Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 10. Salah sasaran


__ADS_3

Aruna dan Kala membawa Ustadz Soleh ke kamar dimana Bu Gayatri berada. Saat Kala membuka pintu itu, di dalam kamar itu kosong, membuat Kala dan Aruna saling melemparkan pandangan. "Ibu tadi di kamar kan, Yang?" tanya Kala heran.


Tentu saja Aruna mengangguk karena dia masih teringat jelas jika dia dan suaminya mengurung sang Ibu dalam kamar. "Iya. Ibu tadi di kamar," jawab Aruna yang membuat Ustadz Soleh menganggukkan kepalanya beberapa kali.


"Kamar ini mengeluarkan aura negatif yang sangat besar. Jika boleh meminta, silahkan Bu Aruna menunggu di luar. Biarkan saya dan Mas Kala yang mengurus semua ini," pinta Ustadz Soleh dan Aruna ingin menolak. Namun, ketika melihat suaminya menganggukkan kepala, Aruna pun menurut.


Setelah Aruna keluar, Ustadz Soleh meminta Kala untuk menutup pintu. Lalu, beliau langsung membaca beberapa ayat-ayat Al Quran untuk memancing Bu Gayatri keluar. Kala yang tidak tahu apa-apa, memutuskan bertanya dimana keberadaan sang Ibu Mertua.


"Ustadz? Ibu Mertua saya dimana? Kenapa beliau tidak ada?" tanya Kala bingung sekaligus merinding. Karena seingatnya tadi, pintu masih dalam keadaan terkunci.


"Beliau masih berada di dalam kamar. Hanya saja, ada sosok makhluk yang menyembunyikan beliau," jelas Ustadz Soleh yang membuat Kala menelan saliva merasakan ketakutan.


"Saya minta Mas Kala untuk berdoa sebisanya. Lafalkan kalimat Allah untuk memancing sosok itu keluar," pinta Ustadz Soleh yang segera mendapatkan anggukan kepala dari Kala.


"A'uzdubillahiminasysyaithonnirojim. Bismillaahirrohmaanirrohiim." Ustadz Soleh mulai membacakan ayat-ayat Allah untuk memancing sosok yang menghuni ruangan itu keluar.


"Keluar kau wahai iblis!" pekik Ustadz Soleh yang kemudian terdengar tawa pelan cekikikan.


"Keluar kau, Makhluk yang Allah laknat! Tidak seharusnya kamu menganggu manusia yang tidak pernah mengusik duniamu!" Ustadz Soleh kembali memanggil sosok itu hingga terdengar suara pintu lemari yang terbuka.


Kriieeeet..


Ustadz Soleh pun berjalan pelan-pelan mendekati lemari sambil mulutnya melafalkan doa dan jemarinya yang sibuk menggulirkan tasbih. Setelah tiba di depan lemari, beliau pun membuka lemari secara perlahan dan beristighfar ketika menemukan Bu Gayatri sudah meringkuk di dalamnya.

__ADS_1


"Astaghfirullahalazim. Mas Kala, saya mohon bantuannya!" pekik Pak Soleh meminta Kala untuk menggendong Bu Gayatri menuju ranjang. Bu Gayatri masih belum sadarkan diri dengan wajah pucat pasi.


Sebelum Kala berhasil membawa Bu Gayatri ke kasur, suara tawa kembali terdengar yang membuat tengkuk Kala terasa berat. "Lanjutkan Mas Kala! Tidak perlu menoleh ke belakang!" pinta Ustadz Soleh dengan tegas.


Namun, saat Kala berniat untuk kembali melangkah, kini kakinya pun ikut terasa berat dan tawa itu kembali terdengar, membuat Kala menegang di tempat. "Mas Kala! Doa dalam hati! Mas Kala pasti bisa!" Ustadz Soleh sekali lagi mengingatkan.


Setelah menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali, Kala pun memaksa langkahnya untuk menuju ke kasur. Dia memang berhasil tiba dan membuat ibu mertuanya berbaring di atasnya. Namun, hal yang selanjutnya dia lihat membuatnya berteriak histeris lantaran sosok yang Kala baringkan berubah menjadi sosok tua yang buruk rupa.


