kedalam saku celana.
Rayhan berjalan, mendekati Kayla yang duduk diantara Alex dan Agung, dengan jarak aman tentunya.
"Assalamualaikum." Sapa Rayhan, kemudian menarik sebuah kursi untuk duduk.
"Waalaikumsalam." Jawab semua nya kompak. Alex dan Agung yang semula sibuk mencari topik obrolan dengan Kayla menjadi diam, begitu juga dengan Lisa dan Candra yang bucin akut nya sedang kumat ikut terdiam. Doni? Pria itu seolah tak menyadari kedatangan Rayhan, masih sibuk menghabiskan makanan di meja. Karena prinsip Doni, tidak ada apapun yang lebih penting kalau lagi makan..
"Wesss wagelaseh yang mau resmi tunangan, ganteng nya kelewatan." Agung mendekati Rayhan, lalu mencolek dagu Rayhan sambil mengerlingkan sebelah mata. Rayhan sontak membelalakkan mata, lalu menepis tangan Agung.
"Kampret, jangan sentuh gue. Gue masih suci,"
__ADS_1
Sontak saja kelakuan dua pria itu mengundang gelak tawa mereka semua, kecuali Kayla. Gadis itu hanya menunduk sejak kedatangan Rayhan.
Tampan, Rayhan memang tampan. Terlebih lagi malam ini, dengan pakaian formal yang lebih rapi, tidak seperti biasanya.
Tapi Kayla sadar, jika pria tampan yang ada dihadapan nya ini, pria pemilik hati yang sudah lama terpatri sebentar lagi akan memiliki gadis lain.
Malam ini yang akan menjadi saksi, jika tak ada lagi kesempatan bagi Kayla untuk bersama dengan Rayhan. Meski sulit menerima kenyataan, tapi kita sebagai manusia bisa apa jika Tuhan sudah menentukan?
"Ninja gue mau ngomong bentar." Suara Rayhan membuyarkan lamunan panjang Kayla. Rayhan berdiri, lalu mendekati gadis bercadar navy itu.
Kayla masih diam sambil menatap Rayhan, sedangkan Alex sudah menatap tidak suka.
Rayhan menarik tangan gadis itu, membuat Kayla memberontak karena terkejut.
"Lepasin kak." Kayla memberontak, tapi tangan Rayhan terlalu kuat mencengkram lengan nya yang berlapis baju panjang serta hijab yang menjuntai.
Tanpa memperdulikan penolakan Kayla, Rayhan tetap menarik gadis itu menuju pintu keluar. Tapi teriakan Alex dan juga langkah Kayla yang tiba-tiba berhenti membuat Rayhan menoleh.
Rayhan menatap tidak suka, saat melihat Alex juga mencengkram tangan kiri Kayla. Rayhan tidak suka gadisnya disentuh orang lain!
Kayla menghempas kasar tangan Rayhan dan Alex, lalu menjauhi dua pria yang saling menatap tajam itu.
"Kenapa lo?" Tanya Rayhan tak santai, tangan nya sudah mengepal untuk menahan emosi.
"Kamu mau ngomong apa sama Ay sampai harus narik-narik dia?" Tanya Alex ketus, pria itu juga tengah menahan emosi karena perlakuan Rayhan tadi.
"Gak perlu tau," Menjawab ketus. "Ninja gue mau ngomong sama lo sebentar." Rayhan berusaha memelankan suara nya, walaupun dalam hati tersimpan emosi yang meledak-ledak.
Kayla terdiam, sambil melirik Alex dan Rayhan bergantian. "Nggak papa Lex, kamu masuk aja sama yang lain. Kamu pasti laper kan?" Jawab Kayla setelah terdiam cukup lama.
Mendengar jawaban Kayla, senyum manis di bibir Alex musnah seketika. Pria itu mengangguk sambil tersenyum lirih, rasa kecewa memenuhi relung hatinya. Menyadari kenyataan bahwa gadis yang sangat dicintai nya itu ternyata lebih memilih ikut bersama Rayhan.
Alex berbalik, lalu menepuk dada nya yang merasa sesak. "Maaf Alex," Suara lembut Kayla terdengar. Alex menoleh sekilas, lalu mengangguk. Sedangkan Rayhan hanya berkacak pinggang melihat Alex yang berjalan menjauh.
❤❤❤
Gemericik air hujan yang perlahan turun, mulai membasahi bumi. Begitu juga cafe ini, beberapa pengunjung mulai berlari mencari tempat berteduh, Kayla dan Rayhan berdiri dijarak setengah meter di depan cafe.
Rayhan menatap dikejauhan, mobil berlalu-lalang memenuhi jalanan. Pria itu mengembuskan napas panjang, lalu menoleh pada gadis disampingnya.
"Pas lagi sama lo,kenapa hujan terus ya?" Ujar Rayhan, pria itu kembali mengenang masa-masa bersama gadis pujaan nya. Dulu, sepulang dari acara di kost-an Lisa terjebak hujan, saat Rayhan hilang kesadaran di depn gerbang juga hujan sedang mengguyur deras, kemarin saat bertemu di taman, bahkan saat ini pun sedang hujan.
Jadi, apakah hujan adalah pertanda bahwa alam pun bersedih melihat kebersamaan mereka. Atau alam bersedih, melihat dua insan yang saling mendamba tak kunjung bersua?
