
Suasana bandara bandara Soekarno Hatta penuh sesak para penumpang yang ingin berpergian baik dari dalam maupun luar negeri. Berjalan dengan menggeret sebuah koper besar, seorang pria berhoodie hitam dengan tudung menutupi kepala berjalan santai. Sebuah earphone berwarna putih bertengger di leher nya, sesekali pria itu mengedarkan pandangan menatap keramaian. Pria yang juga mengenakan masker dan kacamata hitam itu sesekali bersenandung ria dan bersiul, menggambarkan suasana hati nya yang sedang dalam keadaan baik.
Ya, kepulangan nya ke tanah air setelah menghilang begitu saja satu tahun yang lalu pasti membuat suasana hati nya dalam keadaan baik. Rayhan, nama pria itu adalah Rayhan jika mungkin ada yang melupakan. Rayhan berjalan santai menuju pintu keluar bandara, pria itu tengah menunggu taxi online yang sudah di pesan beberapa waktu lalu.
Tak lama menunggu, sebuah mobil hitam menepi di hadapan nya. Tanpa pikir panjang, Rayhan masuk kedalam mobil.
"Ke alamat ini, pak." Rayhan menunjukkan sebuah alamat melalui ponsel nya. Sang sopir mengangguk tanda mengerti.
Bukan rumah tujuan utama nya saat ini, bukan pula menemui mama nya. Ada satu tujuan yang sangat ingin Rayhan datangi saat ini.
Mobil melaju, membelah jalanan ibukota yang begitu ramai di pagi hari. Sesak kendaraan yang berlalu-lalang menciptakan kemacetan panjang, bukankah suatu hal yang menjadi ciri khusus ibukota? Tak lama, mobil memasuki jalanan sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang saling berpapasan, Rayhan menoleh ke luar jendela. Menatap dari kejauhan, sebuah tempat yang menjadi saksi bagaimana dia hampir kehilangan nyawa satu tahun yang lalu.
Rayhan memejamkan mata, ingatan tentang kecelakaan malam itu kembali terlintas. Mengurut pelipis dengan jari tangan, Rayhan mendesah panjang menghilangkan ketegangan.
Ingatan nya kembali pada kejadian setahun yang lalu,tepat saat mobil yang dia tumpangi hilang kendali karena menghindari mobil truk yang melaju dari arah depan. Saat itu, Rayhan masih sempat membuka pintu dan berhasil melompat keluar. Namun naas, kepala nya terbentur baru di pinggir jalan, hanya itu yang mampu Rayhan ingat.
Karena kejadian nya tak mampu dia ingat lagi, bahkan siapa yang telah menyelamatkan dan membawa nya kerumah sakit pun tidak diketahui.
Awal nya, setelah pulang dari rumah sakit Rayhan berniat kembali pulang kerumah. Tapi setelah berpikir panjang, bukan kah lebih baik dia menghilang untuk saat ini. Karena dengan kembali pun justru akan lebih memperburuk keadaan, maka dari itu Rayhan memutuskan untuk pergi.
Bahkan tanpa memberitahu siapapun, bahkan mungkin saja semua orang mengira nya telah tiada karena kecelakaan yang dialaminya.
Mobil perlahan menepi di depan sebuah rumah mewah di kawasan elite jakarta. "Sudah sampai tuan." Suara sang supir membuyarkan lamunan panjang Rayhan.
Rayhan berdehem, lalu mengeluarkan beberapa lembar pecahan uang dari dalam saku celana. "Terimakasih." Ucap nya kemudian keluar dari dalam mobil.
Rayhan berdiri dihadapan gerbang yang tinggi menjulang, tempat ini sudah begitu banyak berubah. Rahyan hanya berharap, semua yang berubah tidak akan ikut mengubah perasaan seseorang untuknya.
Masih tetap mengenakan masker, kacamata hitam dan hoodie bertudung, Rayhan mendekati post satpam yang berada di pojokan gerbang.
__ADS_1
"Kayla nya ada?" Tanya Rayhan langsung pada intinya, sungguh tak ada waktu untuk berbasa-basi. Kerinduan mendalam yang sudah lama dia tahan, menuntut nya untuk
segera bertemu dengan gadis pujaan hati.
"Nona Kayla dan keluarga sedang ada di hotel A, hari ini acara pernikahan."
Deg! Degub jantung Rayhan seketika berdetak tak beraturan, ada perasaan aneh dan asing yang menyeruak didalam hatinya.
"Siapa yang nikah?!" Tanya Rayhan tak santai, tangan yang semula pria itu sembunyikan didalam saku celana langsung terkepal ingin mendaratkan pukulan pada satpam dihadapannya.
Tanpa menunggu jawaban, Rayhan berlalu pergi. Mencari taksi atau kendaraan apapun yang bisa membawa nya secepat mungkin ke hotel yang di informasi kan satpam tadi.
