Ummu Sibyan

Ummu Sibyan
Bab 14. Kejadian menyeramkan


__ADS_3

Uhuk. Uhuk. Uhuk.


Aruna menghela napas dengan pelan saat suara batuk sang Ibu kembali terdengar dari dalam kamarnya. Dia sudah berusaha membujuk ibunya untuk berobat ke klinik agar batuk yang beliau derita bisa sedikit mereda. Namun, ibunya itu merupakan sosok yang keras kepala dan tidak akan melakukan sesuatu hal jika tidak sesuai keinginan hati nuraninya.


"Mas? Kalau malam ini aku tidur dengan ibu boleh tidak? Sepertinya, batuk ibu semakin parah," ucap Aruna meminta izin pada Kala yang saat ini sedang memeluknya.


"Pergilah. Besok pagi kita harus bawa ibu ke klinik untuk berobat. Kamu harus coba memaksa ibu agar batuknya segera ditangani," jawab Kala tidak merasa keberatan dengan keputusan Aruna.


"Baiklah, Mas. Terimakasih karena sudah menjadi sosok suami dan menantu yang pengertian," ucap Aruna lagi sambil mengelus rahang suaminya yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus. Hal itu langsung membuat Kala berdecak kesal karena sentuhan tangan Aruna itu terasa sangat lembut dan membuat sesuatu dalam dirinya merasa tergugah.


"Tolong lah, Yang. Jangan seperti itu. Kan kamu mau tidur sama Ibu," protes Kala yang membuat Aruna tertawa dan bergegas melepaskan diri dari pelukan sang Suami sebelum dirinya akan berakhir tidur di kamarnya sampai pagi.


"Selamat malam, Mas Sayang. Semoga mimpi indah." Aruna berteriak yang setelahnya menutup pintu kamarnya pelan. Bergegas Aruna melangkahkan kaki menuju kamar sang Ibu. Namun, Aruna tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu karena itu sudah menjadi sebuah kebiasaan.


Ketika daun pintu di depannya terbuka, dia melihat Bu Gayatri yang sedang duduk di sisi ranjang dengan tatapan mata yang terarah ke luar jendela yang kebetulan tirai dan gordennya sedang terbuka. "Ibu?" panggil Aruna pelan agar kedatangannya tidak membuat sang Ibu merasa terkejut.


Bu Gayatri tidak menoleh yang membuat Aruna memutuskan mendekati sang Ibu dan menyentuh bahu beliau. "Bu? Mikir apa? Kok belum tidur?" tanya Aruna dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


"Ibu lagi mikir bagaimana caranya untuk bisa mengambil janin yang kini sedang kamu kandung," jawab Bu Gayatri yang sayangnya hanya berupa gumaman dan membuat Aruna harus memasang pendengarannya dengan baik.


"Kenapa, Bu?" tanya Aruna berusaha melihat wajah sang Ibu yang kini tampak membuang muka. Namun, semakin Aruna berusaha melihat wajah Bu Gayatri, semakin itu juga ibunya memalingkan muka. Hal itu terus terjadi hingga kepala Bu Gayatri berputar sampai tiga ratus enam puluh derajat. Melihat hal itu, kaki Aruna refleks mundur dengan kedua matanya yang sudah membelalak dengan lebar.


"Bu. Ibu kenapa?" lirih Aruna dengan tubuh bergetar menahan ketakutan melihat ibunya bertingkah yang tidak sewajarnya.


Ibunya itu hanya tersenyum lebar dengan menampakkan deretan giginya dan lehernya terus berputar yang semakin lama semakin cepat. "Ibu! Ibu kenapa jadi seperti ini!" pekik Aruna yang mulai menangis karena tidak kuasa menahan rasa takut yang kini menderanya.


"Aruna.. Aku ingin janin kamu... " gumam Bu Gayatri sambil terkikik pelan yang membuat bulu kuduk Aruna merinding.


"Berikan anakmu padaku maka ibumu akan selamat," ucap Bu Gayatri lagi yang membuat Aruna tersadar jika ada sosok lain yang kini merasuki raga ibunya.


Ibunya terkekeh pelan. "Aku datang jauh-jauh ke sini untuk menjemput anakmu. Jadi, aku tidak akan pergi sampai kamu mau menyerahkannya."


"Siapa kamu?! Jangan coba- coba menyakiti keluargaku!"


"Bukankah kita sudah berkenalan? Apakah kamu benar-benar lupa? Aku ini Ummu Sibyan, hihi. Aku ingin menjemput anakmu," ucap Bu Gayatri lagi dengan suaranya yang sangat khas seperti seorang wanita tua bahkan dari cara tertawanya saja sudah sangat menyeramkan.

__ADS_1


Bu Gayatri beranjak dari tempat duduknya dan berjalan dengan pelan mendekati Aruna sambil kedua tangannya terulur berniat menyentuh perut Aruna. "Cucuku... Dia cucuku.. Biarkanlah cucuku ikut bersamaku," gumam Bu Gayatri yang membuat tangis Aruna semakin deras mengalir membasahi pipinya.


"Tidak.. Jangan.. Aku mohon jangan lakukan. Pergi dari hidup kami. Jangan ganggu ibu atau anakku.. " mohon Aruna terdengar pilu yang hanya ditanggapi tawa kecil dari Bu Gayatri.


"Aku tidak akan kembali dengan tangan kosong. Kali ini aku harus berhasil," ucap Bu Gayatri yang kini sudah semakin dekat dengan Aruna. Sayangnya, kaki Aruna seperti sudah terpaku dan tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri saat ini. Aruna terus menangis saat tangan ibunya sudah menyentuh perut dan memberikan elusan yang lembut.


"Cucuku... Ikut nenek ya, Cucu."


Aruna sudah tidak bisa bergerak lagi saat tangan ibunya perlahan-lahan memberikan re ma san yang kuat. Air mata Aruna sudah tidak kuasa ditahan saat merasakan perut bagian bawahnya terasa sangat sakit. Di dalam rasa kesakitan yang sedang dideranya, Aruna berusaha melafalkan kalimat Allah di dalam hati, berharap ada sebuah keajaiban yang bisa menyelamatkan dirinya dan calon anaknya.


“Alloohu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. La-la-lahu—"


"Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih," sambung Bu Gayatri sambil terkikik geli ketika mendengar Aruna tidak lancar membaca ayat kursi. Saat itu juga, dada Aruna terasa sesak karena tak mampu mengeluarkan suara sedikitpun karena merasa begitu ketakutan.


"Aku hafal di luar kepala," gumam Bu Gayatri kembali memberikan cengkeraman di perutnya yang semakin kencang. Aruna hanya bisa memejamkan mata dan berdoa yang dia mampu untuk meminta pertolongan. Entah sudah di menit ke berapa karena waktu seperti berlalu begitu lambat, saat kepala Aruna sudah terasa pening seperti akan pingsan dan suara pintu kamar ibunya terbuka dengan sangat kencang.


Gubrak!

__ADS_1


"Aruna! Ibu!" pekik suara yang samar-samar masih Aruna dengar sebelum kesadarannya terenggut.


__ADS_2