
Samar-samar, Aruna mendengar suara Kala yang sedang berbincang dengan seseorang tetapi Aruna tidak tahu siapa karena merasa asing dengan suara tersebut. Hingga Aruna mendengar suara pintu dibuka kemudian ditutup lagi, baru setelahnya Aruna membuka mata dan berkedip dengan lemah untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
Pemandangan yang pertama kali Aruna lihat adalah langit-langit ruangan yang berwarna putih serta aroma obat-obatan yang begitu menyengat indera penciumannya. Aruna masih belum memahami akan keberadaanya yang sekarang karena kini, seseorang seperti sedang memeriksa kondisi tubuhnya yang hanya terdiam kaku.
"Beruntung, tidak ada masalah serius. Bayinya juga dalam keadaan sehat. Ini benar-benar keajaiban, Pak," ucap seseorang yang membuat kesadaran Aruna seperti kembali terkumpul sepenuhnya.
Aruna menatap sekeliling yang warna cat temboknya di dominasi oleh warna putih. Ketika menoleh ke samping, dia bisa melihat sebuah tiang infus yang terdapat cairannya yang tinggal setengah dan sebuah tabung oksigen. "Aku dimana?" tanya Aruna mencoba mengingat kejadian yang telah dialaminya sehingga bisa membawanya sampai ke tempat itu.
"Kamu di rumah sakit. Aku bahagia akhirnya kamu siuman setelah selama tiga hari tidak sadarkan diri. Bayi kita juga baik-baik saja dan masih diberi perlindungan oleh Tuhan," jawab Kala mengucapkan syukur atas pulihnya kesadaran sang Istri. Dia juga berulangkali memberikan kecupan-kecupan lembut di pelipis istrinya yang membuat Aruna seketika memejamkan mata karena merasa begitu aman dan nyaman.
Merasakan hal itu, Aruna pun teringat akan kejadian terakhir kali yang dialaminya. Dia menatap Kala yang saat ini seperti sedang berusaha menghindari bertatapan muka dengannya. "Mas? Ibu mana? Kok nggak di sini?" tanya Aruna dengan suaranya yang terdengar begitu lemah karena energinya seperti terkuras selama tiga hari yang tidak makan dan minum. Tubuhnya hanya mendapatkan suplai energi dari cairan infus yang saat ini mengalir ke tubuhnya.
Bukannya menjawab, Kala justru mengalihkan pembicaraan mengenai ibu mertuanya itu. "Kamu mau minum? Biar aku belikan air mineral di depan dulu ya? Kamu pasti haus." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Kala langsung berlalu begitu saja dan keluar dari ruangan yang saat ini dihuni oleh Aruna.
"Mas.. Kamu belum jawab pertanyaan ku," cecar Aruna berusaha ingin bangkit dari tidurnya dan akan mengejar Kala. Namun, ketika merasakan nyeri pada perut bagian bawahnya, Aruna seketika mengurungkan niat dan hanya bisa menghela napasnya pelan.
Lima belas menit berlalu, Kala akhirnya kembali dengan membawa dua botol air mineral dan beberapa makanan yang langsung ditaruh di atas nakas yang letaknya berada di samping ranjang pasien yang Aruna tempati.
__ADS_1
"Mas? Ibu kemana?" tanya Aruna lagi seperti tak kenal lelah untuk menanyakan keberadaan ibunya.
Kala berdehem pelan sebelum menjawab pertanyaan Aruna. "Ada. Ibu... di rumah," jawab Kala terlihat sangat meragukan karena Aruna paham bagaimana sikap Kala bila sedang merasa gugup, dan sikap Kala saat ini benar-benar merujuk pada tingkah laku tersebut.
"Kalau ibu di rumah, kenapa sejak tadi kamu menghindari untuk menjawab pertanyaan dariku? Kamu juga terlihat gugup, Mas. Aku tahu. Pasti ada sesuatu yang sedang kamu tutup-tutupi," cecar Aruna dan Kala pun memutuskan duduk di kursi sambil menghadap istrinya. Wajah Kala tampak sangat lelah dan seperti banyak beban hidup yang sedang dia pikul sendirian.