"Haha, iya kak. Kenapa yah?" Gadis itu tergugup, ada rasa dihati Kayla ingin pada Rayhan. Tapi dinding tinggi menjulang bernama pertunangan selalu menjadi penghalang.
Jika saja Kayla sedikit egois, mungkin bisa saja gadis itu mengutarakan isi hatinya pada Rayhan. Mengutarakan penolakan, karena Kayla tak rela Rayhan menjadi milik orang lain. Tapi gadis itu cukup sadar, semua ini sudah takdir Tuhan.
"Ya kalau nggak hujan kan gue cepet pergi, dan lo kangen lagi. Jadi lo harus bersyukur, hujan itu rahmat lho." Rayhan tertawa lepas, deretan gigi putih nya terlihat, begitu juga lesung pipi yang membuat nya semakin tampan.
"Alhamdulillah," Kayla tak menanggapi candaan Rayhan, walau sebagian besar ucapan pria itu ada benarnya, termasuk rasa rindu.
"Ninja, kalau misalkan gue pergi, apa lo yakin suatu hari nanti gue balik lagi kesini," Rayhan melirik dada Kayla. Membuat gadis itu sontak kaget dan berbalik badan.
__ADS_1
"Yaelah bukan itu maksud gue, otak lu pikiran nya kotor aja haha." Rayhan tertawa, lalu menarik hijab gadis itu agar kembali menghadap padanya.
"Maksud gue, apa suatu hari nanti gue masih tetap jadi pemilik hati lo?" Kali ini suara Rayhan terdengar serius, sorot mata nya menyiratkan harapan besar.
Kayla bagai dejavu, gadis itu terdiam memikirkan ucapan Rayhan. Siapa yang tahu bagaimana isi hati, bisa berubah seiring waktu atau tetap menanti kepastian.
"Allah maha membolak-balik hati kak, kita nggak ada yang tau gimana kedepan nya. Dan kak Ray harus belajar terima Clara. Mungkin dia yang terbaik buat kak Ray." Sakit memang, tapi Kayla tetap mengucapkan kalimat itu.
Sebagai pengingat untuk Rayhan dan untuk dirinya sendiri, harus berlapang dada.
Rayhan menghela napas panjang, lalu dalam hati dia sudah menetapkan satu keputusan tentang bagaimana kedepan.
"Oke kalau gitu, gue pamit ninja. Jaga diri baik-baik disini, apapun yang terjadi ingat perasaan gue tetap sama." Rayhan tersenyum,menatap lekat wajah Kayla yang sebagian tertutup kain cadar.
Ingin sekali dalam hatinya memeluk gadis itu, sebagai salam perpisahan. Tapi Rayhan menahan, niat hatinya adalah memantaskan diri untuk menjadi imam yang pantas bagi Kayla.
Rayhan maju beberapa langkah mendekati Kayla, kedua nya bertatapan seolah enggan berpaling. Dengan segenap keberanian yang dia punya, Rayhan menepuk puncak kepala gadis itu. Kayla memejamkan mata, saat sebuah tepukan hangat berkali-kali terasa di puncak kepala nya.
Jantung, jantung kenapa kumat? Lirih Kayla dalam hati, debaran jantung nya berpacu cepat. Perasaan yang sama setiap kali berada di dekat Rayhan.
Perlahan gerakan tangan itu mulai turun, menyapu bagian wajah Kayla dengan hangat. Lalu berhenti dihidung nya, Kayla membuka mata lebar saat Rayhan menarik hidung nya.
Pria itu tertawa, menyeret kasar hidung Kayla ke kanan dan kiri. Gadis itu malah dengan polos nya mengikuti tarikan tangan Rayhan.
"Gue pamit ninja,jangan kangen. Assalamualaikum."
"Lah kan nanti juga ketemu di hotel, aku gak kangen kak Ray." Tolak Kayla spontan, membuat Rayhan yang sudah berjalan kemudian menoleh lagi.
"Gue gak kehotel, gue mau cari mahar untuk nanti ngelamar lo. Gak mungkin kan cuma Ku Pinang kau dengan Bismillah kaya judul film." Seloroh Rayhan sambil melambaikan tangan dengan senyuman manis merekah dibibirnya.
Kayla mengernyit heran, gadis itu terfokus pada hotel. Rayhan bilang dia tidak kehotel, lalu kemana?
Rayhan mengangguk lirih, meyakinkan dirinya sendiri. Perlahan pria itu berjalan ditengah rintik hujan.
"Kak Ray." Suara Kayla terdengar, membuat langkah Rayhan kembali terhenti. Tapi pria itu tak sanggup menoleh kebelakang.
Rayhan memejamkan mata, setetes air bening meluncur di pipinya.
Tunggu gue Ninja, tunggu gue sampai balik lagi. Kali ini mungkin kita bakal pisah lebih lama lagi.
Rayhan bergegas, meninggalkan Kayla yang masih berdiri terdiam menatap punggung pria itu yang mulai menjauh. Tak lama menghilang masuk kedalam mobil.
Kayla menangis lirih, gadis itu menutup mulut sekuat mungkin agar isak tangis nya tak keluar.
"Pak ke bandara." Ucap Rayhan pada supir yang sejak tadi menunggu dimobil karena perintah sang papa.
Memang perpisahan begitu menyakitkan, tapi apa kau tahu? Dua orang yang saling mencintai tapi harus terpisah itu jauh lebih menyakitkan dibanding berpisah nya dua orang yang tak sejalan.
🍃
🍃
**
__ADS_1