Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 30. Kembali pulang


__ADS_3

"Aaaaargh!" Aruna memekik kencang saat tubuhnya seperti dilempar dengan sangat kencang oleh sesuatu yang tidak bisa Aruna lihat dengan kasat mata. Tubuhnya seketika terasa remuk redam karena terbentur lantai dengan cukup keras.


Namun, Aruna tidak patah semangat dengan selalu melafalkan doa-doa demi keselamatan hidupnya. Apapun yang terjadi, Aruna bertekad untuk keluar hidup-hidup dari gubuk yang saat ini sedang ditempatinya. Tidak jauh berbeda dengan Aruna, sosok dukun kepercayaan Sinta pun sedang merapalkan mantra yang tidak Aruna pahami.


Walau demikian, Aruna tidak merasa ketakutan dan justru melemparkan tatapan tajam kepada dukun yang Sinta sebut sebagai Mbah Sumanto itu. Doa dan rapalan mantra pun bertarung untuk menunjukkan siapa yang terkuat hingga bunyi pecahan kaca terdengar dan membuat Sinta serta Mbah Sumanto tampak panik.


"Kalian tidak akan pernah menang melawan kebenaran," ucap Aruna lirih sambil berusaha bangkit dari posisinya yang sekarang ini.


"Mbah! Ari-arinya pecah!" teriak Sinta begitu panik dan berusaha mengambil ari-ari yang sudah dia rawat dan dijaga di dalam sebuah kaca berisi air kehidupan. Namun, setiap kualitas dia mencoba untuk mengambil ari-ari tersebut, saat itu juga si ari-ari melompat dan tidak pernah berhasil untuk Sinta gapai.


Aruna yang melihat itu pun tersenyum dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. Tidak ingin merasa puas, Aruna kembali melafalkan kalimat Allah seperti yang sudah ibunya ajarkan padanya dulu.

__ADS_1


"Berhenti! Jangan lanjutkan ucapan kamu!" teriak Mbah Sumanto yang diabaikan begitu saja oleh Aruna dan tetap terus membaca doa agar Tuhan melindungi dirinya.


"Aruna! Berhenti!" Kini giliran Sinta yang terlihat membabi-buta sambil menutupi kedua telinganya. Semakin dilarang, maka Aruna akan semakin melakukannya dengan bersungguh-sungguh. Namun, dia lupa jika Sinta masih memiliki tenaga dan kini berlari mendekati dirinya dan mence kik lehernya dengan cukup erat.


"Sin.. ta.." ucap Aruna terbata-bata karena merasakan tenggorokannya yang terjerat. Kedua tangannya juga berulang kali memukul lengan Sinta agar mau melepaskan dirinya, dan pada saat itu Aruna pun berhenti melafalkan doa karena terlalu fokus pada rasa sakit di saluran pernapasannya.


"Haha. Sudah aku katakan untuk berhenti, tetapi kamu masih saja teguh pada pendirian kamu," ucap Sinta sambil tangannya semakin kencang mencengkeram leher Aruna dan melepaskannya saat melihat wajah Aruna sudah begitu pucat layaknya seorang mayat.


Karena tubuhnya sudah terlalu lelah dan lemah, yang bisa Aruna lakukan saat itu adalah kembali melafalkan doa walau itu hanya terucap dalam hati. Dia yakin pada kepercayaannya jika Tuhan selalu bersama orang-orang yang taat. Dia juga percaya jika pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu.


Aruna bisa merasakan tubuhnya yang dibenturkan ke lantai beberapa kali hingga kini Aruna sudah tergeletak tidak berdaya dengan kondisi hidung dan sudut bibir yang sudah mengeluarkan cairan berwarna merah dan berbau amis.

__ADS_1


"Kalian tidak akan pernah menang," ucap Aruna lirih sambil menatap sebuah ari-ari yang masih tergeletak di atas lantai. Dalam hati, Aruna meminta ari-ari itu untuk mendekat dan berjanji akan memeluknya. Mungkin, karena Aruna begitu menyayangi calon anaknya dan berharap anaknya itu kembali, ari-ari itu pun mendekat dengan begitu cepat dan masuk ke dalam pelukan Aruna.


Aruna tersenyum bahagia dengan matanya yang sudah mengeluarkan air mata. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena pandangan mata Aruna mulai menggelap. Sebelum kesadarannya benar-benar terenggut, Aruna bisa melihat sebuah api menyala besar dan teriakan dari Sinta juga Mbah Sumanto terdengar memekakkan di telinga. Aruna pun tak sadarkan diri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...mampir juga ke karya teman othor di bawah ini yuk.. ...


...


__ADS_1


...


__ADS_2