
"Apa?! Jadi, walaupun janin Aruna di pindahkan ke dalam rahimku saat usianya sudah sembilan bulan pun ketika tiba di rahimku, tidak selalu sembilan bulan?" tanya Sinta tidak mau mempercayai kenyataan yang baru saja Mbah Sumanto jelaskan.
Mbah Sumanto yang mendengarkan nada keberatan dalam kalimat yang Sinta lontarkan pun hanya bisa berdecak pelan. "Kalau kamu mendadak hamil sembilan bulan, bagaimana dengan tanggapan orang-orang? Apa kamu tidak memikirkan hal itu?" tanya Mbah Sumanto yang membuat Sinta pada akhirnya terdiam dan membenarkan ucapan beliau.
"Jadi, aku bisa hamil berapa bulan nantinya, Mbah?" Sinta seperti tak pernah kehabisan kalimat untuk bertanya mengenai kehamilan yang sebentar lagi akan dialaminya.
"Lima bulan. Itu sudah yang paling tinggi. Karena kalau enam bulan, perut kamu pasti sudah mulai membesar. Jangan lupa untuk memikirkan tanggapan orang-orang di sekitar kamu. Kalau tiba-tiba kamu hamil sembilan bulan, orang-orang pasti akan berpikiran buruk tentang kamu."
Mendengar penjelasan dari Mbah Sumanto tersebut, Sinta pun hanya bisa menurut karena Mbah Sumanto lah yang lebih berpengalaman dengan masalah seperti ini. "Baiklah, Mbah."
Sepulang dari rumah Mbah Sumanto, Sinta pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Aruna demi menjalankan misi terakhir yang sudah Mbah Sumanto tugaskan untuknya. Dia hanya berharap semoga tidak ada yang curiga dengan misi yang akan dia lakukan nantinya.
Ketika mobilnya telah tiba di depan rumah Aruna, dia langsung turun dan masuk melewati gerbang rumah milik Aruna. Dia berjalan pelan sambil mengamati sesuatu yang akan dia ambil nantinya setelah mendapatkan kesempatan. Berulangkali Sinta pun menghela napas pelan saat sesuatu yang dicarinya tidak bisa dilihat dengan jelas.
"Apa di halaman belakang ya?" gumam Aruna yang sudah menghentikan langkahnya di depan pintu rumah milik Aruna.
"Apanya yang di halaman belakang?" tanya suara yang membuat Sinta terlonjak kaget dan menoleh ke belakang dimana suara itu berasal. Dia mendapati seorang lelaki paruh baya yang mengenakan peci dengan koko putih dipadukan dengan sarung berwarna hitam.
"Eh, Pak," sapa Sinta berusaha bersikap senormal mungkin agar tidak membuat sosok laki-laki di depannya merasa curiga.
"Mau ke sini juga, Pak?" tanya Sinta yang hanya mendapatkan sebuah anggukan dari laki-laki tersebut.
__ADS_1
Belum sempat keduanya mengetuk pintu, daun pintu di depannya tiba-tiba terbuka dan menampakkan sosok Aruna yang raut wajahnya tampak begitu terkejut. "Eh, Pak Hasan? Sinta?" sapanya sambil mengulas senyum manis.
"Assalamu'alaikum," sapa Pak Hasan yang segera mendapatkan jawaban dari Aruna. Keduanya pun dipersilahkan untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Tidak berapa lama, Kala muncul dan menyapa keduanya.
"Pak Hasan? Sudah sampai? Eh, ada Sinta juga?" Kala pun menganggukkan kepalanya untuk menyapa pada keduanya secara bergantian.
Entah mengapa, Sinta merasakan aura yang begitu mengintimidasi dari sosok pria yang Aruna dan Kala sebut bernama Hasan itu. Tatapannya sagat tajam dan selalu tertuju kepadanya seakan-akan sedang mengu liti dirinya.
'Apa dia tahu sesuatu tentangku?' batin Sinta merasakan waspada akan bahaya.
"Silahkan di minum," ucap Aruna yang membuat Sinta tersentak dan mengalihkan perhatiannya pada Aruna. "Terimakasih, Aruna," jawab Sinta dan Aruna segera duduk di sampingnya.
"Mas Kala?" panggil Pak Hasan pada Kala yang baru saja ingin duduk di kursi kosong rumahnya.