* * * * * * * * * * * *
Sebuah hotel mewah berbintang lima milik keluarga besar Wijaya dipusat kota hari ini terlihat jauh lebih ramai dari biasanya, bukan tanpa sebab. Karena pernikahan putri bungsu keturunan Wijaya lah yang membuat hotel mewah itu disulap menjadi lebih mewah lagi. Perlahan Rayhan berjalan masuk kedalam hotel, entah kenapa sejak sampai disini perasaan nya begitu tidak enak.
Sampai lah Rayhan dipintu sebuah aula besar tempat dilangsungkan nya acara pernikahan, kedatangan nya disambut dengan dekorasi mewah nan indah yang menyilaukan mata. Beberapa tamu undangan yang berasal dari kalangan pejabat hingga konglomerat pun mampu Rayhan kenali. Pria yang masih setia menutup kepala dengan tudung hoodie itu mengedarkan pandangan, bukan untuk menikmati betapa indah nya suasana didalam ruangan ini. Melainkan untuk mencari keberadaan gadis pujaan hatinya.
"Saya terima nikah dan kawin nya Kayla Natasha Wijaya binti Wijaya dengan....," Rayhan terkejut bukan main, saat mendengar kalimat ijab kabul yang barusaja dilontarkan seorang pria di hadapan sana. Terlebih lagi saat mendengat nama Kayla dalam kalimat nya.
"Assalamualaikum...," Rayhan mengucap salam, netra hitam nya menatap tajam pada seorang gadis bercadar yang tengah duduk dimimbar. Gadis itu tengah mendunduk, dan menangis tentunya.
"Assalamualaikum....," Salam kedua Rayhan ucapkan, dengan nada yang lebih keras berharap ada yang mendengar dan menyadari kehadiran nya.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca Rayhan perlahan berjalan mendekat.
Dikejauhan sana, seorang gadis bercadar dengan gaun putih melekat indah ditubuh nya mulai berdiri. Dan menatap tak percaya pada Rayhan, tak lama seorang gadis yang Rayhan ingat bernama Lisa pun ikut berdiri.
"BERHENTI...," Teriak Kayla, mengejutkan semua orang. Dan mengejutkan Alex yang hampir menyelesaikan kalimat nya didepan penghulu.
__ADS_1
Alex menoleh, lalu berdiri dan mengikuti arah pandang Kayla. Tangan Alex terkepal kuat saat melihat seorang pria yang tengah berjalan mendekat pada Kayla.
Dengan langkah tergesa Alex menghampiri Kayla, lalu menarik tangan gadis itu agar menjauh dari Rayhan.
"Siapa kamu? Ada perlu apa kesini?" Tanya Alex berbasa-basi. Menarik lengan Kayla, lalu menyembunyikan gadis itu dibalik punggung nya.
"Kayla..," Panggil Rayhan lembut, suara serak khas Rayhan terdengar begitu hangat menggetarkan hati seorang Kayla.
Perlahan Kayla menepis genggaman tangan Alex, lalu mengintip dari balik bahu pria itu.
Kak Ray..., Kak Ray..
Bagai mimpi yang menjadi nyata, kini pria yang telah lama menghilang itu berdiri dihadapan Kayla. Rayhan melepas tudung hoodie dan masker penutup wajah nya. Mata nya yang memerah dengan air mata yang hampir terjatuh, namun senyuman hangat tetap tecipta disudut bibir Rayhan.
"Assalamualaikum, Ninja." Sapa Rayhan masih mempertahankan senyuman.
"Waalaikumsalam...,"
Alex memejamkan mata, tangan nya terkepal kuat. Tak menyangka bahwa Rayhan masih hidup, dan harus muncul disaat hari pernikahan yang begitu dia dambakan tengah berlangsung. Ada rasa takut sangat besar dalam hati Alex, takut jika kemunculan Rayhan akan membatalkan pernikahan ini. Rasa amarah yang sudah memuncak, membuat Alex memantapkan keputusan.
Dengan tangan yang masih terkepal, Alex maju beberapa langkah. Dan tanpa aba-aba, melayangkan tinjuan sekeras mungkin pada Rayhan. Rayhan jatuh tersungkur, dengan sudut bibir mengeluarkan darah segar.
Pria itu tersenyum sumbang, jauh-jauh kepulangan nya dari Turki sana untuk memberikan kejutan pada Kayla sang pujaan. Namun, justru Rayhan lah yang mendapatkan kejutan tak terduga.
Hati mana yang tak sakit saat melihat seseorang tercinta duduk dalam mimbar menunggu kalimat sakral untuk menghalalkan hubungan dalam naungan agama. Rayhan hancur, begitu hancur hatinya. Perjuangan nya selama ini, menggunakan segala cara untuk mendapatkan Kayla. Namun ternyata? Kedatangan nya justru untuk menjadi saksi bahwa wanita tercinta nya akan segera menjadi milik orang lain.
Rayhan bangkit berdiri, mengusap aliran darah disudut bibirnya. Tatapan nya jatuh pada gadis bercadar yang tengah menangis pilu dihadapannya. Rayhan memejamkan mata, tersenyum lirih lalu memutar badan. Secepat mungkin Rayhan berjalan meninggalkan ruangan terkutuk ini.
* * * * * * * * * * * * * * * *
__ADS_1