"Aaaargh!" pekiknya histeris dan seketika mundur untuk menghindar.


Ustadz Soleh kembali melafalkan kalimat Allah dengan surat yang tidak Kala hapal, sedangkan sosok yang tadi menjelma sebagai Bu Gayatri kini mulai bangun dan menatap Ustadz Soleh dengan raut wajah penuh dendam.


"Jangan ikut campur!" pekik sosok itu murka.


Ustadz Soleh mengucapkan hamdalah sambil meraup wajahnya menggunakan telapak tangan, berbeda dengan Kala yang masih terlalu terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


"Mas Kala? Kita harus mencari Bu Gayatri," ajak Ustadz Soleh yang membuat Kala mengangguk walau kepalanya masih belum sinkron.


Ustadz Soleh pun menyibak tirai dan membuka jendela agar terjadi pertukaran udara. "Bu Gayatri ada di bawah ranjang," beritahu Ustadz Soleh ketika jendela telah terbuka dan pandangan beliau melihat sebuah tangan.


Kala mengangguk ragu. Dia takut bila yang saat ini berada di bawah ranjang bukanlah ibu mertuanya. Ustadz Soleh yang paham akan situasi, akhirnya mengalah dan yang memeriksanya sendiri.


"Tenang, Mas. InsyaAllah ini Bu Gayatri. Tolong tarik beliau untuk keluar," pinta Ustad Soleh yang kini berjalan menuju pintu dan membukanya.

__ADS_1


"Semua sudah aman, InsyaAllah." Beliau berucap lagi yang membuat Kala akhirnya yakin jika kondisinya sudah membaik. Tidak berapa lama setelah pintu terbuka, Aruna muncul.


"Ibu!" pekik Aruna panik.


Tidak berapa lama setelah Bu Gayatri dibaringkan, beliau terbangun sambil memegangi pelipisnya. Aruna yang menyadari lebih dulu, segera mengambilkan air dan mengangsurkannya pada sang Ibu.


"Alhamdulillah," gumam Ustadz Soleh bersyukur. Kala dan Aruna pun ikut mengucap hamdalah karena ibunya sudah kembali sadar.


Setelah merasa semuanya membaik dan melihat kondisi Bu Gayatri juga baik, Ustadz Soleh pun berpamitan untuk pulang karena masih ada hal yang harus beliau urus. Kala pun mengantar beliau hingga depan rumah sambil kepalanya memikirkan suara tawa yang sangat menyeramkan yang sudah dirinya dengar tadi.


"Ustadz? Boleh saya tanyakan sesuatu?" tanya Kala dan Ustadz Soleh seketika menghentikan langkah.


"Tanyakan saja, Mas."


"Tadi itu, suara tawa itu berasal dari mana? Kok saya nggak lihat ya?" ucap Kala yang membuat Ustadz Soleh terkekeh pelan sambil menepuk bahu Kala pelan.


"Dia ada di atas lemari sambil merangkak di dinding. Dia juga sosok sama yang kamu lihat di atas ranjang. Sepertinya, dia di suruh seseorang untuk mengganggu istri Mas yang sedang hamil, tetapi salah sasaran ke Ibu Gayatri," ungkap Ustadz Soleh yang membuat mata Kala membelalak lebar merasa tidak percaya.


Namun, bila menggabungkan beberapa kepingan puzzle yang terjadi beberapa hari ini, semuanya terasa berkesinambungan. Aruna yang selalu diganggu oleh sosok wanita tua buruk rupa, dan istrinya juga mendengar suara-suara aneh.


"Ustadz! Saya jadi ingat jika semalam pukul dua belas ada suara pintu samping rumah yang digedor-gedor, disusul seperti suara pasir yang dilempar ke atas atap. Itu pertanda apa ya, Ustadz?"


Ustadz Soleh seketika terdiam dengan mata yang masih menatap Kala. "Kuatkan iman dan rajinlah beribadah apalagi sholat malam. Itu yang akan menjadi pelindung paling kuat, Mas. Saat maghrib, tutup seluruh jendela dan pintu." Nasehat dari Ustadz Soleh pun akan selalu Kala ingat.

__ADS_1


__ADS_2