"Mas! Jawab! Ibu baik-baik saja kan? Karena terakhir kali melihat Ibu, Ibu sedang tidak baik-baik saja. Dimana ibu, Mas?" tanya Aruna yang kini mulai meneteskan air mata karena merasakan khawatir akan kondisi sang Ibu saat ini.
Helaan napas kasar pun terdengar dari Kala yang membuat Aruna semakin yakin jika ibunya pasti sedang tidak baik-baik saja atau juga sedang dirawat seperti dirinya. "Mas?" mohon Aruna yang membuat suaminya itu kini menatap Aruna dengan begitu dalam.
"Mas! Kamu bicara apa sih? Nggak mungkin, Mas! Bagaimana bisa orang yang kesurupan sampai harus meninggal? Tidak mungkin!" elak Aruna sebelum Kala berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Tenang. Kamu harus tenang, Aruna," ucap Kala berusaha menenangkan walau kondisi perasaanya saja masih begitu campur aduk antara tidak menyangka, sedih, dan sakit yang begitu dalam. Nyatanya, kepergian Bu Gayatri mampu membuat Kala tidak bisa tidur beberapa hari ini karena perasaan kehilangan yang begitu besar. Belum lagi kondisi Aruna yang tak kunjung sadarkan diri, membuat Kala seperti sudah tak memiliki semangat hidupnya lagi.
"Gimana aku bisa tenang, Mas? Saat aku terbangun, aku tidak menemukan ibu di sini. Ibu tidak mungkin pergi meninggalkan aku, Mas. Tidak mungkin," racau Aruna mulai bergerak terarah dan menangis sesenggukan.
...----------------...
__ADS_1
Dua hari setelah sadarkan diri, Aruna memaksakan diri untuk pulang dan beristirahat di rumah. Walau Kala terus memaksa agar Aruna mau tinggal lebih lama lagi di rumah sakit, tetap saja Aruna tidak mau. Dia tidak butuh obat-obatan dan segala macam medis karena yang dia butuhkan kali ini adalah mencari tahu tentang kematian ibunya yang terasa janggal.
Kala sudah menceritakan semua kejadian saat berada di kamar Bu Gayatri dimana Aruna sudah dalam kondisi lemah karena perutnya dicengkeram erat oleh Bu Gayatri. Saat Kala masuk, ibunya tersadar dari kesurupan dengan kondisi yang begitu mengenaskan, yaitu kepalanya yang sudah berputar dan menghadap ke belakang.
"Aruna! Ibu!" teriak Kala yang membuat kepala Bu Gayatri berputar ke belakang. Walau takut, Kala tetap mendekati Aruna dan berusaha menjadi pelindungnya karena raga Bu Gayatri kini seperti sedang kerasukan.
"Pergi kamu! Jangan ganggu keluarga ku!" pekik Kala sekuat tenaga sambil mendekap Aruna yang sudah dalam kondisi tak sadarkan diri.
"Cepat bawa Aruna ke rumah sakit. Ibu akan lawan sosok yang memasuki raga ibu. Tolong, jaga Aruna baik-baik, Kala." Ucapan dari Ibu mertuanya itu membuat Kala sadar jika yang baru saja berbicara benar-benar Bu Gayatri. Namun, kejadian selanjutnya Bu Gayatri kembali memutar kepalanya dengan cepat yang membuat Kala hanya bisa memejamkan mata sambil melafalkan doa yang dia bisa.
"Kala... Kala... " panggil Bu Gayatri yang membuat Kala membuka kelopak matanya kembali.
Mulut Kala seketika menganga lebar dengan kedua matanya yang membulat sempurna saat melihat kondisi Bu Gayatri yang begitu mengenaskan. Saat itu juga, Kala menangis tersedu-sedu melihat seluruh persendian Bu Gayatri seperti berputar dan tidak dalam kondisi wajar. Apalagi, kepala beliau masih dalam posisi menghadap ke belakang yang membuat sekujur tubuh Kala merinding dibuatnya.
"Ibu! Ibu kenapa?" tanya Kala ketakutan dengan tubuhnya yang sudah gemetaran.
"Pergi! Bawa Aruna ke rumah sakit sekarang. Ibu titip dia ya," ucap Bu Gayatri lemah sebelum nyawanya benar-benar terenggut oleh malaikat maut.
__ADS_1