"Karena waktu Bu Gayatri meninggal, saya belum sempat memeriksa kamarnya. Bolehkah saya memeriksanya sekarang?" tanya Pak Hasan meminta izin pada Kala.
"Tentu saja. Mari, Pak. Biar saya temani," jawab Kala lalu berjalan lebih dulu yang segera diikuti oleh Pak Hasan. Setibanya di kamar Bu Gayatri, Kala segera membuka gorden serta jendela kamar ibu mertuanya.
"Masuk, Pak. Ini kamar mendiang Ibu," pinta Kala ketika melihat Pak Hasan masih berdiri di ambang pintu dengan kedua alisnya yang saling bertaut dan kedua pandangannya yang tampak menelisik isi kamar. Pak Hasan hanya memberikan isyarat dengan mengangkat tangan setinggi dada agar Kala membiarkan beliau untuk berdiri di ambang pintu terlebih dahulu.
Dalam penglihatan beliau kali ini adalah, Bu Gayatri yang baru saja memasuki kamar lalu mengambil posisi duduk di sisi ranjang dengan pandangan melamun menatap jendela kamarnya. Kejadian selanjutnya yang Pak Hasan lihat adalah, Ada sosok wanita tua yang datang dann terkikik di hadapan Bu Gayatri yang tidak melihat sosok tersebut.
__ADS_1
Karena pikiran Bu Gayatri sedang kosong, maka sosok itu bisa dengan mudah merasuki jiwa beliau dan langsung bisa menguasai pikirannya. Lalu, datanglah Aruna dan sosok itu berkata, "Pegang perutnya dan cengkeram hingga kuat. Aku yang akan mengurus sisanya."
"Ibu? Ibu mikir apa?" tanya Aruna yang membuat sosok dalam diri Bu Gayatri tersenyum manis.
"Ibu lagi mikir bagaimana caranya untuk bisa mengambil janin yang sedang kamu kandung."
Lalu, terjadi perdebatan dan sosok itu hampir menang karena nyawa janin yang berada dalam kandungan Aruna sudah berhasil sosok itu genggam. Namun, batin Bu Gayatri sebagai seorang ibu tiba-tiba muncul dan berdoa di dalam hati agar sosok itu keluar dari dalam tubuhnya.
"Jangan melafalkan doa atau tubuh kamu sendiri yang akan hancur! Kamu akan mati!" pekik sosok wanita tua itu mulai kepanasan, padahal sedikit lagi dia akan berhasil mengambil janin yang sedang Aruna kandung.
Hingga Bu Gayatri harus menghadapi sosok itu sendirian sedangkan Aruna sudah pingsan. Akhirnya, nyawa Bu Gayatri lah yang telah menjadi taruhan.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un," gumam Pak Hasan sambil meraup wajahnya yang sudah basah karena air mata. Beliau merasa terenyuh akan perjuangan Bu Gayatri untuk mempertahankan keselamatan anak dan cucunya.
"Pak? Kenapa, Pak?" tanya Kala mendadak panik ketika melihat Pak Hasan terdiam cukup lama sampai meneteskan air mata. Bahkan, tangis Pak Hasan kini telah berubah menjadi sesenggukan yang begitu menyesakkan.
"Saya melihat semua yang susah Bu Gayatri alami. Surga tempat yang terbaik untuk beliau," jawab Pak Hasan setelah berhasil menguasai diri lagi.
Kala pun menghela napas pelan. Kepergian Ibu mertuanya itu memang banyak meninggalkan kenangan. "Saya juga masih belum percaya jika Ibu sudah tiada, Pak. Rasanya, seperti Ada yang hilang," jawab Kala mengenang.
Beberapa saat berlalu pun hanya dilewati dengan keheningan hingga suara Pak Hasan kembali terdengar menanyakan sesuatu hal. "Wanita tadi, kalau boleh tahu, siapanya Mbak Aruna?" tanya Pak Hasan dan Kal segera menjawabnya. "Dia Sinta, Pak. Teman Aruna semasa SMA."
__ADS_1
"Kenapa memangnya, Pak?" tanya Kala penasaran dengan alasan mengapa tiba-tiba Pak Hasan menanyakan tentang Sinta.
"Jangan dulu dipercaya. Namun, entah mengapa saya memiliki firasat buruk tentang dia," jelas Pak Hasan yang membuat Kala hampir merasa tidak percaya.